PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.2


__ADS_3

Aku langsung menatapnya bingung, astaga apa yang barusan dia katakan?


Dia tersenyum padaku lalu dengan cepat dia tertawa, "Hahaha... mana mungkin kita kayak orang pacaran. Kita kan teman."


Aku mendengus kesal, baru saja aku merasa bahagia, lalu dengan seketika dia menjatuhkanku ke dalam lautan kekecewaan.


"Iya, mana mungkin juga kita pacaran. Aku nggak pantas, aku mah siapa? Cuma cewek jelek, hitam, dan suka bermimpi hal yang tidak bisa aku raih,"


Dia menghentikan tawanya lalu terdiam cukup lama. Raut wajahnya pun jadi berubah tidak seperti tadi, ada apa dengan dia? Apa dia menyesal telah berkata demikian? Ah mana mungkin. Kutepis pikiran-pikiran itu, aku tidak boleh terlalu berpikir dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, kalau jatuh baru tau rasa.


"Udahlah, aku lapar. Kita makan yuk!"


Aku meraih lengannya dan mengajaknya ke sebuah warung yang tidak jauh dari sini. Aku ingin mengalihkan perhatiannya agar suasana tidak lagi canggung. Dia hanya diam dan menurut saja aku ajak, entah kenapa rasanya jadi canggung, seharusnya aku tidak mengatakan itu tadi. Ah dasar bodoh.


Setelah sampai di warung aku langsung duduk dan dia pun juga. Aku memanggil ibu-ibu penjual makanan dan memesannya.


"Bu, saya pesan nasi goreng sama teh hangatnya satu ya," ucapku pada ibu penjual makanan itu.


"Kalau mas nya mau pesan apa?" Tanya penjual itu kepada Bisma yang dari tadi diam saja.


"Sama kayak dia, bu," jawab Bisma ramah, namun setelah itu kembali diam seperti tadi.


"Oh, iya. Silahkan ditunggu sebentar ya," ucap penjual itu lalu pergi meninggalkan kami.


Malam kian gelap, hawa dingin semakin terasa, rasa kantuk pun sepertinya sudah ingin menguasai diriku. Kulihat jam di pergelangan tanganku sudah menujukkan pukul 02.40 sudah pagi rupanya. Kulihat lagi ke arah Bisma, aku seperti tidak tahu lagi jalan pikirannya, sebentar-sebentar banyak bicara, lalu tiba-tiba diam.

__ADS_1


BRUKKK...


Aku menggebrak meja cukup keras hingga membuat dia kaget dan melototiku.


"Kamu mau bikin aku kena serangan jantung ya?" ucapnya dengan kesal, namun sekesal apapun ekspresinya dia tidak akan terlihat menakutkan.


Aku terkekeh, dia terlihat lucu sekali kalau sedang kesal. Wajah pantonim seperti dia tidak pantas untuk marah menurutku.


"Habisnya kamu dari tadi diam aja, aku kan jadi bingung, entar kalau kamu kesambet gimana? Kan nggak lucu," jawabku sambil terkekeh.


"Kesambet? Mana ada setan yang berani gangguin aku? Hah, palingan setannya cuma mau modus saja, aku kan ganteng."


Sial, sikap ke-pede-annya muncul lagi, rasanya ingin aku menimpuknya pakai sepatu yang aku pakai. Aku menyipitkan mata, lalu berpura-pura memandangnya dengan wajah tidak suka.


"Heh?" Dia menatapku dengan tatapan tidak terima, "mata kamu baik-baik saja kan? Aku sama pak Egi? Ya jelas gantengan aku lah!"


Aku tersenyum geli melihat dia kembali seperti semula, seperti anak kecil. Aku senang akhirnya dia sudah tidak lagi mediamkan aku seperti tadi. Jujur aku tidak suka kalau dia diam.


"Apa jangan-jangan kamu suka lagi sama pak Egi?" Matanya mendelik menatapku dengan penuh pertanyaan.


"Kalau iya kenapa?" jawabku bohong, aku penasaran dengan apa reaksi dia kalau aku menjawab itu.


Dia menatap sekali lagi, cukup lama. Lalu dia tertawa cukup keras, "Hahaha... cinta bersemi di SMA, guru dan murid, wah bagus juga kalau di buat cerita."


Aku mendengus kesal, padahal niat aku ingin tahu apakah dia juga mencintaiku atau tidak. Ternyata apa yang aku pikirkan tidak sama dengan kenyataannya. Kenyataan memang pahit. Dia hanya menganggapku sebagai teman, itu saja. Ternyata mencintai sepihak itu lebih menyakitkan.

__ADS_1


Kini gantian aku yang diam, mendengarkan tawa kerasnya yang membuat hatiku rasanya sakit. Aku tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.


"Kenapa kamu jadi diam?"


Aku tidak ingin menjawab, aku ingin diam seperti apa yang dia lakukan tadi. Cukup! Aku tidak bisa lama-lama seperti ini, aku bisa mati karena mencintainya yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku.


Tiba-tiba ibu penjual makanan itu datang dengan nampan yang berisikan dua piring nasi goreng dan dua gelas teh hangat.


"Ini mas, mbak, makanannya. Silahkan dinikmati." ucap ibu penjual makanan itu sambil meletakkan nampan itu di atas meja.


"Iya bu," jawabnya ramah.


"Terima kasih bu," jawabku tidak kalah ramah dari dia.


Setalah ibu itu pergi aku langsung menyantap nasi goreng itu dengan lahap begitu juga dia mungkin saja sama. Namun sayangnya aku tidak melihat ke arahnya, hanya membuat hatiku semakin sakit saja.


"Zahra," dia memanggilku lirih.


Aku menoleh kearahnya, "Apa?"


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu,"


"Yaudah, bila saja!" jawabku canggung.


"Aku ingin..."

__ADS_1


__ADS_2