PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.8


__ADS_3

"Apa maksudmu Flor? Aku belum ngerti apa yang sebenarnya kamu maksud,"


"Arya sudah pergi Mei," jawab Flora sedikit cepat, lalu kembali menunduk dengan air mata yang terus berlinangan.


"Pergi?" Aku masih belum mengerti, pergi? Apa maksud Flora Arya pergi?


"Dia sudah menghembuskan napas terakhirnya, Mei,"


Menghembuskan napas terakhirnya? Tubuhku serasa lemas, bibir ini sudah tak mampu untuk berkata lagi. Duniaku serasa runtuh, lebih runtuh dibandingkan saat dia memutuskan aku dua bulan yang lalu. Aku tak ingin mempercayainya, tetapi kenapa ini semua nyata?


Kusenderkan tubuhku di dekat tembok, air mataku seakan tak lagi bisa dibendung. Tuhan kenapa kau secepat ini mengambilnya?


Aku tak mengira skenario hidupku akan seperti ini, semula semua indah dan pada akhirnya dua kali perpisahan harus kuterima. Perpisahan untuk selamanya, tak ada lagi Arya, dan kini hanya kenangan.

__ADS_1


*****


Suasana di pemakaman sudah mulai berangsur-angsur sepi, sejalan dengan para pelayat yang satu per satu pulang ke rumah masing-masing. Pemakaman yang masih baru, hanya baru beberapa menit yang lalu sang jasad dimasukkan ke liang lahat. Pemakaman dengan nisan yang bertuliskan nama Arya Virgosatya. Air mataku terus saja menetes, susah untuk dibendung.


Aku di temani Tante Karina, mama dari almarhum Arya. Dia memelukku di tengah isakan tangis yang menggema.


"Nak Mei, sebelum Arya pergi, dia sempat berpesan pada tante, untuk memberikan surat ini kepadamu," Tante Karina menyodorkan sebuah surat berwarna putih, terlipat rapi dan tak ada satupun noda yang hinggap.


Kuambil surat itu dengan perasaan gugup, detak jantungku berdegup sangat kencang. Entah kenapa aku seperti tidak siap untuk melihatnya, rasa duka saat kehilangan masih sangat terasa, ditambah lagi bila harus membaca surat itu, aku tak mungkin sanggup.


Perlahan, lipatan demi lipatan kubuka, aksara berjajar rapi menghiasi setiap ruangnya.


Untuk Mei Anandia

__ADS_1


Hay Mei,


Saat membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada lagi, aku sudah berjalan menuju kehidupanku yang baru. Selamat tinggal, maaf aku sudah banyak menyakitimu.


Kau pasti marah padaku, karena aku telah memutuskanmu begitu saja, tetapi percayalah, aku tak pernah memutuskanmu karena aku telah mencintai gadis lain, bukan itu! Sampai saat ini pun gadis yang aku cintai hanyalah kamu Mei. Mengenai itu, aku hanya berbohong, supaya kamu membenciku, dan kamu tidak akan merasa kehilangan saat aku pergi.


Maaf aku telah merahasiakan semuanya dari kamu, sebenarnya aku selama ini sakit Mei, dan alasan aku sebenarnya pindah sekolah karena orang tuaku membawaku berobat ke Singapore.


Yaudah itu aja, makasih ya Mei kamu sudah mau membaca surat ini, aku harap tak akan kesedihan karena perpisahan ini. Oh ya satu lagi, aku ingin berpesan, jangan ada satupun air mata yang menetes karena kepergianku, aku ingin kamu tersenyum, agar aku bisa tenang pergi tanpa ada beban karena telah membuatmu menitikkan air mata kerena kepergianku.


Tertanda


Arya Virgosatya

__ADS_1


Perlahan kuseka air mata ini, aku hanya ingin menjalankan apa yang Arya mau, agar aku tak menangis karena kepegiannya.


Selamat tinggal Arya, tenanglah di alam sana, suatu saat bila Tuhan menakdirkan kita memang bisa bersama, Tuhan pasti akan mempersatukan kita di surga.


__ADS_2