Pahat Hati

Pahat Hati
Nenek


__ADS_3

Satu bulan yang lalu,


"oma, aku pulang." Teriak Cherry memasuki rumah. Namun langkahnya terhenti tatkala tepat diruang tamu, matanya tertuju pada dua orang yang duduk diatas sofa. Oma Sekar yang menemani kedua orang itu menoleh kearah Cherry. "eh, kamu udah pulang sayang." Namun Cherry tak mempedulikan neneknya. Tatapannya tajam kearah dua orang itu.


"mau ngapain mereka ke sini?" tanya Cherry sinis.


"sayang, sopan dong sama papa dan mamamu. Mereka jauh-jauh kesini demi ketemu sama kamu." Oma Sekar tak kaget dengan sikap Cherry. Ia tau, cucunya itu memang selalu keras kepala dan tak mau memaafkan Lukman dan Shinta, orang tua Cherry.


Selama hampir 17 tahun, Cherry telah disia - siakan oleh orang tua kandungnya. Hal itu karena pada tahun - tahun awal pernikahan Lukman dan Shinta, mereka tak mengharapkan anak sama sekali dikarenakan faktor kesibukan. Saat mengetahui Shinta hamil, mereka berdua berusaha menggugurkan kandungan dengan meminum obat - obatan, namun bayi dalam kandungan itu tetap kukuh hingga akhirnya ia dilahirkan. Karena kesibukan keduanya, Cherry tidak terurus, maka oma Sekar lah yang memutuskan untuk merawat Cherry hingga Cherry tumbuh dewasa. Selama hampir 17 tahun mendidik gadis itu, oma Sekar tau sekali perangai Cherry. Cherry melangkah kesal menuju kamarnya. Ia membanting pintu dengan keras. Ia sepertinya sengaja melakukannya untuk menunjukkan rasa ketidaksukaanya.


"ma, tolong dong bantu bujuk Cherry biar mau tinggal bareng sama kita." Ucap Shinta

__ADS_1


"mama akan usahakan." Ucap oma Sekar lembut.


Setelah orang tua Cherry pergi, oma Sekar menuju kamar Cherry. "Cher, boleh oma masuk?"


"masuk aja oma. Nggak dikunci kok." Teriak Cherry dari dalam kamar. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu berjalan memasuki ruangan yang bernuansa hijau muda itu. Cherry tengah menonton televisi tatkala oma Sekar disamping gadis itu dan membelai lembut rambutnya yang panjang. Cherry bergeming cemberut, matanya yang bening dan bulu matanya yang lentik memandang kesuatu titik, televisi. Namun pikirannya melayang entah kemana.


"Cher, kamu belum bisa maafin mereka ya?" ucap oma Sekar lembut. Ia takut melukai hati cucunya. Ia tau persis mengapa cucunya bersikap seperti tadi.


"kamu jangan ngomong gitu dong. Kalo mereka nggak sayang sama kamu, untuk apa mereka datang ke sini. Kamu tau kan oma akan ke Jepang untuk berobat. Oma mau kamu tinggal bersama mereka ya." Pinta oma Sekar lembut.


"itu nggak mudah oma." Runtuk Cherry dengan nada bergetar menahan keperihan hatinya.

__ADS_1


"Tuhan itu maha pengampun. Mengapa kita sebagai manusia tidak mampu member maaf. Tidak ada manusia yang sempurna. Memaafkan memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi dengan memaafka kita bisa membuat masa depan menjadi lebih baik." Cherry mencoba mencerna setiap perkataan omanya.


"Oma nggaak akan bia mngerti bagaimana perasaanku."


"Cherry, untuk menjadi bahagia itu sangat mudah jika kita mau memaafkan dirikita sendiri, memaafkan orang lain dan hidup dengan rasa syukur," diusapnya uncak kepala cucunya dengan lembut.


"kalau kita menolak memaafkan, kita sendiri yang akan menderita, ingatlah saat kita memberi maaf bukan berarti mereka bersalah atau jahat dan kita yang paling benar, tapi memaafkan seseorang akan melepaskan rasa sakit. Kita memberi maaf bukan demi orang lain tapi demi diri kita sendiri. cobalah memberikan mereka kesempatan. Lakukan ini demi oma. Kamu sayangkan sama oma?" ucap oma yang dijawab anggukan oleh Cherry.


"aku sayang sama oma." Cherry menghela nafas panjang. "aku mengerti, aku akan melakukan yang seperti Oma mau."


Wanita yang berusia lebih setengah abad itu tersenyum hangat.

__ADS_1


***


__ADS_2