
“Cher, maafin aku ya.” Ucap Dicky suatu pagi. Pemuda itu duduk di bangku dekat Cherry. Kelas masih sepi pagi itu, hanya mereka berdua didalamnya.
“buat apa?” tanya Cherry ketus.
“Cher, udah seminggu kamu nggak ngomong sama aku. Jangan terusan ngambek dong.”
“eh kamu tuh berisik banget yah.” Bentak Cherry sambil menatap mata Dicky dengan kesal. tiba-tiba Dicky mengenggam tangan Cherry. Gadis itu jadi tersentak dan buru-buru menarik tangannya. “dasar aneh, apa-apaan sih kamu.” ledek Cherry meninggalkan Dicky. Gadis itu berjalan menuju danau.
Tapi ternyata kejadian dirumah Debby tidak membuat Cherry marah terus - terusan. Entah siapa yang memulai mereka sudah saling bicara dan mulai bertengkar seperti biasa.
“Cher. Tugas lukisan dari bu Erlina udah kamu kerjain belom?”
“udah.” Ucap Cherry sambil mencuci piring.
“kuas aku rontok nih. Pinjem kuas kamu dong.” Ucap Dicky berdiri didekat Cherry.
“kenapa nggak sekalian aja kamu bilang kalo kuas kamu ketombean.” Ucap Cherry kesal.
“aku dipinjemin nggak nih?”
“cari sendiri. kamu nggak liat aku lagi sibuk.” Dicky pun berusaha mencari kuas itu dimeja belajar Cherry. Satu persatu laci ia buka dan tepat dilaci paling bawah ia terkejut melihat banyak botol - botol kecil yang berisi kapsul dan tablet. ‘obat apaan nih.’ Batin Dicky sambil melirik kearah Cherry yang masih mencuci piring. Ada juga bungkusan biru yang berisi obat - obatan. Saat sedang asyik berfikir. Cherry datang dan menutup laci itu dengan kasar. Ada raut wajah panik yang terpancar dari bening mataa gadis itu.
“kamu ngapain sih. Nih kuasnya.” Ucap Cherry agak kesal saat Dicky menggeledah isi lacinya.
“kamu sakit apa?” Tanya Dicky bangkit dengan suara cemas.
“nggak kok, biasa aja. Itu cuma vitamin aja sama obat generik.” Ucap Cherry singkat.
“kamu nggak bohong kan sama aku.” Suara Dicky terdengar tegas.
“bukan urusan kamu. Sana kamu kerjain aja tugas kamu.”
“tapi Cher...”
“nggak ada tapi - tapian.” Meski masih penasaran, namun Dicky segera menuju tempatnya melukis. Keasyikannya melukis membuatnya lupa pada isi laci Cherry. Seharian berkutat dengan kanvas dan cat minyak akhirnya tugas Dicky pun selesai. Ia segera mengumpulkannya diruang seni.
“dari mana bro.” Tanya Reza dikoridor depan ruang seni.
“dari dalam lah. Emang dari toilet?” ucap Dicky kesal karna dikagetkan.
“wajahnya nggak berdosa banget yah.” Ucap Rangga tersenyum.
“maksudnya?” Tanya Dicky bingung.
“soal Cherry lah. Katanya kamu bakal bisa naklukin tuh cewek. mana brother? Mana?” tangih Bisma.
“tenang aja bo, kamu liat aja ntar.” Dicky berjalan menuju kelas Cherry. Sementara itu Cherry dibuat penasaran oleh sikap Alda dan Andini.
“kamu nyebunyiin apa lagi sih dari aku?” Tanya Cherry.
__ADS_1
“ada cowok yang ganteng banget ngebales mention aku.”
“aku juga.” Andini dan Alda melompat kegirangan.
“eh siapa sih?” Cherry penasaran.
“rahasia.” Ucap Alda dan Andini kompak.
“eh Dicky tuh.” Alda menyikut Cherry. Saat Dicky berdiri didepan kelas Cherry.
“apaan sih. Dia itu mantan kamu. Nggak ada hubungannya sama aku.”
“muna’ banget yah temen kita yang satu ini.” Goda Andini.
“iya,padahal satu sekolahan juga udah tau kalo kamu sama Dicky tuh lagi deket.” Ucap Alda tersenyum.
“What?” Cherry agak terkejut.
“cie..cie... yang baru jadiaaan.” Teriak teman sekelas Cherry kompak.
“nggak lucu, siapa juga yang jadian sama dia. Parah ya kalian.” Protes Cherry.
“nggak apa - apa Cher. Sekarang kan Dicky udah insyaf jadi playboy. kamu cocok kok sama dia,” Teriak Nabila dari bagian belakang kelas. “sejak hari itu dia udah nggak pernah goda-godain cewek lagi loh. Bener-bener dia insyaf.”
