OPACAROPHILE

OPACAROPHILE
12. Luka Gengsi Banget


__ADS_3

Luka masih sibuk dengan tugas yang menumpuk di hadapan nya. Kini ia sedang duduk di dalam perpustakaan dengan tangan kiri nya bergerak tanpa henti menulis sesuatu di atas kertas. Wajah datar namun tampan terlihat lebih tampan ketika Luka sedang serius mengerjakan sesuatu.


"Woy, sibuk bener nih gue liat liat," ujar seseorang yang kini mendudukkan diri di kursi sebelah Luka.


"Lo pasti kenal kan sama gue? Pacar nya Cinta," Gega berbisik pelan ketika mengucapkan kata terakhirnya ke arah Luka.


"Bukan urusan gue," jawab Luka tanpa menatap Gega.


"Santai aja kali, gue ke sini cuman pingin kenalan sama lo," ujar Gega dengan senyum jahil nya.


"Gue dengar kemarin lo jalan sama Cinta, lo suka sama dia?," tanya Gega. Gelengan Luka membuat Gega tertawa menjengkelkan.


"Bohong lo ketahuan banget, kelihatan kali setiap lo tatap dia tuh beda. Bahkan, gue sering banget lihat lo yang lagi ngelihatin gue sama Cinta jalan berdua. Ah, lo mah nggak pintar jadi pengagum rahasia," ledek Gega membuat Luka menatapnya tak suka.


"Lo ganggu gue," jawab Luka setelah diam menatap tajam Gega.


"Gue bisa kok bantu lo buat dekat sam-," ucapan Gega terhenti ketika mendengar suara seseorang menyerobotnya.


"Luka, Gega, kalian lagi ngapain di sini?," tanya Cinta dengan tiga buku tebal di pelukan nya.


"Eh Cinta, ini nih lagi temenin Luka belajar," jawab Gega seraya melirik jahil ke arah Luka. Sedangkan yang ditatap hanya diam dengan wajah datar.


"Tumben banget kamu, Ge," ujar Cinta.


"Hehehe, gue bosen aja di kelas makanya ke perpustakaan. Eh lihat Luka lagi belajar sendirian, jadi nya gue temenin aja deh," balas Gega.


"Kalau gitu aku pergi dulu. Semangat ya Luka belajar nya. Aku pergi Gega!," Cinta segera berlalu meninggalkan kedua laki laki itu.


"Cie... yang di semangatin sama Cinta," ucap Gega yang tidak henti henti nya meledek Luka walaupun tidak dihiraukan oleh sang empu.


"Gue nggak minta ditemenin, lo bisa pergi," kini tangan kiri Luka menghentakkan pulpen yang digenggam nya ke meja. Ia sedang serius mengerjakan tugasnya tapi Gega terus saja berbicara yang membuatnya terganggu.


"Lo mah, kalau nggak sariawan ya PMS, kalau lo nggak diem ya marah marah. Bingung gue," jawab Gega yang masih tetap pada tempat nya.


"Pak, ada yang berisik di perpustakaan. Bisa tolong di keluarkan?," ujar Luka pada penjaga perpustakaan yang kebetulan lewat di hadapan nya dengan suara yang lantang. Membuat banyak pasang mata menatapnya terkejut, Luka yang mereka kenal selama ini tidak banyak bicara. Tapi kali ini mereka mendengar lebih dari tiga kata yang Luka ucapkan.


"Kalau kamu terus mengganggu silahkan keluar, jangan menggangu yang sedang belajar di perpustakaan," ucap Penjaga perpustakaan kepada Gega yang tersenyum ramah.

__ADS_1


"Siap, Pak. Aku pergi dulu ya, semangat ya Luka belajar nya," ujar Gega mengulang perkataan Cinta kepada Luka barusan. Lalu ia berlalu keluar dari perpustakaan dengan santai nya tanpa peduli pada Luka yang menatapnya tak suka.


"Cowok gila," gumam Luka yang kembali sibuk dengan tugas nya.


