Pahat Hati

Pahat Hati
Sebuah Cincin


__ADS_3

Malam kembali menjelang. Cherry tengah sibuk mencuci piring. Tak sepotong pun senyum tersungging dibibirnya. Ia juga tak berbicara pada Dicky meski keduanya saling berhadapan. Cherry terus menerus memasang wajah jengkel. Setelah selesai beres\-beres, ia mengambil senter, sepatu dan jaketnya. Ia membuka pintu.



“mau kemana kamu?” Tanya Dicky beranjak dari ranjangnya.



“bukan urusan kamu.”



“udah malem .” ucap Dicky mencoba menahan Cherry.



“aku mau ke danau nyari cincinnya si cowok tadi.” Ucap Cherry tak peduli pada teriakan Dicky.



“kamu bego’ atau apa sih, ngapain kamu mau pusing\-pusing ngurusin hal begituan. ”



“urus aja urusan kamu.”



“ disekolah tuh apalagi didanau suka ada penampakan hantu loh. Emang kamu nggak takut. Hiiii!.”



“bodo amat” Cherry berjalan menuruni tangga, meninggalkan Dicky yang berdiri dibibir pintu dengan tatapan jengkel. “aku bukan orang kayak kamu yang nggak bertanggung jawab dan cuma bisa melarikan diri. aku bukan pengecut.”


“woi Cherry asem. Udah malem, kenapa bukan besok aja sih. Yaudah terserah kamu. aku nggak peduli.” Ucap Dicky menutup pintu rumah. “gila yah tuh cewek. Malem - malem gini mau ke danau. Yaudah aku mau tidur.” Ucap Dicky menarik selimut. Namun matanya enggan terpejam.


Ucapan Cherry kembali terngiang. Ia beranjak mengambil jaket dan memakai sepatu. Ia menurui tangga besi hingga suara tapak kakinya mengeluarkan bunyi. “aku mau kemana sih?” Tanya Dicky. Ia kembali naik, namun dilantai atas, kembali menuruni tangga. Berulang kali ia hanya naik turun tangga. “Cih, terpaksa deh aku susul aja.” Ucap Dicky merapakan jaket, jarak sekolah yang tak terlalu jauh hanya memakan waktu jalan kaki lima belas menit dilaluinya dengan mengandalkan cahaya senter dari ponselnya. Ia melewati sebuah jalan kecil yang langsung terhubung kearah danau. Tanaman rambat dijalan kecil itu semakin memperseram suasana. Dari jauh Dicky melihat cahaya diatas dermaga. ia berjalan mendekat, mengarahkan cahaya penerangan pada Cherry yang berkutat dengan dinginnya air danau.


“eh kamu udah gila ya? Ngapain sih nyebur \- nyebur segala?”



“bukan urusan kamu.” Ucap Cherry membungkuk,mengarakan senternya sambil mencari disela \- sela batu.



“kayaknya tadi jatuhnya disebelah sini deh.” Cherry berbisik pada dirinya sendiri.



“ini udah jam 11 malam tau. Ayo pulang.” Ajak Dicky, pemuda itu berjongkok ditepi dermaga seraya merapatkan jaketnya.



“bawel banget sih kamu, kayak emak\-emak kalah arisan tau gak. kamu aja yang pulang sono. Lagian siapa yang nyuruh kamu ke sini sih.” Ucap Cherry kesal. ia merasa terganggu dengan kemunculan Dicky yang datang tanpa dipanggil.



“eh aku ke sini tuh karena....” Dicky menggantung kata \- katanya. “iya ya, kenapa ya?” pemuda itu garuk\-garuk kepala.



“pulang kamu. Tidur sono.” Ucap Cherry kesal.


__ADS_1


“sampe lebaran kucing juga kamu nggak bakal bisa nemuin tuh cincin.” Ledek Dicky.



“kalo gitu aku bakal nyari sampe lebaran kucing.”


“udah deh kamu nyerah aja.” Dicky berjongkok diatas dermaga kayu yang sudah reot.


“kalo kamu nungguin aku buat nyerah, kamu bakal nungguin aku selamanya.” Ucap Cherry masih membungkuk. Kakinya bergetar menahan dingin namun ia tak peduli. Dicky bergegas meninggalkan Cherry namun ia masih ragu. Maka ia berkali - kali mondar - mandir di dermaga kayu hingga mengeluarkan bunyi yang bergemerisik. “woi, berisik. Ngapain sih kamu masih disini.” Ucap Cherry kesal.


