
1 Mei 2015
Hingga pada suatu hari, aku menghabiskan waktu hari bersamanya, menikmati indahnya pedesaan dengan naik motor berdua. Seakan hal terindah yang pernah ada, saat dia dengan erat memegang tanganku, seperti tak ingin melepaskannya.
Tetapi ada satu hal yang mengganjal, dia terlihat cemas hari ini. Ini untuk pertama kalinya, kulihat dia dengan wajah sekhawatir ini.
"Arya," ucapku lirih, dia menoleh dan menatapku, "Kamu kenapa? Kelihatannya kamu khawatir banget, cerita sama aku ada apa? Siapa tahu aku bisa membantu,"
"Mei,"
"Iya,"
"Aku akan cerita, tetapi kamu jangan marah ya!" wajahnya menunduk. Menatap tanah cokelat yang dia pijak.
"Tidak semua hal akan ditanggapi dengan kemarahan kan, Arya? Kamu tahu aku kan? Apa pernah aku marah bila mendengarkan ceritamu?"
Dia masih menunduk, tampak sekali bibirnya bergetar, walau tidak terlalu jelas karena posisinya yang sedang menunduk.
__ADS_1
Kupegang erat tangannya, untuk membuat dia merasa sedikit lebih rileks.
"Aku rasa, sudah cukup sampai di sini saja hubungan kita Mei,"
Derrr...
Bagai petir yang menyambar, kata-kata itu seolah menyambar hatiku. Kata-kata singkat namun begitu membuat aku jatuh dalam jurang kegelapan. Aku mencoba menenangkan pikiranku, dia pasti bercanda. Tidak mungkin, aku tau dia sangat mencintaiku.
"Kamu bercanda kan?" aku bertanya, barangkali ini hanya akal-akalan Arya untuk mengerjaiku, tetapi ini sungguh tidak lucu.
"Tidak Mei, aku tidak bercanda. Aku ingin hubungan kita ini berakhir sampai di sini saja! Aku sudah tidak mencintaimu, karena hatiku sekarang sudah milik gadis lain!" ucap Arya dengan nada sedikit tinggi, lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung dengan air mata yang terus berlinang.
*****
Dua bulan kemudian
Ulangan akhir semester sudah usai, tinggal menanti pengumuman naik dan tidaknya. Hidupku masih sama, aku masih saja memikirkan dia yang sudah jelas-jelas tak lagi membutuhkan aku di sampingnya. Namun tetap saja, walau beribu cara aku coba, tetap saja gagal untuk membuatku melupakan sosoknya. Dari mulai menyibukkan dengan belajar, membaca novel, dan les setiap harinya.
__ADS_1
Walau sudah dua bulan berlalu, dan aku juga sudah tak bertemu dengan dia. Namun tetap saja, tak ada satupun cowok yang bisa menggantikan posisinya dalam hatiku.
"Meiii!!"
Terdengar dari arah suara itu berteriak, dia meneriaki namaku. Aku membalikkan badan, tampak seorang gadis cantik seumuranku tengah berlari dengan raut wajah cemasnya.
"Flora?" Tatapanku masih fokus tertuju padanya. "Flora kamu kenapa?"
Dia masih mengatur napasnya, sembari mendengar pertanyaanku.
"Arya!" ucapnya dengan wajah yang tertunduk lesu
"Arya? Arya kenapa?" aku bertanya kembali, memastikan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Flora bisa sepanik ini? Mungkinkan ada sesuatu yang terjadi padanya? Tuhan, kenapa perasaan aku tidak enak?
Flora diam beberapa saat, bibirnya bergetar hebat dan juga tubuhnya seakan lemas tak ada daya untuk mengungkapkan.
"Flora, apa yang terjadi?" Dengan sedikit memaksa aku bertanya lagi, aku sangat penasaran dengan apa yang akan Flora sampaikan.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya Mei!" Lirih Flora, masih dengan bibir yang bergetar, diikuti air mata yang jatuh berlinangan dari pojok bola mata cokelatnya.
Perasaanku semakin tidak enak, apa yang sebenarnya ingin Flora sampaikan, mengapa dia menyuruhku untuk bersabar? Kutepis semua pikiran-pikiran buruk buruk, dan memastikan lagi, apa maksud dari ucapan .