PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.13


__ADS_3

Aku terbangun karena ponselku berdering, Vareel yang menelponku memintaku menemaninya membeli hadiah ulang tahun buat adiknya. Ternyata aku terlambat bangun, bibi sudah berangkat kerja, setelah mandi aku menuju meja makan, tidak sabar lagi menyantap masakan bibi. Aku menemukan secarik kertas seperti biasanya jika aku sarapan seorang diri.


"Maaf sayang, bibi nggak menunggu kamu sarapan."


Aku tersenyum membaca tulisan itu. Setelah sarapan, Vareel menjemputku. Kamipun berkeliling. Aku memilihkan sebuah boneka beruang besar berwarna coklat sebagai hadiah ulang tahun untuk adiknya Vareel. Hari semakin siang, perutku tidak bisa diajak bersahabat lagi, minta diisi lagi. Kami meluncur ke sebuah rumah makan dekat dengan kampus, tempat kami kuliah.


"Sudah ada kabar dari Yudha atau belum Alen?" Vareel bertanya sambil menyetir saat dalam perjalanan pulang.


"Aku sudah menunggu, tapi sudah hampir setahun nggak ada kabar. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi sia-sia Var," sahutku sambil termenung.


"Mungkin dia punya masalah dan punya alasan sendiri untuk tidak menghubungimu. Kamu sabar aja Alen, pasti suatu saat dia kembali, apalagi dia sudah janji sama kamu kan?" Kembali Vareel mencoba memberi ketenangan padaku.


"Kalau mau jujur, aku lelah menunggu Yudha. Tapi karena aku sangat mencintainya, sampai kapan pun aku akan tetap menunggunya Var!" kataku.


Vareel selalu setia menemaniku, bahkan pernah dia bilang kalau suatu saat Yudha mengkhianatiku, dia masih sabar menungguku. Dan menurut pengamatanku selama ini, Vareel tidak pernah mengatakan kalau dia punya kekasih. Katanya kuliah dulu, masalah pacaran gampang. Vareel, selalu membuatku tersenyum saat aku sedih, itulah alasan aku betah di sampingnya.


Tak terasa aku sudah menyelesaikan kuliahku. Gelar dokter yang merupakan cita-citaku sejak kecil sudah kuraih. Aku menangis bahagia dalam pelukan Bibi, wanita hebat yang selalu mendukungku selama ini.


Tapi terasa ada yang hilang, hari ini genap 2 tahun tidak ada kabar dari Yudha. Aku sangat merindukannya, aku membutuhkannya saat ini, ingin berbagi kebahagiaan bersama saat ini, tapi itu seperti mimpi bagiku. Selama ini aku tetap bertahan menunggunya, tak mudah bagiku untuk mengkhianatinya. Walapun Vareel dengan berbagai cara ingin aku menerimanya, tapi sangat sulit bagiku, aku masih menyimpan cinta yang tulus untuk Yudha. Aku tersentak kaget saat ponselku berdering, si kembar Elen yang menelpoku.


"Selamat ya kakakku sayang, mimpimu sudah tercapai hari ini!" Kata Elen, suaranya terdengar sangat ceria.


"Makasih ya Elenku sayang, kalau kamu kapan wisudanya sayang?" Tanyaku pada Elen, karena memang dia sudah siap Wisuda juga dalam tahun ini.


"Hari kamis kak, jangan lupa ya janjimu bu dokter, kamu harus ke Jakarta ya!" Elen menagih janji lagi, aku tersenyum.


"Iya El, tapi nggak bisa hari kamis ini, aku masih mengurus surat-suratku dan harus minta ijin ke Rumah sakit yang sudah mengontrakku El," kataku pada Elen.

__ADS_1


Aku memang sudah di kontrak oleh rumah sakit di sini dan mereka memintaku hari kamis masuk kerja.


"Nggak apa-apa kak, yang penting kakak harus memenuhi janji kakak. Ada seseorang yang akan aku kenalin, kakak hubungi kekasih kakak ya biar aku kenal juga!" Elen mulai bertingkah lagi.


