PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.21


__ADS_3

Hari Minggu pagi yang cerah untuk mengawali hari. Diskors dari sekolah lantas tidak membuatku galau atupun sedih. Baru dua hari ini tidak melihat gedung untuk menuntut ilmu itu, rezeki udah kaya banjir bandang yang sering melanda Jakarta pinggiran kali aja tuh. Aku masih keinget pasca aku diskors sekolah secara sepihak oleh kepala sekolah apalagi guru matematikaku yang paling menginginkan aku menghempaskan kaki dari sekolah itu. Aku pun masih inget bagaimana teman-teman sekolah yang ikut berjuang denganku menyelamatkan rakyat tertindas itu melepaskan kepergianku dengan linangan air mata.


Tahu gak sih kalian itu, rezeki 10 gudang mungkin aku dapat, cuma modal ngibulin aja, sekarang aku jalan-jalannya gak ke pasar lagi tapi udah ke mall bro. Segelas moccacino panas berwarna kecoklatan yang menemaniku aku seruput. Rasanya emang pas buat mengawali hari. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya misi undangan tersebut bisa aku selesaikan.


Ada model iklan kaos kaki lewat nih, itu lho anak pak kades yang cuantiknya minta ampun. Bukan cuma aku kok yang bilang dia cantik, mungkin kakek-kakek yang udah keriput sekalipun bakalan bilang, "Oh bidadari surgaku..." tapi kalau para duren-duren baru ditinggal istrinya kemarin itu paling juga bilang kayak gini, "Bodinya aduhai...". Apalagi aku yang anak muda yang juga seumuran dengan dia, tapi aku sih gak lebay-lebay amat kayak mereka mereka para kampungan klasik.


"Paras wajahmu yang melengking seperti buah pisang, pipimu yang merona seperti cabai pegunungan. Oh menikmatimu adalah anugrah". Aku mungkin akan berkata seperti sastrawan-sastrawan terkemuka itu lho. Kayak Chairil Anwar, W.S Rendra atau kawan-kawannya yang lain mungkin. Kalau cuma masalah goda-menggoda, rayu-merayu sih aku emang paling jagonya.


Di saat aku lagi enak-enaknya membayangkan bidadari impianku, Makku tiba-tiba datang mengagetkan dan menghancurkan imajinasiku yang sudah melambung sampai langit sab tujuh.


"Eh, ni bocah, pagi-pagi udah melamun. Ngliatin cewek cakep lewat lagi. Hayo bayangin yang aneh-aneh pasti!" desak makku.


"Eee... gak lah mak, orang cuma minum kopi nih loh," sanggahku.


"Ya udah lah, eh ngomong-ngomong tadi malem anak emak kemana sih, kok nggak ada?" Tanya makku dengan tidak melihat aku sedikitpun seakan mengabaikanku.


"Hmm, itu aku nginep di rumahnya bude. Habis pulang sekolah kan ngerjain tugas dulu, eh nggak taunya sampai sore, terus malah kehujanan." Balesku.


"Ya udah, sekarang njagain rumah ya!" Perintahnya kepadaku.


"Lha emak mau kemana? Pakai pakaian rapi kayak gitu?" Tanyaku dengan kening berkerut.


"Itu mau kondangan ke kampung sebelah, anaknya lagi ada yang sunatan."


Selepas itu makku langsung pergi setelah memakai sepatu ala kondangannya dan aku juga mengacuhkan apa yang dikatakannya tadi unntuk menjaga rumah.

__ADS_1


"Halah, tenang aja gak bakal di gondola juga sama maling."


Emakku emang selalu begitu, nggak boleh liat aku duduk santai di depan beranda rumah kayak gini. Padahal ini pekerjaan favoritku, duduk ngopi sambil ngeliatin orang-orang yang lalu-lalang jalan di depan rumah. Apalagi jalan rumahku ini termasuk jalan utama, jadi paling seneng kalau lagi ngliatin cewek cakep abis belanja atau cuma sekedar jogging. Dan ini kan hari minggu, gak cuma anaknya pak kades aja tuh yang lewat, udah banyak kaya si leha artis hollywod kampung sebelah, model apa aja udah gue buat sarapan tadi.


Tookkk!!!


Tanpa kusadari, makku ternyata balik lagi ke sini dan kali ini malah melayangkan payung yang dibawanya buat jaga-jaga kalau hujan.


