
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Cinta baru sampai di rumah nya setelah bekerja. Luka yang mengantar Cinta juga sudah pulang. Cinta belum mengganti pakaian nya, ia masih setia duduk di dekat jendela kamarnya memandang ke arah langit yang terlihat gelap sekali malam ini. Tidak ada bintang yang biasanya bertaburan indah di sana. Cinta tidak bersuara sama sekali, tapi pikiran nya sangat bising saat ini. Sampai tiba-tiba Tyra membuka pintu kamarnya dengan kencang.
"Lagi-lagi, lo buat orang celaka! Setelah Ayah, Kak Cala, dan sekarang Ibu?! Sumpah, ya, gue nggak habis pikir sama lo. Kok bisa lo ngelakuin kesalahan yang sama? Kok bisa lo duduk tenang di sini sedangkan Ibu lagi dalam bahaya. Gue nggak akan sudi ngelihat lo, kalau sampai Ibu kenapa-kenapa!," ujar Tyra dengan nada membentak nya.
"Maaf, Kak, aku nggak tau kalau Ibu akan dalam bahaya kayak gini. Aku cuman mau cari tahu jawaban yang selama ini kita cari," jawab Cinta dengan kepala tertunduk takut.
"Lo doang yang pingin cari jawaban itu, bukan gue. Makanya, kalau mau ngelakuin sesuatu itu dipikir dulu, Cinta! Kalau udah kayak gini kan, lo jadi membahayakan orang lain. Lagian, buat apa juga lo cari soal itu? Apa kalau lo ketemu jawaban nya, mereka semua bakal balik lagi? Enggak, Cinta, enggak!," balas Tyra yang sudah geram dengan Cinta.
"Kak, aku emang nggak akan bisa membuat mereka yang sudah pergi kembali lagi, tapi aku harap itu bisa memperbaiki kesalahpahaman diantara kita," ucap Cinta.
"Kesalahpahaman apa? Udah jelas ini semua salah lo, kenapa sih masih harus cari pembelaan. Lo itu pembuat masalah, nggak ada guna nya," jawab Tyra yang membuat Cinta mengangkat kepalanya.
"Kalau Kakak mau tau, Ayah meninggal bukan karena aku. Tapi itu pembunuhan berencana. Aku lagi berusaha buat cari tau tentang semua nya, biar kita bisa hidup tanpa bayang-bayang masa lalu yang terus mengikuti kita, Kak," balas Cinta.
"Cinta, gue kasih tau ya sama lo. Gue nggak peduli mau itu pembunuhan berencana atau apa pun. Karena apa pun alasan nya, mereka udah pergi dan nggak akan bisa balik lagi. Sekarang, gue mau lo cari Ibu sampai ketemu. Kalau Ibu juga pergi karena lo, lo benar-benar pembunuh yang bersembunyi dibalik kata-kata manis," ujar Tyra seraya berlenggang pergi meninggalkan Cinta.
"Pembunuh, jadi selama ini aku adalah pembunuh?," tanya Cinta pada dirinya sendiri. Ia menjadi overthinking karena omongan Tyra yang mengatakan kalau dirinya adalah seorang pembunuh.
Ketika sedang terdiam notifikasi dari ponselnya membuat Cinta terkejut dan melihat pesan apa yang baru saja masuk. Ternyata pesan itu dari Luka di sebuah obrolan grup mereka berempat.
Luka
Gue udah dapat lokasi nya, di gudang bekas kafe yang terbengkalai. Enggak jauh dari sini, kita bisa ke sana naik motor atau mobil cuman satu jam.
Gega
Beneran? Kalau gitu kita langsung ke sana aja besok pagi. Gue kasih tau Papah sekarang, dia pasti bisa bantu kita.
Zemira
Wah, hebat juga lo, Ka. Akhirnya ya, kita bisa ketemu dimana Ibunya Cinta berada.
