
Malam begitu temaram. Cahaya bulan bertahta indah. Seorang gadis berjalan disisi terotoar sambil sesekali melirik. Seperti mencari sesuatu namun tak kunjung ketemu. Cherry masih berusaha mencari Debby. Sesuai rencana, malam itu mereka sepakat mencari Debby. Matanya tertumbuk pada sebuah sosok gadis yang duduk diatas pembatas pagar jembatan Ancol. Mitos jembatan ancol mulai menghantui benak Cherry namun rasa penasarannya mengalahkan rasa takut yang menyelimutinya. “Debby.” Panggil Cherry. Gadis itu menoleh dengan tatapan mata sendu.
“pergi kamu.” Teriak Debby, matanya bengkak karena tangis.
“semuanya nyariin kamu Deb. Astaga tangan kamu.” Cherry melihat pergelangan tangan Debby yang berlumuran darah.
“nggak ada satu orang pun yang peduli dan sayang sama aku. aku udah capek hidup kayak gini. Orang tua aku juga bakal cerai.”
“apapun yang terjadi dalam hidup, kamu harus terima Deb. Itu takdir kita.” Cherry menyalakan ponselnya dan mengirim pesan pada Bisma dan Dicky.
“mudah buat kamu. Tapi ini sulit banget, aku udah nggak kuat.”
“diluar sana banyak orang yang mau hidup tapi kamu memilih menyia \- nyiakan waktu yang Tuhan kasih buat kamu.”
“kamu tau apa soal hidup aku? kenapa aku yang harus menderita kayak gini.”
“aku ngerti perasaan kamu.”
“jangan bercanda, apa yang kamu tah tentang aku hah?”
“aku ngerti rasanya Deb.”
“kamu yang selalu senyum, selalu ketawa tanpa beban, mana bisa kamu ngerti penderitaan aku?” teriak Debby marah. “aku mau mati.” Ucapan itu dibalas dengan tamparan keras oleh Cherry. Perlakuan tiba\-tiba itu membuat debby membeku karena terkejut.
“jangan bilang mau mati dengan begitu mudahnya!” Cherry berteriak dengan wajah sedih dan putus asa. matanya panas berkaca\-kaca. “kamu bilang aku nggak ngerti? Satu\-satunya yang nggak mengerti itu kamu Debby!”
“hah?”
“kamu harus bersyukur Deb. Dulu aku juga protes sama Tuhan. Karena Tuhan harus menakdirkan aku untuk terkena penyakit parah.” Ucap Cherry dengan mata berkaca - kaca. Debby menatap wajah Cherry. Cherry berjalan mendekat dan berdiri didekat Debby.
“dari aku kecil, orang tua aku udah nggak peduli sama aku, bahkan sebelum aku lahir pun, mereka mau bunuh aku. obat - obatan yag dulu diminum nyokap aku itu yang sekarang jadi sel kanker di tubuh aku. kamu harusnya bersyukur atas hidup yang kamu punya. aku iri sama kamu, karena hidup aku nggak seperti kamu. Waktu aku hidup singkat banget, bahkan dokter pun udah bilang kalo aku cuma bisa hidup satu bulan lagi. sedangkan kamu dengan mudahnya mau ngebuang waktu yang Tuhan kasih. kamu jangan bodoh Deb, kamu punya masa depan. kamu harus bersyukur atas apapun yang terjadi. Kalo aku jadi kamu, aku nggak akan nyia-nyiain hidup aku. Debby, setiap orang punya masalahnya masing-masing jangan pernah menganggap cuma kamu yang paling menderita.” Cherry menyeka air matanya.
“orang seperti aku aja harus berusaha keras untk bisa tersenyum. aku berusaha buat nerima takdir aku, karena aku tau Tuhan selalu punya rencana buat aku. bagaimanapun menyedihkannya hidup aku, selalu ada orang yang sayang sama aku. itu yang aku syukurin.” kata-kata Cherry membuat Debby menatap Cherry dengan tatapan terkejut. “Bisma itu sayang sama kamu, temen - temen kamu, aku, keluarga kamu. Bahkan orang tua kamu, meski mereka bercerai pun kamu masih punya kesempatan untuk hidup dan bahagia.”
