Pahat Hati

Pahat Hati
Tema penghabisan


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Seorang gadis berbaju hitam tampak duduk disamping sebuah makam. Ia menabur bunga dan menyiram air ke seluruh permukaan makam. Sebuah karangan bunga mawar merah bertahta indah diatas batu nisan pualam yang mengkilap tertimpa cahaya matahari.


“terimakasih untuk hadiah yang kamu berikan padaku. Bukan hanya organ tubuh yang kamu donorkan, lebih dari itu, kamu sudah memberiku kehidupan. Semoga kamu bahagia disurga.” Ucapnya membasuh nisan pualam itu. “bulan depan aku pasti akan datang lagi.” Ia tersenyum seolah lawan bicaranya ada dihadapannya, ia lalu bangkit dan berjalan menjauhi makam. Menuju sebuah mobil yang terparkir bisu dipintu gerbang pemakaman. Seorang pemuda tersenyum menyambutnya.


***


Sebuah rumah mewah tampak begitu temaram. Puluhan mobil terparkir dipelatarannya. Hiasan lampu dan bunga-bunga tampak menyapa tamu mulai dari pintu gerbang hingga bagian dalam rumah. Rumah Cherry tengah merayakan ulang tahun ke tujuh belas gadis itu.


“berkat Dinda, aku dan Dea bisa hidup.” Ucap Cherry kembali mengenang detik-detik menegangkan dirumah sakit ketika ia dan adiknya memerlukan donor organ. Tak disangka orang tua Dinda datang dan mengatakan ingin menjalankan wasiat Dinda yang telah meninggal akibat kecelakaan. Dalam pesan terakhirnya, ia ingin meminta maaf karena telah telah mendorong Cherry ke jurang saat mereka berkemah tempo hari. Debby saat itu hanya melindunginya. Ia melakukan itu karena ia iri pada Cherry dan ia ternyata dendam pada Cherry karena ia sangat menyukai Ilham.


“kalau aku mati, berikan organ tubuhku pada orang yang membutuhkan. Selama hidup aku sudah merasa jadi sampah. Tolong buat kelahiranku menjadi lebih berguna.” Ucap Dinda sebelum menutup mata. Cherry mengusap ujung matanya yang mulai berair saat mengingat kejadian itu. Teman-temannya berdiri mengelilingi Cherry.


“aku sangat bersyukur bisa hidup sampai hari ini.” Ucapan Cherry membuat semua memandang ke arahnya. “sewaktu aku kecil aku selalu iri dengan anak lain, yang bisa berbahagia dengan kedua orang tua mereka. Ketika aku kelas empat SD, dokter memvonis aku terkena kanker hati. Waktu itu aku masih sangat kecil untuk mengerti arti dari kematian. Lalu menjelang SMP tubuhku selalu lemah dan aku harus dirawat dirumah sakit untuk waktu yang lama. Aku mulai mengerti apa itu hidup juga apa itu mati. Sepanjang waktu aku terus dan terus mengeluh. Aku mengutuk hidupku, aku menyesal telah terlahir.” Sejenak ia menarik nafas yang dalam.


“Lalu ketika aku SMP aku kehilangan orang sangat berharga bagiku. Dia pergi untuk selamanya. Setelah itu aku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sakit. Aku menjalani berbagai macam pengobatan dan terapi. Ketika aku berusia enam belas tahun, Aku tidak sengaja mendengar pembicaran dokter dengan nenekku. Kulihat beliau menangis. Saat itu, tidak mungkin jauh sebelum itu aku sudah tahu, tapi aku berpura-pura tidak tahu, waktuku sudah tidak lama lagi. Saat itu aku memutuskaan untuk keluar  dan berlari. Aku melakukan apapun yang aku mau, aku mencari kebahagiannku, aku tertawa sepuas yang kuinginkan. Aku tidak ingin mati didalam rumah sakit yang dingin sendirian. Aku tidak ingin mati membawa penyesalan. Sedikit saja, walau sedikit saja aku ingin membuat kenangan manis dengan orang-orang, aku ingin terhubung dengan mereka. Aku rasa aku ini orang paling egois. Aku melakukan semua itu untuk demi diriku sendiri, demi kepuasanku sendiri. Tolong maafkan aku.” Gadis berambut pendek itu mengusap air yang menggenang diujung matanya.


