
“Sabar ya Bil,” ucap Meilani pada Nabilah yang tengah menangis tersedu-sedu dipojok kelas. Jam pelajaran kosong yang harusnya dimanfaatkan untuk belajar mandiri malah digunakan oleh para siswa dengan mengobrol dan bergosip.
“Kenapa tuh si Nabil?” tanya Cherry. Dipandanginya gadis berambut ponytail yang menyembunyikan wajah dibalik lengannya.
“Biasa abis diputusin Dicky.” Ucap Andini cuek. Ia masih asyik memainkan tombol ponselnya.
“diputusin? Sama si Dicky yang itu? Ternyata dia laku ya? Nggak nyangka aku.”
“emang kenapa?” tanya Alda
“ya, aneh aja. Masa orang super, duper, tripel nyebelin kayak si Dicky ada yang mau sih. Hahahah .”
“asal kamu tau ya Cher, Dicky itu paling banyak fans, tiap minggu gonta-ganti pacar.” Ucap Alda membulatkan mata menerangkan dengan ekspresi sungguh-sungguh pada Cherry yang nampak ragu dan tak percaya.
“ckckckck aku rasa aku bakal kasih dia gelar : the king of kucing garong. aku bener-bener nggak nyangka loh.” Cherry berdecak kagum. “udah ah, nggak udah ngebahas tuh orang. Kita kekantin aja yuk.” Ajak Cherry.
“Din, kamu nagapain sih?” tanya Alda menyadari saudari kembarnya sedari tadi sibuk sendiri.
“lagi maen twitter. Kenapa sih?”
“sama siapa?” Cherry mencoba mengintip ponsel Andini.
“bukan siapa - siapa. Kita kekantin aja yuk.” Andini salah tingkah.
Didepan kantin, tampak anak - anak perempuan tengah berkumpul hingga menghalangi pintu masuk. Apa lagi kalau bukan karena tingkah Dicky dan kawan - kawan yang tebar pesona.
“hai.” Sapa Dicky pada dua anak perempuan yang akan masuk kekantin. Keduanya tertawa cekikikan.
“punya obeng nggak?” Tanya Dicky, keduanya menggeleng bingung. “kalo cangkul ada nggak?” Keduanya kembali menggeleng. “kalo akun twitter atau whatsapp pastinya punya kan? Bagi dong, nanti malem aku chat.” Kedua gadis itu kembali tertawa cekikikan. Kedua gadis itu nampak senang digoda oleh Dicky.
__ADS_1
“Gombalan basi.” Ucap Cherry menyela dengan nada sinis.
“masalah buat kamu?” Tanya Debby galak seraya berjalan mendekati Dicky. Gadis berponi dengan rambut cokelat kehitaman panjang terurai sepunggung sedikit ikal dibagian ujung, alisnya tebal, matanya sipit dan hidungnya mungil. Kulitnya kuning langsat dengan tahi lalat disudut bibir kanannya. Ia berdiri merapat ke bahu Dicky deang tatapan tajam kearah Cherry.
“nggak masalah sih, cuma aneh aja, kok mau - maunya di gombalin sama kucing garong kayak nih cowok.” Ucap Cherry jutek. “selera cewek-cewek disekolah ini kok rendah banget.” Ejeknya.
“alah bilang aja kamu cemburu, soalnya Dicky nggak pernah ngegodain kamu.” Ejek Debby.
“hah? Cemburu kata kamu. Amit-amit deh.” Cherry bergidik.
“Ky jangan diem aja dong.” Debby menghasut.
“aku stay cool aja. Nggak perlu kita dengerin semua omongan orang karena kadang mereka punya mulut tapi nggak punya otak.” Sindir pemuda itu.
“Hah? Maksud kamu!” Cherry melotot marah mendengar sindiran pemuda itu.
“Cher, udah dong. Kita masuk aja yuk.” Ucap Alda
“wah,wah,wah baru kali ini aku ketemu cewek yang kaya gitu.” Bisma mengejek. Pemuda yang berdiri didekat Dicky menyimak perdebatan mereka.
“cewek rese’ stadium akhir.” ucap Dinda, sahabat Debby.
“kamu kenal dimana Ky?” tanya Rangga tertawa. Rangga adalah salah satu sahabat Dicky juga. Pembawaannya santai namun sopan. Berbeda dengan Bisma dan Dicky yang berpakaian berantakan, Rangga selalu berpakaian rapi. Rambutnya yang dipotong pendek selalu disisir. Proporsi wajahnya bulat dengan pipi yang sedikit chubby dilengkapi sepasang mata agak bulat dengan pupil cokelat kayu juga hidung mancung dan sebaris alis yang berderet hitam rapi.
“kayaknya kalian akrab ya.” Ledek Reza sahabat Dicky yang lain. Penampilannya tidak jauh beda dengan Dicky dan Bisma. Potogan rambut rambut berjambul berwarna cokelat, rahangnya lancip dan manik matanya hitam tajam. Sebuah headphone yang bertengger di lehernya adalah ciri khasnya.
“Haah, kamu ngomong apa sih, a... akrab dari mananya coba.” Ucap Dicky gelagapan.
“terus?” Rangga penasaran.
__ADS_1
“udah ah, males aku ngomongin tuh cewek.” Dicky berjalan menjauhi kantin. kalo ketahuan aku serumah sama tuh cewek rese’ reputasi aku bisa rusak batin Dicky.
***
Bel pulang berdering nyaring. Dicky masih berdiri didepan kelas 2 IPA2. “Cher kita duluan ya.” Ucap Andini dan Alda serempak.
“oke, see you.” Cherry melambaikan tangan.
“lama banget sih.”keluh Dicky
“ngapain kamu disitu?” tanya Cherry sembari membereskan sapu dan alat pel.
“nungguin kamu lah.”
“aku? Ada angin apa kamu nungguin aku?” Cherry setengah tertawa.
“ayo. Pulang.” Dicky menarik Cherry, lebih tepatnya menyeret paksa.
“eh lepasin aku. Kucing garong, lepasin aku. Apaan sih kamu, aku bisa jalan sendiri.” Gadis berambut pendek itu jengkel.
“diem kamu. Ayo masuk.” Dicky memaksa Cherry memasuki sebuah taksi.
“itu Dicky sama Cherry kan?” tanya Rere.
“mana? aneh. Sejak kapan mereka deket?” Tanya Debby tak senang.
“udah pergi.” Ssahut Rere lagi.
“salah liat kali kamu. Mana mungkin si Dicky jalan sama Cherry.” Sahut Dinda.
__ADS_1
“Tau nih. Impossible.” Suara Debby terdengar mantap tapi wajahnya menunjukkan keraguan.
***