PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.10


__ADS_3

Aku menggeliat lalu terbangun, dengan manja memeluk ibu dan mencium pipinya.


"Iya bu, aku harus bersiap-siap ya... Ibu bantuin aku packing barang-barang yang akan kubawa ya bu," kataku sambil meluncur ke kamar mandi sambil menyambar handuk berwarna ungu yang tergantung dekat pintu kamar mandi.


Aku menikmati dinginnya air di kamar mandi sambil bernyanyi kecil, mencoba menepis rasa sedihku. Tanpa sadar air mataku mengalir dengan sangat derasnya. Aku menangis, tapi ini keputusanku. Aku tidak tega dengan bibi yang harus sendirian selama beberapa tahun.


Bibi, kakak sulung dari ibu tidak memiliki anak dari pernikahannya. Ia sangat menginginkan seorang anak perempuan, tapi kata dokter itu hanya akan membahayakan bibi karena rahim bibi lemah. Ia sangat kesepian, apalagi suaminya Om Riki beberapa bulan yang lalu meninggal akibat kecelakaan pesawat. Awalnya ayah meminta bibi untuk tinggal bersama kami, tapi bibi menolak dengan alasan, rumahnya menyimpan banyak kenangan untuknya dan tak bisa ia tinggalkan. Bibi meminta aku untuk tinggal bersamanya sambil menyelesaikan sekolahku.


Awalnya aku menolak, mengingat aku sudah duduk di kelas 3 SMA, dan harus persiapan untuk menempuh ujian akhir. Tapi saat aku melihat bibi menangis dan pandangan mata ibu yang seolah-olah memohon padaku untuk menemani kakak satu-satunya yang paling ia sayangi, aku mengangguk setuju. Aku juga tidak tega jika bibi terus hanyut dalam kesedihannya. Ayah dan ibu mengharapkanku menemani bibi, karena tidak mungkin Elen yang menemani, ia sering sakit-sakitan jadi Elen harus tetap bersama Ayah dan Ibu.


Aku dan Elen adalah anak kembar, 17 tahun yang lalu ibu berjuang melawan maut demi kami. Ayah dan Ibu hanya punya 2 anak perempuan yaitu aku dan Elen. Antara kami berdua tidak ada yang bisa membedakan, kami sangat mirip satu sama lain, seperti kembaran lainnya. Ayah dan ibu juga sering kali bingung membedakan kami. Tapi sebenarnya ada tanda yang membedakan kami. Elen punya tahi lalat di sudut mata kirinya, walaupun kecil tapi kalau diperhatikan pasti kelihatan.


Perlahan aku bersiap-siap di kamar ditemani ibu dan Elen. Aku menatap mereka, sementara mereka berdua sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan kubawa. Aku akan merindukan mereka berdua, pelukan manja Elen dan ciuman sayang dari ibu akan jarang aku rasakan.


"Kok melamum kamu kak?" Elen menyadarkanku.


Aku tersenyum. Kupeluk dirinya sepuas mungkin.


"Jangan sedih kak, aku janji aku akan selalu telepon kakak!" Katanya sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk. Sepertinya kami susah berpisah. Ikatan antara kami sangat kuat, maklum anak kembar seperti itu.


Aku memeluk Ayah, Ibu dan Elen sebelum aku masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan aku dan bibi ke bandara. Serasa tak ingin jauh dari mereka, tapi bibi sudah menungguku dalam mobil.

__ADS_1


"Selamat tinggal kota kecilku, selamat tinggal teman-teman kecilku, selamat tinggal separuh jiwaku..." bisikku perlahan saat mobil melaju meninggalkan rumah. Tanpa aku sadari pipiku terasa hangat. Bening-bening kristal mengalir dengan sangat deras di pipiku. Aku menangis dalam pelukan bibi.


*****


Aroma ayam goreng dari arah dapur menyadarkanku dari mimpiku. Aku terbangun, kulirik jam dinding yang sangat mungil berwarna ungu yang tergantung di dinding dekat foto ibu, ayah dan Elen. Sengaja kamar ini dirancang bibi sendiri sedemikian rupa agar aku merasa seperti berada di rumah sendiri. Tatanannya sama seperti kamarku, aku tersenyum saat memasuki kamarku, sepertinya tidak asing lagi. Bibi memang sangat pengertian dan penyayang. Mungkin karena ia hanya punya ibu, seperti aku dan Elen. Mengingat Elen, aku segera meraih ponselku dan menekan beberapa angka yang ada beberapa saat, telepon pun tersambung.


"Kak... aku rindu kamu... aku nggak bisa tidur semalam kak?" suara Elen terdengar di seberang sana.


"Sama El, kakak juga rindu kamu, kayak sudah setahun kita berpisah ya?" kataku.