"Eh, lah nih bocah malah masih disini, mandi sana!" Bentak makku kayak komandan rompi rombeng 434. "Kalau dibilangin sekali aja kuping lo masih kesumpelan panci kali ya!"


Tanpa menunggu getokan payung yang kedua kalinya, aku langsung lompat dari bangku. Setengah berlari aku masuk ke dalam rumah dan meninggalkan emak bersama moccacino yang sudah lumayan dingin.


"Udah siang begini, cakep-cakep belum mandi, perjaka macam apa kayak gitu? Ngakunya aja pacarnya rentengan sampai bisa digantungin. Jangankan cewek, anak kucing aja nggak mau deket sama elo!" Teriak makku kayak simbal yang dipukul di kamar mandi. Sampai-sampai suaranya menggema di dalam rumah dan terus sampai aku ke kebun pun masih kedengeran.


Aku cuma bisa mengelus dada mendengarnya. Ah gak apa-apa, di rumah aku boleh dilecehkan seperti ini. Tapi di luaran sana, aku masih tetaplah lelaki yang penuh wibawa tingkat dewa. Aku akan tetap menjadi detektif yang perlu diperhitungkan. Sampai mafia kelas kakap pun sudah menundukkan kaki di hadapanku.


Nah, sekarang aku sudah mandi, dan berganti pakaian kaus bola. Dan yang aku kenakan adalah kaus klub kesayanganku. Kaus MU (Manchaster United) berwarna biru putih yang menjadi kebanggan sampai-sampai baju ini masih terlihat baru setelah 5 tahun yang lalu aku beli karena memang baru 3 kali ini aku pakai.


Walah... walahh!! Baru aja ditinggal ke dalem sebentar, mau nyruput moccacino sisa tadi yang kenikmatannya tertunda, gelas itu sudah kosong. Moccacinoku sudah abis, dan bangku yang aku buat berjemur mata tadi sudah diisi oleh pemuda krempeng hitam. Dan ternyata ia adalah anaknya budeku yang tadi malam aku tidur bersamannya. Cuil panggilannya.


"Kok kopiku diabisin sih wil?"


"Halah, cuma kopi segitu aja rebut, itu loh di rumahku masih banyak tinggal ambil."


"Beneran nih, tinggal ambil gak papa? Emang gak dimarahin sama mak mu?"

__ADS_1


"Ambil aja sih gak papa, tapi setelah ambil tetep mbayar!"


"Huhh!! Dasar sempruuull!!"


Memang anak ini sering membuat kejengkelan, tapi kalau tidak ketemu atau dia sedang pergi jauh emang ngangenin. Dengan enaknya dia ngomong kayak gitu, ya memang dasarnya ibunya atau budeku sendiri membuka semacam warung klontong dan menjual kebutuhan masyarakat setempat.


Mungkin si cuwil juga kalau lagi tidak ada makanan atau kelaperan, sabunnya abis enak aja, tinggal ngambil dari warungnya. Dan mempunyai emak yang dermawan dan baik hati, itu sudah menjadi impianku, dan itu malah dimiliki oleh si cuwil dan dia orangnya tidak mensyukuri apa yang telah dimilikinya.


Kalau ngomongin tentang syukur mensyukuri, aku juga belum bisa mensyukuri keberadaan emakku yang sifatnya kayak gitu. Tapi seenggaknya aku juga boleh memimpikan keluarga yang harmonis walaupun orang tuaku tinggal satu yaitu makku.


"Eh wil, lu mau ikut lagi nggak?"


"Kemana lagi?"


"Emang, tugas kita kemarin udah selesai?"


"Ogah ah, nanti kemaleman lagi, kehujanan lagi."


"Loh, yang bikin kemaleman kan bukan aku, ya udah sih gak apa-apa aku kerjain aja ini semuanya sendiri. Jadi nanti kalau aku dapat uang tambahan dan yang kemarin itu masuk ke rekeningku."


"Loh, ya tidak bisa begitu lah, kan aku juga ikut andil besar dalam misi ini."


"Makanya ayo..." belum sempat aku melanjutkan omonganku, sudah dipotong aja sama cuwil.


"Oke bos, ayo berangkat!"

__ADS_1


"Hmmm... giliran kayak gini aja langsung terbang nih bocah!"


"Ck...ck...ck... eh lu ngapain masih di sini? Ayo!"


__ADS_2