PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.12


__ADS_3

"Ada apa sayang, kok kelihatan gelisah sekarang?" Dengan lembut aku mencoba bertanya, memecah keheningan yang terjadi di antara kami.


"Nggak ada apa-apa cantik, aku hanya sedikit lelah, banyak tugas kuliah sayang." Yudha mencoba mengelak.


Tapi dari kata-katanya aku tidak yakin, pasti ada yang disembunyikannya dari aku. Aku berusaha percaya pada kata-katanya. Aku bergelanyut manja dalam pelukan Yudha, sambil menonton pesta kembang api di pusat kota. Aku merasa seolah-olah ini akan berakhir, atau mungkin hanya perasaanku saja. Karena sudah lapar, Yudha mengajakku ke sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempat kami menonton. Ayam lalapan makanan kesukaan kami habis dalam sekejap.


"Sayang ada sesuatu yang harus kita bicarakan saat ini," kata Yudha sambil memegang jemariku.


Aku tersentak, mungkinkah sesuatu itu yang membuatnya gelisah sejak dari rumah? Tapi aku berusaha tenang, aku ingin mendengar apa yang akan dikatakannya.


"Seberapa pentingkah itu sampai membuatmu gelisah?" Kataku sambil tersenyum menatapnya.


"Ini tentang kita sayang, dan masa depan kita berdua. Aku mohon kamu mengerti aku ya sayang,"


Aku hanya diam dan menatapnya seolah-olah siap untuk mendengar apa yang akan dikatakannya. Perlahan ia membelai rambutku, kemudian terdiam beberapa saat, mencoba mengumpulkan kata-katanya satu demi satu agar bisa mengatakannya. Ini pasti sesuatu yang sangat berat buat kami, dan ia pasti sangat menunggu keputusanku, tapi apakah itu? Aku belum bisa menebaknya.


"Sayang, aku akan pergi, tapi aku mohon percayalah padaku, aku sangat mencintaimu dan aku akan kembali untukmu." Dengan sangat berat kata-kata itu keluar dari bibir Yudha.


Serasa petir di siang hari, aku tidak percaya apa yang sekarang dikatakannya, aku menatapnya lembut, berusaha mencari kebenaran kata-kata itu dari tatapan matanya. Dan sepertinya Yudha tidak berbohong, ini serius. Yudha akan pergi meninggalkanku? Tidak mungkin, bagaimana dengan aku di sini? Bagaimana dengan kuliahnya? Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiranku.


"Ibuku sakit-sakitan, nenek meminta kami pulang agar bisa berobat di sana jadi aku harus menemaninya. Aku sudah mengurus surat pindahku sayang, maaf aku baru mengatakannya padamu sekarang. Aku harap kamu mengerti ya sayang?" Kata Yudha lembut.


Tak terasa air mataku mengalir, lagi-lagi aku harus berpisah dengan orang yang sangat aku cintai. Tidak pantaskah aku untuk tetap bahagia berada di sampingnya? Yudha memelukku dengan segala rasa cintanya. Aku tahu kami sangat saling mencintai, tapi ini mungkin ujian bagi kesetiaan cinta kami. Ini sangat berat bagi kami untuk berpisah.


"Kapan berangkatnya?" Tanyaku di sela-sela tangisku.

__ADS_1


"Besok sore sayang, tapi tenanglah, aku akan sering-sering ke sini menjenguk kamu, dan bukankan ayah dan ibumu juga di Jakarta? Mudah-mudahan kita bisa bertemu di sana." kata Yudha kembali menguatkanku.


Ibu dari ayah Yudha memang tinggal di Jakarta, ayahnya dan ibunya menikah dan tinggal di Bali karena ayahnya bekerja di sini. Aku memang mengatakan pada Yudha kalau asalku dari Jakarta, tapi aku tidak pernah mengatakan kalau punya saudara kembar.


Aku mengantarkan Yudha ke bandara, serasa tak mau berpisah darinya. Tapi saat aku memeluk ibunya, seolah-olah aku tidak sanggup melihatnya dalam keadaan seperti ini. Aku menangis dalam pelukan Yudha.


"Jangan sedih ya sayang, aku akan kembali untukmu, percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu dan akan tetap setia." bisiknya sambil memelukku.


Tangannya menggenggam erat tanganku, lalu memberikan sebuah kotak kecil padaku.


"Ini bukti cinta dan janjiku padamu sayang," kembali Yudha berkata sambil mencium pipiku yang basah karena air mata.


Aku mengangguk sambil menerima kotak pemberian Yudha, kucuim tangannya dan kupeluk dia sangat erat.


"Aku percaya padamu Yudha, aku akan menunggu untukmu!" Kataku sambil tersenyum dalam tangisku. Ia melambaikan tangannya saat menaiki tangga pesawat garuda yang akan membawa mereka ke Jakarta. Hatiku sakit, aku tidak bisa menerima kenyataan seperti ini, tapi aku harus kuat, karena aku pasti akan ke Jakarta juga.


