
Larik - larik sinar senja mewarnai danau belakang sekolah. Sebuah bayangan hitam terpantul diatas danau yang airnya jernih bening bagai kaca. Sehelai daun terjatuh menciptakan riak-riak kecil diatas pemukaannya. Seorang pemuda berdiri mematung. Tubuhnya tinggi atletis sedikit berisi, kulitnya sawo matang, wajahnya bulat, rambutnya pendek tanpa belahan yang disisir rapi dengan pinggiran yang lebih pendek dari rambut puncak kepalanya. Tatapannya sendu terbayang dari biji matanya yang cokelat hazelnut. Pakaiannya rapi dengan setelan kemeja dilengkapi jaket bertudung berwarna abu-abu berbalut jas sekolah.
Pemuda itu bagai patung, tenang ia berdiri diatas dermaga kayu kecil yang hitam dengan bercak lumut-lumut tipis disela-sela papannya. Sebuah perahu kayu tertambat pada kayu dermaga. Sepasang ikan mas koki terlihat menyembulkan kepala sedetik kemudian menghilang kedalam air, menciptakan gelombang kecil yang menggerakkan badan kapal hingga mengeluarkan bunyi berdecak. Tapi pemuda itu tak peduli, pada angin yang berembus seolah berbisik, pada batu yang mengintip dari dasar danau, pada air yang mulai tenang, bahkan pada burung camar yang melintas mencari mangsa. Tatapannya tertuju pada benda kecil yang ada dalam genggamannya. Benda perak bermahkotakan permata merah garnet yang memantulkan cahaya senja. Tapi ia tetap diam, matanya beralih memandang jauh ke tengah danau, seolah mencari sesuatu yang ia rindukan. Tatapannya sendu seolah raganya saja yang tertinggal, tapi seolah jiwanya menguap bersama angin senja yang dingin.
Ingatannya kembali saat ia masih berdiri ditempat itu dua bulan yang lalu. Ditempat yang sama, dengan senja yang sama, namun perasaan yang berbeda. Kala itu ia bersama seseorang yang berharga baginya, sampai akhirnya semuanya sirna.
“Hanie kecelakaan.” Suara ibu Hanie diseberang sambungan telpon terdengar bergetar hebat. Ilham sampai berdiri membeku beberapa detik seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tanpa buang waktu Ilham segera memasuki mobilnya dan menuju rumah sakit. Ilham tak mampu berkonsentrasi, dilampauinya lampu lalu lintas yang masih menyala merah. nafasnya begitu sesak dan mulai membayangkan hal-hal yang menakutkan. Ia tidak peduli pada petugas parkir rumah sakit yang meneriakinya. Ia berlari menuju ruang UGD. Langkahnya seketika terhenti saat melihat mama Hanie berurai air sambil memeluknya erat. Ilham masuk dan begitu terpukul melihat keadaan Hanie yang bersimbah darah. Baju yang dikenakaannya sudah berubah kecoklatan. Pendeteksi detak jatung itu masih terus berbunyi pelan pertanda masih ada kehidupan. Disananalah Ilham masih mengurai harapan harapannya. Berharap Tuhan bermurah hati padanya agar alat itu terus berbunyi dan menunjukkan reaksi kehidupan. Ilham duduk kursi yang ada disamping tempat tidur. Ia meraih jemari Hanie yang lemah. Perlahan Hanie membuka mata dan tersenyum pada Ilham.
“kamu jangan tinggalin aku.” Pinta Ilham, gemetaran ia mencium jemari Hanie. Gadis itu kembali tersenyum merasakan betapa beruntungnya ia memiliki Ilham. Tatapan Ilham luar biasa takut bercampur sedih. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.
“terimakasih sudah ada disisiku. maafkan aku Ham.” Ucap Hanie pelan dan sekuat tenaga ia bersuara.
“nggak Han, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh. Kita sebentar lagi tunangan.” Ucap Ilham dengan mata merah. ia menunjukkan sebuah cincin pada Hanie.
“aku cinta kamu Ham. Berbahagialah.” Suara gadis itu berbisik.
“aku nggak bisa tanpa kamu.” Ucap Ilham dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya. Digenggamnya jemari Hanie dengan kuat, dipengangnya pipi putih pucat gadis yang amat dicintainya itu. Pikirnnya kacau, kenapa-kenapa ini terjadi dengan tiba- tiba, kenapa ini harus terjadi pada kita. Otaknya terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengandung kemarahan.
