
Insiden tepi jurang sudah berlalu seminggu yang lalu tapi Alda dan Andini masih bertengkar. Mereka tak jua mau berdamai meski Morgan sekalipun yang meminta. “dari kemaren berantem mulu kerjaannya. Kapan akurnya sih kalian.” Bentak Cherry.
“jadi kamu belain Andini? Gitu?” runtuk Alda kesal
“kok kamu ngomongnya gitu sih. aku cuma nggak suka kalo kalian berantem, itu aja.” Sanggah Cherry.
“terserah.” Alda mempercepat langkahnya menuju supir mereka yang ada diseberang jalan. Tanpa disangka, sebuah sepeda motor melaju begitu kencang dari arah kanan jalan raya. Alda yang kesal tak mau mendengar teriakan Andini. Hingga akhirnya Alda jatuh tersengkur diatas aspal. Gadis itu merasakan perih di siku dan lututnya. Ia begitu kesal karena merasa didorong dari belakang. Namun matanya terbelalak dan nafasnya terasa sesak saat melihat saudaranya bersimbah darah dijalan raya. Andini baru saja menyelamatkan Alda.
“ya Tuhan Andiniiii!!!”. Teriak Alda histeris. Ia memeluk adiknya yang bersimbah darah. Tak berapa lama mobil Ambulans datang. Alda dan Cherry duduk didepan ruang UGD dengan penuh rasa was \- was. Alda masih saja terisak ia benar \- benar merasa bersalah. “ini semua salah aku Cher.”
“bukan Da. kamu jangan ngomong kayak gitu.”
“harusnya aku dan Dini ngga bertengkar cuma gara \- gara cowok. Harusnya yang ada didalam itu aku bukan Dini. aku bener \- bener nyesel. aku takut kehilangan saudara aku. Meskipun aku sering berantem tapi aku sayang banget sama dia.Aku takut Cher.” Teriak Alda memeluk Cherry. Cherry pun teringat adiknya Dea.
“udalah Da, kita cuma bisa berdoa yang terbaik buat Dini.” Ucap Cherry seraya mengusap rambut sahabatnya dengan lembut.
“kamu nggak apa \- apa Cher.” Tanya seorang pemuda dengan wajah pucat panik.
“Dicky? kok aku sih. aku fine\-fine aja. Lagian kamu ngapain sih disini. Ngerusak suasana aja.” Keluh Cherry melihat Dicky dan rombongannya.
__ADS_1
“Da, Dini gimana?” Tanya Morgan cemas.
“masih didalem. Dokter belom keluar juga.” Ucap Alda berurai air mata.
“sabar ya Da. Kita doain aja semoga saudara kamu nggak kenapa \- kenapa.” Ucap Rangga memeluk pundak Alda. Tak lama, dokter pun keluar.
“gimana keadaan saudara saya Dok?”
“dia sudah melewati masa kritisnya. Dia juga masih shock dan sedikit memar pada beberapa bagian tubuh. Tapi sudah sadar kok.” Dokter tersenyum ramah.
“bisa, tapi tolong jangan terlalu berisik. Pasien masih perlu istirahat.” Ucap dokter seraya berlalu menuju kamar pasien lain.
“Cher,” Dicky menarik tangan Cherry membuat gadis itu tertahan langkahnya.
“apaan?”
“kamu beneran nggak apa\-apa ‘kan? Nggak ada yang luka ‘kan?”
__ADS_1
“nggak ada pak Dicky. Liat gue sehat, aman, damai, sentosa. Kenapa sih, aneh gitu.” Cherry kebingungan.
Dicky mengembuskan nafas lega, ia melangkah maju menempelkan dahinya pada bahu Cherry.
“eh?” sikap Dicky membuat Cherry terkejut dan hanya bisa berdiri mematung. Beberapa saat kemudian Dicky mengangkat kepalanya.
“ayo kita masuk. Ajaknya mendahului.”
Mereka berdua ‘pun akhirnya masuk ke dalam. Andini masih terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit. Sebuah selang infus dan darah membelit tangan kanannya.
“Din, kenapa kamu nekat sih.”
“ aku juga nggak tau Da, tubuh aku bergerak sendiri. Mungkin karena kita ini saudara Da, harus saling jaga. aku sayang sama kamu.”
“tapi nggak harus gini Din.” Alda kembali terisak.
“udah lah, yang penting kamu selamat. aku nggak apa \- apa.” Ucap Andini tersenyum.
“maafin aku ya. Ini semua salah aku. aku nyesel.”
“udah nggak usah gitu. Kita kan saudara.” Andini tersenyum manis. Kedua gadis serupa itu berpelukan penuh haru.
***
Raja siang masih bersinar terik memanggang bumi. Suara kendaraan beradu kencang dijalanan ibu kota. Hiruk pikuk kehidupan terus berputar bagi roda dijalanan kehidupan. Aspal seolah meleleh karena teriknya matahari. Namun tak mengurungkan niat seorang gadis yang berjalan menuju sebuah rumah sakit. Langkahnya cepat \- cepat memasuki pelataran rumah sakit. Ditangannya ia menenteng sekeranjang buah. Ia berpapasan dengan beberapa pasien yang juga dirawat disana. Ia mencoba tersenyum ramah. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda tengah berjalan sendirian dan masuk ke dalam kamar yang menjadi tujuannya. Nafasnya terasa berat. Ada rasa tak senang. Ia melangkah perlahan mendekat. Dan mengintip dari balik pintu yang sedikit membuka. Ia tersenyum melihat saudaranya sudah bisa tertawa. kalo Morgan bisa bikin kamu bahagia, aku rela Din. Batin Alda. Gadis itu lalu berjalan menjauh. Ia tak mau menganggu keduanya. Baginya kebahagiaan saudaranya adalah kebahagiaan baginya.
***
__ADS_1