Pahat Hati

Pahat Hati
Teman baik


__ADS_3

Pagi kembali menyapa Jakarta. Sinar mentari malu - malu tapi mau tampak mulai menyinari sejengkal - demi sejengkal bumi pertiwi.


"hai Rere." Sapa Cherry. Rere tersenyum sambil melambaikan tangan kearah Cherry. Debby dan Dinda heran melihat kejadian aneh tapi nyata itu.



"sejak kapan kamu saling sapa sama Cherry?" Tanya Dinda menyelidik.



"ih biasa aja kali." Ucap Rere melenggang menuju kelas. Pagi itu adalah hari baru bagi Rere, ia merasa nyaman jika dekat dengan Cherry dibandingkan Debby dan Dinda karena Cherry bisa menerimanya apa adanya sebagai seorang Rere yang sederhana dan ia senang karena Cherry mau berteman dengannya tanpa menuntut apa yang tidak bisa ia berikan. Apa lagi Cherry tidak pernah mempermasalahkan latar belakangnya. Setelah lonceng istirahat berbunyi, Rere segera berlari dan ingin menunggu Cherry didepan kelas.



"denger\-denger pak Dion bakal nikah lho." Ucap Selvy, salah satu penunggu kelas 2 ipa 2.



"ohya? Patah hati dong bu Erlin." Ucap Alda.



"sama siapa nikahnya? Setau aku pak Dion nggak punya pacar." Tanya Sisca.



"katanya sih sama tunangannya yang dapat beasiswa di Paris." Ucap Alda.



"bener\-bener patah hati donk." Sahut Andini.



"eh ngapain tuh si Rere?" Tanya Alda pada Andini.



"mana aku tau." Ucap Andini singkat.



"Cher!!!" panggil Rere saat melihat Cherry menoleh kearah pintu. Cherry tersenyum dan melambaikan tangan.



"kamu mau kemana?" Tanya Alda.



"ketemu Rere."



"kamu ngapain sih berurusan sama gengnya Debby?" ucap Andini tak senang.



"eh jadi orang nggak boleh pilih \- pilih temen. Lagian Rere baik kok, ingat pepatah. Don't judge a book by it's cover." Ucap Cherry.



"iya aku tau cuma kita nggak seneng aja."



"udah lah. Setiap orang punya kesalahan. Nggak ada salahnya untuk menyimpan masa lalu dan menyambut yang baru kan?"



"whatever." Alda dan Andini kompak. Cherry tersenyum dan mencubit pipi Alda dan Andini. Lantas ia melangkah dan berjalan beriringan bersama Rere.



"tuh kan kamu liat Rere malah deket sama si Cherry asem itu." Runtuk Dinda.



"aku heran deh sama tuh anak. Kena angin apa ya dia jadi akrab sama si Cherry asem." Dinda menggeleng bingung. Debby dan Dinda duduk disalah satu sudut kantin. Tak berapa lama Rere datang dan mengambil tempat didepan Debby.



"ngapain kamu?" Tanya Debby galak.



"maksudnya?" Rere bingung.



"nggak usah gabung sama kita." Tandas Dinda.



"loh kenapa?"



"karena kamu gaulnya sama Cherry asem dan kita nggak suka. Bau asem tau gak." Ucap Debby.



"mending kamu jauh \- jauh deh. kamu bukan anggota RoyalGirls lagi." ucap Dinda mengusir Rere.



"tapi kitakan temen." Protes Rere.



"nggak lagi. Sono, kamu gaulnya sama si asem aja." tukas Debby tegas. "kamu yang pergi atau kita yang pergi?" mendengar itu Rere sedih dan beranjak pergi. Ada setetes air bening yang menggenang dipelupuk matanya. Rere melangkah menuju taman dan duduk di bawah pohon mangga.



"kamu kenapa nagis Re?" Tanya Cherry yang melintas bersama Dicky.



"gara \- gara kamu." Ucap Rere bergetar.



