Pahat Hati

Pahat Hati
Cemburu


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak hubungan Dicky dan Cherry menjadi konsumsi publik disekolah, meski sering bertengkar namun mereka tak menampakkan adanya tanda \- tanda akan mengakhiri hubungan mereka.



“makin hari makin lengket aja si Cherry asem ama Dicky.” Ucap Rere dengan nada kesal saat melihat Dicky mengantarkan Cherry ke kelasnya.



“kok kamu diem aja sih Deb?” Tanya dimda.



“terus aku mesti ngapain?” Tanya Debby gusar.



“ya apa kek. Lagian kok pergi bareng, pulang juga bareng. Emang rumah mereka searah ya?” ujar Rere.



“iya juga ya. aku kok jadi curiga ya.” Sahut Dinda.



“pulang sekolah kita ikutin mereka.” Usul Debby yang dijawab anggukan kepala oleh kedua temannya. Benar saja sepulang sekolah Debby dan kedua temannya mengikuti Dicky dan Cherry yang berjalan kaki pulang bersama.  Ketiganya mengawasi Cherry dan Dicky yang tengah menapaki tangga besi. Lalu mereka terperanjat tatkala melihat Cherry dan Dicky masuk ke dalam ruangan yang sama.



“aku nggak salah liat kan Deb?” Tanya Rere. Debby menggeleng pelan.



“jadi selama ini mereka tinggal bareng?” Tanya Dinda.



“aku nggak terima. Kalian berdua jaga mobil. aku punya rencana.” Ucap Debby seraya keluar dari persembunyian dan menuju gedung apartemen Cherry dan Dicky. Debby menapaki tangga menuju kamar yang dituju keduanya. Debby mengetuk pintu perlahan. Tampak Cherry membukakan pintu dengan mata yang terbelalak karena kaget.


“ngapain kamu disini.”


“mau ketemu Dicky.” Ucap Debby singkat.



“kamu salah rumah.”



“udah ketahuan, masih juga mau bohong. aku itu liat sendiri kalo Dicky tuh masuk ke sini.” Debby merangsek masuk ke dalam dan melihat Dicky yang baru keluar dari kamar mandi. Mata mereka beradu.



“Debby!!!” seru Dicky terkejut.



“nggak usah kaget gitu dong.” Debby melangkah menuju meja makan dan dengan santai duduk disalah satu kursinya. Cherry dan Dicky tampak terkejut dan saling menyikut. “aku jadi penasaran apa kata anak \- anak ya kalo tau kalian tinggal satu rumah.”



“aduh Deb, please jangan ya.” Pinta Cherry.



“aku akan tutup mulut kalau kalian nurutin mau aku.”



“apa?” Tanya Dicky.



“kamu sama si Cherry asem ini, harus putus. Dan kamu harus memohon didepan anak \- anak satu sekolah kalo kamu mau aku jadi cewek kamu.”



“haaah? Ogah, gengsi dong.” Ucap Dicky menggeleng. Dari sekian banyak cewek ia tak suka pada Debby.



“oke. Tapi jangan salahin aku kalo anak \- anak tau soal ini.” Ancam Debby.



“jangan Deb. Please jangan ya.” Cherry memohon. “Ky, turutin aja deh maunya.”



“enak aja. Perasaan nggak bisa dipaksain tau.”



“perasaan? Emangnya playboy punya perasaan ya? aku baru tau.” Cherry tertawa sinis.



“playboy juga manusia.” Runtuk Dicky tak mau kalah.



“woi jadi gimana.?” Tanya Debby.

__ADS_1



“iya\-iya Dicky bakal mau kok. kamu tenang aja.” Ucap Cherry tersenyum pahit.



“kok kamu yang mutusin sih.” Protes Dicky.



“besok aku tunggu kamu dilapangan.” Ucap Debby beranjak menuju pintu sambil tersenyum kearah Cherry dan Dicky.



“kamu kok seenaknya aja sih.” Protes Dicky sesaat setelah Debby keluar.



“ya terpaksa.” Ucap Cherry melangkah sambil membuka kulkas.



“iya tapi kan aku belom bilang setuju.”



“emangnya kita punya pilihan?” ucap Cherry kesal.



“bohong banget kalo pilihan itu nggak ada. Selalu ada pilihan dalam hidup ini.”



“kalo gitu kamu pikir deh pilihan yang terbaik.”


“kamu nggak bisa seenaknya mutusin ini semua.”


“kita kan cuma pacaran bohongan, apa salahnya kalo kamu juga pura-pura sama Debby? Bukannya selama ini itu keahlian kamu.


Diam Dicky mendengar kata-kata Cherry yang terdengar menusuk hatinya.  Ada rasa kecewa yang merembes melukainya.


Cherry berjalan keluar meninggalkan Dicky sendirian. Cherry melangkah turun dan duduk di kursi besi dibawah pohon yang tak jauh dari apartemennya. Tiba - tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat didepan tempat duduk Cherry. Cherry yang masih kesal tak menggubris sang pengendara.