Gega
Cinta nya kemana ya? Bukan nya dia udah pulang kerja sekarang, kok nggak nyautin kita?.
Luka
Lagi makan kali.
Zemira
Cinta nggak suka makan malam. Palingan juga lagi istirahat kan cape habis kerja.
Gega
Tapi ini penting.
Luka
Besok kita ketemuan di rumah Cinta.
Zemira
Oke
Gega
Oke.
Cinta hanya membaca pesan dari grup dan menekan sebuah lokasi yang Luka kirimkan di grup mereka. Gudang bekas kafe yang terbengkalai, Cinta menjadi semakin khawatir dengan keberadaan Ibunya. Berada di gudang pasti sangat tidak nyaman untuk Ibu. Ibu pasti kesakitan dan kedinginan tidur di sana. Ia harus menemukan Ibunya sekarang juga. Tanpa berbasa-basi lagi, Cinta segera berganti pakaian. Dan segera memesan taksi online untuk mengantarnya ke lokasi yang Luka berikan.
Luka sedang duduk setia di depan layar komputernya yang menampilkan sebuah titik lokasi. Itu adalah lokasi ponsel Cinta. Ia sengaja menyeting ponsel Cinta jika terjadi sesuatu ia bisa segera menemukan nya. Ketika sedang asik bermain ponsel, tiba-tiba komputernya berbunyi nyaring dan terlihat di sana bahwa titik lokasi Cinta berpindah dari sebelumnya berada di rumah. Hal itu membuat Luka terkejut.
Kemana Cinta akan pergi malam-malam begini? Luka segera mengecek info grup chat mereka dan melihat bahwa Cinta sudah membaca chat mereka yang sebelumnya terlihat bahwa Cinta belum membacanya.
__ADS_1
Dengan cepat Luka berlalu meraih kunci mobilnya dan jaket miliknya untuk berlalu mengikuti kemana arahnya Cinta pergi. Ia juga mengirimkan pesan kepada Gega untuk ikut menyusulnya ke lokasi yang ia share di grup chat mereka. Karena Luka yakin, Cinta akan pergi ke sana. Perempuan itu pasti sudah tidak tahan untuk menunggu hari esok. Alhasil ia nekat pergi ke sana sendirian tanpa memberi tahu Luka ataupun Gega.
"Semoga bisa kekejar," gumam Luka seraya menginjakan gas nya dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai tepat ketika Cinta sampai di sana sebelum perempuan itu bertindak gegabah karena khawatir dan membahayakan dirinya sendiri.
Cinta sampai ditempat yang sesuai dengan lokasi yang Luka berikan. Tempat itu sangat gelap, kotor, dan banyak sekali sampah di sekitarnya. Kafe itu sudah tutup sejak lama kata supir taksi yang mengantarnya. Cinta berdiri sebentar di depan pintu kafe seraya mengeluarkan senter dari saku jaketnya. Ia harus menyelamatkan Ibunya sekarang juga.
"Ibu! Ibu dimana Bu?!!!," Cinta berteriak ditempat yang begitu sunyi.
"Bu, ini Ata, Bu! Ibu dimana?," panggil Cinta seraya berjalan dengan hati-hati takut kalau ada suatu jebakan yang terdapat di sana.
Cinta membuka beberapa pintu yang terdapat di sana. Tapi tiba-tiba ada suara langkah kaki yang berjalan kearahnya dengan perlahan. Cinta terkejut dan merasa sesak karena takut.
"Kamu siapa? Jangan mendekat!," ucap Cinta seraya berjalan mundur ke belakang. Tapi langkah kaki orang itu tetap berjalan mendekat ke arahnya. Kaki Cinta tersangkut oleh bangku yang membuatnya terjatuh ke belakang. Itu membuatnya meringis kesakitan.
"Lo nggak papa?," tanya orang tersebut yang ternyata adalah Luka.
