Pahat Hati

Pahat Hati
Pengakuan


__ADS_3

Jumat pagi menjadi hari yang menegangkan bagi Dicky ia masih berdiri diruang Osis. Dihadapannya terdapat sebuah mikropon yang terhubung dengan speaker.


“kamu yakin Ky?” Tanya Rangga.


“gengsi bro. mending kamu ngaku kalah aja dari pada malu - maluin diri kamu.” Nasihat Reza.


“iya. Nyerah aja deh. Masa’ playboy insyaf. Hahahah.” ketiga teman Dicky tertawa sementara pemuda bergigi kawat itu mengerucutkan bibirnya.


“nggak. aku bakal buktiin kalo cewek kaya Cherry bisa aku taklukin.” Dicky mulai mendekatkan bibirnya pada mikropon. “tes-tes, perhatian semuanya, aku Dicky Danendra punya pengumuman penting. aku mengumumkan kalo aku udah ....udah... insyaf... jadi playboy. aku juga mau...ma...mau minta maaf sama semua cewek yang udah aku sakitin. Tolong maafin aku.” Semua murid terpana mendengar perkataan Dicky. Semuanya mengentikan aktifitas mereka termasuk guru yang sedang mengajar, tak mampu melanjutkan goresan spidolnya. Beberapa detik sekolah itu senyap namun didetik berikutnya, suara tawa menggelegar seantero sekolah.


“mampus kamu.” Rangga mengejek Dicky.


“kok pada ketawa sih.” Dicky menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“temuin Cherry gih.” Bisma mendorong Dicky keluar dari sekretariat Osis.


“ada playboy insyaf nih.” Ejek Andini saat Dicky mendatangi kelas 2IPA2.


“Cherry mana?”


“didanau kali.” Ucap Alda.


“kamu masih marah sama aku?” tanya Dicky. “maafin aku ya udah bikin kamu nangis.”


“nggak. aku nggak marah kok. aku udah punya yang baru.”


“siapa Da? Kok kamu nggak pernah cerita.” Protes Andini.


“rahasia.”


“ngapain si Cherry ke danau?” tanya Dicky.


“paling ketemuan sama Ilham.” Andini menjawab.


“Ilham?”


“iya. Mereka emang sering ketemuan didanau.” Sahut Alda.


“Eh bu Erlina tadi nyariin kamu. Siap-siap dapat hukuman. Ahhaha” ejek Andini.


“ya udah aku mau ke danau.” Dicky melangkahkan kakinya menuju bagian belakang sekolah. Dari jauh ia bisa melihat Cherry dan Ilham duduk didermaga kayu.


“eh ada Dicky.” Ilham menoleh karena mendengar papan kayu berderik pelan. Cherry pun ikut menoleh dan mereka bangkit.


“apa?”


“aku pergi ya.” Ilham membiarkan Cherry berdua dengan Dicky.


“aku udah menuhin syarat kamu.”


“yang mana?” Cherry pura - pura tak tahu.


“ya buat ngomong ama anak - anak terus minta maaf.”


“aku nggak denger.”


“kok kamu gitu sih? aku jadi diketawain sama anak – anak satu sekolahan tau.”


“hahah kasian.” Cherry menepuk - nepuk pipi Dicky.


“jadi?”


“apaan?” Tanya Cherry.


“jawaban kamu.”


“ooh. Nggak ah. aku nolak.”

__ADS_1


“enak aja aku udah menuhin syarat kamu.”


“kan kemaren aku bilangnya bakal pertimbangin. Kan aku nggak janji apa - apa.”


“curang ah.” Protes Dicky


“eh aku nggak suka sama kamu. Masa’ aku mesti jadian sama kamu sih. Kenapa sih kamu nggak nyerah aja. Nggak semua cewek bisa kamu taklukin.”


“kalo kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu pake kalung yang aku kasih?” Dicky memandang kalung lonceng yang dipakai Cherry.


“ini dari kamu? Nih ambil.” Cherry mencopotnya dan melemparkannya kearah Dicky.


“kok dibalikin?”


