PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.19


__ADS_3

Aku melepas kaca mataku dan memasukkanya ke dalam saku jas. Di depanku masih dengan jelas aku melihat lelaki berjaket hitam kulit masih berdiri tegak. Mereka semua menatap beringas ke arahku. Tatapan mereka cukup, ya lumayan mengerikan.


Salah satu dari mereka yang badannya kurus berkata, "Gue kira siapa, ternyata sinchan ama anak monyet yang datang." Ejeknya sambil memantaskan topinya.


"Dia bukan anak monyet, dia sahabat gue!" Ucapan seriusku malah disambut dengan gelagak tawa dari mereka.


Tentu saja emosiku meledak, "Eh dasar kampreet!!" Kataku menunjuk orang yang tadi mengejek kita.

__ADS_1


"Eh lo, cewek! Bukannya ini adek lo hah??!"


Pertanyaanku ini disambut rasa tercengang dari geng motor itu, dan raut muka gadis itu seperti kebingungan. Ya aku bisa membaca situasi apa yang sedang terjadi, ternyata gadis ini mungkin tidak mau mengakui adiknya karena alasan tertentu mungkin. Atau kemungkinan yang satu lagi, memang dia bukan adiknya tapi hanya ngaku-ngaku. Ah, aku rasa alasan yang kedua tidak masuk akal. Kalau anak ini yang berbohong ngapain juga dia mau rela masuk ke tempat yang akan membuat nyawanya mungkin di ambang kematian dan kenapa juga muka gadis itu berubah seperti itu.


Ah, aku yakin seratus persen, ini memang seperti kemungkinan yang kedua. Tapi kenapa teman segengnya saja ia tidak memberitahunya. Atau mungkin karena ia malu dengan latar belakang ekonomi yang sebenarnya. Aku tidak tahu persis sih bagaimana aslinya. Tapi jika bisa ditebak-tebak memang kalau dari penampilan anak yang ada di sampingku yang mengaku adiknya gadis itu, sangat dekil dan semrawut. Namun, Kakaknya sangat modis, rambutnya tergerai bawah bahu menggulung, berjaket kulit hitam dan motor yang ditunggangi, tapi aku yakin itu adalah milik pacarnya yang juga ketua geng ini.


Tapi kenapa ia tidak mau mengakuinya ya? Ah, itu juga tidak penting bagiku. Eits tapi tunggu dulu, kamu lupa dengan apa tujuan kamu ke sini. Oh ya, aku ke sini kan karena melihat anak ini merenung di pinggiran jalan kota sana dan aku menghampirinya lalu mengajaknya masuk ke dalamya.

__ADS_1


Si ketua geng itu mengeplokkan tangan membuyarkan lamunanku yang sedang memandangi pacarnya yang juga sekaligus kakaknya temanku ini.


"EHEMM... gue jadi mikir, sebenernya pakaian lo yang sok-sokan gaya kayak detektif ini malah pantes kalau disebut detektif badut yang urakan, tau gak? Emangnya kalian lagi main film atau apa sih?" Katanya meledek tanpa merasa bersalah sedikitpun


Dasar kampret! Badut sirkus katanya! Wah-wah! dasar nggak bener nih anak, udah nggak bisa ditolerir lagi. Omongannya nggak pantes diucapin di depan detektif besar yang terhormat, yang disegani seluruh penjuru nusantara ini.


"Eh lo mulut kadal, bisa dijaga nggak tuh mulut!!" bentakku, "Gue rasa lo nggak pernah diajarin tata krama deh ama mak lo!" Tambahku dengan nada geram menahan emosi sambil jari gue nunjuk ke arah dia.

__ADS_1


Yang dimaksud malah ketawa cengengesan gak jelas, nada mengejek. Aku tambah geram melihatnya, kayaknya anak ini mau dihajar dengan kepalan bakpau dari tangan gue deh.


"Udah, kepung aja mereka!!" Perintah ketua geng yang sok gaya itu.


__ADS_2