"aku?"



"gara \- gara aku deket sama kamu, aku dimusuhin sama Debby." Ucap Rere berderai air mata.



"Alda dan Andini juga gitu, mereka nggak suka kalo aku deket sama kamu tapi aku nggak peduli. kamu adalah orang yang harus dibantu dan aku peduli sama kamu." Ucap Cherry duduk didekat Rere.



"tapi Debby dan Dinda malah jauhin aku." Runtuk Rere.



"kalo Debby dan Dinda itu temen kamu, mereka pasti nerima kamu apa adanya, nggak peduli kamu deket sama siapa pun." Sahut Dicky melipat tangan didada. Rere terhenyak mendengar penuturan Dicky .



"kamu nggak sendiri Re. ada aku." Ucap Cherry memeluk pundak Rere. Gadis itu tersenyum senang.


***


Mendengar pak Dion akan menikah, kontan membuat bu Erlina kecewa dan sakit hati. Tapi gengsinya yang tinggi membuat ia mampu menutupi rasa kecewa dan kesalnya. Ia hanya bisa menatap pak Dion yang sedang sibuk membagi\-bagikan undangan pernikahan.



"selamat pagi bu." Sapa pak Dion.



"eh, iya pagi." Ucap bu Erlin ketus. Sikap bu Erlin itu membuat pak Dion mengernyitkan kening, disodorkannya sebuah undangan merah jambu kepada bu Erlin.



"datang ya bu."



"iya pak, selamat." Ucap bu Erlin sambil berjalan membelakangi pak Dion. Ia mengambil tempat disalah satu kursi yang berada dikoridor sekolah. Ia menatap murid\-muridnya yang tampak berpasang\-pasangan. Ia merasa risih dan sendirian. "kalo aku nggak bisa dapat pasangan, nggak ada yang boleh juga." Ucapnya geram dan berjalan menuju ruang Osis. Diraihnya mikropon dan didekatkannya pada bibirnya. "pengumuman untuk seluruh murid SMA Bhakti, saya Erlina ingin mengumumkan peraturan baru." Bu Erlin menghela nafas pelan sementara para murid yang tengah beraktifitas sontak menghentikan aktifitasnya dan menyimak pengumuman dari guru yang menurut mereka paling galak seantero sekolah.



"mulai hari ini, para murid SMA Bhakti dilarang keras berpacaran." Sontak terdengar teriakan dari para murid. "yang ketahuan berpacaran, akan di beri hukuman yang sangat berat. Paham." Ucap bu Erlina tegas mengakhiri pengumumannya.



Sejak pengumuman dari bu Erlina itu, 'korban' mulai berjatuhan, patroli bu Erlin dan pak Toni, penjaga sekolah berhasil menjaring banyak pasangan yang berpacaran secara sembunyi\-sembunyi. Namun tampaknya para murid tak kalah cerdas cara ampuh untuk bisa bersama pasangan adalah dengan berkelompok. Mereka terdiri dari 3 pasangan dan berkumpul dikoridor sekolah. Trik ini adalah saru\-satunya trik yang tidak bisa diganggu gugat oleh bu Erlin.



"mau kemana sih." Protes Cherry saat Dicky menariknya keluar dari kelas.



"ke danau."



"mau ngapain? Yang ada bu Erlin ntar ngeliat."



"tadi aku udah nyuruh anak\-anak ke danau." Dicky menarik Cherry hingga ke danau.



"mana?" Tanya Cherry mempertanyakan ucapan Dicky.



"sabar kali. Bentar lagi juga dateng."

__ADS_1



"akhirnya ada pasangan yang terjaring bu." Teriak pak Toni tersenyum. Cherry dan Dicky menoleh kearah asal suara itu.



"kalian berdua ikut saya." Bu Erlin menunjuk Cherry dan Dicky yang menggeleng menolak.



"bu, ibu salah paham. Saya sama Dicky nggak pacaran bu."