“kamu kenapa sih marah \- marah mulu? Harusnya tuh kamu bersyukur aku ada disini.”



“heh bersyukur. Musibah tau nggak. kamu ngeganggu aku banget.”



“dasar keras kepala.”



“eh playboy, bantuin aku naik.” Ucap Cherry mengajukan tangan. Dicky menarik tangan Cherry. Dingin. Namun tiba \- tiba tubuhnya tersentak dan jatuh mencium air danau yang dingin. “rasain.” Ucap Cherry tertawa puas. Ia sengaja menceburkan Dicky.



“gila. Dingin banget.” Ucap Dicky.



“manja kamu. Belum semenit udah bilang dingin. aku udah hampir sejam biasa aja.”



“aku mau pulang.” Ucap Dicky kesal. Namun Cherry menarik bajunya.




“nggak mau.”



“ini juga gara \- gara kamu tau.” Cherry kembali menarik jaket Dicky hingga pemuda itu kembali jatuh.


Tidak dapat disangkal lagi, semalaman berkutat dengan air danau membuat Cherry dan Dicky terkena flu. Berkali - kali pemuda berkawat gigi itu bersin. Begitu juga Cherry yang tak bisa berhenti batuk. Mereka baru pulang ketika adzan subuh berkumandang namun nihil hasil yang didapat.


“kamu nggak apa-apa?” Tanya Cherry sambil meletakkan secangkir teh dan  duduk dipinggir ranjang. Sementara Dicky duduk bersandar. Puluhan kertas tisu bertebaran dan ada 4 kotak yang bertumpuk didekatnya. Sementara puluhan kertas tisu bertebaran dilantai juga menumpuk ditempat sampah.


“ini gara - gara kamu.” Dicky kembali bersin.


“iya deh maaf. yaudah ntar aku kasi tau temen - temen kamu kalo kamu ijin. aku kesekolah dulu.”


“kenapa mesti kesekolah sih, kamu juga sakit kan?”


“aku mesti minta maaf sama Ilham. ohya jangan lupa minum obat. Bye.” Ucap Cherry sambil berlalu. Ia mempererat jas sekolahnya dan memakai masker.


“Cherry, kamu kenapa?” Tanya Andini saat Cherry tiba didepan kelas.


“aku agak sakit.” Suara gadis itu serak.


“eh itu temen - temen Dicky. aku ke sana dulu ya.”


“ngapain si Cherry asem ke sini .” ucap Bisma meledek

__ADS_1


“diem kamu, ular keket.” Ucap Cherry jutek. “aku cuma mau ngasih tau kalo Dicky lagi flu.”


“kok kamu bisa tau Dicky sakit?” Tanya Rangga.


“tau penyakitnya lagi.” celetuk Reza.


“anu.. itu... hmmmm... eh aku ke kelas dulu yah.” Ucap Cherry kabur.


“cewek aneh.” Ucap Bisma tertawa.


“Cherry tuh manis Bis. Nggak asem.” Protes Reza melenggang menuju kelas. Rangga dan Ilham saling tatap dengan wajah keheranan.


***


Pagi itu kelas 2IPA1 masih sepi, sebagian penghuninya belum datang dan sebagian lagi masih berdiri dikoridor. Tak terkecuali  Ilham dan teman - temannya.


“aku dengar dari anak - anak, cincin kamu jatuh didanau?” Tanya Morgan.


“kamu baik - baik aja kan?” Tanya Rafael.


“aku cuma kesel aja ama tuh cewek.” ucap Ilham singkat.


“aku jadi penasaran ama dia.” Ucap Morgan tersenyum.


“udah ah, aku males ngebahas tuh cewek.” ucap Ilham menuju belakang sekolah. Ke danau tentunya.


“aku tau kamu pasti ke sini.” Ucap Cherry berjalan mendekati Ilham. Namun Ilham bergeming, tak sepatah pun kata terlontar darinya, ia terlihat masih kesal. Dermaga kayu bergemerisik saat sepatu mereka beradu dengan papan kayu yang sudah tua dan rapuh. “maafin aku. Waktu itu aku nggak sengaja. Suer.” Ucap Cherry mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. “semalam aku ke sini kok buat nyari cincin kamu. Tapi belum ketemu.” Ucap Cherry namun Ilham masih diam. “aku janji bakal ke sini lagi kok. Ntar malam gua bakal nyari lagi. aku...”


