
Mentari senja berpendar malu-malu dari balik gumpalan awan. Meninggalkan jejak-jejak jingga langit barat. Dari kejauhan, diatas sebuah bukit yang berselimut rerumputan yang warnanya jingga kemerahan senja, di sela-sela hembusan angin musim hujan yang lembap dan berbau tanah basah yang khas. Aku masih disini, berdiri mematung sementara matahari dibelakangku memendarkan kehangatan sore. Kutatap pohon besar yang ada tepat didepan tempatku berpijak. Ia masih berdiri kokoh dengan dedaunannya yang berwara senada dengan lagit. Akar-akarnya berserakan dari atas hingga bawah, menembus liatnya tanah coklat. Aku melangkah mendekat, tangan kananku sedikit bergetar, mengenggam erat seikat bunga mawar merah.
Aku mengembuskan nafas. Terasa agak sesak tiap kali aku berkunjung kemari. Teringat kembali semua kenangan itu. kenangan yang membuatku bersyukur sekaligus bersedih. Aku teringat kembali padanya. Dia yang begitu berharga bagiku.
Andai kau tidak hadir dalam hidupku, aku tidak akan merasakan beban seperti ini, rasa sakit ini menusukku bertubi-tubi, aku ingin berteriak tapi suaraku entah mengapa tertahan ditenggorokan.
Tapi tanpamu, aku tidak akan belajar banyak hal. Terimakasih sudah hadir dihidupku, mengajariku tentang sakit, sedih dan mengajariku tentang cinta. Karena seandainya aku tidak bertemu denganmu, aku tidak akan pernah mengetahui arti tentang hidup. Bagiku kamu adalah segalanya, dulu, sekarang dan selamanya.
Sebuah senyum tipis perlahan mengembang dari bibirku tanpa kusadari tatkala kenangan kita kembali tersesit dalam ingatanku. Perlahan angin berembus menggerakkan dahan. Menerbangkan beberapa helaian daun. Aku menatap dedaunan layu yang terbang terbawa angin sore. jauh, semakin jauh menghilang bersama angin ketempat yang jauh.
***
Tiga puluh menit, mungkin lebih, gadis itu sudah berdiri disana. Tubuhnya mungil 150 centimeter, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam legam dipotong pendek sebahu dengan poni berderet lurus dengan alis matanya yang berbaris rapi. Matanya yang bulat berwarna hazelnut dibingkai oleh bulu mata panjang hitam nan lentik. Hidungnya yang mungil tepat diatas bibir tipis berwarna merah muda, menghiasi wajahnya yang bulat telur.
Tok!!!tok!!!tok!!! terdengar suara pintu diketuk oleh jemarinya yang kecil, entah untuk keberapa kalinya. Suara helaan nafasnya terdengar samar.
“Cih!” Cherry kesal. Ia tertegun sejenak, lalu menutup pintu gerbang rumah setelah meyakinkan diri tak ada orang didalam rumah. Gadis itu menyeret koper merahnya, sepatu bot selutut yang dikenakannya terdengar beradu dengan terotoar. Gadis itu berhenti disebuah halte.
“Taksi!!! Teriak Cherry pada sebuah taksi berwarna biru. Ia bergegas masuk namun ia terkejut karena disaat bersamaan, seorang pemuda masuk ke dalam taksi dari pintu yang berlawanan. “eh kamu siapa?” ucap Cherry galak
“eh kamu yang siapa? aku duluan kok yang masuk. Keluar sono.” pemuda itu kesal.
__ADS_1
“enak aja. Jelas \- jelas aku duluan. kamu yang keluar.” Cherry mendorong pemuda itu.
“kamu yang keluar.”
“kamu keluar!” Cherry berteriak.
“maaf, mas dan mbak mau kemana ya.” Ujar pak supir menyela.
“kamu keluar.”Cherry membuka pintu taksi dan mendorong pemuda itu hingga ia jatuh terduduk diatas aspal panas. “jalan pak.” Cherry menutup pintu taksi. Ia menoleh kebelakang dan melihat pemuda itu tengah kesal.
“cewek gilaaaa!!!!” teriaknya menyepak angin. Sementara taksi yang dikendarai Cherry berhenti disebuah gedung apartemen. Ia berjalan menuju lantai tiga.
__ADS_1
“bagaimana? Baguskan?” tanya seorang wanita bersanggul tinggi.
“lumayan bu luas lagi. Tapi kok nggak ada kamar ya?”
“siapa bilang? Tuh kamar mandi sama dapur.” Ucap wanita itu menunjuk.
“maksud saya sekat ruanganny bu. Masa semua nya digabung sih antara tempat tidur dan ruang tamu?” cherry memandang lagi seluruh ruangan yang terhampar tanpa dinding sekat pemisah. Dua tempat tidur berderet diujung ruangan ditemani dua buah lemari pakaian kecil. Sebuah meja makan dengan dua pasang kursi terbalik tertutup kain putih berdebu tepat didepan dapur. Selebihnya adalah maparan lantai kosong berdebu. Meski diakuinya ruangan 10x10 meter itu cukup luas untuk dirinya sendiri.
“namanya juga untuk satu orang dek. Lagian ini tuh udah murah. Kalo kamu nggak jadi beli, masih banyak yang mau kok.”
“eh, jangan dong. Iya deh bu saya ambil.” Ucap Cherry seraya menyerahkan amplop pada wanita itu. Wanita itu tersenyum dan segera pergi.
__ADS_1
***