Pahat Hati

Pahat Hati
Teman Baru


__ADS_3

Malam menguasai langit. Dicky bergegas naik ke tempat tidurnya. Ia memandang langit\-langit apartemennya. Tak lama ia bangkit dan melihat bayangan dari lampu di depannya. Ia penasaran dengan hal yang dilakukan Cherry namun ia terhalang oleh kain sprei yang dibentangkan gadis itu. Ia kembali membaringkan diri. Tak terasa ia sudah 1 bulan tak pulang kerumah. Ia memang tak ingin pulang. Ingatannya kembali saat ia menumpang tinggal dirumah Bisma yang baginya penuh siksaan lahir dan bathin.



“mamang!!! Jorok kamu. Baju kalo udah dipake tuh ya dicuci.” Dicky memungut pakaian yang tergeletak dilantai. Bisma adalah sahabat Dicky, mamang, begitu nama panggilannya karena ia adalah orang sunda. Mereka sudah berteman sejak kecil. Ia sosok pemuda yang ceria, dan sangat peduli pada sahabatnya.



Kulitnya sawo muda, matanya bulat dengan biji manik mata cokelat muda dibingkai kacamata. Alisnya hitam legam dengan hidung sedikit mancung. Kala ia tertawa, sederet giginya yang diberi kawat akan terpampang membuatnya nampak manis. Rambutnya sedikit panjang, ujungnya keriting dibagian tengkuk. Tingginya sama dengan Dicky, namun ia lebih kurus.



“suka \- suka aku. Ini rumah aku. Remember? Lagian kamu punya rumah, knapa kagak pulang aja sih?”



“sejak aku numpang disini, udah 18 kali kamu nyuruh aku pulang. kamu ngusir aku?”



“kalo kamu ngerasa gitu ya terpaksa...” nada suaranya menyindir.



“iya \- iya ntar aku cari apartemen. Bawel.”



“alhamdulillah.” Ucap Bisma mengurut dada.



“mamaaaang!!!” Dicky kesal dan melempar Bisma dengan pakaian yang tadi ia pungut.


Begitulah akhirnya ia bisa berada satu apartemen dengan Cherry.


***


Pagi bersemu, menebarkan aroma segar. Bau musim hujan diantara embun, diatas rumput, disela - sela kuncup bunga yang baru mekar, aroma pagi sungguh damai. Matahari yang terbit sehabis hujan subuh terlihat berpendar kuning keemasan diujung timur cakrawala. Suara burung gereja yang bertengger diatas kabel terdengar merdu bersiul menyambut hari. Kabut-kabut putih tipis masih jelas terlihat diantara puncak-puncak bukit.


Cherry bersiap kesekolah. Ini adalah hari pertamanya.


“lho, kok seragam kita sama.” Ucap Cherry menatap Dicky yang tengah memakai sepatunya.


“bodo’.” Ucap Dicky cuek, pemuda itu berjalan meninggalkan Cherry.


“iiiih, kemaren sok kenal, sekarang malah kayak gitu. Dasar alay!” Cherry bergegas menuruni tangga. Ia berjalan kaki menuju sekolah dilihatnya punggung Dicky yang berjalan cepat didepannya. Wajahnya ditekuk seribu.


“woi mas bro!” Seorang pemuda melopat kearah Dicky. Bisma.


“pagi-pagi udah ngagetin.” Dicky memonyongkan bibir.


“itu muka apa baju kusut? Hahaha” Bisma tergelak.


“nggak lucu”


“kenapa sih kamu?”


Dengan wajah masam Dicky menceritakan sedetil-detilnya mengenai kejadian yang ia anggap malapetaka kemarin. Dan Bisma hanya menertawakannya hingga pemuda itu makin mengerutkan wajahnya.


Di ruang kelas, Dicky masih terus melipat dahi dan menaukan alisnya. Mulutnya tertekuk kebawah dengan tatapan galak. Para siswi yang biasanya senang mengobrol dengan Dicky pun urung mendekati pemuda itu.


Seorang guru wanita masuk kedalam kelas. Suara hak sepatu stiletto miliknya menghentak lantai keramik ruangan. Rambutnya panjang sebahu dengan diikat dengan ikatan yang jatuhnya kesamping kanan leher dihiasi pita putih. Wajahnya sedikit lonjong dengan rahang lancip. kulitnya putih merona, hidungnya mancung dan bibirnya seksi dioles lipstik merah terang. Manik matanya berwarna cokelat russet dengan ujung mata yang lancip.   Ialah Erlina seorang guru seni sekaligus anak dari kepala sekolah.


“Hari ini kalian mendapat teman sekelas baru.”


“Halo, namaku Cherry Moriasme. Namaku berasal dari bahasa spanyol memorias yang artinya kenangan. Aku berharap kita bisa berteman dan membuat kenangan yang manis, semanis buah ceri.” Gadis itu tersenyum manis dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


“Hah!” Suara kursi bergeser keras, Dicky yang tadi ogah-ogahan mendengar kini berdiri dengan mata membulat dan mulut menganga kaget. Tangannya menunjuk kaku pada Cherry, namun gadis itu mengacuhkannya.


“Dicky! Duduk!” bentak bu Erlina yang terkenal luar biasa galak.


“Cherry menutup mulut menahan tawa sementara Dicky melotot galak pada gadis itu.


***


Sepulang sekolah, dibawah matahari pukul tiga sore, Dicky berjalan tepat dibelakang Cherry. Wajahnya masih jengkel sama seperti tadi pagi.