"semua yang ketahuan juga bilang gitu."



"bu percaya deh, saya nggak mungkin pacaran sama playboy stadium akhir ini."



"bener bu, saya juga nggak mungkin pacaran sama cewek rese' kayak dia."



"tidak ada protes." Ucap bu Erlin tegas. Dicky dan Cherry tertunduk lemas dan mengikuti langkah bu Erlin menuju kolam renang sekolah.



"gara\-gara kamu nih." Ucap Cherry menyikut Dicky.



"tugas kalian adalah membersihkan kolam renang." Ucap bu Erlin.



"tapi bu ini kotornya parah." Protes Dicky. Matanya merasa jijik pada kolam renang yang dipenuhi potongan koran, kertas, botol air minum dan kaleng\-kaleng kosong. Airnya bahkan sudah mulai menghijau.



"itulah tugas kalian. Pastikan kalian membuang semua sampahnya."



Dengan pasrah keduanya menuruti perintah bu Erlin. Bu Erlin berjalan dengan lunglai kearah meja kerjanya. Tiba\-tiba pak Dion datang mendekati bu Erlin.



"rasanya ibu agak keterlaluan."



"peraturan itu?"



"ya."



"mereka masih SMA waktunya belajar bukan pacaran. Pacaran itu setidaknya ketika sudah kuliah atau bekerja. Sekarang bukan saatnya."



"saya tau maksud ibu baik. Tapi saya rasa ibu terlalu fanatik. Kasihan anak\-anak bu, mereka bisa merasa stress dan terkekang. Anak\-anak itu semakin dilarang mereka akan semakin penasaran. Saya takut sikap paranoid ibu malah menimbulkan hal yang tidak diinginkan."



"jadi bapak membolehkan pacaran?"



"tidak, tapi kedekatan dengan lawan jenis itu perlu untuk perkembangan dan proses sosialisasi mereka bu. Biarkan mereka berproses dengan semestinya. Saya tau ibu menginginkan yang terbaik untuk muridnya, begitupun saya dan guru manapun didunia. Pacaran tidak boleh tapi berteman tentu boleh, bukan?" Ucap pak Dion menutup ucapannya.


***


Cherry kembali mendatangi Rere ditempat kerja. Ia ingin membantu Rere bekerja. "boleh ya bu saya bantu Rere." Pinta Cherry pada pemilik rumah makan. "nggak digaji juga nggak apa \- apa kok."



"Cher nggak usah." Tolak Rere halus.



"boleh kan bu?" pinta Cherry lagi.



"iya boleh." Ibu pemilik rumah makan itu tersenyum dan menyerahkan lap pada Cherry. Lumayan, pegawai gratis.



"kamu nggak harusnya kayak gini Cher."



"santai aja kali. aku mau nikmatin hidup aku sambil bantuin kamu." Cherry tersenyum. "hidup ini tuh singkat Re, kamu harus nikmatin, kamu harus lakukin apapun yang kamu ingin kan. Kalo nggak nanti kalo kamu mati kamu bisa nyesel. Ya 'kan?" Cherry tersenyum maniss pada Rere.




"makasih ya Cher." Ucap Rere.



"santai aja kali. Lagian aku juga males dirumah. Paling cuma berantem ama si Dicky."



"aku boleh Tanya sesuatu?"



"kenapa aku baik sama kamu?" tebak Cherry. Debby mengangguk. "karena aku nganggap kamu sebagai temen aku. Lagian selama kita hidup kita harus perbanyak berbuat baik."



"aku boleh Tanya lagi?"



"apa?"



"kamu jadian sama Dicky?"



"hah? Sama si playboy stadium akhir itu? Ya nggak lah."



"kenapa?" Tanya Rere



"ya, abisnya dia nyebelin sih. Kok kamu nanya gitu?"



"abisnya kamu cocok sama Dicky."



"idih, cock dari mana coba?"



"seriusan. Jadian aja."