Debby tertegun sejenak, kepalanya yang sebelumnya gelap bagai rawa berlumpur kini seolah menemukan matahari yang menghangatkannya. Ditatapanya gadis dihadapannya. Gadis bertubuh mungil yang dengan bibir gemetar dan suara parau, dengan begitu tulusnya peduli pada dirinya.
“Cher, kamu baik banget sama aku. Padahal aku selalu jahatin kamu.”
“selama aku masih hidup, aku harus bisa bikin orang lain bahagia. Lagian kamu itukan temen aku.”
“temen? Setelah semua kejahatan yang aku lakuin, kamu masih nganggap aku sebagai temen kamu?”
“ya iyalah, ohya, kamu jangan ngomong ke siapapun soal penyakit aku ya.” Cherry tersenyum.
“makasih Cher, kamu udah bikin aku sadar, aku nggak sendirian selama ini.” Debby meneteskan air mata. “aku emang bego banget.” Ada nada sesal dari suaranya.
“kamu nggak pernah sendirian Deb.” Ucap Bisma berjalan mendekat disusul Dicky. “aku selalu cinta sama kamu tapi kamu nggak pernah tau itu.”
“maafin aku.” ucap Debby tersenyum dan menyeka air matanya. Perlahan matanya terasa berat. Cherry segera meraih tubuh Debby agar tak jatuh dari jembatan. Untunglah Bisma membantu Cherry. Bisma segera membawa Debby kerumah sakit. Debby kehilangan banyak darah karena menggores urat nadinya sendiri.
“kamu kenapa?” Tanya Dicky melihat bekas air mata Cherry. Pemuda itu lagi\-lagi menampakkan wajah cemas.
“nggak apa \- apa kok.” Cherry berusaha tersenyum. “jangan pasang wajah begitu. Jelek.”
“apa kamu bilang.” Dicky jengkel sementara Cherry tertawa puas mengejek.
Rumah sakit begitu lengang. Cherry menengadah memandang langit - langit rumah sakit. Laron - laron terbang mengerubungi lampu neon yang menerangi mereka. Mereka hanya bisa menanti dari luar kamar seraya diliputi rasa cemas yang mendalam. Seorang dokter akhirnya muncul dari balik pintu putih yang sejak tadi dipandangi Bisma. Pemuda itu sontak berdiri dan mendekati dokter.
“bagaimana keadaan Debby dok?”
“dia sudah sadarkan diri. Tadi hanya pingsan karena dehidrasi dan hipotermia, dan untungnya luka sayatan ditangannya tidak terlalu dalam.”
“sudah bisa dijenguk kan dok?” Tanya Bisma lagi. dokter itu mengangguk sambil tersenyum lalu kemudian berlalu meninggalkan mereka. Bisma masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama Bisma keluar dari kamar dan memandang Cherry “Debby mau ngomong sama kamu.” Ucap Bisma. Cherry mengernyitkan kening dan melangkah pelan mendekati Debby. Tatapan gadis itu tertuju pada langit \- langit rumah sakit yang putih.
“maafin aku ya Cher.” Pinta Debby menatap mata Cherry.
“maaf? Buat apaan?”
“ya buat semuanya. Jujur aku sebenarnya kurang perhatian, aku ngebully anak \- anak pun biar aku dapet perhatian termasuk kamu. Makasih juga karena kamu udah bikin aku sadar tentang makna bersyukur Cher.” Debby tersenyum.
“kamu ngomong gitu karena kasihan sama penyakit aku?” Tanya Cherry tajam. “aku ngomong soal tadi itu karena aku emosi. Bukan berarti aku butuh simpati dari kamu. aku paling benci dikasihani sama orang lain.”
“nggak Cher. aku tulus ngomong kayak gini.”