Aku mengiyakannya. Aku bingung, siapa yang akan aku kenalkan pada Elen? Yudha? Atau siapa? Aku bertahan dan mengharapkan sesuatu yang tak pasti selama ini, Yudha sudah melupakanku, mana mungkin aku ke Jakara dan mencarinya? Apakah aku harus menulis berita kehilangan? Itu sangat tidak masuk akal. Aku hanya bisa berharap dengan cinta tulusku mungkin aku bisa sabar menanti Yudha, entah sampai kapan, aku pun tidak tahu.


*****


Aku sudah bersiap berangkat ke Jakarta. Hari ini untuk pertama kalinya aku pulang, setelah beberapa tahun menemani bibi di Bali. Setelah sarapan bibi mau mengantarkanku ke bandara, tapi aku menolak karena Vareel sudah datang untuk mengantarku. Aku tidak meminta Vareel mengantarku, awalnya aku menolak tapi karena dia bersikeras, akhirnya aku setuju juga.


Aku sibuk dengan pikiranku sendiri saat pesawat yang akan membawaku ke Jakarta sudah di atas ketinggian, pikiranku jauh ke belakang. Saat-saat indah bersama Yudha, sejak masa putih abu-abu sampai saat terakhir kami malam pesta akhir tahun 2 tahun yang lalu. Kami pasangan yang sangat serasi dan mesra. Semua kenangan itu kembali menari-nari dalam pikiranku. Tak terasa aku menangis, hatiku terasa sangat sakit sadar kalau mimpiku sudah lewat.


Aku harus menghadapi kenyataan yang ada sekarang. Yudha tak ada di sampingku, mungkinkah ia telah mengkhianatiku? Bagaimana kabarnya sekarang? Bagaimana kuliahnya? Satu per satu pertanyaan muncul dalam pikiranku. Aku menatap cincin yang masih di jari manisku, aku tidak pernah melepaskannya, aku masih sangat mengharapkan pemiliknya. Perlahan kucium cincin itu, air mataku semakin deras mengalir. Aku begitu sabar menunggu Yudha selama ini, aku begitu mencintainya, walaupun dia tidak pernah menghubungiku. Kadang aku ragu, aku ingin berpaling pada Vareel tapi aku seperti tak sanggup melakukannya.


Perlahan aku menuruni tangga pesawat, Jakarta, kota kelahiranku telah mengalami banyak perubahan. Kulihat ayah, ibu serta Elen sudah menungguku. Sudah semakin cantik juga kembaranku ini. Aku memang sudah melihat fotonya tapi dia jauh lebih cantik jika diperhatikan langsung. Kami berpelukan sambil melepas kerinduan. Kata ibu, kami tidak pernah berubah, selalu saja bermanja-manja padahal sudah dewasa. Mungkin karena hanya kami berdua, dan mungkin juga karena kami anak kembar, ikatan di antara kami sangat kuat.


"Kamu kenapa Elen, sepertinya kamu kecewa?" Tanyaku penasaran.


"Kekasihku nggak bisa datang besok kak, dia lagi mendapat tugas di Jogja dan harus berangkat malam ini." sahut Elen, masih terlihat kesal juga dia.


"Nggak apa-apa sayang, aku masih beberapa hari lagi di sini, pasti masih bisa kenalan." aku menghiburnya.


Ia tersenyum, dipeluknya aku dengan manja. Giliran ponselku yang berdering, aku melirik nama kontak yang muncul, ternyata Vareel.


"Selamat malam Bu dokter cantik, gimana kabarmu di sana?" Suara Vareel dari seberang sana. Aku tersenyum.


"Aku baik-baik saja Var, kamu dimana sekarang?" Aku balik bertanya.

__ADS_1


"Aku di hatimu sayang..." sahut Vareel menggodaku.


Dasar si Vareel, selalu saja menggodaku.


"Aku rindu bu dokter, jadi kutelepon, nggak ada yang menemaniku jalan-jalan sekarang," Vareel mulai menggombal di ponsel.


