
Sementara itu di pesantren...
Pak kiai merasa ada yang tidak beres pada malam itu.
"Hhmm... sudah terjadi sesuatu di hutan itu,"
"Sudahlah ki, mari kita tengok bersama. Siapa tahu malah ada bahaya di hutan sana." usul ust. Zul yang biasanya menjadi orang kepercayaan pak kiai.
"Baiklah, kita tengok. Mari kita bersiap!!"
Semantara kedua putrinya yang tak pernah akur dan selalu bertengkar itu ingin ikut.
"Ki, saya ikut ya..." ucap Nada dengan semangat.
"Saya juga ikut," gantian Ina, adiknya Nada.
"Kamu tuh ikut-ikutan saja!" Kata Nada.
"Ihh... biarin dong!" Balas Ina.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Ya sudah ayo ikut! Pakai jaket, tapi kita jalan kaki loh." Kata pak Kiai menengahi.
"Aneh banget, sebentar ribut sebentar akur." Gumam ust. Zul, karena memang hampir setiap hari mereka kalau bertemu pasti bertengkar.
Tak jauh dari pesantren
"Ihh... brrr dingin juga ya..." Nada kedinginan.
__ADS_1
"Kak nada pakai ikut segala sih, kalau pagi aja susah lepas dari selimut gara-gara dingin kok, apalagi malem habis hujan gini!" Ejek Ina.
"Kalian ini, sudah jalannya yang rapat jadi nggak kedinginan." ucap pak kiai.
Merekapun melanjutkan perjalanan, karena sudah semakin larut mereka mempercepat langkah.
"Kak Nada bawa minuman nggak? Haus nih," pinta Ina tiba-tiba.
"Aduhh... baru aja jalan 500 meter dari pesantren udah haus aja!" ketus nada tak menghiraukan adiknya.
"Udah jangan ribut lagi. Di depan sana ada warung, nanti bisa minum sepuasnya." canda Ust. Zul.
"Hah, warung??"
Belum sempat nada selesai ngomong, tiba-tiba, "Ust. Zul! Mana warungnya? Dah kering nihh!" Sambar ina kegirangan.
"Maksudnya ust. Zul itu di depan jalan raya sana, dekat pom bensin." sambung pak kiai lalu tertawa.
"Ahh... Nyebelin!" Ina kesal.
"Ha..ha..ha..." Nada dan ust. zul tertawa cekikikan.
"Minum air hujan aja, tuh masih ada di daun daun. Seger loh!" tambah nada yang tak habis-habisnya mengejeki adiknya sedari tadi.
Ina bukannya tertawa tapi mala semakin kesal. Tiba-tiba dari kejauhan, ina tak sengaja melihat cahaya berkelap-kerlip dari arah menuju hutan yang dalam.
"Ki, apa tuh? Sepertinya ada cahaya!"
__ADS_1
Mereka langsung berlari mendatangi arah datangnya cahaya itu.
"Nada... Ina...?!!" Bentak pak kiai pada mereka berdua.
"Haaa...??" Sontak mereka kaget.
"Jalan di belakang saya!!" Perintah beliau kepada mereka berdua.
"Ust. Zul, silahkan duluan tapi pelan-pelan." Sambungnya sambil mempersilahkan ust zul untuk yang berada di depan.
"Yah ki, kok saya yang di depan?" Ust zul dibuat bingungnya.
"Ya kamu kan laki-laki, masih muda lagi. Masak saya duluan? Kalau ada lubang, saya jatuh duluan gimana?" Pak kiai mengeles.
"Aduhh... capekk dehh!!" Nada dan Ina heran sambil memegang kepala.
"ASTAGHFIRULLAHAL'ADHZIM!!!"
Sontak mereka dikagetkan dengan keberadaan hewan buas yang sedang menghalang-halangi dua orang laki-laki. Namun laki-laki yang muda terlihat santai menghadapinya, sedangkan yang satunya nampak sangat ketakutan, yang dimaksud adalah Hendra dan pak Ali.
"Alhamdulillah pertolongan-Mu segera datang Ya Allah, hamba-Mu ini tidak jadi mati Ya Allah..." Pak Ali langsung bersujud.
"Eh pak, ini bukan saatnya sholat!" bentak Hendra.
"Mas ini bukannya sholat tapi ungkapan rasa syukur karena gak jadi mati." Pak Ali berdiri.
"Belum tentu juga kita selamat, iya kalau mereka orang baik, lha kalau bukan?"
__ADS_1
"Yo mbok jangan berprasangka buruk gitu to mas, kita berdoa saja semoga mereka adalah orang-orang yang dikirim Allah untuk menolong kita." Mereka berdua masih asyik bertengkar sendiri.