"nggak ah. aku nggak ada rasa sama tuh orang. Yaudah aku pulang dulu takutnya Dicky nyariin. Bye." Pamit Cherry seraya melambaikan tangan kearah Rere. Rere tersenyum dan menghela nafas berat sebelum melangkah memasuki gang yang entah sudah berapa kali ia lewati.



"Rere." Panggil seseorang dari belakang.



"kamu?" Rere terkejut "ngapain disini?"



"aku ngikutin Cherry. Kenapa kamu harus nyembunyiin semua ini sih?" keluhnya.



"sorry Rafael." Rere menunduk malu.



"buat apa? kamu nggak salah apa \- apa Re. kamu juga nggak perlu malu. yang kamu lakuin itu halal dan aku bangga sama kamu. aku bangga bisa cinta sama cewek tegar kayak kamu."



"Raf..." Hanya itu yang bisa Rere ucapkan.



"aku sayang sama kamu Re."



"sorry Rafael, aku nolak kamu karena gua ngerasa nggak sepadan buat kamu. kamu liat kan hidup aku yang sebenernya kayak gini. Apa kamu masih mau sama aku yang menyedihkan ini? aku udah nipu banyak orang termasuk kamu."



"aku suka sama kamu apa adanya. Itu yang akhirnya aku pelajari dari Dicky dan Bisma. mereka bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan cewek yang mereka sayang. aku pun akhirnya bisa ngerasain itu. aku sayang sama kamu apa adanya diri kamu. Bukan untuk menuntut apa yang nggak kamu bisa kasih buat aku. Cukup kamu terima aku apa adanya." Ucap Rafael memeluk Rere.


__ADS_1


"aku emang suka sama kamu. Mantan pacar itu cuma alasan biar aku nggak terus bermimpi untuk deket sama kamu." Ucap Rere berderai air mata.



"kamu mau kan jadi cewek aku?" Tanya Rafael disela \- sela dekapannya dan ia merasakan kepala Rere mengangguk. Sebaris senyum tersungging dibibirnya. Ia bersyukur, penantiannya selama dua tahun ini tak sia \- sia dan cintanya tak bertepuk sebelah tangan.



Sementara itu, dua pasang mata menyaksikan keduanya sambil tersenyum senang.



"rencana sukses." Ucap Cherry beradu telapak tangan dengan Dicky.



"udah aku duga kalo selama ini tuh, mereka saling suka." Dicky menimpali.



"setuju."



"pulang yuk." Ucap Dicky memeluk pundak Cherry.


Cerry menepis tangan Dicky dengan cepat. "jangan sok akrab sama aku."


Dicky memajukan bibirnya. "galak amat."


"aku suka mikir, ngeliat orang tersenyum tulus dari hati itu rasanya adem banget." Cherry melangkah lebih cepat. Bayang-bayang lampu jalanan menjadi latar pemandangan dihadapan mata Dicky denga Cherry, gadis berambut pendek itu sebagai objek utamanya. Semua yang ada disekelilingnya seakan bergerak lambat. Pandangannya hanya tertuju pada gadis itu. Gadis yang mampu mengubah cara berfikir juga hatinya.


Gadis itu tiba-tiba berbalik, berhadapan dengan Dicky "menurut kamu, aku udah banyak bikin kenangan manis belom?" Cherry melebarkan senyum, membuat Dicky semakin terpesona.


"um," Dicky mengangguk. "kamu udah berusaha keras."


"syukurlah."


"Cherry,"


"Ya?"


"aku cinta sama kamu." Darah Cherry berdesir kala mendengar kalimat itu diucapkan oleh Dicky dengan tatapan serius. Wajahnya memanas, cepat iya menunduk memegang kedua pipinya. Tapi Dicky melangkah menahan wajahnya agar mereka saling pandang.


Cherry benar-benar gugup, ia mendorong tubuh Dicky. "kamu tiba-tiba ngomong gitu, aku jadi ngeri sendiri."


"hah? aku serius"


"serem."