“serius ama sih ngelamunnya.” Ucap seorang pemuda sambil membuka helm.



“Reza!!!” seru Cherry melihat pengendara motor. Reza turun dan duduk tepat disamping Cherry.



“kamu kok tau rumah aku.” Cherry gugup.




“laper.” Ucap Cherry sekenanya.



“yuk kita makan. aku yang traktir.” Ajak Reza senang. Cherry memutuskan mengikuti ajakan Reza dari pada harus terus \- menerus memikirkan sikap Dicky yang menyebalkan.



Dari balkon depan, Dicky diam \- diam melihat Reza dan Cherry melaju meninggalkan apartemen. Matanya terus mengawasi hingga bayang \- bayang pun hilang dari pandangan. Hanya suara deru kendaraan yang sesekali terdengar menemani sepinya.


***


“Debby!!! aku suka sama kamu!!!” teriak Dicky ditengah lapangan. Debby memperhatikan Dicky sambil tersenyum penuh kemenangan.



“kamu putus sama Dicky?” Tanya Andini dan Alda serempak.



“ya gitu deh.” Ucap Cherry memandang Dicky dengan tatapan prihatin. Tampak Debby menerima pernyataan Dicky diiringi tepuk tangan dari seluruh siswa. Dicky melirik sepintas kearah Cherry dengan tatapan yang sulit untuk ditafsirkan.



“sabar ya Cher.” Ucap Alda menepuk bahu Cherry.


“ih apaan sih. Biasa aja deh.” Ucap Cherry melangkah menuju bagian belakang sekolah.



“biasa aja? Kok kayak jealous gitu sih. Aneh.” Ucap Andini geleng \- geleng kepala. Cherry melangkah pelan menuju ujung dermaga. Ia duduk dengan kaki terjulur kebawah. Matanya memandang langit yang begitu biru. Ia menghirup nafas dalam \- dalam, mengisi rongga paru \- parunya yang agak sesak dan kepalanya yang mulai sakit.



“sendirian aja.” ucap seseorang dari arah belakang Cherry.



“Ilham. Nggak sendiri kok.” Ucap Cherry menoleh dan tersenyum.



“terus sama siapa dong?”

__ADS_1



“ah kamu gimana sih. Jelas \- jelas ada kamu disini.” Mendengar itu, Ilham tertawa renyah.



“eh kamu putus ya sama Dicky.” Tanya Ilham sambil berdiri didekat Cherry.



“ya gitu deh.” Ucap Cherry cuek.



“aku turut berduka cita deh.” Ilham tersenyum ramah.



“ah biasa aja kali.”



“gitu ya. Eh kamu ikut perkemahan di gunung takuban perahu kan?” Tanya Ilham.



“belom tau.”



“kok gitu sih?”



“nggak mood aja.”



“Dicky juga ikut lho.”



“ah biarin.”



“pokoknya kamu harus ikut ya.”



“pikir\-pikir dulu.” Ucap Cherry sambil berdiri. “aku mau ke kelas.” Ucap Cherry pamit. Ilham datang disaat tak tepat, yang iinginkannya saat ini adalah sendiri menikmati sepi.


Ia melangkah menuju kelasnya, tepat didepan pintu kantin ia sapa oleh Debby.


“ehm, ada sang mantan nih.” Ucap Debby yang bergelayut mesra disisi Dicky. Terlihat wajah Dicky sangat malas.



“wow gitu?” Tanya Cherry sinis.



“sinis amat neng. Cemburu ya.” Goda Bisma.



“diem kamu.” Bentak Cherry meninggalkan kelompok itu. Ia tampak heran melihat kelasnya ramai. “ada apa lagi sih.” Keluhnya. Ia melangkah masuk dan melihat Alda dan Andini saling beradu mulut.



“kamu ngapain sih ikut ikutan aja.” Bentak Alda



“eh, aku duluan yang deket sama Morgan.” Andini tak kalah galak.



“enak aja. Jelas\-jelas aku.”



“aku.”



“aku.”


“aku.”


“bokap nyokap itu selalu lebih sayang sama kamu dari pada sama aku. kamu selalu dapet yang kamu mau dan aku harus selalu ngalah. Apa kamu pikir aku bakal ngalah cuma karena kamu adek aku? Pikir dong.”  Teriak Alda kesal sambil keluar dari kelas.



“ada apa sih?” Tanya Cherry pada Lisa.



“ngerebutin Morgan. Awalnya sih baik \- baik aja tapi kok pas nyebutin cowok inceran eh malah berantem.” Ucap Lisa.


__ADS_1


“jadi ngerebutin Morgan toh.” Cherry berguman, Lisa mengangguk membenarkan. Cherry hanya bisa menggeleng \- gelengkan kepalanya. Hidup ini sungguh rumit. Selalu saja ada masalah yang merintangi. Apakah hidup itu tak bisa indah tanpa masalah? seolah \- olah masalah adalah hal wajib yang tidak bisa lepas dari hidup manusia, batin Cherry.


***


__ADS_2