PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.1


__ADS_3

Di dalam ruangan Achillea atau orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Lea itu tengah duduk di depan jendela sambil melihat keluar. Suasana di luar, ingin sekali dia keluar untuk menghirup udara segar, namun ayah dan ibunya pasti tidak akan memperbolehkan.


"Di luar bahaya, Nak. Nanti kamu bisa sakit." Kata orang tuanya.


Selalu saja begitu, meski cuaca sedang baik-baik saja, namun kedua orang tuanya itu sangat over protektif, tidak akan membiarkan anaknya untuk ke luar dari rumah, bahkan sekolah pun, Lea harus homeschooling.


Kadang dia sering berandai-andai, bagaimana rasanya seperti anak-anak pada umumnya, bisa bersekolah di sekolah umum, bisa keluar rumah dan bermain, bisa melihat dunia. Namun, itu hanya ada di andaian-andaian dia saja, sudah tentu itu tidak akan terjadi. Sejak kecil, dia belum pernah merasakan yang namanya hidup di luar, memiliki temanpun dia tidak.


"Lea, ayo makan!" teriak Avicha ibu Lea, dari arah ruang makan.


"Lea belum lapar, Ma. Nanti saja Lea makannya," jawab Lea tak kalah berteriak agar bisa didengar.


Dia kembali menatap ke luar jendela, banyak gadis-gadis seusinya tengah lalu lalang memenuhi jalan raya dengan menggunakan sepeda motor, namun bukan itu yang menjadi fokusnya. Di bola matanya ada satu makhluk yang menarik, seorang cowok mungkin lebih tua darinya satu tahun tangah duduk di kursi halte, sambil menunggu sebuah bus, cowok itu melihat ke arah Lea dan tersenyum, sungguh pemandangan yang indah.


Tidak lama kemudian, cowok itu bangkit dari duduk dan berjalan ke arahnya, masih dengan senyum yang manis. Lea merasa sangat salah tingkah ketika cowok itu sudah mulai dekat dengan tempatnya berada, dia tak tahu apa yang sedang terjadi, dadanya serasa sesak dan jantungnya tak bisa untuk dikontrol.


"Hai," sapa cowok itu dari luar jendela.


"Ka..ka..kamu siapa?" tanya Lea gugup.

__ADS_1


"Buka kacanya," pintanya.


Lea hanya menurut dan membuka kaca jendelanya.


"Aku Braiy, semua gadis di sini mengenalku, hanya kamu yang tidak mengenalku, apa kamu orang baru di sini?"


"Bukan, aku sudah lama tinggal di sini, hanya saja aku tidak pernah keluar rumah, jadi aku tidak mengenal orang-orang yang ada di sini. Kamu tadi bilang, semua gadis di sini mengenalmu, memangnya kamu artis?"


"Ya, semacamnya, di sini aku cukup populer, banyak gadis-gadis yang mengidolakanku," jawab cowok itu dengan sombongnya.


"Oh," jawab Lea singkat.


"Dan kamu terima?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Mereka cantik, tapi tidak ada yang bisa membuat hatiku tertarik. Karena ternyata yang bisa membuat hatiku tertarik baru aku temui."

__ADS_1


Lea hanya diam, dia sungguh tidak tertarik untuk bicara dengan cowok itu. Baru berbicara sebentar saja dia sudah bisa menilai kalau cowok itu adalah cowok yang sombong.


"Dan kamu tahu siapa gadis itu?"


Pertanyaan cowok itu langsung bisa membuat Lea ingin menimpuk dengan sandalnya.


"Tidak tahu," jawab Lea cuek.


"Gadis itu kamu," bisik cowok itu tepat di samping telinga Lea, hingga membuat si empunya telinga kaget bukan main.


"Maksud kamu?"


"Aku jatuh cinta sama kamu, pada pandangan pertama."


Tiba-tiba terdengar suara petir yang menyambar-nyambar, disertai angin kencang yang tiba-tiba membawa Braiy hilang dari pandangan Lea. Semua menjadi gelap. Gelap total.


"Lea, Lea, bangun, Nak!" Suara lembut itu ramun-ramun terdengar di telinganya. Lea mulai membuka matanya, tampak sesosok wanita paruh baya berdiri di sampinya.


"Kamu mimpi lagi ya?" Tanya wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Lea hanya mengangguk, ternyata dia hanya mimpi. Namun semuanya terasa nyata. Kembali dia pandangi luar jendela, di kursi halte itu, di mana cowok bernama Braiy itu duduk, namun sekarang tidak ada, malah pria tua dengan seorang perempuan tua yang duduk di situ.


__ADS_2