PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.14


__ADS_3

Di hari pertama, aku dan ketiga teman-temanku mulai menampakkan diri di sebuah yayasan sekolah dasar impres, ya tepatnya di SDI Lidang. Letaknya pun tidak jauh dari kota, yang pertama kualami ialah perasan takut yang selama ini belum pernah aku rasa, dari kami berempat hanya ada seorang wanita, teman sekelasku di kampus. Dia si Densi. Banyak orang menyapanya si Della, nama itu diambil sebagai singkatan atas kebaikan yang dia lakukan. Densiana Ladus (Della), dialah wanita paling aneh, sungguh dia sangat gila, tertawa itulah aktivitas yang sering ia lakukan.


Kita mulai dari urusan di kampus. Sejak tanggal 25 Agustus sampai 5 September dibuka jadwal pendaftaran mahasiswa PPL bagi yang semester tujuh, ya kamilah orangnya. Della si ketawa terus, mendaftarkan dirinya pada tanggal 4 September tepatnya jam 11.30, dan sayapun daftar di tanggal 5 September, karena keadaan ekonomi yang kurang dari rata-rata.


Di hari Della mendaftarkan dirinya, ia lupa akan sebuah format atau data persetujuan dari sekolah. Saat itu juga saya sedang berada di rumah dan mengerjakan sesuatu hal yang menyebalkan, anggap saja pekerjaan kasar. Tiba-tiba nada dering (oasis) terdengar di telinga. Handphoneku memiliki panggilan dari nomor baru. Aku angkat panggilan itu.


"Siapa?" Tanyaku.


"Sekarang ke kampus ruangan pendaftaran PPL dan bawahlah formulir dari kepala sekolah."


Aku langsung tau kalau itu suara Della. Akupun langsung mempersiapkan diri, lalu pergi. Di kampus kuparkirkan motor di bawah kayu yang ingin dipotong. Kemudian bergegas ke ruangan.


Tok-tok-tok...


Bunyi suara pintu yang kuketuk.


"Masuk..." suara dari dalam.


"Selamat siang ibu..." kusapa.


Lalu kuserakan pada ibu dosen "Format dari sekolah".

__ADS_1


Salah satu temanku berkata, "Ngo nia keta hau bo?"


"Ngo kawe lawo kudut pareng leso!!"


Semuanya tertawa, termasuk ibu dan bapak dosen yang berada dalam ruangan pendaftaran. Semua masalah selesai. Kami pun bergegas pulang.


Keesokan harinya, saya bergegas segera mendaftarkan diri, sehingga menjadi mahasiswa aktif sebagai peserta PPL. Sementara itu kedua teman PPL masih belum ada kabar.


Ya, sungguh aku sangat sedih karena melihat seorang ibu yang bekerja keras banting tulang demi nasib seorang anaknya dan berharap kelak anaknya akan menjadi baik. Dia, pahlawanku. My superhero.


Ibuku dari balita hingga aku beranjak dewasa mampu membesarkanku hingga sekarang. Tak bisa kubalas semua kebaikannya, hanya doa dan selalu bekerja, itulah caraku membalas dan membahagiakan hati seorang ibu tercinta.


Ibu engkau adalah pedoman jalanku


Sungguh kumembisu dan kusemakin ragu


Ketika kumelihat ibu dalam kesakitan saat itu


Aku mulai rapuh dan ingin menjadi abu


Bila semuanya cepat berlalu

__ADS_1


Untukmu ibuku


Pada tanggal 08 September 2017 pembekalan dimulai. Selama dua hari kerjanya hanya bisa duduk, diam, ngantuk. Dan lebih parahnya lagi, banyak yang saling menembak gas alami dari dasar tubuh, alias "KENTUT". Gas yang paling sederhana dan dapat merugikan tetangga sebelah.


Hari terakhir pembekalan PPL, kami melakukan rutual secara Katolik. Mengikuti perayaan ekaristi, memohon bantuan Tuhan dalam kegiatan PPL yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 September-18 November.


Tepat pada tanggal 12 September kami berempat mulai masuk sekolah. Perasaan yang muncul ketika itu ialah cemas, bimbang, takut, malu dan yang paling parah ialah pengen sering pipis.


Ketika hari pertama di SDI Lidang, kami langsung dibagi ke dalam masing-masing mata pelajaran yang kami geluti. Dan sejak dari balita sayapun menyukai pelajaran bahasa indonesia, oleh karena itu saya langsung menempatkan diri sebagai guru bahasa indonesia khusus kelas lima.


Di sisi lain, teman seperjuanganku Della, bergelut dalam dunia alami (pembelajaran IPA), dan si Rekos anak kebangsaan Yunani, eiiitzzz.. salah.. anak kebanggaan ibu, menempatkan dirinya di dunia kalkulus dan berhitung yang tak pernah terpecahkan. Ya... matematika.. pembelajaran yang sangat membosankan dan yang paling ditakuti dalam dunia pendidikan.


Sementara seorang kakak pertama, sering juga saya panggil samsung android, galaxi, ataupun yang lainnya. Ya, dia si Sam Ambut, mengajar sebagai guru yang paling sering menggunakan metode ceramah. Yooupzzz... IPS. Ataupun sering disebut menggunakan bahasa manggarai "ITA POTI SAKI". Serta dia juga memegang teguh pelajaran PPKN. Pegennnya sih mau jadi parpol tapi, heemm... kurang adanya persetujuan dari masyarakat sekitar. Begitulah kami saat berada di SDI Lidang.


Sejak hari kedua kami semua masuk di berbagai kelas dengan bermodal pelajaran yang kami inginkan. Saya masuk di kelas empat untuk memperkenalkan diri saya. Di sana kumulai menyapa siswa kelas empat, lalu kuperkenalkan diri.


Semua murid kelas empat sangat baik, terutama umi cs. Orangnya sih agak kepo, sering tanya melulu. Dan si ganteng adek saya "yesral". Ayahnya sering memanggilnya "tele". Dia siswa yang paling bandel di kelas empat, sukanya mengganggu teman.


Bel istirahat pun berbunyi...


Semua bergegas keluar. Tak lama kemudian bell masuk pun dibunyikan lagi. Waktunya masuk ke kelas lima. Saya disapa dengan riuh gemuruh suara siswa kelas lima SD.

__ADS_1


"Selamat siang..." kusapa, kumulaikan perkenalan diri, lalu meminta satu per satu mereka juga memperkenalkan diri. Sungguh menjengkelkan, kelas lima berjumlah 41 orang. Uuhhhmm... kepala mulai sakit, banyak suara yang masuk. Kebetulan disana ada juga adik dari teman saya, rein "si hujan", ganteng tapi lebay.


Kami melakukan aktivitas kami kurang lebih selama dua bulan, di sana kami belajar bagaimana menjad manusia yang baik. Terlalu banyak kenangan bersama yang tak mampu kulukiskan dengan kata-kata.


__ADS_2