"Luka? Kenapa kamu ada disini?," jawab Cinta yang terlihat sangat kebingungan dengan keberadaan Luka di hadapan nya sekarang.
"Gue yang seharusnya tanya sama lo, kenapa lo ada di sini? Gue bilang kita ke sini besok pagi bukan malam ini," balas Luka yang kini sedang melihat keadaan kaki Cinta.
"Aku mau ketemu Ibu sekarang, Luka. Aku harus tolongin Ibu sebelum Ibu semakin terluka," ucap Cinta dengan suara yang lemah. Luka tahu, perempuan itu sangat takut dan khawatir sekarang.
"Gue dan yang lain juga mau tolongin Ibu lo, tapi jangan sampai lo membahayakan diri lo sendiri, Cinta. Gue yakin, Ibu nggak akan kenapa-kenapa," jawab Luka seraya menatap mata gadis di hadapan nya.
"Lo percaya sama gue kan? Kita bisa tolongin Ibu bareng-bareng, jangan ngelakuin sesuatu secara gegabah karena itu bisa membahayakan diri lo sendiri. Dan gue, nggak mau lo terluka, Cinta," ujar Luka dengan suara yang terdengar lebih halus.
"Aku percaya sama kamu, Luka," balas Cinta.
"Ayo bangun, kita cari Ibu sebelum pelakunya tau kalau kita udah menemukan lokasinya," Luka membantu Cinta bangun dari duduknya. Luka terlihat khawatir dengan kaki Cinta yang sedikit membiru dan Cinta yang berdiri dengan sedikit goyah.
"Kaki aku nggak papa, Luka. Aku masih bisa jalan sendiri, kok," ujar Cinta meyakinkan Luka bahwa kakinya tidak apa apa.
"Pegang tangan gue, jangan takut karena gue ada di sini," Luka menyodorkan tangan nya ke hadapan Cinta.
"Aku nggak akan takut karena kamu selalu jaga aku, ayo kita cari Ibu," Cinta meraih tangan Luka dan menggenggamnya dengan erat. Lalu keduanya berjalan dengan perlahan lahan menyusuri kafe itu. Sampai sebuah suara berat terdengar dari belakang mereka.
"Cinta, periksa ruangan ini," bisik Luka pada Cinta yang membuat Cinta mengangguk dan dengan cepat membuka ruangan itu.
"Terima kasih untuk sambutan nya," balas Luka dengan wajah datarnya. Ia berjalan mendekat kearah laki-laki itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Terima kasih juga, sudah memudahkan kita untuk menemukan anda. Datang dengan sendiri nya, tanpa di minta. Sepertinya anda sudah bosan di sini, makanya datang sendiri," lanjut Luka seraya menatap mata laki-laki itu dengan tajam.
"Anak pemberani, saya hanya ingin mengembalikkan barang bekas yang sudah selesai saya pakai ke kalian," Luka langsung melayangkan tinjunya ke arah laki-laki itu ketika menyadari apa yang laki-laki itu katakan. Ibu nya Cinta bukan lah barang yang bisa ia pakai sesukanya dan itu sangat kurang ajar menurut Luka.
"Oh begitu, saya juga datang ke sini karena ingin anda mencicipi rasanya badan remuk dan patah tulang," Luka langsung memelintir tangan laki-laki itu yang menimbulkan bunyi dari tulang yang terkejut dengan apa yang Luka lakukan barusan.
"AKH!!!," jerit laki-laki itu membuat senyum Luka terbit dengan perlahan. Lalu ia membisikkan ke telinga laki-laki itu, "Hanya seorang pengecut yang berani dengan yang lemah. Dan anda, bukan lah lawan saya, Bapak yang terhormat."
