PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.17


__ADS_3

Sementara itu, Nada dan Ina sudah seperti kakak adik yang tak pernah bertengkar, mereka terlihat sangat akur. Saling berpelukan.


"Ssstt... kalian jangan berisik sendiri!!" Ujar pak kiai pada mereka bertiga yang berada di belakangnya.


"Eh.. Assalamu'alaikum ki?" sapa Hendra.


"Wa'alaikumussalam, hei kamu itu siapa? Dan kenapa si macan ini bisa keluar?" Tanya pak kiai pada pemuda itu.


"Ya mana saya tau ki, kok malah tanya saya?" Yang ditanya malah bercanda.


"Udahlah ki, ngobrolnya nanti dulu. Ini loh macannya ganas gitu kok." Kata ust zul geram karena malah ditinggal ngobrol sama mereka dan dia sendiri ketakutan.


"GRROOOOWWWAAAWWWW!!!!!" Suara macan itu yang mungkin sedang mengamuk.


"AAAAAAAAAAA!!!!" Suara teriakan dari kedua gadis yang bersama pak kiai itu, Nada dan Ina.


Macan itu semakin lama bukannya semakin jinak malah bertambah ganas, dan menyambar Hendra hingga terjatuh.


"AAAARRGGHHH!!!" Teriak Hendra kesakitan.

__ADS_1


Ditambah teriakan Nada dan Ina suasana semakin mencekam.


"Errrgghhh... berat juga kamu," di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun Hendra itu masih bisa bercanda juga.


"Diam kamu!!" Bentak pak kiai pada Hendra yang sedari tadi mengajak bercanda, padahal ini keadaan genting.


Lalu beliau berdoa. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu."


Pak kiai mendekat pada harimau itu, beliau mengira macan itu akan semakin jinak dan atau malah pergi dari situ, tapi ternyata dugaan pak kiai salah besar, hewan belang itu malah semakin ganas dan mengamuk dan menghambur pak kiai yang berada di depannya. Tentu saja, pak kiai yang sudah tua dan tenaganya mulai surut sudah tidak kuat lagi dan langsung ambruukkk. Ust Zul dan kedua putrinya langsung menghampirinya.


"Ki, tidak apa-apa kan ki?" Tanya ust Zul.


"Ihh... Ust kenapa pake basa-basi segala sih, udah tau aki ini jatuh diseruduk ibunya kucing yang segede gitu juga masih nanya nggak papa kan gimana sih?" Sewot Nada sekaligus kesal dengan Ust Zul.


Sementara itu Hendra mulai kehabisan cara bagaimana mengusir macan belang itu.


"Pak Ali, bantuin dong gimana ini? Mana si aki tua itu ambruuk lagi,"


"Aduuhhh mas... saya juga bingung gimana ini??"

__ADS_1


Dalam keadaan yang belum sadar betul, pak kiai memaksakan dirinya untuk berdiri.


"Aarghh... Zul tolong bantu aku." Katanya sedikit merintih.


"Aduh ki, udah jangan dipaksain." Kata Ina yang terus memegangi tangan pak kiai.


"Sudah kalian disini saja aki tidak apa apa, yang tau seluk beluk tentang macan belang itu hanya aki, kasian anak muda itu kalau tidak ditolong." Kata pak kiai meyakinkan.


Beliau berdiri dan mendekati harimau itu lalu membacakan sesuatu dan yang kemudian membuat macan belang itu pergi dengan sendirinya.


"Wahhh... aki hebat juga ya, aku mau dong manteranya..." canda hendra lagi.


"Itu bukan mantera kok,"


"Tapi kok ampuh banget ngusir hewan segede gitu?"


"Yang penting kamu dan teman kamu itu selamat, dan saya sarankan tidak usah coba-coba datang ke sini lagi."


"Ya ki... Terima kasih,"

__ADS_1


"Sudah sana pulang!"


Sejak itu, Macan belang itu pun tak pernah terlihat lagi.


__ADS_2