
Pesona Dicky disekolah memang sudah tidak diragukan lagi. tingkahnya dan gayanya membuat banyak gadis - gadis yang tertarik. “wah Alda ngapain tuh?” Tanya Cherry mencoba mengintip ponsel gadis manis berkacamata itu.
“ih Cherry kepo deh.” Runtuk Alda menyembunyikan ponselnya.
“cowok ya?” Tanya Andini menggoda.
“ya gitu deh.” Ucap Alda malu.
“siapa sih? Cerita dong.” Pinta Cherry
“rahasia.”
“ih Alda curang.” Keluh Andini.
“hehehehe...” Alda terkekeh
“selamat deh asal bukan sama si playboy stadium akhir itu.”
“playboy? Jangan gitu dong Cher. Orang bisa berubah kali.”
“berubah. Orang super rese’ stadium akhir kayak dia mah kagak mungkin berubah kali. Mau berubah jadi apa juga? Kalo nggak tokek belang, paling jadi kucing garong super.” Cherry dan Andini tertawa mengejek.
“ah nggak asik deh.” Alda meninggalkan keduanya yang masih tertawa.
“yee dia ngambek.” Ledek Cherry.
***
“kamu ngapain Cher?” Tanya Dicky mendekati Cherry yang masih memotong sayuran.
“lagi arisan.” Ucap Cherry asal.
“galak amat neng.” Protes Dicky.
“udah tau lagi masak, pake nanya lagi.” runtuk Cherry kesal mencacungkan pisau dapur kearah pemuda itu. Mereka berdua telah sepakat sebelumnya Cherry bertugas memasak makanan dan Dicky yang bertugas membeli bahan-bahan makanan untuk mereka berdua.
“galaknya stadium akhir.”
“itu istilah aku. Ngapain kamu copy?”
“suka - suka aku dong. Masalah?”
“iya. ” Ucap Cherry kesal sambil menoleh pada Dicky, mata keduanya beradu. “awww!!!” keluh Cherry memegang ibu jarinya.
“kamu kenapa?” Dicky berjalan mendekati Cherry.
“kena pisau. kamu sih gangguin mulu. ”
“aku ambil P3K dulu.” Ucap Dicky menuju tempat tidurnya. Ia menyeret kursinya agar berdampingan dengan Cherry . “pake ini dulu.” Ucap Dicky mengeluarkan cairan merah dari botol untuk mencegah iritasi. Lalu ia dengan cekatan membalut luka itu dengan plester luka. “sakit ya?” Tanya Dicky polos.
“nggak, enak.” Ucap Cherry kesal. “nih berdarah. Pake nanya.” Cherry semakin kesal
__ADS_1
“makanya hati - hati.”
“hati - hati? kamu yang ngajakin berantem duluan. Ih nyebelin deh. Sekarang kamu yang masak.”
“kok aku sih? Ntar yang ada bukannya jadi makanan malah jadi racun.”
“kan jari aku sakit.”
“manja banget sih kamu. Baru jari aja udah cengeng.”
“biarin.” Cherry menjulurkan lidah.
“iya tapi telor ceplok sama mie instan aja ya.”
“iya. Tapi cepet ya bang.” Cherry memerintah.
“bang? Emang kamu pikir aku ini apa?”
“abang tukang bakso.” Ujar Cherry asal.
“bawel.” Ejek Dicky sambil menyalakan kompor. Tak berapa lama mie rebus dan telor ceplok buatan Dicky pun terhidang dimeja makan. Dicky mengambil sendok sayur dan mangkok Cherry lalu menuangkan mie rebus itu.
“makan yang banyak ya mbak.” Ucap Dicky
“iya, makasih bang.” Keduanya lalu makan dengan lahap.
“wah ternyata makan buatan aku amazing banget yah.” Puji Dicky pada dirinya sendiri.
“suka-suka aku. Ini tuh jaman dimana kita membahagiakan diri kita sendiri.”
“sekarang korban kamu siapa?” Tanya Cherry sambil meneguk air minumnya.
“korban?”
“iya. Pacar kamu.”
“ooh, ada, cewek.”
“iya aku tau cewek. masa’ cowok sih.” Ledek Cherry.
“kepo kamu. Entar kamu juga bakal tau.”
“kapan sih kamu mau insyaf?”
“aku insyaf? Kapan - kapan aja deh.”