“kita semua ngerestuin kamu kok Cher.” Ucap para mantan Dicky serempak.
“eh denger ya. aku nggak sudi ya jadian sama dia. Apaan sih.” Kesalnya.
“iiiih labay! pada nyebelin semua ya.” Cherry melangkah keluar kelas.
“hai Cher.” Sapa Dicky.
“cie...cie...cie..” tiba - tiba teman sekelas Cherry mengintip dari jendela kelas.
“NORAAK!!! ” Ucap Cherry kesal sambil menendang pintu kelas. Kontan semua teman - temannya takut dan kembali menuju bangku masing - masing. Sementara Dicky hanya tersenyum penuh arti.
“apa kamu senyam senyum? Kesambet? ”
“nggak. Cuma kalo kamu kalo lagi marah, manis.”
“hah?” Cherry menampakkan wajah kesal yang memerah.
***
Suasana sore itu sungguh damai, burung camar terbang kearah mata hari. Anginnya begitu damai menyentuh lembut suasana sore yang khidmat. Cherry tengah asyik menikmati senja tatkala matanya tertumbuk pada sebuah mobil yang terparkir tepat didepan gedung apartemennya. Ia segera berjongkok memunggungi pagar pembatas apartemen. Dengan merangkak ia bergegas masuk dan mengunci pintu. Dicky yang tengah bermain PS terkejut dan mendekati Cherry yang panik.
“kamu kenapa?”
“bokap sama nyokap aku ada disini.” Ucap Cherry panik. Tak lama pintu diketuk dari luar.”
__ADS_1
“seben.....” Cherry menutup mulut Dicky dengan sigap dan menariknya menuju dapur. “apa - apaan sih.” Protes Dicky melepaskan tangan Cherry yang menutup mulutnya.
“sssst. kamu jangan berisik.” Ucap Cherry takut.
“emang kenapa sih?”
“itu bokap nyokap aku. aku nggak mau ikut mereka.”
“mereka itukan orang tua kamu.”
“iya tapi masalahnya kalo aku ikut mereka, aku bisa - bisa dijodohin. aku nggak mau.”
“so?”
“ya kamu bilang aja kalo mereka salah alamat atau alamatnya palsu.”
“hahah emang lagu dangdut.”
“pokoknya kamu suruh pulang deh.”
“oke tapi nggak gratis ya.” Ucap Dicky sambil tersenyum licik.
“iya entar aku bayar.”
“bukan pake duit.”
“terus?”
“kamu harus mau pura - pura jadian sama aku.”
“what? aku nggak mau.” Ucap Cherry kesal.
“kalo gitu aku bakal bilang kalo kamu ada disini.” Terdengar ketukan lagi dari luar. “iyaaaa.” Teriak Dicky
“oke - oke aku stuju.” Ucap Cherry menjabat tangan Dicky. Dicky tersenyum penuh kemenangan. Ia melangkah dan membuka pintu. Benar saja, pak Lukman dan bu Shinta tengah berdiri di ambang pintu.
“apa benar Cherry Moriesme tinggal disini?” Tanya pak Lukman sambil memandang Dicky dengan bingung.
“maaf sepertinya anda salah alamat.” Ucap Dicky sopan.
“oh begitu ya. tolong hubungi kami jika kamu tahu keberadaan putri kami. Ini kartu namaku.” Ucap pak Lukman menyerahkan selembar katu namanya. Dengan kecewa, keduanya meninggalkan gedung apartemen itu. Dicky segera menutup pintu apartemen.
“udah pergi?” Tanya Cherry was - was, dan Dicky hanya mengangguk sambil tersenyum. “apa senyam - senyum?” Tanya Cherry galak.
“weits, jangan galak - galak atuh.” Ucap Dicky seraya melemparkan sesuatu kearah Cherry. Cherry menangkapnya. Sebuah benda yang dulu telah ia kembalikan pada Dicky. “sekarang pake.” Perintah Dicky.
“nggak mau. Lagian pacarannya kan cuma pura - pura.” Cherry melemparkan kembali benda itu kearah Dicky. Dicky memungut benda yang terjatuh dilantai itu dan berjalan mendekati Cherry. “kamu mau apa? Jangan macem - macem ya.” Ancam Cherry sambil mengepalkan tinjunya. Dicky berdiri dibelakang Cherry dan melingkarkan kalung itu dileher Cherry.
“pokoknya besok temen - temen aku udah nggak bisa lagi ngeraguin kemampuan aku. Dan seluruh murid di SMA Bhakti bakal mengakui kemampuan aku untuk naklukin cewek paling galak, paling jutek seantero sekolah. hahahah ” Ucap Dicky tertawa puas.
__ADS_1
“DASAR PLAYBOY STADIUM AKHIR!!!” teriak Cherry kesal.
***