Helaan nafas yang menderu cepat keluar begitu saja dari hidung Cinta. Ia baru saja menyelesaikan tiga putaran lari lapangan basket sekolah sebelum memulai pelajaran olahraga bersama kelas nya. Zemira yang baru saja menyelesaikan lari nya menghampiri Cinta dengan deru nafas lebih cepat.


"Gila kali ya, belum juga gue olahraga udah keringetan banget kayak gini!," ujar Zemira kesal.


"Udah dari pada ngeluh terus mending ke kantin. Gue traktir minum," tiba tiba Gega datang merangkul kedua sahabat perempuan nya untuk berjalan ke arah kantin.


"Kamu mah ngagetin aja," ucap Cinta yang sempat terkejut karena rangkulan Gega yang tiba tiba.


"Sorry," jawab Gega dengan senyuman manis nya. Mereka bertiga sampai di kantin.


"Gue mau bakso satu sama es jeruk nya, Ge!," ujar Zemira ketika mereka sudah mendudukkan diri di kuris kantin.


"Ingat, ya, Zemira ku sayang, gue traktir nya cuman minum bukan satu menu makan siang yang ada makanan dan minuman," balas Gega.


"Ya udah sih, Ge, sekalian," saut Zemira dengan wajah cemberutnya. Gega memutar mata nya lalu beralih menatap Cinta yang tiba tiba terdiam setiba nya mereka di kantin.


"Lo mau apa, Ta?," tanya Cinta pada Gega.


"Lo nggak makan, Ta?," tanya Zemira.


"Aku nggak lapar, Zem. Nanti aja makan nya," jawab Cinta dengan senyuman.


"Jangan suka telat makan, Ta. Nanti lo sakit," ujar Gega sebelum berlalu untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka.


"Ehm, Ata!. Kayak nya, ya, si Gega tuh suka deh sama lo," tiba tiba Zemira berbisik kepada Cinta setelah Gega pergi menjauh dari meja mereka.


"Kamu emang ada ada aja, ya, Zem. Mana mungkin Gega suka sama orang kayak aku?," jawab Cinta.


"Ya emang lo kenapa, udah cantik, pintar, ketua kelas, pendiam, ihk cowok cowok tuh suka cewek diam kayak lo tau," ujar Zemira membuat senyum Cinta terbit.


"Kalau gitu aku bakal bilang, aku nya yang belum mau buka hati untuk siapa pun. Cukup kan jawaban nya?," jawab Cinta.


"Susah ya emang ngomong sama orang yang punya tujuan hidup kayak lo, nggak kayak gue yang ikutin aja alur hidup gue kayak gimana tanpa punya kendali atas hidup gue sendiri," ucap Zemira dengan wajah yang tiba tiba merenung.

__ADS_1


"Zemi, kan aku udah sering bilang sama kamu. Kalau kamu, aku, atau siapa pun itu punya perjalanan yang berbeda, jadi kamu dan aku punya tujuan yang berbeda juga. Kita nggak mungkin punya perjalanan yang sama, Zem. Aku punya tujuan untuk hidup dengan baik di masa depan, mungkin semua orang juga punya tujuan seperti itu. Tapi cara apa yang kita lakukan untuk sampai ke tujuan berbeda, Zem. Hidupku yang sekarang bukan seperti yang ku inginkan, makanya aku pingin membuat hidupku di masa depan sesuai dengan keinginanku dengan cara seperti ini, belajar, kerja, dan menjauhi diri dari sesuatu yang bisa menghalangi jalanku untuk sampai ke tujuan yang inginku capai," jelas Cinta dengan tangan yang menggenggam jemari tangan Zemira.


"Ah, Cinta. Lo mah bikin gue mau nangis terus!," Zemira memeluk Cinta erat.


"Yah, ada apa nih? Acara teletubies pindah ke sini, Ta?," tanya Gega yang baru saja datang dengan dua mangkuk bakso beserta minuman yang mereka inginkan.


"Kamu terlambat datang nya, Zemi habis nangis," bisik Cinta pada Gega yang mendudukkan diri di sebelah nya.


