Pahat Hati

Pahat Hati
Berkumpul kembali


__ADS_3

Cherry berjalan memasuki halaman rumah orang tuanya yang besar. Suasana rumah sangat nyaman ditambah halaman dengan selubung rumput gading yang terhampar bagai permadani. Di garasi, terdapat 3 mobil berjejer rapi. Pintu rumahnya terbuat dari ukiran jepara, dingin dan mengkilap. Isi didalam rumah tak kalah mewah, lantai marmer berkilauan bagai kristal. Pilar - pilar tinggi menyangga rumah dengan motif ukiran naga. Belum lagi segala barang dan alat elektronik mahal yang menghiasi setiap jengkal rumah itu. Gadis berjalan menaiki anak tangga yang tertutup karpet merah. Bu Shinta membuka sebuah pintu.


"ini kamar kamu sayang." Ucapnya memeluk pundak putrinya. "mama sudah lama merancangnya untuk kamu. Semua juga lengkap, mewah, berkelas dan impor dari London. Kamu pasti suka deh." Wanita muda itu tersenyum merangkul bahu Cherry. Namun gadis itu cepat mengambil jarak.


"Oh." Ucap Cherry cuek dan singkat. Ia berjalan menuju sebuah ranjang besar dengan sprai berbulu cokelat yang menutupi permukaannya.


"mama tinggal dulu ya sayang." Bu Shinta beranjak keluar kamar dan menutup pintu dari luar, meninggakan Cherry yang berwajah masam.


***


Dua minggu tinggal dirumah orang tuanya cukup membuat Cherry nyaman. Namun ia tetap saja tidak bisa betah dan akrab dengan adiknya sendiri, Dea. Justru adik yang terpaut satu tahun dengannya itu sering membuatnya kesal, tak ayal mereka sering bertengkar dan ujung - ujungnya Dea lah yang akan dibela oleh sang mama. Hal inilah yang paling tidak disukai Cherry. Ia benar-benar merasa dianaktirikan oleh ibunya. Pagi ini misalnya, saat papa dan mama tengah sarapan bersama Dea.


"ma, Cherry mana?"


"masih diatas pa." ucap Bu Shinta. "Cheeeer, ayo turun sayang. Kita sarapan bareng yuk." Tak lama kemudian Cherry turun.

__ADS_1


"dasar manja, mesti dipanggil dulu baru turun." Ucap Dea ketus saat Cherry melintas.


"Aku lagi siap-siap sekolah, kenapa? Nggak suka?." Tanya Cherry tak kalah ketus. Ia duduk sambil mengambil segelas susu coklat dan langsung dihabiskannya. Lalu ia mengambil sekerat roti dan beranjak pergi.


"mau kemana sayang." Tanya mama.


"mau berangkat duluan. Males makan semeja ama orang super rese'. Nggak napsu." Cherry bergegas menjauh.


"maksud kamu apa?" Tanya Dea beranjak dari tempat duduknya.


"kamu ngerasa jadi orang super rese'? bagus deh."


"aku nggak pernah takut sama kamu." Cherry membalas perlakuan Dea.


"stop! Kalian ini bukan anak kecil lagi." perintah pak Lukman tegas. Membuat Cherry bergegas meninggalkan meja makan. Namun bukan hanya Dea yang membuat Cherry kesal. Belakangan ia tahu dari Dea jika kedua orang tuanya telah menjodohkannya dengan seorang pemuda anak rekan bisnis sekaligus sahabat pak Lukman.

__ADS_1


"aku menolak perjodohan ini." Ucap Cherry melipat tangan didada.


"papa dan mama sudah sepakat sayang." Ucap Bu Shinta lembut.


"pokoknya aku nggak mau. Lagian knapa sih pake jodoh - jodohan segala. Helloooo... ini tuh udah 2018 kali." Ucap Cherry kesal "Ini hidup aku, aku yang berhak menentukannya. Jangan seenaknya memutuskan masa depanku."


"pak Ari dan papa itu sudah berteman sejak kecil dan kami saling berjanji jika kelak kami memiliki anak. Kami akan menjodohkannya." Ucap pak Lukman


"nggak bisa gitu dong pa. aku nggak mau, aku itu nggak suka sama tu orang."


"kalau sudah bertemu, kamu pasti suka. Anaknya baik, sopan, ganteng lagi." Ucap Bu Shinta lembut.


"aku jadi curiga, kalian minta aku tinggal sama kalian biar rencana perjodohan itu terlaksana kan?"


"kamu jangan asal bicara. Pokoknya mau tidak mau, kamu harus bertunangan."

__ADS_1


"bodo'." ucap Cherry memasuki kamarnya. Ia mengambil kopernya dan memasukkan baju - baju dan barang - barangnya. Dini hari sekali ia mengendap - endap keluar gerbang rumah, disana sudah ada taksi pesanannya. Ia memakai sepatu bot hitamnya yang tadi ia tenteng agar tak membuat berisik dalam rumah. Ia melaju meninggalkan rumah orang tuanya menuju rumah oma Sekar.


***


__ADS_2