
Bila cinta memang suci, mengapa selalu menyakiti? Pertanyaan itu terus menyelubungi pikiranku. Seiring sang surya menenggelamkan sinarnya, swastamita kian berganti malam. Lamunanku kini tengah berada di ambang perbatasan, antara masa lalu dan masa kini. Semua seakan menjadi drama yang bisa aku rasakan nyata, menjadi sebuah ilusi berdasarkan kenyataan pada aslinya. Bayanganku melambung, menabrak tembok-tembok pembatas masa lalu. Membangkitkan rasa sakit yang telah lama kukubur dalam-dalam. Rasa sakit saat kehilangan, kehilangan sesosok pria manis yang dulu pernah menghiasi setiap ruang dalam hidupku. Senyuman-senyuman manis itu serasa kian masih terlihat jelas, walau hanya menjadi imajinasi saja. Itulah waktu, dimana setiap detaknya adalah cerita.
Inilah kisahku,
Namaku Mei Anandia,
Flashback
25 April 2015
Malam yang pekat, di langit bintang-bintang bertaburan, mengedip-ngedipkan sinarnya dan juga bulan tersenyum setia menemani. Sehabis pulang dari rumah Flora setengah jam yang lalu, aku masih termenung. Iringan musik-musik pop mengalun di telingaku. Ditambah silir-silir angin berhembus, membuat tubuhku serasa menggigil.
Aku masih mengingat kejadian siang tadi di rumah Flora, saat Arya yang tiba-tiba menghampiriku dan tersenyum manis kepadaku, matanya tersirat ketulusan. Entah kenapa, senyumnya seakan menjadi magnet tersendiri, bagai aku besi yang tertarik magnet hingga susah untuk menghindar. Kali ini aku merasa ada yang aneh pada diriku, tak seperti biasanya. Rindu? Apakah yang aku rasakan sekarang? Apakah ini cinta? Bila iya, mengapa secepat ini? Pikiran-pikiran itu serasa memenuhi ruang berfikirku, bersaut-sautan dengan irama musik pop dengan melody yang sangat menyentuh.
Mataku sudah mulai pedas, ingin rasanya untuk segera merebahkan tubuh di atas empuknya kasur dan indahnya negeri mimpi. Dengan langkah tertatih dan mata yang sedikit terpejam, kulajukan kakiku menuju pintu kamar yang jaraknya tak lebih dari 10 meter dari tempatku duduk saat ini.
__ADS_1
*****
Mentari telah setinggi tombak. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan ukuran 7x13 meter, suara gelak tawa mulai terdengar. Suara itu kian terdengar jelas, seiring langkah kakiku semakin dekat. Mataku menatap seisi ruangan, tampak satu wajah kutemui, wajah yang tak lagi asing bagiku, wajah yang semalam membuatku rindu, tampak terduduk manis, mengalunkan lagu-lagu indah bersama petikan gitar berbunyi di senarnya. Wajahnya terlihat teduh, bersatu dengan senyuman manis yang menghiasi.
"Mei!" ucapnya saat mengetahui kedatanganku, sambil melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum.
"Oh astaga! Arya memanggilku." Aku berseru dalam hati, aku tak percaya ini. Jantungku berdebar kencang, keringat dingin ikut mengucur deras di kening.
Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan kelas, aku masih belum mengerti apa yang akan dia lakukan. Dengan posisi mematung, aku melihat dia.
"Aku mencintaimu, Mei." Kata Arya.
"Apa yang membuatmu bisa mencintaku?" Kulontarkan pertanyaan-pertanyaan yang entah kenapa bisa begitu saja keluar.
"Kamu ingin tahu apa yang membuat aku bisa mencintaimu?" Dia balik bertanya.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk.
"Karena ini..." Dia menunjukkan sebuah sapu tangan usang berwarna ungu.
Aku sekarang ingat, sapu tangan itu, milikku. Dan ya, aku pernah memakaikan ke tangannya saat dia terluka, setahun yang lalu. Dia masih menyimpannya?
"Iya," aku mengangguk pelan, kemudian menunduk karena pipiku kini sudah memerah.
"Iya?" Dia memastikan.
"Iya, aku mau," ucapku dengan malu-malu.
Untuk bagian terakhir, aku mendengar suara teriakan seisi kelas, bercampur dengan siul-siulan, dan bahkan ada yang berteriak, "Cieee!!"
Mulai saat itu, aku resmi berpacaran dengan dia, Arya Virgosatya. Hari-hari berjalan dengan indah, tak ada satupun rasa duka yang menyelinap saat bersamanya. Aku sangat mencintainya, dan dia pun mungkin juga sama.
__ADS_1
Dia selalu mengucapkan selamat tidur lewat pesan-pesan sayang singkat. Hingga membuat aku selalu merindukan dia walau hanya tidak bertemu sebentar saja.
*****