“kamu ngapain sih ngikutin aku mulu.” Cherry berbalik dengan wajah kesal.



“heh Cherry asem, nggak usah kepedean kamu. Siapa juga yang ngikutin kamu.”



“yaudah kamu jalan duluan kalo gitu.”



“terserah!”



“ngeselin banget.”



“apa kamu bilang?”




“Ky, nggak usah pasang wajah sumringah gitu. Segitu senengnya kah kamu bisa sekelas sama aku?” Nada mengejek terdengar, membuat telinga Dicky panas.



“Siapa juga yang sumringah? Hah? Dari sekian banyak kelas kenapa aku mesti sekelas sama cewek amazon kayak kamu.”



“apa kamu bilang?”



“iya kamu cewek keras kepala, kasar, garang, banyak bicara, sombong, ceroboh dan nggak ada manisnya sama sekali.” Teriak pemuda itu meluapkan emosi.



Cherry memejamkan mata, wajahnya memerah jengkel. Cherry melangkah maju mendekati Dicky. Mata keduanya saling tatap dalam jarak pandang yang dekat. Tangan Cherry terangkat pelan mendekati wajah Dicky, membuat pemuda itu membelalakkan mata.



“Aaa... aduh... sakit!” keluh pemuda itu ketika Cherry menarik poni yang hanya sebelah hampir menutupi matanya.



“berani\-beraninya ya kamu ngatain aku.” Cherry geram.



“Oi lepasin.”

__ADS_1



“nih rasain!” Cherry menarik semakin kencang.



“Ampun\-ampun.” Belum lagi Cherry angkat bicara tiba\-tiba terdengar tak jauh dari mereka berdiri.


“Tolooooong!” Dua suara terdengar bersamaan, terdengar gonggongan anjing yang keras. Cherry berlari meninggalkan Dicky yang fokus membenahi poninya yang berantakan.


Terlihat seekor anjing bulldog besar berwarna hitam tengah menyalak kearah dua orang gadis bereragam sama dengannya. Mata hewan itu tajam, dengan air lir yang menetes. Dicky terlihat terdiam. Sementara Cherry mengambil kayu untuk menghalau anjing itu.


“husssh...husss” ketika Cherry hendak memukul anjing itu kedua gadis itu segera berlari dan berlindung dibalik punggung Cherry. Anjing itu menarik tongkat kayu Cherry. Gadis itu merasa kesal karena ditantang seekor anjing.


“woi, sana kamu pergi. kamu mau aku tendang? Hah!!!” Cherry berteriak mengancam anjing itu. Anjing itu berlari ketakutan karena teriakan Cherry yang sangat keras.


“waah kamu hebat banget, makasih ya udah nolongin kita” ucap gadis kembar itu bersamaan.


“kamu kalo marah serem. udah kayak emak-emak yang belom dapet jatah gaji. Hahaha” Dicky diujung jalan berteriak dengan nada mengejek. 


“diem kamu.” Cherry galak. “Awas kamu ya.” Cherry *** sebelah tangannya.


“hahahah takut ah Cherry asem ngamuk.” Dicky membalikkan badan meninggalkan ketiganya.


“Tunggu pembalasanku.” Bisik Cherry jengkel.


“ih keren banget.” Keluh Alda sembari tak lepas memandangi Dicky yang melenggang pergi.


“Hah? keren? Orang gila kayak gitu keren. Iiieuch.” Ucap Cherry heran.


“kamu yang anak baru itukan. Cherry.” Tanya Andini. “kami duduk dibangku paling depan.” Sambungnya.


Cherry tak menjawab, ia tampak bingung saat memandang kedua gadis itu.


“makasih ya kamu udah nolongin kita. Sumpah kita phobia banget ama anjing. Galak lagi. ” ucap Alda membenarkan.


Cherry menatap keduanya tanpa berkedip, bergantian, dengan mata membulat, “klon!” pekiknya kemudian.


“kami saudari kembar.” Keduanya serempak menertawakan tingkah Cherry. “hahaha kamu lucu deh.”


“kenalin aku Alda Marylize, ini Andini Marylize adek aku.” kata Alda. Wajah keduanya hampir mirip. Kulit putih pucat dengan wajah berbentuk bulat telur. Pupil mata berwarna biru air dengan kelopak mata bulat dihiasi alis tipis. Bintik-bintik matahari diantara hidung mancung lancip khas gadis blasteran jerman. Keduanya dimahkotai dengan rambut berwarna kuning emas bergaya twintail.


“Kami blasteran Indo-Jerman.” Sahut Andini.


“wah keren.” Puji Cherry. “Senang bertemu kalian.” Gadis berambut pendek itu tersenyum.


Keduanya menatap Cherry yang tersenyum merekah, manis seperti buah ceri yang merah matang. “kamu itu bagai pahlawan ya, benerkan Da?” tanya Andini pada kakaknya.


“kamu mau apa, akan kami beri hadiah karena sudah menyelamatkan nyawa kami.” Ucap Alda.



“nyawa? Lebay ah.” Cherry tertawa.



“jangan begitu!” protes keduanya serempak.



“kalau ada orang yang meminta pertolongan, bukankah wajar jika kita memberikan bantuan? Kita ‘kan teman sekelas.” Cherry tersenyum manis. “boleh’kan kita berteman?”



“nggak perlu meminta untuk menjadi teman.” Alda tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2