
Alda berjalan kesal dan duduk disalah satu batang pohon yang tumbang. Ia masih memikirkan kata \- kata Cherry yang cukup masuk akal itu.
“ngelamun aja Da. Ntar kesambet loh.” Ucap seorang pemuda yang berjalan kearahnya.
“Rangga? ngapain kamu disini?”
“nggak, cuma jalan \- jalan doang. Eh tadi kamu heboh banget yah berantemnya.” Rangga tersenyum nakal.
“abisnya Andini nyebelin.”
“kan dia adek kamu.”
“iya tapi tetep aja nyebelin.”
“masa’ cuma gara \- gara cowok kalian jadi musuhan sih. Lagian kayak Morgan satu \- satunya cowok aja. Masih banyak kali.”
“iya tapi kan yang deket duluan sama Morgan kan aku.”
“udah, patah satu tumbuh seribu. Kalo kamu ngalah juga bukan berarti kamu kalah. Inget kata \- kata aku, kekalahan itu anak tangga pertama menuju kemenangan.”
“kamu lucu ya.”
“lho lucu dari mana?”
“kekalahan, kemenangan, emangnya aku atlet olimpiade apa.” Alda tertawa.
“eh tuh Cherry.” Rangga menunjuk Cherry yang beranjak menuju gunung.
“Cher kamu mau kemana?” Teriak Alda.
“nyari angin.” Teriak Cherry sambil menaiki dataran yang mulai memuncak. Cherry berjalan masuk ke dalam hutan. Cahaya matahari lamat \- lamat bersinar diantara rimbunya pohon jati dan cemara. Buah \- buah cemara tampak berserakan dilantai hutan yang dipenuhi lumut.
Tak terasa malam pun menjelang. Perkemahan begitu heboh dengan canda dan tawa. Nyanyian \- nyanyian juga menghiasi suasana acara api unggun. Bisma memetik gitar dengan begitu piawai. Suaranya tak kalah dengan permainan gitarnya yang menawan. Petikan \- petikan dan harmonisasi nadanya seolah menembus halimun malam yang cukup dingin. Semuanya meninggalkan api unggun yang mulai redup akibat suhu yang semakin dingin. Perlahan tenda \- tenda diisi oleh para penghuninya.
***
Pagi di kaki gunung tak kalah mengagumkan, Cherry tengah duduk memandang matahari terbit. Tak ada suara selain kicau burung dan desahan angin. Pagi begitu damai dan teduh. Bukan hanya Cherry, murid \- murid SMA Bhakti juga mulai terbangun dari tidur dan memulai aktifitas. Beberapa panitia tampak sibuk mempersiapkan makan siang.
“kamu liat Cherry nggak?” Tanya Ilham pada beberapa teman sekelas Cherry namun semuanya menggeleng tak tahu. Ilham mendekati Dicky yang tengah sarapan bersama Debby. Ia menanyakan pertanyaan yang sama namun Dicky menggeleng tak tahu.
“kamu mau kemana sayang?” Tanya Debby.
“mau buang air. Mau ikut?” Ujar Dicky jutek, Debby pun hanya bisa pasang wajah cemberut. Dengan alasan itu ia bisa terhindar dari Debby meski hanya sejenak. Dicky pun mulai khawatir dan sibuk mencari Cherry. Kekhawatiran Dicky pun terbukti, hingga jam 2 siang, Cherry tak kunjung datang. Ia pun melaporkan hilangnya Cherry pada Bisma, Reza dan Rangga
“jadi Cherry hilang?” Tanya Reza kaget
“bisa jadi.” Ucap Dicky mulai cemas.
“kemaren aku ngeliat Cherry masuk hutan.” Sahut Rangga.
__ADS_1
“masuk hutan? Ngapain?” Tanya Bisma.
“katanya sih nyari angin.”
“tuh cewek ngerepotin aja deh. Ngapain coba nyari angin dihutan. Disini kan banyak.” Keluh Dicky kesal.
“kayaknya kita harus cari Cherry deh.” Ucap Ilham bergabung.
“kita juga bakal bantu kok.” Ucap Rafael. Morgan pun mengangguk setuju. Mereka pun beranjak mendaki gunung. Mereka berpencar mencari Cherry sambil memanggil nama gadis itu. Dicky merasa tenggorokannya sakit karena berteriak memanggil\-manggil nama Cherry namun gadis itu tak kunjung Nampak. Saat mencari, matanya tertumbuk sesuatu yang berkilau di ujung jurang. Dicky berlari mendekat dan menemukan kalung Cherry. Kalung berbandul lonceng itu terjatuh diantara akar pohon. Dicky memungut dan memasukkan dalam saku celananya. Rasa takut kembali muncul saat ia melihat jurang didepannya, Dicky berlari sambil memanggil \- mangil nama Cherry. Begitu kagetnya ia saat menengok kebawah, ia melihat Cherry tengah bergantung pada sebuah akar pohon. Satu kakinya berpijak pada akar lain yang rapuh.
“Ky, tolongin aku.” Keluh Cherry parau wajahnya takut dengan bekas air mata yang masih tersisa diujungnya..
“ya ampun, kok kamu ada disi tu sih.” Dicky berusaha menggapai tangan Cherry.