“dasar kamu playboy stadium akhir. sana cuci piring.” Perintah Cherry sambil melempar serbet kewajah Dicky. Ia berjalan menuju tempat tidurnya dan menarik selimut. Sementara Dicky masih sibuk membersihkan meja makan itu.
***
“kalo ketahuan aku bisa kena marah” ucap Alda pada Dicky
__ADS_1
“emang kenapa sih. kamu nggak suka pacaran sama aku?” pemuda itu mengenggam jemari Alda dengan lembut.
“iya aku suka, tapi sampai kapan mau backstreet?”
“kamu nggak percaya sama aku? aku udah berubah Al.” Dicky menyentuh lembut pipi gadis itu. Jurus andalannya yang mampu meluluhkan hati ‘korban’nya. “ini juga kita udah 2 minggu pacaran kan? Padahal biasanya aku cuma 1 minggu aja udah pacaran lagi.”
“iya aku percaya kok.” Alda tersenyum.
“wow bagus ya kalian berdua.” Sebuah suara menyentak keduanya.
“pantesan ya belakangan ini kamu berubah, ternyata beneran punya cowok bahkan sama Dicky. Parah kamu Da.” Dibalik pohon Andini keluar, berkacak pinggang dengan suara marah.
“Din, aku bisa jelasin kok.” Ucap Alda pada saudari kembarnya, Andini.
“aku mohon kamu rahasiain ini ke anak - anak terutama Cherry.”
“kenapa sih mesti sembunyi - sembunyi?”
“kita punya alasan yang nggak bisa dijelasin Din.” Ucap Dicky tenang.
“kita saudara Din. kamu maukan nolongin aku?” pinta Alda. “please.”
“oke, tapi kalo ujung - ujungnya ada masalah, aku nggak tanggung jawab ya.” Ucap Andini berlalu meninggalkan Alda. Ia berjalan menuju ruang kelas. Ia masih tak mengerti, dari sekian banyak cowok, kenapa harus Dicky.
“dari mana kamu?”
“Eh cehrry, anu.. tadi itu... tadi dari kantin.” Ucap Andini gugup.
“aku ke danau dulu ya.” Ucap Cherry sambil berjalan keluar kelas. Ia mengedarkan pandangan kearah danau namun tidak menemukan sosok yang ia cari.
“nyari siapa?” suara seseorang menyentak Cherry.
“eh, Ilham. Anu aku nyari...mmmm.. nyari apa ya?” Cherry gelagapan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“kesana yuk.” Ajak Ilham. Cherry dan Ilham berjalan beriringan menuju dermaga kayu. Begitulah yang setiap hari dilakukan oleh Cherry dan Ilham. Perjamuan sua di dermaga kayu telah menjadi rutinitas Ilham dan Cherry, mereka bisa berbicara hingga berjam - jam lamanya, seolah mereka adalah kawan lama yang tak pernah bertemu. Ada - ada saja yang menjadi topik pembicaraan mereka. Mulai dari isu sekolah, politik, buku, komedi hingga tugas sekolah selalu menjadi bahasan mereka berdua. Pertemuan demi pertemuan pada perjamuan di dermaga kayu itu semakin mendekatkan keduanya. Rafael dan Morgan mulai menyadari perubahan dalam diri Ilham, sahabat mereka itu mulai bisa bangkit dari keterpurukan masa lalu yang membuatnya nyaris bunuh diri. Kehilangan Hanie memang membuat Ilham terpukul namun, kini Ilham bisa tersenyum dan tertawa. Rafael dan Morgan tersenyum, melihat keduanya dari lantai dua balkon sekolah mereka. “hebat juga ya tuh anak baru.” Ucap Rafael kagum.
“yah, Ilham jadi bisa ketawa.” Morgan tersenyum senang. “kalo kamu sama Rere gimana?” Tanya Morgan kemudian.
“itu dia Gan, dia nolak aku lagi.”
“untuk ke lima kalinya?” Morgan heran.
“iya.”
“alasannya.”
“dia masih mengharap sama pacarnya yang udah ninggalin dia selama 1 tahun ini.”
“mungkin Rere masih cinta. kamu nggak akan nyerah kan?”
“ya nggak lah, seorang pecinta itu akan berjuang sampai dapat.” Ucap Rafael optimis.
__ADS_1
***