"Anak kurang ajar!!!," laki-laki itu bangkit dan membalas meninju wajah Luka. Luka tidak terkejut karena sudah menduga bahwa laki-laki itu akan tersulut emosinya ketika mendengar bisikkan nya. Luka memberikan perlawanan dan setelah itu keduanya baku hantam sedangkan Cinta terkejut bukan main ketika melihat Ibunya dengan pakaian yang sedikit robek robek, rambut berantakan, dan wajah membiru juga jejak darah yang ada di tembok membuat Cinta menahan air matanya kuat-kuat agar tidak menangis sekarang juga. Meta pingsan setelah Bram memperkosanya berkali-kali hari itu.
"Ibu, maafin Cinta, Bu. Ayo bangun, Bu, Cinta mohon bangun, Bu...," Cinta berusaha menyadarkan Ibunya yang sudah terkulai lemas.
"Ibu...," Cinta memeluk tubuh Meta dengan erat seraya mengusap air matanya yang menetes. Cinta tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ibunya sekarang, jadi dia menahan agar tidak menangis sekarang.
"Ibu pasti kesakitan kan, Ibu pasti nggak nyaman ada di sini. Maafin Cinta buat Ibu jadi seperti ini, semua ini karena Cinta, maafin Cinta, Bu...," ujar Cinta yang tidak henti-henti nya meminta maaf kepada Meta.
Ketika Luka masih bergelut dengan laki-laki itu, sosok laki-laki lain datang menyerangnya membuat Luka cukup kesulitan melawan kedua nya. Tapi dengan cepat Luka melumpuhkan kaki laki-laki berbaju serba hitam itu. Sehingga ia hanya perlu melawan laki-laki berbaju biru gelap yang wajah nya di tutupi oleh topeng. Laki-laki ini sangat kuat sehingga Luka yang sudah kehabisan energi hampir kehilangan keseimbangan nya. Tapi untungnya Gega segera datang ke arahnya.
"Jangan urusin gue, cepat bawa Cinta dan Ibu pergi dari sini!," ujar Luka ketika Gega ingin membantunya.
"Lo udah kehilangan energi, biar gue yang gantiin lo. Lo yang bawa Cinta dan Ibu pergi dari sini," jawab Gega yang langsung mengambil alih melawan laki-laki bertopeng itu sehingga Luka segera berlari ke arah Cinta dan Ibunya.
"Kita bawa Ibu sekarang, ini bukan waktunya buat menyesali semuanya. Ayo," Luka membawa tubuh Meta dan memasukkan nya ke dalam mobil begitu juga dengan Cinta yang terlihat sangat syok dengan apa yang terjadi.
"Luka..., denyut jantung Ibu lemah. Aku takut kita nggak bisa bawa Ibu ke dokter dengan tepat waktu," ucap Cinta dengan suara yang terdengar bergetar karena takut.
__ADS_1
"Jangan panik, kita pasti sampai tepat waktu," Luka membawa mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan.
Di kafe Gega sudah bisa mengambil alih, laki-laki bertopeng itu sudah tidak bisa bergerak lagi karena terkunci geraknya oleh Gega.
"Waduh, topeng lo serem banget. Gue hampir nangis karena sebenarnya gue takut banget sama topeng. Tapi karena gue tau lo itu pengecut yang nggak lebih serem dari pada topeng yang lo pakai, gue nggak jadi nangis," ujar Gega dengan suara meledeknya.
"Jangan harap lo bisa lepas, gue nggak akan biarin lo nyentuh Cinta sedikit pun. Paham lo?," tanya Gega. Tapi laki-laki bertopeng itu tidak menjawab pertanyaan Gega.
"Oh lo lagi isi energi ya, makanya nggak mau jawab pertanyaan gue?," ucap Gega.
Sesuai dengan tebakan Gega, laki-laki itu bangkit dan memutar balik keadaan sehingga Gega yang terkunci gerakan nya. Gega kembali bangkit dan melawan nya, sampai laki-laki bertopeng itu mengeluarkan sebuah pisau yang langsung menusukan nya ke perut Gega membuat Gega tidak bisa bergerak. Darah langsung membasahi pakaian yang Gega pakai dan tubuhnya langsung tergeletak di lantai. Laki-laki bertopeng itu langsung membawa laki-laki yang berpakaian serba hitam pergi meninggalkan Gega yang mengerang kesakitan.