“tadi kayaknya kamu nggak ikhlas kalo aku pake. Kalo mau ngasih sesuatu itu harus ikhlas.” Cherry bergegas meninggalkan Dicky yang masih menekuri kalungnya.


“kenapa sih kamu nggak suka sama aku.” Teriakan Dicky menghentikan langkah Cherry.


“karena kamu playboy.” Ucap Cherry tanpa menoleh. “dulu aku pernah disakitin. Keledai aja nggak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali. aku nggak butuh cinta sesaat karena bagi aku hidup ini singkat banget dan selama aku masih bisa bernafas, aku pengen bener - bener ngerasain mencintai dan dicintai dengan tulus. Bukan cinta remeh seperti yang kamu tawarin.” Cherry meninggalkan Dicky yang masih berdiri sendirian di tengah semilirnya angin danau.


***


Pagi - pagi sekolah sudah dihebohkan oleh pesta kebun yang diadakan oleh Debby. Semua siswa membicarakan pesta yang diadakan dikediaman Debby.


“pokoknya semuanya aku undang ya. Ini undangannya.” Debby membagi - bagikan undangan.


“kamu mau dateng?” Tanya Alda pada Cherry.


“males ah.” Ucap gadis itu cuek.


“lho kenapa? Kita semua diundang kok.” Protes Andini.


“iya tapi aku males. Apa lagi dia tuh super rese’.”


“terserah deh.” Ucap Alda. 


“pulang bereng yuk.” Ucap Dicky tak jua menyerah.


“nggak ah. Pulang masing - masing aja.” Cherry melenggang,  meninggalkan Dicky. Namun memang dasar Dicky pantang menyerah ia menyusul Cherry dengan taksi yang ia pesan.


“ayo masuk.” Ajak Dicky dari dalam mobil.


“kagak. aku mau jalan kaki.” Tolak gadis itu.


“kamu nggak capek jalan kaki?”


“urusan aku. Udah kamu pulang aja sono.”


“eh ntar malem kita bareng ya kerumah Debby.”


“aku nggak mau pergi.”


“kenapa?”


“males.” Ucap Cherry. Dicky keluar dari mobil dan menarik paksa agar Cherry mau masuk. “woi lepasin. Apa - apaan sih, aku nggak mau.” Namun Dicky berhasil mendesak Cherry hingga akhirnya gadis itu berhasil duduk didalam mobil.


“mau diajak pulang bareng, susah amat sih.” Cherry hanya bisa cemberut dan meruntuk dalam hati karena kesal. Tak hanya siang itu, malamnya pun Dicky masih berusaha memaksa Cherry untuk hadir dipesta milik Debby.


“aku nolak secara tegas.” Ucap Cherry sambil menggebrak meja makan. Ia melangkah menuju pembaringannya.


“Cher kamu nggak boleh gitu. Menghadiri undangan itu wajib lho.”


“aku bilang aku itu males.” Cherry duduk dipinggir ranjang. Dicky menunduk mendekati Cherry hingga wajah keduanya semakin dekat.


“kalo kamu nolak. kamu bakal aku cium. Mau.” Wajah Dicky mendekati wajah Cherry dalam jarak yang sangat dekat.


“ih apa - apaan sih kamu. Jauh - jauh dari aku. Lagian kenapa sih kamu slalu ngancem aku?” Cherry mendorong tubuh pemuda itu. Meski hanya sedetik dalam jarak yang sangat dekat, Dicky merasakan debaran aneh dihatinya. Tapi rasa itu cepat ditepisnya.

__ADS_1


“pokoknya kita berangkat bareng - bareng.” Mata Dicky menghujam mata Cherry. Kesal karena Dicky selalu memaksanya, gadis itu akhirnya mengangguk mengamini.


Berkat paksaan dari Dicky, Cherry akhirnya mau juga ikut ke pesta kebun Debby. Mereka tiba pukul setengah sembilan malam. Suasana sudah sangat ramai dengan candaan dan teriakan teman - teman sekolah mereka.


“eh ada Cherry asem. berani juga kamu datang.” Ucap Debby mendekati Cherry yang sedang mengambil minum.


“terpaksa.” Ucapnya singkat.


“terpaksa?” Rere mengerutkan kening.


