
Hendra mengeluarkan mobilnya dari garasi samping rumahnya, ia mengendarainya bersama Pak Ali supirnya menuju sebuah pesantren di belakang hutan. Sesampainya di tengah jalan tiba tiba...
"Aduhh... Pak Ali, kenapa nggak bilang kalau bensinnya habis?"
"Haahh... habis? Ya udah ngisi dulu berarti mas."
"Iya tahu, tapi ini itu udah malem, di tengah hutan lagi mana ada yang jual bensin?"
"Ya ayo kita cari. Sekalian jalan-jalan."
"Jalan-jalan aja sendiri!"
Karena kesalnya si Hendra pada pak Ali, ia langsung meninggalkan pak tua itu sendirian dan menyusuri hutan digelap malam menggunakan senter.
"Eh mas tunggu!!" Teriak pak Ali sambil berlari mengikuti Hendra yang terus berjalan menyibak semak-semak yang menutupi jalan.
Pak Ali yang memang dasarnya penakut, terus memegangi bahu Hendra yang ada di depannya.
Hendra dengan penuh keberaniannya terus berjalan lurus tanpa berbelok dan hanya rembulan yang menyinari samar-samar karena senter yang ia bawa tadi kehabisan baterai.
"Mas bener gak nih jalannya? Kok gelap ya?" Tanya Pak supir itu yang selalu berpundak di bahu Hendra dengan suara gemetar karena takut.
"Aduhh pak, jalan cuma satu ini loh, tuh liat emang ada belokannya? Udah mendingan pak Ali diem aja nanti juga nyampe!"
Tapi tetap saja pak Ali memang penakut, membuat Hendra merasa risih.
__ADS_1
"Ya... tapi gelap gini mas, nggak punya senter mas?"
Tiba-tiba ada cahaya dari belakang Hendra, seketika ia langsung berbalik ke belakang dan ternyata itu adalah cahaya dari senter pak Ali.
"Lah... itu pak Ali megang senter?"
"Hehe... maksudnya satu lagi biar tambah terang,"
"Aaarrrrggghhh!!!"
Lagi-lagi Hendra dibuat kesal oleh Pak Ali, karena kesalnya ia langsung meninggalkan pak tua itu sendiri dan mempercepat langkah.
"Lohh mas, kok malah ngebut sihh jalannya? Tunggu mas!" Teriak pak Ali sekali lagi.
"Mas, suara apa tuhh??!!" Pak Ali langsung lari terbirit-birit hampir menubruk Hendra yang ada di depannya.
Namun, Hendra masih usil menggoda.
"Suara apaan sih pak Ali? Ular kali, atau macan? Atau setan??"
"Haaa sseetann mas?" Seketika itu Pak Ali langsung menghambur di punggung Hendra, sambil membuang senter yang dipegangnya.
"Gusti Allah... ampuunn... Astahgfirullahaladzim, ampun Gusti saya belum mau mati... kasian anak istri saya..." rengek Pak Ali seperti anak kecil.
"Iya, tuhh kasian suami ama bapaknya gemeteran ketakutan gitu.. hihihihi..." canda Hendra.
__ADS_1
"KRESSAK KRESSEK...!!!" suara itu sekali lagi.
"Mas... tuhh denger kan?!!" Teriaknya sekali lagi.
Kini ketakutannya sudah tidak terobati lagi, ia malah meringkuk di bawah pohon. Namun, Hendra tak menghiraukannya, ia terfokus pada sesuatu yang bergerak-gerak di balik semak belukar di depannya. Karena heran, iapun mendekatinya.
"KRESSAK KRESSEK..!!!" Suara itu terdengar lagi.
"Mas, bayangan apa tuhh???" Tunjuk pak Ali yang ternyata sudah berada di belakang Hendra.
"Sssttt... Pak Ali sini, jangan jauh-jauh dari saya,"
Tiba-tiba bayangan itu mendekat dan makin jelas.
"Astaghfirullah!!!" Teriak mereka berdua setelah melihat seekor harimau muncul dari balik semak dan pak Ali langsung mengarahkan senter yang dibawanya itu pada si harimau. Sontak saja...
"AAUUUUMMMM!!!!!"
Hendra walau ketakutan tapi ia masih punya akal untuk mengatasinya. Ia mengambil sebatang kayu yang ada di dekatnya lalu ia gunakan untuk mengalihkan perhatian hewan buas itu.
"Mas, mau nagapain??"
"Ihhh... Pak Ali senternya jangan diarahin ke harimau itu!"
*****
__ADS_1