Aku hanya tertawa dan mengatakan bahwa aku akan pulang 3 hari lagi. Aku tersenyum saat meletakkan ponsel di sampingku. Kulihat Elen sudah siap menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bakal menyudutkanku, aku tersenyum padanya.


"Kekasih kakak ya? Jadi senyum-senyum, kenalin juga dong, siapa namanya?" Elen mulai menyelidiki.


Aku menggeleng, Elen semakin penarasan. Aku pun bercerita pada Elen tenang hubunganku dengan Yudha yang semakin jauh, karna tidak ada kabar dari Yudha, aku tidak pernah menyebutkan namanya pada Elen. Aku juga bercerita tentang Vareel. Dasar si kembar, dia malah menyaranku untuk menerima cinta Vareel. Aku hanya tersenyum menggeleng. Aku akan tetap menunggu Yudha sampai aku mendapatkan kepastian dari Yudha sendiri tentang hubungan kami.


*****


Hari ini Elen sangat ceria, kekasihnya berjanji akan berkunjung. Aku juga penarasan, siapa sih orang yang berhasil membuat kembaranku sebahagia ini?


"Dia pasti kaget kak, pasti tidak menyangka kalau aku punya kembaran yang tidak kalah cntik juga kak!" Kata Elen saat kami sedang sibuk membuat makan siang di dapur bersama.


Elen mengaku tidak pernah mengatakan pada kekasihnya kalau ada kembarannya, mungkin ini kejutan buat kekasihnya. Aku tersenyum, hal yang sama yang aku lakukan pada Yudha. Aku tidak pernah mengatakan pada Yudha kalau aku punya saudara kembar. Kami tertawa bersama saat mengetahu hal itu.


Bel rumah berbunyi, elen dengan sigap berlari dan membuka pinta, aku masih sibuk sendiri di dapur. Pasti orang yang sedang diharapkan Elen.


"Kak, ayo ke sini!" Kudengar Elen berteriak memanggilku. Aku bergegas merapikan rambutku sambil menuju ruang tamu.


Sejenak aku tercengang, kaget, aku tidak percaya siapa sekarang yang sedang aku lihat. Wajah itu sepertinya tidak asing lagi bagiku, seperti sangat dekat bagiku, sosok yang kulihat juga terkejut. Atau mungkin aku salah orang? Laki-laki yang sekarang berdiri di samping Elen kembaranku, adalah sosok yang selama ini aku tunggu, Yudha. Aku mencubit tanganku sendiri, apakah aku bermimpi? Sepertinya tidak karena tanganku sakit saat kucubit. Elen terlihat senang dan bahagia, ia berhasil membuat kekasihnya terkejut karena dia punya saudara kembar. Sementara aku hanya berdiri mematung, menatap laki-laki yang sekarang berada tepat di depanku.


"Sayang, kenalin dong, ini kembaranku Alen. Dia sudah jadi dokter dan akan bekerja di Bali tempatnya kuliah. Maaf aku mau buat kejutan, jadi tak pernah cerita kalau aku punya saudara kembar yang di Bali." Dengan wajah ceria Elen menarik tanganku untuk bersalaman dengan kekasihnya.

__ADS_1


Serasa seribu jarum menghujani hatiku, aku terluka, saat mendengar dengan sangat berat ia menyebutkan nama Yudha kekasih Elen. Aku menatap Yudha berusaha mencari dan menemukan kebenaran tentang apa yang aku lihat sekarang di matanya. Aku berusaha tegar di matanya saat aku memberanikan diri untuk bersalaman dengannya. Tanpa kusadari tatapan matanya tertuju pada sebuah cincin yang masih melingkar manis di jariku. Sejenak ia tertegun dan menatapku, aku mengalihkan pandanganku pada Elen kembaranku, berusaha tersenyum dalam luka di hatiku yang terasa sangat sakit. Perlahan aku meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, bening-bening kristal mengalir di pipiku dengan sangat derasnya. Aku merasa tatapan Yudha tidak lepas dariku, tapi aku tidak peduli, sudah cukup aku bertahan dan menunggu selama ini.


__ADS_2