“boleh aku minta satu hal dari kamu?”
“apa? Bilang aja.”
“kamu harus janji nggak akan bilang ke siapa pun soal penyakit aku.”
“tadikan kamu udah ngomong gitu. Iya aku janji, tapi boleh tau kenapa Cher?”
“aku udah cukup menderita karena penyakit ini. aku nggak mau orang \- orang yang aku sayang malah ikut menderita karena aku. cukup aku yang nangis, aku nggak mau ada air mata yang jatuh karena aku.” ucap Cherry bergetar. Setitik air bening jatuh dari sudut matanya.
“aku nggak ngerti Cher, aku nggak bisa ngerti karena aku ngga ada diposisi kamu tapi kamu harus percaya, kamu udah berbuat banyak kebaikan dan aku bangga punya temen kayak kamu. aku janji kok.” Ucap Debby tersenyum.
“Makasih ya”. Cherry tersenyum.
“Cherry, kamu kuat banget.”
“hahaha nggak juga. aku sering nangis kalo lagi sendirian.” Gadis itu tertawa renyah.
“aku mau ketemu anak - anak Cher.” Pinta Debby. Cherry berjalan keluar dan memanggil teman - temannya.
“maafin aku ya, karena aku kalian semua jadi repot.”
“santai aja kali.” Sahut Rere tersenyum.
“aku janji nggak akan sedih lagi. mungkin ini udah takdir aku dan aku harus ikhlas ngejalanin semuanya sekalipun bokap dan nyokap aku bakal cerai. aku bersyukur ada kalian semua yang aku punya”. Ucap Debby tersenyum. Sebuah senyum bahagia atas semua kehidupan dan senyum kesyukuran atas cinta yang selama ini mengalir tanpa ia sadari.
***
Pagi itu SMA Bhakti kembari berseri, pasalnya bu Erlina baru saja mengakhiri peraturan yang dianggap konyol oleh para siswa. Para siswa sontak bersorak dan berlari untuk berterima kasih pada sang guru galak.
“Cherry mana?” Tanya Reza saat mereka bertandang ke kantin.
“sakit.” Ucap Dicky singkat.
__ADS_1
“bener kamu tinggal bareng sama Cherry?” Tanya Morgan yang baru datang. Ia mengambil tempat didekat Bisma.
“kamu tau dari mana?” Tanya Dicky bingung.
“nggak penting aku tau dari mana.” Ucap Morgan.
“beneran?” Tanya Rafael tak percaya. Dicky mengangguk pelan.
“kamu tinggal serumah sama Cherry?” bisik Ilham pada Dicky.
“iya. Tapi itu nggak disengaja kok. Lagian juga kita nggak ngapa\-ngapain. Kalian tau sendirikan Cherry itu galaknya minta ampun. Apa lagi kalo dirumah, kerjaannya marahin aku mulu. Sampe\-sampe tetangga pernah protes.”
“kok bisa?” Tanya Bisma.
“panjang ceritanya.”
“dipersingkat aja dah.” Sahut Reza.
“kita ditipu.” Semuanya saling pandang dan mengangguk taksim.
“jangan bilang sama siapa\-siapa ya.”
“Siiiip!!!” ucap mereka berenam kompak.
***
“kamu udah makan?” Tanya Dicky saat ia pulang sekolah. Ia berjalan mendekati Cherry yang sedang membaca buku pelajaran. “kamu pucat banget. kamu nggak apa\-apa?”
“aku nggak apa\-apa kok.” Ucap Cherry duduk bersandar mencoba tersenyum. Dicky membuka laci tempat obat Cherry. “eh kamu ngapain?” bentak Cherry galak.
“sampai kapan sih, kamu mau nyembunyiin penyakit kamu dari aku?” ucap Dicky mengeluarkan botol\-botol yang hampir kosong itu dan meletakkannya diatas meja. Ia membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan bungkusan berwarna biru. Dengan cekatan ia menaruh obat itu dan mencocokkannya dengan tempatnya.