"Nangis kenapa?," balas Gega yang menatap kedua nya bingung.


"Udah ah jangan di bahas gue lapar!," Zemira langsung menyantap bakso nya yang masih terlihat berasap panas.


Cinta pulang sudah cukup larut. Ia memang meminta lembur setiap malam Minggu, karena toko bunga pasti ramai pembeli. Dan kini sudah pukul sepuluh malam ia baru saja sampai di rumah dengan sepeda nya. Pikiran nya masih sibuk mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah Ayah nya kepada Ibu. Ia takut Ibu malah dibuat kepikiran dan gelisah.


"Cinta kenapa diam di luar bukan nya masuk ke dalam?," tanya Meta dengan senyum keibuan nya.


"Eh, Ibu. Iya ini Cinta baru mau masuk," balas Cinta yang sedikit terkejut dengan kedatangan Ibu nya.


"Yuk masuk. Dingin di luar," ajak Meta seraya menggandeng tangan Cinta untuk masuk bersama.


"Cinta makan, ya. Ibu udah masak ayam goreng kesukaan kamu," ujar Meta ketika Cinta keluar dari kamar setelah berganti pakaian.


"Makasih banyak, ya, Bu," Cinta segera menyantap makanan yang sudah Ibu nya siapkan. Walaupun sekarang selera makan nya benar benar hilang, ia hanya ingin memikirkan bagaimana caranya bertanya kepada Ibu soal Ayah.


"Kamu lagi mikirin apa sih? Ibu lihat dari tadi bengong terus," tanya Meta yang menatap Cinta khawatir.


"Enggak, Bu. Cinta cuman ngantuk aja," jawab Cinta dengan senyum meyakinkan.


"Kalau gitu habis makan, kamu istirahat, ya," ujar Meta seraya mengelus puncak kepala Cinta dengan lembut.


"Ibu istirahat aja, biar Cinta yang beres beres rumah," Cinta segera bangkit dari duduk nya dan mulai membersihkan rumah. Meta tersenyum sendu menatap anak nya. Ia tahu, begitu banyak beban di bahu nya. Tapi Cinta selalu menunjukkan kalau ia tidak memiliki beban apa pun dengan senyum ceria nya.


"Kamu nggak harus selalu kelihatan baik baik saja, Cinta," ujar Meta yang membuat pergerakkan Cinta yang sedang menyapu lantai terhenti.


"Kamu juga boleh buat bilang kamu cape, kamu juga manusia. Enggak akan ada yang melarang kamu buat istirahat sejenak karena lelah. Kamu nggak bisa terus bersembunyi di balik senyum cerah yang selalu kamu tampilkan, untuk menutupi lelah kamu," lanjut Meta.


"Kalau memang hanya ini cara satu satu nya untuk aku bertahan, aku harus pakai cara apa lagi, Bu?. Terkadang aku memang butuh untuk terlihat baik baik saja, agar tidak membuat banyak hal berjalan tidak baik. Aku cuman punya cara ini, Bu," jawab Cinta dengan tatapan yang polos.

__ADS_1


"Kamu bisa bersembunyi ketika kamu merasa tidak baik baik saja. Kamu punya Ibu, punya teman teman, kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu, Cinta," ujar Meta.


"Aku tahu. Maka dari itu aku harus terlihat baik baik saja agar mereka juga baik baik saja. Karena aku tahu, mereka juga punya masalah yang harus mereka selesaikan. Seperti Ibu kan, aku tahu banyak hal yang sedang Ibu perangi. Makanya aku nggak mau tambah beban Ibu lagi. Aku bisa, Bu. Aku bisa mengobati luka ku sendiri," balas Cinta kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaan nya membersihkan rumah meninggalkan Meta yang terdiam karena tertegun dengan omongan Cinta yang benar ada nya. Ternyata pura pura baik baik saja itu perlu. Bukan untuk terlihat sok kuat, tapi untuk membantu orang di sekitarnya agar tidak lagi menyimpan beban terlalu banyak.


__ADS_2