“Cherry,” Dicky menggenggam erat jemari gadis itu. Teman-temannya ikut tersenyum.


Namun tiba-tiba, Cherry memegangi kepalanya yang mendadak pusing.


“kamu kenapa?” tanya Dicky cemas.

__ADS_1


“nggak, aku cuma agak pu...” BRUKK!!! Belum sempat melanjutkan kalimatnya, tubuh Cherry ambruk. Malam pertunanagan yang romantis seketika berubah. Orang-orang panik melihat Cherry tak sadarkan diri.


***


“Cherry, kamu bisa dengerin aku nggak?” Dicky menggengam jemari Cherry dengan erat. Gadis itu tetap tak membuka mata. Dicky semakin ketakutan saja, pikirannya berkelebat hal-hal yang menyeramkan. Ia benar-benar takut kehilangan Cherry. Sementara itu, Ilham berdiri dibelakang Dicky bersama teman-teman yang lain melihat keduanya, seperti sebuah De Javu. Teringat dulu dia pernah ada diposisi yang sama dengan Dicky. Hanya saja kali ini ia berharap, gadis itu bisa bertahan lebih lama.


“Cher, kamu jangan tinggalin aku.” Mata Dicky mulai basah. Bibirnya gemetaran. Ia takut. Takut kehilangan gadis yang ia cintai. Tangannya semakin erat menggenggam jemari Cherry. Takut Cherry bernar-benar pergi dari sisinya.


“Cher, bangun!!! kamu jangan berani-beraninya tinggalin aku. aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. kamu nggak boleh kayak gini. kamu ingat ini hari ulang tahun kamu. Please buka mata kamu Cher. Cherry kamu jangan kayak gini dong.” Suara Dicky semakin parau. “Cher, aku janji, aku bakal bahagianin kamu, aku bakal ngelakuian apa aja yang kamu mau. Asal kamu bangun. Buka mata kamu Cher. Jangan tinggalin aku. aku nggak sanggup kehilangan kamu. aku bener-bener nggak sanggup.”


Dicky benar-benar memohon, pemuda itu sangat mencintai Cherry. Sorot matanya menggambarkan ketakutan, beberapa tetes air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya. Tangan dan bibirnya gemar semakin ketakutan karena gadis yang ia cinta tak kunjung sadar. Teringat perkataan dokter beberapa saat lalu yang mengatakan Cherry mengalami komplikasi pasca pencangkokan organ. Semua keluarga dan sahabat langsung dibuat tak percaya. Baru beberapa jam Cherry nampak berbahagia dihari ulang tahunnya namun kini gadis itu belum juga sadarkan diri.


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Dicky masih setia menunggui Cherry disamping pembaringan gadis itu. sementara keluarga dan sahabatnya sudah tertidur di sofa rumah sakit. Dicky sama sekali tidak bisa tidur rupanya. Ia terus menatap wajah Cherry. Ingatannya kembali terulang, tentang pertemuan mereka pertama kali, tentang insiden taksi, tentang sikap Cherry yang menyebalkan, keras kepala dan pemarah. tentang bagaimana tanpa ia sadari ia telah jatuh cinta, jatuh cinta yang begitu dalam  pada Cherry. Tentang betapa cantiknya Cherry dimalam pertunangan mereka, Dicky terus membayangkan kenangan manisnya. Dan tiba-tiba ia merasakan tangan Cherry perlahan bergerak. Dicky tersentak kaget. Seandainya jantungnya adalah bom, pasti jantungnya sudah meledak. Sebuah tatapan penuh harap nampak dari sinar matanya yang tadi diliputi kabut kesedihan.


“ini aku Cher. Ini aku.” Ucap Dicky buru-buru. Air matanya mengalir tanpa mampu ia bendung.


