
Tiga puluh menit, mungkin lebih, gadis itu sudah berdiri disana. Tubuhnya mungil 150 centimeter, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam legam dipotong pendek sebahu dengan poni berderet lurus dengan alis matanya yang berbaris rapi. Matanya yang bulat berwarna hazelnut dibingkai oleh bulu mata panjang hitam nan lentik. Hidungnya yang mungil tepat diatas bibir tipis berwarna merah muda, menghiasi wajahnya yang bulat telur.
Tok!!!tok!!!tok!!! terdengar suara pintu diketuk oleh jemarinya yang kecil, entah untuk keberapa kalinya. Suara helaan nafasnya terdengar samar.
“Cih!” Cherry kesal. Ia tertegun sejenak, lalu menutup pintu gerbang rumah setelah meyakinkan diri tak ada orang didalam rumah. Gadis itu menyeret koper merahnya, sepatu bot selutut yang dikenakannya terdengar beradu dengan terotoar. Gadis itu berhenti disebuah halte.
“Taksi!!! Teriak Cherry pada sebuah taksi berwarna biru. Ia bergegas masuk namun ia terkejut karena disaat bersamaan, seorang pemuda masuk ke dalam taksi dari pintu yang berlawanan. “eh kamu siapa?” ucap Cherry galak
“eh kamu yang siapa? aku duluan kok yang masuk. Keluar sono.” pemuda itu kesal.
“enak aja. Jelas \- jelas aku duluan. kamu yang keluar.” Cherry mendorong pemuda itu.
“kamu yang keluar.”
“kamu keluar!” Cherry berteriak.
“maaf, mas dan mbak mau kemana ya.” Ujar pak supir menyela.
“Diam!!!”keduanya membentak si supir . hingga supir itu terkejut, tersentak dan terdiam.
“kamu keluar.”Cherry membuka pintu taksi dan mendorong pemuda itu hingga ia jatuh terduduk diatas aspal panas. “jalan pak.” Cherry menutup pintu taksi. Ia menoleh kebelakang dan melihat pemuda itu tengah kesal.
“cewek gilaaaa!!!!” teriaknya menyepak angin. Sementara taksi yang dikendarai Cherry berhenti disebuah gedung apartemen. Ia berjalan menuju lantai tiga.
“bagaimana? Baguskan?” tanya seorang wanita bersanggul tinggi.
__ADS_1
“lumayan bu luas lagi. Tapi kok nggak ada kamar ya?”
“siapa bilang? Tuh kamar mandi sama dapur.” Ucap wanita itu menunjuk.
“maksud saya sekat ruanganny bu. Masa semua nya digabung sih antara tempat tidur dan ruang tamu?” cherry memandang lagi seluruh ruangan yang terhampar tanpa dinding sekat pemisah. Dua tempat tidur berderet diujung ruangan ditemani dua buah lemari pakaian kecil. Sebuah meja makan dengan dua pasang kursi terbalik tertutup kain putih berdebu tepat didepan dapur. Selebihnya adalah maparan lantai kosong berdebu. Meski diakuinya ruangan 10x10 meter itu cukup luas untuk dirinya sendiri.
“namanya juga untuk satu orang dek. Lagian ini tuh udah murah. Kalo kamu nggak jadi beli, masih banyak yang mau kok.”
“eh, jangan dong. Iya deh bu saya ambil.” Ucap Cherry seraya menyerahkan amplop pada wanita itu. Wanita itu tersenyum dan segera pergi.
***
Keesokan harinya, Cherry menarik kopernya dan beberapa barang \- barangnya yang ia ambil dari hotel tempat ia menginap beberapa hari terakhir ini. Ia mengeluarkan barang yang tidak sedikit dari dalam taksi. Ia berjalan sambil menyeret koper merahnya. Sebuah taksi berhenti tak jauh dari posisinya. Ia melihat si penumpangi dan entah mengapa ia merasa pernah bertemu orang itu. Pikiran itu cepat ia hilangkan, Ia mengendikkan bahu dan bergegas membawa barang \- barangnya. Saat menaiki tangga, barulah ia tersadar, orang itu adalah pemuda yang tempo hari ia usir dari taksi. Cherry melirik pemuda yang baru turun dari taksi.
“Hai cantik” suara sapaan penuh gombal itu membuat cherry bergidik. Ia tak menoleh justru mempercepat langkahnya menapaki lantai tangga satu demi satu.