"kamu nggak tau jantung aku hampir meledak nih."


"alah, kamu juga udah pengalaman nembak cewek."


"tapi kan kamu beda. aku serius sama kamu."


"kamu nggk cocok. Dasar playboy." Ejek Cherry.


"hidung kamu." Dicky menunjuk hidung Cherry yang berdarah. Cherry kelimpungan mencari tissue di dalam tasnya. Untungnya segera ketemu dan ia menutup hidungnya yang berwarna merah. "belakangan ini kamu sering banget mimisan. Ke dokter yuk." Ajak Dicky.


"jangan. Nggak usah."



"kalo parah gimana?"



"ah nggak kok, ntar lama \- lama juga sembuh. Biasanya juga begini."


"tapi..." Dicky cemas.


"udah ah, Pulang yuk." Ajak Cherry menggandeng lengan Dicky. Mau tak mau, pemuda itu tersenyum dan berjalan beriringan di tengah terotoar yang masih padat kendaraan. Lampu - lampu dari kendaraan bagai cahaya kunang - kunang yang menerangi langkah mereka. Kelap - kelip bintang bertahta dilangit malam yang begitu gulita menemani malam mereka yang panjang.


***


"udah kamu ngaku aja, kamu selingkuh kan sama Regita kan pa?" runtuk seorang wanita sambil berkacak pinggang.



"papa nggak selingkuh ma. Mama aja kali yang jalan sama brondong." Teriak seorang pria berumur 40 tahunan. Teriakan itu begitu bergema hingga terdengar ke setiap jengkal rumah yang tidak bisa dikatakan kecil itu. Seorang gadis duduk diatas ranjang sambil menutupi telinganya. Berharap agar teriakan itu tak terdengar olehnya. Deraian air mata kembali berlinangan dari kedua bola matanya yang sembab karena terlalu sering terkuras. Pintu kamar terbuka dan masuklah seorang gadis kecil sambil menarik tangan boneka beruang berwarna cokelat yang cukup besar hingga boneka itu terseret diatas lantai marmer.



"kak Debby, Esti nggak bisa tidur kak." Gadis kecil itu mengucek matanya dan naik keatas ranjang. "kenapa papa dan mama berisik?" Tanya Esti polos.



"mereka lagi ngobrol sayang." Ucap Debby mengelus rambut adik semata wayangnya itu. Andai ia punya kakak, mungkin beban batin yang ia rasakan akan sedikit berkurang. Tapi ialah anak sulung dan beban atas pertengkaran demi pertengkaran yang harus ia dengarkan sebagai dongeng pengantar sebelum tidur itu terus mengusiknya. Bahkan saat ungkapan cerai mulai di ungkit oleh kedua orang tuanya. Begitu sakit yang ia rasakan. Ia bukan hanya takut akan masa depannya, tapi lebih takut akan masa depan adik perempuannya yang malang. Ia ingin menuntut kepada Tuhan, mengapa ia dan keluarganya harus mengalami cobaan ini. Mengapa ia dan adiknya harus hidup menyedihkan ditengah ke egoisan orang tuanya. Tapi apa daya, semua hanya tinggal runtukan dalam hati. Ia tak mampu berbuat apa \- apa. Ia pasrah, akan masa depannya dan masa depan adik perempuannya pada Yang Maha Kuasa.



Karena merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya itulah alasan kenapa Debby bersikap egois. Ia selalu mencari perhatian. ia ingin diakui oleh banyak orang. Sehingga rasa kesepiannya dapat sedikit terobati. Penampilan luar memang bisa menipu. Terkadang seseorang yang tertawanya paling keras sekalipun, adalah orang yang menanggung beban kesedihan paling berat.