“kamu mau ngapain?” tanya Cherry yang melihat Dicky membuka jaket dan mengikat kakinya dengan jaket itu pada sebuah akar pohon.
“kamu ni, dalam bahaya masih juga cerewet. Pegang tangan aku.” Cherry berusaha meraih tangan Dicky namun masih terlalu tinggi untuk digapai. Sedangkan akar pohon yang dipakainya pun mulai rapuh. “ayo dikit lagi.” Ucap Dicky. Cherry masih berusaha namun ia kembali gagal.
“kalo aku mati kamu sampein maaf aku ke bokap nyokap aku ya.” Cherry mulai menangis ketakutan.
“kamu jangan ngomong kaya gitu. Cepetan pegang tangan aku.” Teriak Dicky panik. Akhirnya Cherry berhasil meraih tangan Dicky, namun akar yang dipakai Dicky menahan tubuhnya mulai goyah karena beban dua orang yang tidak ringan. Cherry berteriak ketakutan, untungnya kaki Dicky masih terikat kuat pada jaket yang tertaut pada akar pohon. Dicky berteriak meminta tolong. “tolong!!! Tolong!!! Tolong!!!” namun tak ada yang menjawab. Dan tubuh Dicky makin terperosok mendekati bibir jurang.
“lepasin aku.” Teriak Cherry.
“nggak. Apapun yang terjadi aku nggak akan ngelepasin kamu.”
“kalo gini terus, kamu juga pasti bakal jatuh. Lepasin aku.” Teriak Cherry dengan air mata berderai.
“tolong!!!” Dicky masih berusaha berteriak meminta tolong.
“lepasin aku. aku nggak mau kamu terluka gara \- gara aku.”
“Dicky lepasin.”
“kamu ngomong apa sih. aku nggak mau kamu jatuh. Kalo perlu kita sama \- sama jatuhnya. kamu jatuh, aku juga jatuh.” Dicky mulai kesal
“Dicky.” Keluh Cherry.
“Dicky!!!” sebuah teriakan keras melengking dari arah hutan.
“ya ampun Cherry!!!.” Reza berteriak kaget. Reza segera menolong Dicky. Rangga Bisma,Morgan Ilham dan Rafael memegangi tubuh Dicky hingga keduanya berhasil selamat. Cherry tersenyum senang hingga akhirnya matanya tertutup.
“woi panggil guru.” Teriak Dicky panik saat melihat Cherry yang tak sadarkan diri. Semuanya kembali panik.
***
“Gimana keadaan murid saya Dok?” Tanya pak Dion pada seorang dokter puskesmas yang memeriksa Cherry dan Dicky.
“keduanya hanya shock aja. ” Ucap dokter itu terseyum. pak Dion merasa benar \- benar cemas hingga acara perkemahan terpaksa dibatalkan. Ia masuk melihat keadaan muridnya yang nyaris meregang nyawa di tepi jurang.
__ADS_1
“kamu ngapain sih pake kejurang segala.” Protes Dicky pada Cherry yang duduk diatas ranjang puskesmas. Tangan keduanya terpasang selang infus. Cherry tetap diam mungkin ia masih shock atas kejadian yang nyaris membunuhnya. Kejadiannya begitu cepat hingga ia tersadar telah bergelantungan pada sebuah akar pohon. “nyari angin aja sampe masuk hutan. Emangnya di tenda nggak ada angin apa.” Dicky masih mengomeli Cherry habis\-habisan.
“udah dong Ky. Dari tadi marahin Cherry mulu.” Protes Ilham membelai rambut Cherry. Mata Dicky langsung menatap tajam kearah tangan Ilham. Ada rasa tak senang kala melihat pemandangan itu. Dicky pun cuma bisa melengos kesal. dia nggak tau apa aku khawatir setengah mati tadi. Eh?
“kamu nggak kenapa \- kenapa kan Cher?” Tanya Reza. Dan Cherry menggeleng pelan.
“ngerepotin aja deh. Padahal kan kita disini buat acara sekolah. Eh malah masuk puskesmas.” Keluh Debby sinis.
“iya nih nggak seru.” Sahut Rere dan Dinda berbarengan.
“aku mau ngomong sama kamu.” Ucap Rafael menyeret Rere keluar kamar. Keduanya berjalan di lorong puskesmas.
“kamu mau ngomong apa?” Tanya Rere cuek.
“kamu jangan bilang kalo ini rencana geng kamu.”
“kok kamu ngomongnya gitu sih? aku nggak tahu apa\-apa.” Rere tersinggung.
“karena aku sayang sama kamu. aku peduli sama kamu. aku nggak mau kamu kena masalah Re.”
“kamu itu siapa? Nggak usah sok care deh.”
“Debby itu bukan temen yang baik. aku nggak mau kalo kamu dapet masalah gara \- gara Debby.”
“itu urusan aku Raf. aku mau temenan sama siapa pun itu hak aku.”
“kenapa sih kamu nggak bisa ngertiin perasaan aku? aku sayang sama kamu Re.” Rafael menggenggam jemari Rere.
__ADS_1
“aku udah berkali \- kali bilang. aku nggak bisa Rafael. aku nggak bisa.” Rere menghempaskan pegangan Rafael. Rere berjalan meninggalkan Rafael, kehidupannya dan kenangan masa lalunya membuat ia tak bisa menerima Rafael, maaf? batin Rere.
***