“kamu tau?” Tanya Cherry penuh selidik.
“emang kamu pikir aku ini bego apa? Udah berapa lama kamu kena kanker hati?”
“aku nggak mau bahas itu. Itu urusan aku.” Cherry memalingkan wajah.
“dari mana kamu dapat duit? Obat itu mahal Ky.”
“kamu nggak usah cerewet. Yang penting kamu harus sembuh dulu.”
“kamu nguras tabungan kamu?”
“aku bilang itu nggak penting Cher.”
“masalah kamu berarti masalah aku juga. kamu lupa, kita udah ngelewatin semuanya sama\-sama. aku cinta sama kamu. aku mau kamu sembuh.” Ucap Dicky lemah. “kenapa sih kamu nggak pulang aja?”
“nggak. Buat apa aku pulang. Rumah itu cuma bakal jadi kuburan aku.”
“kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Biar bagaimana pun, mereka itu orang tua kamu.”
“kalo aku pulang, aku takut aku nggak akan pernah ketemu lagi sama kamu. Bokap aku pasti bakal kukuh untuk ngejodohin aku. Tapi kayaknya juga nggak jadi dijodohin. Bentar lagi mungkin aku udah mati.” Ucap Cherry terdengar pesimis. Dan seketika itu pula Dicky langsung memeluknya.
“kamu jangan pernah berani\-berani ngomong kayak gitu. aku nggak suka dengarnya.” Dicky semakin mempererat pelukannya. “aku cinta sama kamu Cherry.” Ada rasa takut yang tiba\-tiba menggelayuti pemuda itu.
“sorry.” Cherry pun perlahan membalas pelukan Dicky.
“kamu nggak seharus terlibat dalam masalah aku.” Ucap Cherry lirih perlahan air matanya menetes membayangkan kehidupannya yang singkat.
“kamu nggak usah cerewet. Istirahat aja.” Perintah Dicky.
“makasih ya.”
“buat apa?”
“karena ada kamu disini.” Ucap Cherry tersenyum. Dicky hanya bisa tersenyum. Pandangannya nanar kearah botol obat Cherry yang nyaris kosong.
Dari hari kehari keadaan Cherry semakin memburuk. Bahkan sudah satu minggu tidak masuk sekolah. Teman-temannya pun datang menjenguk.
“kenapa kamu bawa mereka ke sini sih.” Ucap Cherry kesal.
“mereka itu peduli sama kamu. aku nggak ngomong penyakit kamu kok.”ucap Dicky tersenyum.
“kenapa Cherry nggak pulang kerumahnya?” Tanya Rangga.
“dia nggak mau. aku nggak mau maksa dia. Lagian dia lagi sakit, takut ntar penyakitnya tambah parah.”
Dan karena kekurangan uang, Dicky terpaksa menggadaikan beberapa barang berharga kesayangannya agar bisa membeli obat. Teman\-temannya juga menyumbang banyak untuknya. Itupun mereka lakukan diam\-diam. Karena Cherry tidak ingin merepotkan dan menjadi beban karena penyakitnya.
“ya Tuhan, Cherry!!!” pekik Dicky melihat Cherry tergeletak didepan pintu. Ia menggendong Cherry hingga tempat tidur. “kita kedokter ya?” ajak Dicky. Cherry menggeleng pelan. Namun Dicky berhasil memaksa Cherry hingga gadis itu tidak bisa menolak. Mereka menumpang sebuah taksi yang dipesan Dicky.
“seharusnya kamu nggak ikut campur sama masalah aku. kenapa sih kamu harus ngelakuin semua ini?”
“karena aku sayang sama kamu, aku mau kamu sembuh.”
“kamu bakal nyesel Ky, aku cuma cewek penyakitan yang nggak punya masa depan. Apa yang kamu harepin dari cewek sekarat kayak aku.” Air mata mengalir menghagatkan pipi Cherry. “kamu harsusnya ninggalin aku sekarang sebelum terlambat.” Suara gadis itu tedengar memohon.
