Pahat Hati

Pahat Hati
Berkemah


__ADS_3

Alam begitu hijau, begitu segar, begitu lembap. Rerumputan masih menyisakan embun pagi yang belum menguap. Tanah cokelat kemerahan masih menyisakan jejak - jejak hujan semalam. Angin masih menyisakan hawa dingin yang berhembus dari puncak gunung. Hari masih pagi saat siswa SMA Bhakti tiba dilokasi perkemahan tepat dikaki gunung takuban perahu. Begitu sampai, mereka langsung disambut oleh dinginnya suasana gunung. Baju - baju tebal seolah tak mampu menahan tajamnya jarum udara dingin. Seolah kontras dengan udara dingin itu, suasana panas karena konflik dari dua bersaudara Alda dan Andini belum reda. Keduanya tampak saling bersaing untuk menarik simpati Morgan. Keduanya selalu mengikuti Morgan kemanapun pemuda itu pergi. Morgan meski merasa risih tapi tak bisa berbuat banyak. Ia selalu saja menjadi bahan rebutan Alda dan Andini.


“kamu kenapa Gan?” Tanya Rafael yang melihat Morgan mengendap - endap ke dalam tenda yang baru didirihkan.


“kamu jangan berisik. aku kabur.”



“dari?” Tanya Ilham.



“Alda ama Andini.”



“enak banget sih direbutin dua cewek.” goda Rafael.



“enak ya jadi cowok populer.” Ledek Ilham.



“ribet.” Runtuk Morgan sambil mengintip keluar untuk melihat keadaan. Nampak para murid tengah sibuk membangun tenda masing \- masing. Beberapa juga ada yang membawa ember untuk mengambil air dan sebagian lagi mengumpulkan kayu bakar.



“susah banget sih nih.” Keluh Cherry yang masih berkutat dengan tenda yang masih setengah berdiri. Alda dan Andini tidak bisa diharapkan sama sekali. Keduanya sibuk dengan urusan asmara masing \- masing.



“perlu bantuan?” Tanya Dicky mendekat.



“nggak perlu.” Ucap Cherry tanpa menoleh.



“kamu masih marah?”



“marah? Kenapa aku mesti marah?” Tanya Cherry jutek.



“terus kalo nggak marah, kenapa dari kemaren kamu diemin aku? Disekolah cuek, dirumah apa lagi.”

__ADS_1



“nggak apa \- apa kok. Nggak mood aja.” Ucap Cherry masih berusaha mendirikan tendanya.


“Sini aku bantuin.” Dicky merebut perkakas tenda Cherry dan dengan sigap mendirikan tenda berwarna biru itu. Cherry hanya bisa berdiri memandang Dicky yang masih sibuk membantunya. “selesai deh.” Ucap Dicky menepuk kedua telapak tangannya.


“thanks ya.” Ucap Cherry tersenyum. “ternyata playboy stadium akhir bisa diandelin juga.”


“idih.. nggak usah ngucapin makasih kalo ujung - ujungnya ngeledekin juga.”


“eh dimana - mana kalo ada orang yang habis ditolongin, harus ngucapin terimakasih. Anak SD juga tau kali.”


“kamu tuh ya, dari tadi ngeledekin aku mulu. aku udah insyaf kali.”


“hah insyaf? Emang ada playboy insyaf?” ledek Cherry


“playboy juga manusia kali.”


“kayak judul lagu ya.” Cherry tersenyum geli.


“kok yayang Ichy ada disini sih.” Ucap seorang gadis, Debby. Ia mengapit mesra lengan Dicky.


“norak deh.” Dicky mencoba melepaskan pegangan Debby dari lengannya.


“eh kamu jangan macem \- macem. kamu mau rahasia kamu aku bongkar?” Ancam Debby.




“idih tenda norak aja di banggain.” Ledek Rere.



“cabut yuk. Males juga aku disini.” Ucap Dinda.



“sono pergi. Hush hush!” Suara Cherry meninggi.



“Cher kita nyari kayu bakar yuk.” Ajak Alda sesaat setelah Debby pergi.



“kita ambil air aja yuk Cher.” Ajak Andini sambil menyerahkan ember.


__ADS_1


“eh, main nyalip aja sih,kayak angkot. Jelas \- jelas aku duluan yang mau ngajakin Cherry.”



“tapi aku mau Cherry temenin aku ngambil air.”



“Cher, kamu ikut aku ya.” Alda menarik tangan kanan Cherry.



“jangan Cher, ikut aku aja. Kita liat sungai.”  Andini menarik tangan kiri Cherry.



“Cherry ikut aku.”



“aku.”



“aku.”



“aku.”



“Stop!!!” Cherry menghempaskan kedua tangannya. “kalian berdua kenapa sih? Kok jadi berantem gini? Kalian tuh saudara. Kembar pula. Akur dong.”



“males.” Ucap Alda membelakangi Cherry.



“idih ogah.” Andini membelakangi Cherry.



“emangnya berantem itu ada untungnya ya?” Tanya Cherry. “nggak ada. Masalah nggak akan bisa selesai hanya karena kalian saling teriak. Kalian itu udah dewasa, bukan saatnya berantem kayak gini. Girls come on, perdamaian itu jauh lebih indah dari pada permusuhan. Percaya deh.”



“tau ah.” Alda beranjak meninggalkan Cherry, begitupun Andini. Cherry hanya bisa geleng \- geleng kepala menyaksikan dua sahabatnya yang saling bertengkar.

__ADS_1


***


__ADS_2