
Sementara itu ditempat lain, Andini melangkah memasuki ruang kelasnya. Ia baru saja selesai latihan cheers.
“kamu kenapa Da? mata kamu sembab gitu sih?” Tanya Andini
“aku mutusin Dicky.”
“kenapa?”
“dia selingkuh.” Tangis Alda semakin kencang. Andini memeluk kakaknya.
“siapa yang selingkuh?” Tanya Cherry yang tiba - tiba muncul, seperti biasa ia baru saja bertemu dengan Ilham.
“Cherry. kamu belum pulang.” Andini terkejut.
“tadi aku abis dari danau. Kok Alda nangis sih?”
“nggak apa - apa kok.” Alda masih berusaha menutupi kesedihannya.
“kayaknya kalian nyembunyiin sesuatu dari aku.” Keduanya terdiam. “woi kok diem sih.” Cherry menggebrak meja hingga keduanya tersentak. “siapa yang selingkuh?” Tanya Cherry mulai kesal. Alda dan Andini tertunduk takut. “hallooo? Ada orang nggak sih?”
“Dicky.” Ucap Alda lirih.
“hah? Si playboy stadium akhir itu? kamu pacaran sama dia? kamu nggak bercanda kan?”
“serius.” Ujar Andini.
__ADS_1
“Din, kamu tau juga.”
“sorry Cher.”
“kurang ajar tuh orang.” Cherry memukul tanganya sendiri. “Kalo ketemu aku hajar tuh orang” sambungnya.
“jangan Cher.” Alda mencegah.
“kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku sih? Kenapa sih kamu mesti nyembunyiin ini dari aku?” Cherry marah.
“karena aku takut kalo kamu bakal marah dan nggak stuju.” Alda angkat bicara.
“ya iyalah aku nggak stuju.” Cherry kembali menggebrak meja. “kamu tau sendiri Dicky itu kayak gimana. aku kan udah ngelarang kamu buat deket - deket sama tuh makhluk. Gini akibatnya kalo kamu nggak ngedengerin aku.”
“udah dong Cher, jangan mojokin Alda.” Andini mencoba membela saudaranya.
“kenapa sih kalian mesti nyembunyiin semua ini? Kita ini temen, tapi kalian berdua malah ngebohongin aku. Jahat, kalian tega ya, aku kira kita sahabat,” ada nada kecewa dari suara gadis itu. “mungkin aku aja yang ngerasa seperti itu.” Untuk ketiga kalinya Cherry menggebrak meja dan berjalan meninggalkan kelas sambil menyandang ranselnya. Cherry berjalan kesal kearah kantin. Disana ia melihat Dicky dan teman - temannya tengah berdiri didepan pintu kantin yang mulai sepi. Dicky dan teman - temannya tengah bersama dengan geng RoyalGirls. Tampaknya Dicky tengah melancarkan aksinya pada Debby. Sementara Debby yang sejak dulu menyukai Dicky hanya bisa tersipu malu saat pemuda berkaca mata itu merayunya. Tanpa di duga, Cherry berjalan mendekati Dicky, menarik kerah bajunya dan melayangkan tinjunya hingga tubuh Dicky oleng.
“eh Cherry asem yang super rese’, apa - apaan sih kamu?” Debby membentak Cherry.
“kamu kenapa sih?” Dicky memegang bibirnya yang berdarah.
“heh playboy jelek kamu apain temen aku?”
“dia yang mutusin aku. Baru kali ini juga aku diputusin, biasanya aku yang mutusin.” Ucap Dicky enteng.
__ADS_1
“kamu tuh ya, kurang ajar.” Cherry masih mencoba menyerang Dicky namun dihalangi oleh teman Dicky, Reza.
“tenang dong Cher.”
“tenang - tenang, ngomong tuh enak. aku nggak suka ya kalo kamu nyakitin sahabat aku.”
“dia juga yang mau sama aku.”
“diem kamu. Nggak ada rasa bersalahnya kamu ya. Alda itu cinta sama kamu, tapi kamu malah nyakitin dia. Apa kamu nggak punya perasaan?” Dicky terdiam. “atau kamu nggak pernah jatuh cinta? aku kasian ya sama kamu. Sok playboy padahal sebenarnya kamu itu orang yang paling kesepian.” Ucap Cherry berjalan menjauhi mereka. Ia menuju danau belakang sekolah.
“dasaaaaar playboy stadium akhir. kurang ajaaaaaar!!!!” Cherry berteriak melampiaskan kemarahannya.
“kurang kenceng.” Ilham membuat Cherry tersentak kaget.
“iiih, ngagetin aja deh.”
“jadi aku gangguin nih?”
“nggak sih. Cuma aku lagi kesel aja ama tuh orang.”
“jangan benci yang berlebihan, entar malah jadi cinta.”
“cinta? Iiieuch nggak layau.” Ucap Cherry dengan ekspresi aneh.
“udah jangan suka marah - marah, entar cepet tua lho.” Ilham mengelus rambut Cherry, hingga gadis itu tersenyum tenang. Emosinya yang memuncak perlahan-lahan memudar.
__ADS_1
***