Pahat Hati

Pahat Hati
Tantangan


__ADS_3

“kamu nggak apa - apa bro?” Tanya Bisma tersenyum. Mereka berempat berjalan keluar sekolah.


“kayaknya pesona kamu nggak berlaku buat Cherry.” Ucap Rangga. “cuma dia loh cewek yang berni mukulin kamu. Ahahaha”


“kamu nantangin aku? Cherry itu kayak gitu ya karena emang dari awal aku nggak pernah jadiin dia sebagai target.”


“udah nggak usah sok playboy, Cherry mana mau sama kamu.” Tandas Reza.


“cewek mana sih yang nggak bisa aku dapetin? Cherry? Kecil.” Dicky menjentikkan jari kelingking dan ibu jarinya pertanda bahwa menaklukkan Cherry itu mudah.


“bener ya, aku pegang kata - kata kamu.” Bisma menepuk pundak Dicky. Dicky menaiki tangga besi dan membuka pintu rumah pelan. Ia menoleh sekilas dan melihat Cherry berkutat dengan laptopnya. Dicky melangkah menuju dapur dan mengeluarkan kotak P3K dari lemari. Ia duduk dikursi sambil mengobati bibirnya yang memar dengan bantuan cermin.


“aww!! Shhh..” keluh Dicky membuat Cherry menoleh sekilas dan mata keduanya beradu. Cherry kembali mengalihkan perhatiannya pada layar laptopnya.


Keesokan harinya, Cherry dan si kembar tidak saling bertegur sapa. Bahkan Cherry pindah kebagian pojok belakang kelas. Mungkin karena masih kesal pada Alda dan Andini. Sore itu, Cherry masuk ke dalam kelas karena hendak mengambil ranselnya. Ia baru saja bertemu Ilham didanau dan kini ia bergegas untuk pulang.


“kayaknya Cherry beneran marah deh.” Ucap Andini sambil menoleh kearah Cherry yang sibuk merapikan bukunya.


“aku jadi ngerasa bersalah deh.” Ujar Alda. Mereka berdua berjalan takut kearah Cherry. Andini menyikut Alda untuk berbicara.


“Cherry, kenapa pindah?” Tanya Alda pelan. Tapi Cherry yang sedang memandang jendela, pura - pura tidak mendengar.


“aku tau kamu pasti marah kan sama kita?” Andini mulai menyahut.


“Cher, maafin kita dong. aku kan udah nggak sedih lagi. aku denger kok dari anak - anak kalo kemarin kamu nonjokin Dicky sampe berdarah. Makasih ya Cher.” Alda memeluk leher Cherry, membuat gadis itu menarik bibirnya, tersenyum. Rupanya gadis itu juga tidak tahan lama-lama marah pada si kembar.


“jangan ulangin lagi ya.” Pinta Cherry.


“aku janji Cher.” Alda bersungguh - sungguh.


“iya. Jangan ada dusta diantara kita.” Ucap Andini juga.


Tiba-tiba Seorang adik kelas datang menghampiri mereka.


“ada titipan.” Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak berbentuk bulat.


“dari?” Cherry bingung.


“aku lupa namanya. Udah ya.” Siswa itu melangkah keluar kelas.


“buka Cher.” Ajak Alda penasaran.


“jangan, mungkin itu jebakan.” Ucap Cherry curiga.


“udah, jangan kelamaan.” Andini merebut kotak itu dan membukanya. “iih  sweet banget.” Andini mengeluarkan sebuah kalung berwarna perak dengan bandul berbentuk lonceng yang berbunyi nyaring jika disentuh.


“dari siapa ya?” Tanya Cherry penasaran.


“udah pake aja.” Ucap Alda. Cherry pun memakai kalung itu dilehernya yang jenjang. “aku pulang dulu ya.” Pamit Cherry yang dijawab anggukan oleh Alda dan Andini.


“hai Cher.” Sapa seseorang didepan pintu kelas Cherry saat gadis itu melangkah keluar.


“hehe iya hai juga.” Ucap Cherry agak bingung dengan sikap Dicky, namun ia bergegas meninggalkan Dicky.


“kamu mau kemana Cher?” Dicky menyusul Cherry dan berusaha mensejajarkan langkah dengan gadis berambut coklat itu.


“pulang lah.” Ujar Cherry singkat. “kamu ngapain sih disini? Bukannya kamu mau nyari mangsa lagi?”

__ADS_1


“kamu tuh curigaan banget sih sama aku. aku ke sini mau ngajakin kamu pulang bareng.” Pinta Dicky sambil tersenyum memperlihatkan kawat giginya.


“what? aku nggak salah denger kan?”. Kayaknya nih orang abis kejedot pintu deh.


“aku serius Cher.” Dicky berdiri dihadapan Cherry hingga gadis itu menghentikan langkahnya.


“nggak ah, lagian kenapa kamu nggak bareng temen - temen kamu aja sih kumpulan para playboy. Rezapeyek, Serangga atau sama Bismalam kek. Ngapain sih mesti sama aku. Males.” Muka Cherry terlihat malas menanggapi sikap Dicky yang aneh.


“judes baget sih.” Dicky mencubit pipi Cherry.


“awwww!!!! Sakit tau.” Ucap Cherry mengelus pipinya yang merah.