“bukan urusan kamu.” Ujar Cherry.


“kurang ajar banget kamu ya.” Dinda mendorong tubuh Cherry.


“eh santai dong.” Cherry mulai kesal.


“rasain nih.” Ucap Debby dengan tangan yang sigap menyiramkan jus keatas rambut  Cherry. Tak tinggal diam, Cherry membalas dengan menyiramkan kearah wajah Debby.


“woi knapa jadi rusuh gini sih.” Rafael menengahi Cherry dan Debby yang sudah basah.


“Cher kamu apa - apaan sih. Malu - maluin aku aja deh.” Ucap Dicky kesal.


“eh, kok kamu jadi nyalahin aku sih. Jelas - jelas dia yang duluan.” Protes Cherry.


“aku ngeliatnya kamu yang duluan.” Dicky membentak Cherry. “lagian ini rumah orang, kamu mestinya jaga sikap dong.”


“kamu tuh nyebelin banget ya. Nyesel aku ikut sama kamu.” Cherry berjalan meninggalkan Dicky. Langkahnya tertuju pada gerbang rumah Debby. Dengan kesal ia berjalan keluar sambil membersihkan rambutnya yang mulai lengket oleh jus jambu.


“Cher tunggu.” Seorang pemuda berusaha menghentikan langkahnya.


“Ilham?” Cherry terkejut.


“pulang bareng aku yuk.” Ajaknya sambil melepaskan jasnya. Ia menyelimuti Cherry dengan jas hitamnya. “ntar kamu masuk angin.”


“makasih ya.” Ucap Cherry singkat. Mereka berdua berjalan menuju mobil Ilham.


“aku mau ngajak kamu kesuatu tempat.” Ucap Ilham penuh misteri. Cherry hanya bisa menebak - nebak kemana Ilham akan membawanya. Mereka singgah disuatu danau yang tak asing bagi Cherry.


“ngapain kita ke sini. Sekolah kalau malem-malem katanya banyak hantunya loh.”


“ngeliat langit.” Ucap Ilham berjalan menuju dermaga kayu.


“eh tunggu.” Cherry berusaha mensejajarkan langkah dengan Ilham.


“coba deh liat langit.” Ilham mendongakkan wajahnya, diatas sana ribuan bintang tengah bersinar dengan terang. Berkelap - kelip bagai taburan berlian diaatas kain sutera hitam legam. Cahaya kuning, biru, sedikit indigo bersatu padu membentuk harmoni. Binta dilangit malam terlihat begitu cantik. 


Tepat jam setengah dua belas  malam, keduanya beranjak meninggalkan danau. Ilham mengantar Cherry sampai kedepan apartemen.


“aku anter sampai depan pintu ya.”


“eh jangan. Maksud aku ini udah malam. Nggak enak sama tetangga.” Ucapnya takut jika Ilham tau ia tinggal serumah dengan Dicky. Ia menyerahkan jas hitam yang ia kenakan pada Ilham.


“oke deh sampe ketemu disekolah ya.” Cherry bernafas lega saat melihat Ilham menaiki bis malam menghilang dari apartemennya. Cherry berjalan menaiki tangga. Didepan  pintu ternyata Dicky sudah menunggunya.


“kok kamu bareng sama Ilham sih. Kan tadi kamu perginya bareng sama aku.” Protes Dicky. Namun Cherry justru memberikan tatapan kesal tanpa berkata sepatahpun. Melihat ucapannya tak ditanggapi, Dicky jadi kesal. “heh aku ngomong sama kamu.” Dicky menyentuh pundak Cherry.


“mending kamu nggak usah deh ngomong sama aku.” Ucap Cherry ketus. Ia berdiri membelakangi Dicky.


“kamu masih marah?”


“iya. Jelas - jelas Debby duluan tapi kamu malah belain dia.”


“jadi kamu mau dibelain sama aku?”


“pikir aja sendiri.” Ucap Cherry ketus. Setelah mengganti baju, ia langsung tidur. Dicky pun mau tak mau dihinggapi rasa bersalah. Cherry bahkan tidak memberinya kesempatan untuk meminta maaf.


***

__ADS_1


__ADS_2