Gega bergerak cepat menekan jam tangan yang Papahnya berikan. Jam tangan itu ketika di tekan langsung memberikan sinyal di kantor polisi terdekat beserta lokasi dimana Gega berada. Gega menahan nafasnya menahan sakit dari tusukan pisau di perutnya.
Chandra yang sedang berada di kantor polisi terkejut ketika mendengar suara nyaring di kantor dan langsung mengecek komputer kantor untuk melihat dimana lokasi dari pemilik jam ini. Ketika melihat lokasinya, Chandra langsung mengirimkan satu tim ke lokasi tanpa berbasa-basi. Sedangkan Chandra juga ikut tetapi menggunakan mobil polisi lainnya. Lokasi yang tidak terlalu jauh membuat mereka sampai dengan cepat. Mereka sampai di sebuah kafe kosong terbengkalai yang kumuh.
"Cepat cari! Periksa seluruh penjuru tempat ini!," perintah yang Chandra berikan membuat para polisi lain nya bergerak dengan cepat.
Dengan senter ditangan nya, Chandra menyusuri lokasi bagian dalam kafe. Matanya memeriksa setiap sudut dengan hati-hati. Sampai ia mendengar suara erangan dari ujung kafe membuatnya berlari dengan cepat.
"Gega?!," panggil Chandra yang terkejut melihat keadaan anaknya dengan pisau yang menancap diperutnya.
"Pah, sakit, Pah...," lirih Gega ketika menyadari bahwa yang datang adalah Papahnya.
"Kita ke rumah sakit sebelum terlambat!. Korban nya di sini!!!," suara bariton milik Chandra membuat polisi yang lain mendengar dan segera menghampirinya dengan mudah.
"Pasang garis polisi dan selidiki tempat ini. Saya yang akan membawa korban nya ke rumah sakit! Tetap berjaga di sini sampai saya datang lagi ke sini, paham?!," ujar Chandra dengan tegas.
"Siap, paham, Pak!," jawab para polisi lain dengan cepat.
"Bantu saya membawanya ke dalam mobil," Gega langsung dibawa ke dalam mobil Chandra dan setelah itu keduanya langsung berlalu pergi ke rumah sakit.
"Jaga kesadaran kamu, Ge, jangan sampai pingsan," ucap Chandra pada Gega yang sudah hampir kehilangan kesadarannya. Tangan Gega sedang menahan darah nya agar tidak keluar lebih banyak lagi dengan sapu tangan yang Chandra berikan.
"Ibu, Cinta, udah, ketemu, Pah," balas Gega dengan terbata-bata.
"Kamu bisa cerita semuanya kalau kamu sudah sembuh," ujar Chandra yang membuat Gega kembali diam.
"Suster, tolong utamakan pasien ini," ucap Chandra pada suster yang langsung menghampirinya ketika melihat mobil polisi berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Suster yang lain juga datang membawa kasur dorong rumah sakit. Chandra segera memindahkan tubuh Gega ke atas kasur itu. Para suster langsung membawa Gega keruangan gawat darurat dan ditangani oleh dokter dengan tanggap. Chandra menghela nafas berat karena ia bisa sampai di rumah sakit tepat waktu. Hampir saja, ia kehilangan anak laki-lakinya.
"Syukurlah kalau Ibu Cinta sudah ketemu," gumam Chandra seraya menunggu Gega di depan pintu ruangan UGD.
Ibu Cinta sedang dalam pemeriksaan dokter. Tapi sudah sejam satu jam yang lalu mereka belum juga mendapatkan kabar dari doker. Cinta berdiri dengan gelisah ditemani Luka, padahal ini sudah menunjukkan pukul satu pagi. Tapi Luka tetap setia menemani nya tanpa berkata apa pun.