“ini pertama kalinya aku melihatmu menangis.” Senyuman tibis diuntai dari seraut wajah pucat dihadapannya. “apakah selama ini kamu menahannya sendirian? Maafian aku. aku nggak pernah jadi cewek yang manis buat kamu. aku selalu nyusahin kamu. Maaf...” kata-katanya terpotong, ia kesakitan luar biasa.


“Cher. Jangan bicara dulu. Jangan makasain diri kamu.” Sedih, teriris hati Dicky melihat Cherry tengah berjuang kesakitan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap dengan ketakutan.


“Ky, aku bahagia. aku bahagia kenal sama kamu, aku bahagia disaat terakhir aku, aku bisa genggam tangan kamu. aku bener-bener bahagia.” Cherry tersenyum. Perlahan air matanya mulai jatuh. Dicky semakin sedih mendengar perkataan Cherry.


“Cherry...”

__ADS_1


“Dicky, tangan kamu hangat.” Ucap Cherry tersenyum. Wajah gadis itu semakin pucat pasi, nafasnya terdengar berat.  “Ky, aku pengen aku bisa hidup lebih lama lagi. aku belum mau mati. aku.... masih banyak yang ha... harus aku lakuin. aku belum bisa bahagian semua....orang. aku cuma nyusahin aja. aku...be... bener-bener nggak mau mat... mati seperti ini, aku.... maafin aku Ky. Aku udah buat kamu menangis.” Ucap Cherry terbata-bata, air matanya yang hangat sudah menggenang dan menetes diatas pipinya yang pucat.


“kamu pasti bisa Cher, kamu pasti bisa. Percaya sama aku. kamu harus hidup. aku butuh kamu. kamu nggak boleh ninggalin aku Cher.” Dicky berusaha menyemangati.


“terimakasih Dicky, maafin aku yang udah mengacak-acak hidupmu. Terimakasih sudah mencintaiku. Terimakasih sudah mau menangis demi aku. kamu harus hidup bahagia. aku percaya, kamu pasti bisa, pasti bisa bahagia.” Ucap Cherry menutup mata, ia merasakan sakit yang teramat disekujur tubuhnya.


“Cherry!”



Tim dokter datang dan memberikannya perawatan. Jarum suntik, obat-obatan dan alat-alat medis berbagai macam ditorehkan diatas tubuh mungil gadis itu. Berapa dokter dan perawat menutupi pembaringannya. Dicky hanya bisa tertegun dengan tatapan kosong. Dokter sudah mewanti-wanti situasi terburuk dan menginginkan orang terdekat gadis itu tetap selalu ada disisinya mendampingi.


Keadaan Cherry terus memburuk setiap menitnya, sesekali tubuh gadis itu tersentak dan mengejang. Dicky benar-benar tak tahan melihat pemandangan didepannya.


Orang tua Cherry hanya bisa menangis pilu. Dicky menguatkan dirinya. Ia berjalan mendekat ke arah Cherry, sedikit mata gadis itu terbuka, ia tahu Cherry tengah berjuang sekuat tenaga, menahan rasa sakit luar biasa yang Dicky saja tak bisa membayangkan deritanya.


Suara detektor jantung terdengar berkedip pelan. Dicky mengenggam jemari Cherry dengan penuh kelembutan. Gadis itu merespon lemah, air mata mengalir diujung pelupuk matanya. Mulutnya menganga berusaha menghidup udara dari alat bantu pernafasan. Dicky tak tahan melihat gadis yang sangat dicintainya begitu kesakitan dan menderita. Ia mendekatkan wajahnya dekat dengan gadis itu. Dikecupnya dengan lembut kening gadis itu. Air matanya yang meleleh jatuh membasahi pipi pucat Cherry.


“Aku cinta kamu Cherry. Luar biasa cinta kamu. Hiks...” Air mata Dicky terasa hangat menetes dipipinya. Untuk sesaat ia terisak tak mampu berkata-kata, untuk bernafas saja sangat sulit rasanya. “Hiks... tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, aku akan baik baik saja. Pergilah  dalam damai.” Giginya bergemertak menahan rasa sesak dan tangis saat ia mengucap kalimat itu.


“Cherry... Cherry...hiks....”


***

__ADS_1


__ADS_2