*****


Hari berganti hari, dan bulan berganti bulan. Tanpa terasa sudah setahun Yudha pergi. Beberapa bulan yang lalu kami masih saling memberi kabar. Tapi sudah hampir sebulan tidak ada kabar dari Yudha. Aku mencoba mengirim pesan tapi tidak di balasnya, teleponku tidak pernah diangkat. Kata bibi, mungkin Yudha sibuk mengurus ibunya serta kuliahnya, apalagi ini semester-semester terakhir. Aku berusaha percaya pada janjinya dulu, aku yakin ia tetap mencintaiku walaupun jarak memisahkan kami berdua.


"Hai bu dokter, rindu ya sama Yudha?"


Sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku. Aku menoleh, Vareel, teman sekelasku berdiri tepat di belakangku sambil memegang buku yang baru saja diambilnya dari atas meja. Aku tersenyum malu, sambil menggeleng.


"Nggak usah bohong Alen, aku tahu kamu kangen sama Yudha."

__ADS_1


Kembali dia menggodaku sambil mengacak-acak rambutku. Aku memang dekat dengan Vareel dari awal masuk kuliah. Pernah dia bilang suka sama aku, tapi setelah tahu kalau aku kekasih Yudha, ia memilih menjadi sahabat aku. Bahkan kadang-kadang Yudha pun cemburu jika aku pulang bareng Vareel.


"Sudah tahu nanya lagi Var, sudah pasti aku kangen Yudha lah. Dia kan kekasihku, apalagi kami sekarang berjauhan, lebih kangen lagi!" Kataku sambil tersenyum.


"Fokuslah belajar Alen, apalagi udah tugas akhir, nih aku bawakan buku yang kamu minta." kata Vareel sambil menyerahkan buku yang ada di tangannya.


Aku sedang mengerjakan tugas akhir, jadi aku harus punya banyak referensi. Aku mencoba fokus pada tugas akhirku, sambil menanti kabar dari Yudha. Tapi sia- sia, sudah 5 bulan berlalu tanpa kabar, aku hanya tetap bertahan menuggunya.


Malam ini aku merenung di kamar, apakah sesuatu telah terjadi dengan Yudha sampai dia tidak menghubungiku? Ataukah memang dia sengaja mengabaikanku? Teringat aku pada kotak pemberian Yudha sesaat sebelum penerbangannya dulu. Aku beranjak menuju laci meja, kuambil kotak berwarna ungu itu perlahan, aku membuka isinya. Sebuah cincin yang sangat manis. Aku tersenyum, aku mencoba memasukkan cincin itu di jari manisku. Sangat cantik cincin itu, tapi terasa hatiku menangis, aku ingin pemberinya ada di sampingku, aku butuh dia, aku rindu pemiliknya.


Dua tetes bening kristal mengalir deras di pipiku, cepat-cepat aku menghapusnya sambil meraih ponselku yang tiba-tiba berdering. Kulihat nama pemanggil, aku kecewa, bukan orang yang kuharapkan, tapi si kembar. Begitulah tulisan di ponselku, di saat-saat seperti ini pasti aku akan tersenyum dengan cerita-cerita konyol dari Elen, itu bagai obat penyembuhku, ada-ada saja caranya buat aku tersenyum.


"Kakak, gimana kabarmu? Aku tiba-tiba rindu sama kakak, jadi aku telepon. Apa ada sesuatu yang terjadi kak, aku merasakannya kak?" Suara lembut Elen menyapaku dan menghujaniku dengan pertanyaannya yang kadang menurutku itu aneh. Tapi mungkin inilah keunikan dari anak kembar, kalau yang satu sakit pasti yang satunya merasakannya.


"Kakak nggak apa-apa Elen, hanya sedikit nggak enak badan aja," aku mencoba mengelak, tapi dasar si Elen, terus saja menyelidikiku sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Sabar aja kak, apalagi kalau dia udah janji, pasti aja ditepatinya. Yang penting saling percaya saja kak," Kata Elen terdengar mencoba menguatkanku.


"Kakak setelah wisuda ke Jakarta dulu ya, nanti ada seseorang yang mau Elen kenalin ke kakak, boleh ya kak?" Kata Elen manja.


Hmmm mulai merayu ceritanya. Tapi memang aku sudah punya rencana mau balik Jakarta dulu sebelum masuk kerja di sini karena ada rumah sakit yang sudah menawariku kerja.


"Pasti kekasihmu ya yang mau kamu kenalin sama kakak? Ciee... sudah punya pacar juga ya sayangku. Siapa namanya sayang, gimana orangnya?" Kembali aku yang menghujani Elen dengan pertanyaan-pertanyaan dan menggodanya.


"Rahasia, kalau kakak udah kasih tahu nama kekasih kakak, pasti aku juga kasih tahu nama pacarku. Tapi nggak sekarang kak, nggak seru kalau lewat telepon. Aku mau kakak ke Jakarta dulu baru seru!" Elen mulai bertingkah lagi, ada-ada saja permintaannya.

__ADS_1


Aku pun setuju dengan permintaannya. Lagi-lagi kami bercerita banyak hal, hingga aku tidak mendengar lagi suara yang membalasku, aku perlahan memutuskan sambungan teleponnya. Elen pasti sudah ketiduran di sana. Aku melirik jam dinding, sudah pukul 23.00, pantas saja Elen ketiduran, ternyata sudah larut. Aku mematikan lampu kamar dan kemudian tertidur dengan sangat lelap, aku melupakan semua masalahku.


__ADS_2