***


Sendiri, itulah yang dirasakan oleh Dinda. Setelah memecat Rere dari geng, kini Debby menghilang entah kemana. Berkali \- kali ia bertanya pada teman \- temannya namun tak ada jawaban memuaskan. Kini bukan hanya Dinda yang cemas, tapi Bisma. Pemuda yang menyukai Debby itu jadi sibuk menanyai dan mencari informasi namun senada dengan Dinda, ia mendapat hasil yang nihil.



"aku udah 3 hari nggak liat Debby." Ucap Rere saat ditanya oleh Bisma.



"aku barusan nelpon pembantunya dan pembantunya bilang, Debby nggak pulang kerumah sejak tiga hari yang lalu. aku khawatir banget." Ucap Bisma sambil mondar mandir didepan Rafael dan Morgan.



"kita harus cari Debby." Usul Cherry.



"iya tapi dimana?" Tanya Bisma dilema.



"kita nggak tau, tapi kalo berusaha kita pasti bisa nemuin Debby." Ucap Dicky menenangkan. Belum sempat menyahut, Bisma harus menunda ucapannya karena sebuah pengumuman dari ruang Osis.



"pengumuman penting untuk seluruh siswa SMA Bhakti, teman kita Muhammad Ilham, berhasil menjadi juara dua dalam olimpiade kemo di Jepang. Mari beri selamat padanya diaula sekolah. Laporan selesai."



"Ilham pulang." Teriak Alda, Cherry dan Andini kompak. "kita liat yuk." Ajak Cherry yang berlari kearah aula. Ilham begitu sibuk menerima pujian dan penghargaan dari seluruh siswa.



"selamat ya." Ucap Cherry menjabat tangan Ilham.



"siapa tuh?" Tanya Rangga pada gadis yang berdiri disisi Ilham.



"eh kenalin, ini temen deket aku namanya Meyra." Gadis yang dimaksud tersenyum dan mengangguk khidmat. Begitu besar sambutan dari pihak sekolah atas prestasi Ilham hingga pemuda itu sangat sibuk menerima ucapan dan penghargaan dari pihak sekolah.



"perestasimu benar\-benar membanggakan kami." Ucap pak Dion guru olahraga.



"Maaf pak saya hanya mendapat juara ke dua. Kemampuan atlet Jepang memang sangat hebat."



"tidak masalah bagi kami. Dan saya punya keyakinan, pemenang sejati adalah ia yang mampu menerima kekalahan dan mampu mengakui kemampuan lawannya." Ucap pak kepala sekolah.



"kamu nggak apa \- apa?" Tanya Dicky pada Cherry. Gadis itu menatap permukaan air danau yang masih tetap tenang. Larik \- larik jingga mewarnai setiap jengkal air danau yang tertimpa sinar senja.



"aku?" Cherry menatap Dicky bingung.



"kamu suka sama Ilham kan? Dia pulang bawa Meyra, kamu pasti shock."



"aku seneng dia bisa nemuin gadis yang bisa bikin Ilham senyum. aku selalu berharap Ilham itu bahagia."



"kamu nggak patah hati kan?"



"kenapa? aku turut senang. Lagian aku nganggap Ilham cuma sebatas sahabat. kamu aja yang cemburu buta sama dia. Dia dan aku punya kenangan masa lalu yang sama. Itu yang bikin kita deket. Perasaan spesial selain teman dan sahabat itu sama sekali nggak ada." Ucap Cherry tersenyum.



"ge er banget sih kamu. siapa juga yang cemburu." Ucap Dicky tak terima.



"jadi kamu nggak cemburu? Berarti nggak masalah dong kalo aku jadian sama Reza?"



"HAAAH???" Dicky menampakkan wajah gusar.



"kenapa? Cemburu? Katanya tadi nggak cemburu."



"kamu ngerjain aku?" Dicky langsung menggelitik Cherry. Membuat gadis itu terpingkal pingkal. Keduanya pun akhirnya melakukan aksi kejar\-kejaran persis seperti anak kecil. Dicky dan Cherry tertawa bersama. Menikmati cahaya dan aroma senja yang sejuk.


***

__ADS_1


__ADS_2