“ayo pulang. aku laper.” Dicky menyambar tangan Cherry hingga gadis itu tersentak dan terpaksa mengikuti langkahnya. Didepan ruang guru Dicky menghentikan langkahnya.


“kenapa?” Tanya Cherry


“ada fans aku didepan.”


“hah fans? Emang kamu punya fans? Nggak percaya aku.” Cherry tertawa.


“noh liat.” Dicky menunjuk segerombolan gadis didepannya.


“itu kan adek kelas.”


“iya tapi dari tadi tuh ngejar - gejar aku.”


“Pede banget sih.”


“tuh kan bener.” Dicky mulai panik saat gadis - gadis itu mulai berlari kearah mereka. “lari Cher.” Dicky menarik tangan Cherry hingga keluar gerbang sekolah.


“lari aja jangan bawel.”


“ngumpet disitu aja.” Ucap Cherry menunjuk semak tak jauh dari sekolah. Mereka berdua berjongkok dibelakang sebuah kebun pisang. Dicky menutup mulut Cherry saat gadis - gadis itu melintasi kebun pisang.


“lepasin. kamu apa - apaan sih.” Cherry mendorong tubuh Dicky.


“iya - iya.” Dicky berdiri dan keluar menuju jalan raya.


“itu siapa sih?” ucap Cherry saat mereka mulai berjalan kaki kearah rumah.


“aku kan tadi udah bilang kalo itu fans aku ‘oon.”


“maksud aku, kamu kenal dimana masa’ mereka sampe ngejar - ngejar gitu?”


“ya biasalah orang ganteng emang sering diburu.”


“ooh, jago tebar pesona sih kamu.”


“eh mampir beli es krim yuk” Dicky menarik tangan Cherry kesebuah kedai es krim.


“kamu yang bayar ya.”


“iya. aku yang traktir.” Cherry dan Dicky berjalan sambil memakan es krim mereka. Keduanya berjalan santai di terotoar. Sesekali kendaraan bermotor melintasi jalan mereka. Padahal jelas - jelas jalan itu ditujukan untuk pejalan kaki.


“tumben kamu baik sama aku. aku jadi curiga.”


“curiga? maksud kamu apa sih? kamu jangan  negative thinking sama aku dong.”

__ADS_1


“abisnya kamu kan orangnya blagu banget. Tumben aja ngajakin aku pulang bareng. Pake beliin es krim segala. Kan aneh. Pasti ada maunya deh.” Celoteh Cherry dengan mimik curiga.


“karena...” Dicky menggantung ucapannya. Ia terlihat ragu untuk menyatakan perasaannya pada Cherry.


“kamu kenapa sih?”


“kamu mau nggak jadi cewek aku?”


“hah?”


“aku suka sama kamu.”


“hah?” Cherry “nice joke Ky.” menepuk pundak Dicky sambil berjalan mendahului pemuda itu.


“Cher aku serius.”


“jadi kamu nembak aku?” Cherry menghentikan langkah dan menatap Dicky yang berdiri disampingnya. Dicky mengangguk kecil. Bener-bener nih anak abis kejedot pintu, kaga salah lagi. “kamu sakit?” Cherry mencoba menyentuh dahi Dicky. “nggak panas kok. Ntar kita beli obat deh.” Cherry tersenyum.


“aku sayang sama kamu Cher.”


“cuma segitu doang cara kamu buat naklukin cewek. Nggak mempan buat aku. Lagian mau-mau aja ya korban kamu buat kemakan omongan kamu.” Cherry membalikkan badan. “denger ya. aku nggak suka sama kamu. kamu itu playboy . Dari tadi juga aku udah curiga, cuma aku diem aja. kamu pasti ditantangin sama temen - temen kamu kan?”


“nggak kok Cher.” Dengan mimik serius sok polos.


“udah nggak usah sandiwara.”


“Kenapa sih kamu nggak bisa percaya sama aku?” Dicky masih mencoba menaklukkan Cherry.


“karena kamu playboy. Dan aku nggak suka sama kamu.”


“jadi aku harus gimana? aku bakal ngelakuin apa aja deh.”


“demi menangin tantangan temen - temen kamu?”


“iya, eh bukan,  biar bisa jadian sama kamu.” Dicky mulai gugup.


“tuh kan, bener dugaan aku. udah deh kamu nggak usah mimpi buat jadi cowok aku.”


“Cher jangan gitu dong.” Dicky memegang pundak Cherry.


“kalo kamu bisa buktiin ke aku, aku bakal pertimbangin.”


“caranya?”


“umumin kesemua murid kalo kamu udah insyaf jadi playboy. Terus kamu wajib minta maaf sama semua cewek yang udah kamu bikin nangis.”


“aku nggak sudi ya. Mau ditaro dimana muka aku Cher?,cowok paling keren paling diidolain masak ngelakuin hal konyol kayak gitu. Ogah.”


“taro dibaskom.” Ucap Cherry kesal.


“jangan gitu dong. Yang lain dong.” Dicky setengah memohon.


“aku nggak maksa kamu kok. Kalo nggak mau ya nggak usah.”


“Cher, Cherry!” teriakan Dicky diacuhkan oleh Cherry.


***

__ADS_1


__ADS_2