“kamu harus hidup bahagia.” Ucap Hanie menutup mata dan tersenyum untuk terakhir kalinya.
“Hanie, aku juga cinta kamu. Hanie! Hanie!” Ia memegang erat tangan Hanie yang masih hangat. Yang terdengar hanya suara tangisnya yang beradu dengan alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi panjang. Ia berteriak dan terus berteriak memanggil gadis yang dicintainya. Ia menangis hingga matanya kering dan sakit, hingga suaranya parau. Tapi yang pergi telah pergi dan takkan kembali.
__ADS_1
Kebahagian yang sebentar lagi diraihnya terhempas begitu aja seperti kristal yang hancul lebur tak berbentuk. Yang tersisa adalah tangan yang terluka dan berdarah berusaha mengumpulkan kembali pecahan demi pecahan yang hancur berserak. Rasa sakit yang terus membayang ketika ia menyusun kembali potongan kebahagiann miliknya membuatnya lemah, putus asa dan ingin menyerah.
Mata Ilham kembali basah tatkala mengingat kejadian itu. Tangannya menggenggam erat cincin merah garnet yang harusnya melingkar di jemari Hanie.
***
Taksi berhenti didepan apartemen, menurunkan keduanya.
“mau kamu apa sih?” tanya Cherry galak.
“kita bicara didalam.” Ucap Dicky berlari menaiki tangga besi.
“apaan?” tanya Cherry meletakkan ranselnya diatas meja makan.
“hah?”
“kalo orang-orang sampai tahu kita tinggal satu apartemen, reputasi aku sebagai cowok top disekolah bisa rusak. Ngerti nggak sih kamu? Semua cewek-cewek aku pasti bakalan mutusin dan ninggalin aku.”
“terus aku peduli?” suara Cherry terdengar mengejek. “itukan salah kamu. Siapa suruh kamu jadi playboy.”
“nih cewek bener-bener ya,” Dicky *** kedua belah tanganya gemas.
__ADS_1
“kalo aku nggak mau, ”Cherry menantang. “kamu mau apa?”
“kalo kamu nggak mau,...” Dicky menggantung ucapannya matanya menyipit licik, ia maju mendekati Cherry, Cherry terkejut dan mencoba mundur namun ia tak mampu karena terhalang meja yang membentur punggungnya. Langkah Dicky semakin mendekat, tatapan keduanya saling beradu dan jarak semakin menipis.
“kamu mau apa sih?” Cherry mendorong dada Dicky yang makin merapat mendekatinya.
Dicky berhenti, kedua tangannya diletakkan disisi Cherry hingga gadis itu terkunci pergerakannya. Gadis itu berusaha memundurkan tubuhnya. Wajah keduanya sangat dekat hingga mereka bisa saling mendengar nafas masing-masing.
“kalo kamu nggak mau nurutin perintah aku, kamu bakalan aku cium sekarang.” Ucap Dicky tepat didepan wajah Cherry. Tatapannya tajam, ekspresi pemuda itu serius. Cherry kontan menutup mulutnya dan ia tak mampu berkata apa – apa.
“setuju?” pertanyaan itu cepat dijawab dengan anggukan tanpa ragu. Ia dilanda gugup. Apa lagi ia tak pernah berada sedekat itu dengan seorang cowok. Entah kenapa ia tidak bisa menolak perintah Dicky. Jantungnya berdetak sangat kencang, keringat dingin membasahi wajahnya yang memerah bagai kepiting rebus,
Dicky tersenyum penuh kemenangan. “bagus.” Ucap Dicky sambil tersenyum dan mengusap kepala Cherry. Ia melangkah menjauh, memberi ruang bagi Cherry untuk menarik nafas.
“dasar mesum.”
“apa kamu bilang?”
“nggak ada!” Cherry berlari kabur kedalam kamar mandi.
Ia duduk berjongkok memunggungi pintu, berusaha mengilangkan rasa gugupnya. Ia merasa kesal karena kalah dari Dicky. Rasa kesalnya pada Dicky mengingatkannya pada orang tuanya satu bulan lalu yang menyebabkan ia kabur dari rumah dan harus berada diapartemen itu bersama si playboy stadium akhir itu. Cherry menyembunyikan wajah dibalik kedua lengannya.
__ADS_1
***