“nggak perlu.” Ilham memotong omongan Cherry.


“kenapa? Cincin itu pasti berarti banget buat kamu. Kemaren aja kamu ngamuk parah waktu cincin kamu jatuh. Tenang aja, aku bakal tanggung jawab kok.” Cherry menepuk bahu Ilham.


“aku bilang nggak perlu.” Ucap Ilham tegas.


“kenapa? Emang itu cincin siapa sih?” Tanya Cherry. Namun Ilham tetap diam. “oke deh kalo kamu nggak mau ngasih tau aku.”


“itu cincin Hanie.” Entah mengapa, tanpai ia sadari, kalimat itu eluncur begitu saja.


“Hanie? Siapa tuh?”


“Calon tunangan aku.” Ilham merasa sudah terlambat untuk berhenti dan diam.


“wah selamat ya. Pasti Hanie beruntung deh bisa punya cowok kayak kamu.”


“maksud kamu?” Ilham menatap mata Cherry. Sempat tertegun gadis itu, mata Ilham serperti tatapan ikan mati tanpa binar semangat hidup.


“iya, pasti kamu sayang banget ya sama Hanie? Buktinya cincinnya jatuh ke danau aja, kamu sampai ngamuk - ngamuk. Udah kayak mau makan orang tau. Ngeri aku.  Itu bukti kalo kamu itu sayang sama dia. Hanie itu beruntung bisa disayang sama orang kayak kamu. aku jadi iri.” Ucap Cherry tersenyum menatap langit.


“tapi Hanie udah meninggal, hampir 3 bulan lalu.” Ucap Ilham lirih.


“eh ya ampun, aduh sorry - sorry aku nggak bermaksud bikin kamu sedih.” Ucap Cherry menyesal.


“kamu nggak usah minta maaf.”


“pasti berat ya. aku juga pernah kehilangan orang yang aku sayang. Bahkan sebelum dia tau perasaan aku.”


“oh ya?” Ilham menatap Cherry. Kali ini wajahnya terlihat antusias.


“iya, dulu waktu SMP aku sama dia itu sahabatan. Tapi dia meninggal karena kecelakaan pesawat. Kadang - kadang aku nyesel gara - gara gengsi untuk ngungkapin perasaan aku, dia jadi nggak pernah tau kalo dia itu cinta pertama aku.” Ucap Cherry mengenang.


“ooh.” Keluh Ilham pelan.


“tapi, kalo aku sedih terus, aku yakin dia pasti bakal sedih, makanya aku mencoba bangkit dan ngelanjutin hidup. aku sering berpikir kalau mungkin aku nggak akan bisa maju, aku akan terus terperangkap dalam kotak gelap masa lalu. Semakin aku mengenang masa lalu, semakin aku bersedih sekamin aku terperosok jauh,  tapi aku juga semakin sadar kalo aku cuma nangis, dia nggak akan bisa hidup lagi. Karena kalau dia ngeliat aku yang terpuruk, aku yakin dia pasti akan sedih. Walaupun dia sudah nggak ada didunia ini lagi, tapi aku percaya dia pasti selalu mengawasi aku disuatu tempat yang jauh entah dimana. Dan aku nggak mau dia sedih bahkan setelah dia udah nggak disini lagi. Karena kalau seperti itu, dia nggak akan bisa tenang ditempat seharusnya ia beristirahat dalam damai.” Ilham  menatap Cherry dengan mata membulat terasa perih, hangat berkaca-kaca. Ada rasa sesak yang tak mampu ia bendung. Dipasangnya tudung jaketnya, menyembunyikan tangisnya yang senyap.


“Kematian itu alamiah, dan kita semua suatu saat akan mati, cepat atau lambat. Jika kita terus bersedih karena ditinggalkan, itu sama saja kita tidak siap untuk hidup. Karena kematian itu, kita semua pasti akan mengalaminya.” Ucap gadis itu tatapannya memandang langit biru dengan angin yang menerbangkan rambutnya. permukaan danau masih tenang. Meski sesekali angin mengetarkan permukaannya.

__ADS_1


***


__ADS_2