“baru ya disini. Sama aku juga.” Pemuda tersenyum itu masih mencoba menyapa cherry. Sekilas gadis itu menengok si pemuda yang tengah menggendong ransel besar juga menjinjing sebuah koper besar berwarna biru tua.
keduanya berada diujung tangga lantai tiga. “wah kayaknya kita tetanggaan nih. Kenalan dulu yuk.” Tanpa menyerah pemuda itu terus mengajak cherry berbicara. “Aku Dicky Danendra.” Tapi Cherry berbelok menuju jejeran pintu apartemen. Ia mencari nomor kamar sambil menarik kopernya. Dengan wajah ceria ia tak menyerah.
“jangan jual mahal gitu dong.” Pemuda bernama Dicky itu menarik lengan Cherry hingga kini mereka saling tatap.
“A! kamu cewek yang waktu itu!” Dicky dengan ekspresi kagt bercampur jengkel. Senyumny yang mekar tiba-tiba sirna. “ngapain kamu disini?” nada suaranya berubah sinis.
“heh, kamar dari tadi kamu kepo. aku kasih tau ya. Kamar 233 ini tempat aku. Puas? kamu nggak usah kebanyakan gaya. aku nggak minat sama cowok sok ganteng kayak kamu.”
“aku emang ganteng kali. Eh 233 tuh kamar aku!” Dicky sedikit terkejut dengan pernyataan cherry.
“apartemen aku kali.”
“enak aja, kemaren baru aku beli.”
“aku beli ini minggu lalu. Enak aja. Jangan ngaku - ngaku deh.” Ucap Dicky menelpon sang penjual apartemen.
__ADS_1
“nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.” Ucap sang operator telpon. “aaaduh, knapa nggak aktif sih. Jangan-jangan aku ditipu.” Sementara Dicky masih sibuk dengan ponselnya. Cherry membuka pintu dengan kuncinya.
“eh, ngapain?” Dicky mencegah Cherry.
“ini punya aku.” Cherry berusaha memasukkan anak kunci, dan pergumulan atas gagang pintu itu pun berlangsung hingga pintu itu dibuka. Cherry menarik kopernya masuk dan hendak menutup pintu apartemen itu dari dalam.
“eh curang kamu.” Dicky mendorong pintu itu sekuat tenaga. Hingga terjadilah aksi dorong-mendorong pintu. Namun rupanya Cherry harus kalah tenaga dan berhenti mendorong pintu hingga Dicky terjembab kelantai.
“hahahah, nekat sih.” Ledek Cherry pada Dicky yang berusaha bangkit dari lantai.
“berani-beraninya kamu ngerjain aku. Awas kamu.” Ancam Dicky kesal.
“aku udah bayar lunas apartemen ini.”
“eh, aku juga.” Sura Dicky meninggi.
“aku nggak akan pergi.” Ucap Cherry galak
“aku akan tetap disini.” Dicky lebih galak sambil menunjuk lantai. Mereka terdiam dan saling tatap.
Cherry mengembuskan nafas berat, melangkah kearah pintu. Dicky membulatkan mata dengan senyum merekah. Aku menang, pikirnya.
Sementara gadis itu membungkuk meraih kopernya yang tergeletak begitu saja dilantai. Bukannya keluar ruangan, ia justru berjalan masuk ke arah kiri.
“Eh kamu ngapain!” Suara Dicky meninggi. Namun Cherry diam. Ia menganggap Dicky tidak ada disana.
“Eh, kalo kamu nggak mau, bagus deh. kamu pergi aja sono.” Cherry menunjuk pintu keluar.
“Asal kamu tau ya, aku nggak mau pergi dari sini.” Teriaknya lagi. “aku duluan yang sewa nih apartemen, jadi kamu yang mesti pergi dari sini. Sebaiknya sekarang kamu telpon ibu-ibu yang sewain apartemen ini.” Cherry bergeming tak peduli.
“Oi kamu dengerin aku nggak sih! Dari tadi kamu nyuekin aku mulu. Oi!”
“Berisik! Oi-oi-oi, nama aku Cherry, bukan oi.” Bentak gadis itu galak. Dicky sempat terperanjat karena teriakannya.
“Kenapa jadi kamu yang marah sih.”
“Hidup ini sengaja dibuat nggak mudah, untuk memisahkan orang yang mau berusaha dengan orang yang hanya suka mengeluh. Semuanya jadi lebih sulit kalau kita cuma mengeluh dan menyalahkan orang lain. Kalau kamu nggak suka sama keadaan ini, silakan kamu yang angkat kaki. aku tegasin sama kamu, aku nggak akan pergi dari sini sampai masa sewanya habis.”
“Hah!”
“Kamu nggak mau pergi, begitu juga aku, ya sudah tinggal aja disini.”
“Idih, ogah aku.”
__ADS_1
“nggak usah banyak mengeluh. Karena nggak ada orang yang suka mendengar keluhan orang lain, karena masalah mereka juga sudah banyak.” Mendengar itu, Dicky terdiam. Ia tak punya pilihan lain.