“kenapa sih Cher kamu selalu ngomong pesimis kayak gitu. aku tau kamu cewek yang kuat. Dimana semua kekuatan kamu selama ini?”
“aku cuma capek.”
“kamu yang uda bikin Debby berubah, kamu udah nyatuin Rafael dan Rere, kamu udah ngelakuin hal-hal yang luar biasa. kamu nggak boleh nyerah Cher. kamu bilangkan kamu mau bikin kenangan yang manis semanis buah ceri. ” Dicky mengenggam tangan Cherry.
Kata-kata itu menggetarkan hati Cherry, “Ky, aku nggak mau mati.” Suara Cherry bergetar, pertamakaliya Cherry menangis sendu, pertama kalinya gadis itu menampakkan kelemahannya, dirinya yang begitu rapuh. Hanya dihadapan Dicky ia menangis pilu.”
“kamu itu kuat, kamu pasti bisa.” Dicky mengecup kening Cherry.
***
__ADS_1
Lorong rumah sakit masih ramai sore itu, lantainya baru saja dibersihkan oleh petugas. Dicky masih menatap petugas itu. Matanya mengarah kearah lagit-langit rumah sakit. Ia berusaha menarik nafas dalam namun ia merasa sesak. Penantian ini benar-benar membuat Dicky tertekan dan galau tingkat akhir. Dicky hanya bisa menunggu Cherry yang diperiksa. Tak lama penantian pun berakhir dengan keluarnya seorang dokter berjilbab yang tersenyum pada Dicky. “dia butuh donor hati. Tanpa itu, mustahil dia bisa bertahan. Saya bukan Tuhan tapi saya berharap ada donor segera.” Ucap sang dokter singkat. Ucapan dokter membuat lutut Dicky ngilu, ia membungkuk dan bangkit mendekati Cherry yang berbaring menatap langit-langit kamarnya.
“kamu pasti sembuh Cher.” Ucap Dicky bergetar ia menggenggam jemari Cherry dengan kuat.
“makasih ya.” Cherry tersenyum getir. “tapi kamu nggak usah bilang semuanya baik\-baik aja. Nggak apa\-apa Ky. aku yang paling tau dengan keadaan diri aku.”
“aku percaya, takdir seseorang memang sudah ditentukan sejak mereka lahir, tapi dengan perjuangan dan kerja keras, kita bisa mengalahkan takdir itu.”
“makasih ya Ky.” Cherry tersenyum.
Beberapa hari dirumah sakit membuat teman\-teman Cherry datang menjenguk.
“makasih ya kalian udah mau dateng.”
“sorry kita telat.” Ucap Bisma yang masuk bersama Debby.
“dari mana?”
“pas mau ke sini, kita dapat kabar Dinda kecelakaan makanya nengok dia dulu. Rumah sakitnya duluan Dinda.” Ucap Debby.
“astaga.” Ucap Reza mengingat keadaan teman\-temanya yang selalu memburuk.
***
“aku bakal nyari orang tua kamu.”
“apa?”
“apapun resikonya, aku akan hadapi. Yang terpenting adalah kamu bisa sembuh.”
“aku nggak mau.”
“sekarang bukan saatnya mementingkan ego Cher. aku nggak mau nyesel lebih dari ini. aku mau ngeliat kamu sembuh.” Ucap Dicky meninggalkan kamar Cherry dengan mata memerah. Dengan sedikit membongkar, Dicky berhasil menemukan kartu nama milik ayah Cherry. Ia segera meluncur menggunakan taksi menuju rumah Cherry. Rasanya mendebarkan saat Dicky menekan bel rumah besar itu. Seorang wanita tua membukakan pintu dan tersenyum padanya membenarkan alamat itu.
“sekarang Cherry ada dimana?” Tanya mama Cherry. Ruang tamu besar itu menjadi sesak saat Dicky mengatakan Cherry sakit parah.
