
"Lu ini lho yang ck..ck..ck... Emang udah mandi?"
"Ye, cowok ganteng kayak gini belum mandi udah main kesini? Hellooowww orang gue aja udah sampai singapura kok!"
"Hahaha singapur? Batu gempur iya ada," ejekku.
"Buset dah, nih bocah dibilangin kagak percaya!"
"Udah-udah ,sekarang mana motor lu?"
"Eh, lu nglindur atau masih ngiler sih, hapus dulu tuh belek lu!"
"Emang kenapa sih, gue tanya baik-baik, mana motor lu?"
"Ya iyalah, udah jelas-jelas semalem motor kita titipin di warkop depan gang hantu itu, kan lu sendiri yang lagsung ngajak balik pakai taxi!"
"Maksud lo, belum lo ambil?"
"Ambil pakai dengkulmu itu?!"
"Terus lo kesini gak bawaain bajuku gitu?"
"Eh otak lo udak kebalik apa emang ilang sih? Ini baru jam bepapa coyy?? Matahari aja baru nongolin muka, emang lo pikir rumah gue ada mesin cuci apa?!!"
__ADS_1
"Udah taruh tasmu di kamarku, kita berangkat sekarang!" potongku, "jangan ngemeng mulu!!"
Kalau ngomong tidak ada abisnya, mendingan berangkat sekarang. Pertama-tama ngambil motor dulu di warkop gang hantu dekat terminal gagal. Hahaha aku juga bingung kenapa dinamain terminal gagal, ya gimana gak namanya gitu coba. Baru dibangun 3 bulan yang lalu, terus akses terminal yang lama dipindah ke yang baru, entah karena faktor apa, sekarang kenyataannya gak ada orang di terminal situ. Orang-orang malah sukanya di terminal lama yang biasa mereka pakai untuk mencari nafkah.
Hari ini aksi dua rangers di mulai lagi. Bedanya kami tidak lagi memakai kostum detektif, tidak pakai kacamata, tidak juga jas hitam yang over dosage, dan kaca pembesar, apalagi HP yang mungil itu. Kalau mengingat benda satu itu, ada perasaan sesal luar biasa di dalam hati ini. Ah, lebay banget sih, betapa nggak, bayangin coba? HP keluaran terbaru yang baru aku beli dari gaji pertamaku hasil kerjaku kemarin, HP dengan camera lima megapixel, baru berumur dua hari ini kalau dia hidup, sekarang udah jadi barang rosok, yang siap dimasukkin ke karung dan dikiloin aja tuh. Monitornya udah ga bisa hidup, melambaikan tangan aja udah gak kuat kok. Mungkin mabuk, karena kebanyakan minum air hujan.
"HP lo gimana wil?"
"Gak jauh beda sama nasib HP lu, modar!"
"Udah laporin ke pak RT belum?"
"Buat apa?"
"Rese lu!" Katanya sambil menjitak kepalaku.
Aku paling suka kalu ngejekin si cuwil. Mimik mukanya itu lo gak pernah berubah rubah, dongo abis, aku jadi geli sendiri melihatnya. Nggak kesal, senang, diam, sedih, atau marah pun selalu mangap. Ya karena dia memang salah satu muridnya mpu SUMI (susah mingkem). Selain jadi saudaraku, dia juga bisa jadi temanku yang sejati.
Rupanya semalam saat pulang hujan-hujanan dari misi penyelamatan anak kecil, di gang hantu terminal gagal itu, cuwil nggak pakai motor. Iya ya, aku baru ingat dia kan juga naik taxi sama kaya aku. Hmmm... baguslah kalau begitu, jadi agak berkembang si cuwil culun ini udah kenal sama yang namanya taxi. Aku jadi teringat saat kemarin dia mbuntutin anak kecil itu yang jadi korban penculikan, yang penculiknya katanya naik angkot warna biru yang kursinya cuma empat dan nada anthenanya di bagian atas. Hahaha... kalau mengingat peristiwa itu ketawa gak bisa diem.
Abis ngambil motor di terminal, kami berdua langsung ke rumah manager yang anaknya ilang dan kita berhasil menemukan keberadaannya, namun untuk membawanya pulang dengan selamat itu kemungkinannya sangat kecil. Tapi aku tidak kehabisan akal, tanpa pengeluaran uang untuk si penculik yang matre itu dan tanpa menghubungi pihak polisi untuk membantu masalah ini, aku yakin akan selesai.
Setelah itu semua aku lakukan dan pikirkan, motor bersuara cempreng itu kembali menggetarkan kompleks A di batu manggarai. Di depan rumah mewah berpagar besi cat putih dikelilingi kawat barulah berhenti. Dilihat dari model rumahnya yang serba tertutup ini kita bisa tahu bahwa kemungkinan orang ini mempunyai sifat pelit. Seperti biasanya, satpam berkumis tebal menyebalkan menghampiri kami dengan tidak membukakan pagar.
__ADS_1
"Tuan sedang tidak ada di rumah." katanya menyeringai.
Aku tidak menghiraukannya, karena aku tahu dia sedang berbohong. Tuan Glades baru saja menelponku dan menyuruhku untuk datang ke rumahnya saat ini juga karena dia perlu ada hal yang ingin dibicarakan.
"Perintah langsung dari Tuan Glades, bahwa kami diutus untuk datang ke rumahnya!" Kataku dingin tetap menatap depan.
"Ya, betul itu. Wah anda tidak tahu siapa kami?" Cuwil menambahi dan kurasa ia seperti ingin menantang. "Kami ini sepasang detektif elite yang bertugas untuk mencari gadis kecil yang adalah putri dari Tuan Glades, pemilik rumah ini dan mungkin tuan anda juga!"
"Hey, kalian kenapa tidak masuk?" Teriak tuan glades dari ambang pintu depan.
Sudah kubilang tadi, Satpam resek ini pasti berbohong. Mimik wajahnya seketika itu langsung berubah, dan langsung berpura-pura ramah pada kami berdua.
"Pak, ayo bukakan gerbangnya!" Perintahnya pada satpam itu.
Aku menyeringai kembali pada satpam menyebalkan itu. Setelah sampai ruang tamu rumah mewah itu, sudah terpancar lima AC yang langsung menampar mukaku dengan halus.
"Silahkan duduk, ada hal penting yang perlu kita bicarakan saat ini dan itu sangat menyangkut dengan kehidupan putri saya." Katanya serius.
"Ini silahkan," wanita separo baya membawa sirup jeruk dingin dan menyilakan kami minum.
Cuwil langsung menyambar dan menggaknya hingga habis setengah. Saat aku ingin mengambil minumku, gelas itu gagal aku pegang dan airnya tumpah mengenaiku. Saat itu juga aku langsung tersadar dari lamunanku. Dan aku mendapati diriku yang masih duduk di bangku teras depan rumah.
"Ah ternyata masih dengan moccacino, sudah dingin lagi."
__ADS_1