Pahat Hati

Pahat Hati
Kenangan yang tersimpan


__ADS_3

“bosen aku, bisa - bisa ini kelas bakal jadi lautan air mata deh.” Runtuk Cherry kesal. Kali ini giliran Rizka yang menjadi korban Dicky. Yang membuat Cherry kesal adalah tangisan Rizka yang bergema ke seantero kelas. Lebih parah dari rengekan shalwa tempo hari.


“waaaa.... kenapa sih Dicky mutusin akueee... aku nggak relaaa..aaa” tangis Rizka.


“rasain kamu.” Ucap Cherry


“udah kamu diem ya.” Ucap Annisa, teman sebangku Rizka.


“makanya dengerin aku. Dicky itu playboy stadium akhir, jangan percaya sama gombalan basinya. Sukurin tuh.” Ucap Cherry lagi.


“kalo cinta nggak bisa dipaksa dong.” Protes Alda


“cinta? Belum tentu Dicky itu cinta. Dia kan playboy. Kerjaannya cuma nembak - mutusin, nembak - mutusin.” Cherry kesal pada Alda yang terdengar membela Dicky. “kayaknya kamu kok ngebelain Dicky sih?”


“eh, nggak kok. kamu jangan salah paham dong. aku cuma mencoba menganalissi dari sudut pandang mereka.”


“eh, mbak – mbak, udah kita makan siang aja yuk didanau.” Ajak Andini sambil menunjukkan sekantong makanan yang baru saja ia beli.


“ayo.” Ajak Cherry. Mereka bertiga menuju bagian belakang sekolah.


“kamu nyari siapa sih?” Tanya Alda yang melihat Cherry celingukan seolah mencari sesuatu.


“nggak kok. Cuma biasanya Ilham ada disini.” Ucap Cherry.


“sejak kapan kamu deket sama Ilham?” Tanya Andini.

__ADS_1


“hm entah, dia asik orangnya.”


“hah, sik dari mana, dia itu cowok paling pendiam dan paling suram disekolah.” Sahut Alda.


“bener, apa lagi matanya itu loh. Hii kayak mau makan orang.” Andini membenarkan.


“kalo marah si emang serem tapi dia enak klo diajak ngobrol.”


“emang ya kamu itu ajaib Cher.” Ucap alda menantap andini dan sentak tertawa kecil.


“ih apaan sih, kamu ngeledekin aku nih.” Cherry memajukan bibir.


Beberapa menit berselang, Dicky berjalan melintasi lorong penghubung antara koridor dan bagian belakang sekolah. Dicky berjalan mendekati danau. Namun sebuah suara mengejutkannya.


‘Aduh apes aku ketemu nih cewek agresif. Males banget tauk’. Keluh Dicky dalam hati. Dicky memang playboy, dia banyak memacari gadis-gadis yang cantik tapi Debby adalah pengecualian. Dicky tidak tertarik pada Debby karena menurut Dicky Debby itu sangat agresif, egois dan sifatnya yang selalu ingin mendominasi. Dicky lebih menyukai gadis yang polos dan tidak mengatur hidupnya. Akhirnya, mereka berjalan menuju dermaga yang masih diduduki Cherry dan teman - temannya.


“Dicky tuh.” Alda menyikut Cherry.


“udah biarin.” Ucap Cherry bangkit matanya menangkap sebuah kilauan putih. ‘apa itu cincinya Ilham?’ batin Cherry menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas dan BYURRRR!!! Cherry jatuh ke danau karena didorong dengan sengaja oleh Debby.


“Cherry!!!” pekik si kembar terkejut.


“Oops, aku nggak sengaja.” Ucap Debby tanpa rasa bersalah. ia melangkah mundur. Sementara Dicky menatap tegang kearah permukaan danau yang mulai tenang.


“aduh jangan - jangan Cherry tenggelam. Dicky cepetan tolongin Cherry.” Pinta Alda panik.

__ADS_1


“kalo Cherry mati gimana?” Andini mulai parno.


“iya - iya” Dicky membuka kacamata dan jas sekolahnya dan masuk ke dalam danau. Dicky membuka matanya dan melihat Cherry tengah tertelungkup disela - sela batu danau. Ia menarik tangan Cherry namun gadis itu menolak dan membelalakkan matanya pada Dicky. Air tercemar warna darah yang keluar dari dahi Cherry. Dicky membulatkan mata terkejut. Cherry kembali membalikkan tubuh dan mencoba meraih cincin Ilham. Dicky lalu menarik tangan Cherry hingga keduanya muncul dipermukaan danau. Bisma yang datang setelah mendengar ribut-ribut segera membantu Dicky mengangkat tubuh Cherry yang mulai lemas. Reza mencoba menyadarkan Cherry dengan menepuk - tepuk pipi gadis itu.


“Cher, bangun.” Panggil Reza sambil menekan perut gadis itu. Air mulai keluar dari sela - sela bibirnya dan ia terbatuk - batuk. “Cherry! Cepat bawa ke UKS.” Ucap Ilham yang berlari mendekat. Reza segera membopong tubuh Cherry menuju UKS.


“kamu nggak apa - apakan?” Tanya Debby cemas sembari mengusap wajah Dicky dengan sapu tangan. Dicky menggeleng pelan. Tatapannya menatap khawatir pada Cherry yang digendong oleh Reza.


“Cher kamu nggak apa - apakan?” ucap Ilham pada Cherry yang mulai sadarkan diri. Cherry menggeleng lemas.


“Syukurlah, Ilham mengembuskan nafas lega.cherry mengangkat tangan kanannya yang terkepal erat. Ia membuka genggaman dan memberikannya pada Ilham sebuah cincin perak dengan hiasan permata merah garnet. “itu tadi bahaya banget. kamu nggak harus ngambil cincin ini kok.”


“aku kan harus tanggung jawab.” Ucap Cherry. Ilham meraih cincin itu.


“makasih ya. Tapi cincin itu buat kamu aja. aku mau coba ngikutin tips kamu buat move on. ” Ucap Ilham tersenyum.


“beneran?” Tanya Cherry terkejut.


“Iya. Meski pun aku tau lari dari bayang - bayang masa lalu itu tidak mudah. Tapi aku akan mencoba bangkit dan melupakan kisah perih aku.”


“jangan dilupakan Ham, kenangan dan masa lalu itu harus tetap diingat, karena pengalaman itu yang akan mengajari kita tentang hidup. Istilah melupakan lebih baik diganti dengan ‘menyimpan’. Simpan aja masa lalu kamu di cincin ini.” Ilham tersenyum mendengar penuturan Cherry dan mengelus rambut Cherry yang basah. Keduanya tersenyum senang.


Aku bisa, aku bisa melangkah lagi, Hanie aku akan bahagia, aku akan bahgian demi kamu. Batin pemuda itu. Matanya berbinar berkilauan tidak lagi seperti mata ikan mati.


***

__ADS_1


__ADS_2