"Kamu boleh pulang kok, aku bisa temani Ibu sendiri di sini. Kamu pasti cape, kan?," ujar Cinta pada Luka.
"Kata siapa?," jawab Luka dengan wajah datarnya.
"Kamu emang nggak bilang kalau kamu cape, tapi aku tau kamu cape. Karena aku juga cape, sama kayak kamu," balas Cinta yang membuat Luka menatap ke arahnya.
"Ini berat banget buat aku, kalau dari awal aku tau ini nggak akan mudah aku selesaikan, mungkin aku nggak akan memulai semua ini. Tapi sekarang, ini sudah benar-benar terjadi. Dan aku membuat Ibu dalam bahaya karena aku. Aku takut, aku akan membuat korban lain, Luka. Aku takut, kamu atau yang lain dalam bahaya karena aku, aku nggak mau itu terjadi sama kalian," lanjut Cinta seraya menundukkan kepala nya.
"Kan lo tau ini udah terlanjur, kenapa harus ada kata kalau?. Kata kalau nggak akan bikin lo bisa putar waktu ke belakang. Lebih baik lo berpikir bagaimana kedepannya dan langkah apa yang sebaiknya lo ambil, bukan lagi sibuk memikirkan bagaimana kalau lo nggak memulai semua ini," balas Luka seraya merangkul pundak Cinta.
"Kita dapatin jawaban nya bareng-bareng, ya?," ujar Luka dengan senyum menenangkan yang sangat jarang bisa Cinta lihat. Senyum itu begitu tulus dan candu sekali, dan Cinta suka melihat senyum itu.
"Aku berharap, semua orang punya orang kayak kamu di hidup mereka yang selalu ada disisi mereka dan bisa diandalkan. Pasti, rasa takut dan khawatir nggak akan bisa mengganggu pikiran. Karena kamu selalu mengisi pikiran aku dengan hal hal positif yang membuat aku banyak belajar dari kamu. Kamu hebat banget, Luka, biarpun kamu punya masalah kamu selalu bisa jadi obat untuk orang lain," jawab Cinta.
"Karena dari masalah itu gue juga belajar, dan pelajaran itu jadi obat untuk orang lain. Lo juga hebat, masalah lo sebesar ini tapi lo berani buat memulai dan mencari jawaban itu tanpa takut sama hal apa yang akan lo hadapi. Karena udah di tengah jalan, bakal lebih jauh kalau lo putar balik, sedangkan semua yang udah terjadi nggak bisa balik lagi. Jadi, kita harus tetap berjalan maju ke depan dan kita akan mendapatkan jawaban nya. Karena lo berhak, untuk tau apa jawaban nya," balas Luka. Cinta mengangguk setuju dan menyandarkan kepalanya di bahu Luka. Ia berharap, Luka akan selalu memberikan bahunya untuk ia sandarkan ketika ia butuh sandaran.
"Ibu gimana ya keadaan nya? Kenapa dokternya belum keluar juga?," tanya Cinta pada Luka.
"Masih diperiksa, tenang aja. Ada yang mau gue kasih tau, tapi lo jangan nangis," perkataan Luka barusan membuat Cinta mengangkat kepalanya yang tadi masih bersandar di bahunya.
"Apa?," jawab Cinta dengan perasaan yang mendadak jadi tidak enak. Luka membisikkan sesuatu ke telinga Cinta.
__ADS_1
"K-kamu nggak bohong, kan?!," tanya Cinta dengan mata berkaca-kaca yang menatap Luka. Gelengan kepala Luka membuat tubuh Cinta jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin. Apa yang barusan Luka bisikkan kepadanya benar-benar membuat hatinya hancur dan sulit dipercaya.
"Enggak, nggak mungkin," lirih Cinta dengan isak tangis nya yang langsung pecah setelah itu.