“apa mama bilang. Semua itu karena kalian yang terlalu maksa Cherry.” Teriak wanita tua itu. Dea, adik Cherry berdiri mematung mendengar kakanya sakit parah. Dadanya terasa sesak hingga ia jatuh kelantai. Mereka segera membawa Dea menuju rumah sakit yang sama dengan Cherry.
“Dea sakit apa Oma?” Tanya Dicky pada oma Sekar, nenek Cherry.
“kelainan jantung.” Ucap wanita tua itu sedih.
Mendengar adiknya sakit, Cherry semakin tertekan. Ia bahkan ingin mendonorkan jantungnya.
“kami saudara, pasti jantungku cocok untuk Dea. Aku rela berkorban untuk Dea.”
“sayang kamu jangan ngomong gitu.” Mama Cherry terisak. “maafin mama ya, inilah alasan kenapa dari dulu mama dan papa selalu berusaha ngebelain Dea. Itu bukan karena mama dan papa pilih kasih, tapi Karena takut penyakit Dea kambuh. Jika seandainya dulu kamu cerita soal penyakit kamu, mama dan papa nggak akan mau bikin kau menderita sayang. Mama dan papa sayang sama kamu.”
“ma, akau pasti bakal mati, setidaknya Dea bisa hidup.”
“kamu nggak bisa ngorbanin diri kamu Cher. Papa sayang sama kau. Papa nggak mau kehilangan kamu. Papa nyesel dulu udah pernah nia\-nyiain kamu.” Ucap papa Cherry dengan mata berkaca\-kaca. “kami akan cari donor untuk kalian berdua.”
“aku nggak mau dapat donor jantung dari kak Cherry.” Protes Dea dengan kursi roda yang didorong oleh Dicky. “aku yang akan ngasih organ hati aku untuk kakak.”
“nggak. aku nggak mau.” Tolak Cherry menggeleng.
Malam harinya, dokter memberikan keputusan untuk segera melaksanakan operasi.
“aku takut Ky.” Ucap Cherry. Menggenggam kuat tangan Dicky sebelum mamasuki ruangan operasi.
“kayaknya baru kali ini kamu bilang takut.” Ucap Dicky mengusap rambut Cherry.
“ih aku serius.”
“kamu pasti sembuh.”
“aku mau minta maaf dan terimakasih.”
“nggak perlu.”
“aku juga suka sama kamu.” Ucap Cherry tersenyum.
“momennya nggak pas.” Protes Dicky.
“kalo aku nggak bisa kembali buat kamu, maafin aku.”
“kamu nggak boleh ngomong gitu.”
“aku takut aku nggak akan bisa kembali sama kamu. kamu harus hidup bahagia Ky.” Gadis itu menangis.
“kamu pasti sembuh Cher.” Ucap Dicky bergetar seraya mengusap rambut Cherry. Ia mencoba tersenyum.
“kamu tau sisi positifnya?”
“apa?”
“setidaknya aku bisa minta maaf sama Dea. Ternyata orang\-orang punya sisi yang tidak ingin mereka perlihatkan pada orang lain. Dicky, aku cinta sama kamu.” Ucap Cherry sebelum suster membawanya keruang operasi.
Detik\-detik menunggu benar\-benar terasa lamban. Berkali\-kali papa Cherry mengusap peluh karena tegang. bagaimana tidak,dua putrinya tengah bertarung nyawa diatas meja operasi. Sedangkan ia hanya bisa menunggu tanpa bisa berbuat apapun. Tapi setidaknya ia bisa berdoa. Berharap sedikit kemurahan Tuhan untuk hidup kedua putrinya.
__ADS_1
28 jam operasi bukanlah waktu yang singkat. Tapi dokter berhasil melaksanakan cangkok jantung untuk Dea. Orang tua Dea bisa sedikit bernafas lega. Namun wajah mereka kembali menegang tatkala dokter dari ruang operasi Cherry keluar dengan wajah yang tak kalah tegang. Mereka berlari ke arah dokter.
***