Pahat Hati

Pahat Hati
Senja kala


__ADS_3

Semilir angin kembali berhembus lembut. Bunga mawar merah itu sudah berada pada tempat seharusnya. Diatas sebuah makam dibawah pohon beringin. Dicky berjongkok mengusap debu yang mengotori makam pualam itu. senyumnya kembali hilang berganti tatapan sedih dan sendu. Ingatannya tentang Cherry kembali membayanginya, tentang pertemuan mereka, tentang pertengkaran mereka, tentang kisah cinta mereka yang aneh. Pemuda itu kembali teringat setiap waktunya bersama Cherry yang telah mereka habiskan bersama. Tentang senyum gadis itu, tentang omelannya, tentang caranya tertawa, caranya marah, cara menangis dan caranya menyembunyikan penyakitnya.


Dan Dicky kembali tersenyum mengingat cintanya. Mengingat seandainya Cherry ada disisinya. Dicky hanya bisa mengingat dan membayangkan. Karena ia tidak bisa menahan apapun. Tidak bisa mencegah Tuhan mengambil gadis yang ia cintai. Dicky hanya bisa berdoa untuk Cherry dan percaya, Cherry sedang mengawasinya dari suatu tempat yang jauh. Ia hanya bisa percaya, kini Cherry telah bahagia.


Dicky masih berdiri disana untuk menikmati matahari senja yang tersembul dibalik bukit, bersama angin, bersama pohon, dan bersama kenangannya dengan Cherry. Ia Gadis manis yang sudah memahat hatinya. Sisa-sisa Pahatan hatinya masih berserakan, seperti kristal kaca yang jatuh berserakan. Ia masih berusaha membangunnya kembali meski dengan tangan berdarah, tapi ia tak menyerah. Ia telah memutuskan untuk terus melangkah maju tanpa pernah melupakan apa yang telah ia lalui dimasa lampau.


***


Saat ku buka mata


terang menerpa


Kubangkitkan tubuhku


cerah menyapa


Lalu kuhirup nafas


aroma cinta


Tak percaya rasa itu hadir lagi


Saat diriku sempat menyerah & tak inginkan cinta lgi


Hingga kau datang memahat hatiku dngn cinta


Aku gak sedih lagi


Deg-degan lagi


Ser-seran lagi


tiap bersama Kamu


hidupkan lagi


getarkan lagi

__ADS_1


tautkan lagi cinta diantara


Kita berdua bernyanyi


Kita berdua menari


Kita berdua tersenyum


Kita berdua bersama


Kita berdua bergurau


kita berdua bercanda


kita berdua tertawa


kita berdua bahagia


Saat melangkah pasti


lurus ke depan


mengejar asa


Lalu tersenyum simpul


aku kembali


Tak percaya rasa itu hadir lagi


Saat diriku sempat menyerah & tak inginkan cinta lgi


Hingga kau datang memahat hatiku dngn cinta


Aku gak sedih lagi


Deg-degan lagi

__ADS_1


Ser-seran lagi tiap bersama Kamu


hidupkan lagi


getarkan lagi


tautkan lagi cinta diantara


Kita berdua bernyanyi


Kita berdua menari


Kita berdua tersenyum


Kita berdua bersama


Kita berdua bergurau


kita berdua bercanda


kita berdua tertawa


kita berdua bahagia


Kan kujaga cinta kita.


Bersamamu adalah anugerah Tuhan


***


“Dicky! pergi nggak ngajak-ngajak protes Rafael.” Aku hanya bisa tersenyum simpul. Cherry benar-benar kembali kepemakaman ini, seperti janjinya pada Dinda dulu. Aku menatap pada makam pualam yang masih dikunjugi Debby dan Rere. Nampak disana ada si kembar. Rafael, Reza, Ilham, Rangga, Bisma dan Morgan berjalan mendekatiku. Tangan mereka pun masing-masing menggenggam rangkainan bunga mawar merah.


“jangan pasang wajah jelek begitu.” Ledek Reza yang langsung mengacak-acak rambutku. Kutatap masing-masing wajah ke enam sahabatku yang nampak ceria.


Cher, andai kamu disini, semua pasti akan terasa sempurna. Bisikku dalam hati. Kamu sudah damai, kamu tidak lagi perlu menderita dan merasakan sakit. Tapi, kerinduan ini, masih terasa menusuk jantungku dengan begitu dalam, hingga terkadang aku tidak bisa tidur, terkadang aku menangis kala sendirian ditengah halimun malam, terkadang pula aku tersenyum saat mengenangmu bersama senja. Tapi semua pun indah pada akhirnya, akhir yang indah itu tidak selamanya harus tertawa, kadang akhir dari sebuah kisah adalah air mata ‘kan? Air mata yang menetes tak selamanya mengandung duka. Terkadang kita menangis kala kita terlalu bahagia, kala kata-kata tak mampu lagi mewakili rasa. Tangis adalah bahasa dari sedih juga dari bahagia.


Terimakasih sudah seenaknya masuk kedalam hatiku, tanpa permisi. Terimakasih sudah mengajariku banyak hal. Terimakasih sudah mewarnai hariku seperti 24 palet warna-warni. Terimakasih sudah marah, kesal, egois dan keras kepala. Terimakasih sudah membiarkanku mencicipi kenangan yang begitu manis, semanis buah ceri.

__ADS_1


Terimakasih karena kamu sudah memahat hatiku dengan cinta.


-TAMAT-


__ADS_2