Setelah beberapa saat mengobrol lewat telepon genggam, kudengar suara bibi memanggilku dari arah pintu kamar.


"Alen, ayo sarapan sayang... kita mau ke sekolah!" kata Bibi dari arah pintu.


"Iya Bi, aku mandi dulu ya!" kataku sambil menutup telepon.


Aku merapikan tempat tidurku sebelum beranjak ke kamar mandi. Hari ini aku akan pergi bersama bibi untuk mendaftar di sekolah yang sebelumnya telah dihubungi oleh bibi. Aku begitu menikmati masakan bibi. Aku akui bibi sangat pandai dalam hal masak.


Setelah sarapa, aku dan bibi berangkat ke sekolah diantar oleh sopirnya bibi. Sekitar 7 menit kami tiba di sebuah gedung sekolah yang sangat tertata rapi. Mobil memasuki gerbang sekolah. Aku melirik dari dalam mobil, suasana sangat sepi karena jam pelajaran sudah dimulai, padahal ini baru pukul 07.00 pagi. Bibi menggandeng tanganku turun dari mobil kemudian kami menuju ruangan kepala sekolah.


Setelah diberi nasihat, aku diantar oleh seseorang wanita tinggi dan cantik yang kemudian kupanggil dengan nama Bu Tere, wali kelasku yang baru. Aku diantar ke dalam kelas XII IPA, sesuai dengan jurusanku di sekolah yang dulu. Aku memang bercita-cita menjadi seorang dokter.


Setelah memperkenalkan diri dengan teman-teman kelas yang baru, aku kemudian duduk di kursi paling depan yang kosong. Hmmmm... aku sedikit risih dan malu, karena suasana kelas yang baru dan juga karena aku merasa ada seseorang yang terus memandangiku.

__ADS_1


Dua bulan telah berlalu, aku semakin betah dengan lingkungan sekolahku yang baru. Aku punya teman baru, Wini namanya, ia termasuk anak yang pintar di kelasku, tidak heran kalau ia sering mengikuti olimpiade di mana-mana. Ia gadis yang sangat cantik tapi sederhana. Awalnya aku pikir ia pasti sombong, tapi semakin lama Ia semakin bersahabat dengan aku.


Hari ini, aku dan Wini masih mengerjakan tugas fisika di kelas saat bel tanda pulang dibunyikan. Kami sepakat untuk tetap menyelesaikan tugas ini sebelum pulang. Aku banyak belajar dari si otak cerdas ini, dan dia juga tidak bosan-bosan menjelaskan jika ada yang kurang aku pahami.


Jam tanganku menunjukkan pukul 14.00 saat kami membereskan buku-buku, karena selesai mengerjakan tugas. Aku menghubungi Bang Arif, sopir bibi yang selalu mengantarku untuk menjemputku.


"Maaf Non Alen, saya dalam perjalanan untuk menjemput nyonya," kata Bang Arif.


"Nggak apa-apa bang, kalo gitu aku jalan kaki aja, nggak jauh juga kok," sahutku dengan senang.


Tempat kerja bibi memang berlawanan arah dengan sekolahku. Selama ini aku memang ingin mandiri, tidak mau diantar atau dijemput, tapi bibi tidak mengijinkanku. Katanya berbahaya kalau aku pulang sendiri. Aku menolak ketika Wini mau mengantarku ke rumah. Aku tersenyum senang, akhirnya aku bisa jalan kaki dengan santainya dari sekolah ke rumah.


Sebuah Avanza biru berhenti tepat di belakangku setelah beberapa langkah aku meninggalkan gerbang sekolah. Aku terkejut, umpatan kecil hampir keluar dari mulutku tapi tertahan setelah melihat sesosok yang tidak asing keluar dari mobil. Yudha ketua kelasku, berjalan menghampiriku.


"Hai Alen, baru pulang ya? Kok jalan kaki? Nggak dijemput ya?" Kata Yudha sambil tersenyum.


"Iya mas, sopirku ke tempat bibi. Jadi aku jalan kaki aja, nggak jauh juga kok, paling 10 menit mas," balasku sambil tersenyum.


Yudha memang cakep dan pintar. Ia adalah saingan berat si Wini dalam hal pelajaran. Semua cewek berusaha mencari perhatiannya. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengatakan suka sama dia, tapi dasar si Yudha, ia tidak menggubrisnya.


"Ayo kuantar, daripada kamu jalan. Apalagi kamu pasti sudah lapar, ini sudah jam 2 lewat kan?" Katanya sambil menatapku.


Aku tak bisa menolaknya. Aku mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke mobil. Entah kenapa aku sepertinya sangat senang dan bahagia.

__ADS_1


*****


__ADS_2