PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.3


__ADS_3

Dreddd... Dreddd... Dreddd...


Tiba-tiba ponselku bergetar, aku menyuruh Bisma menjeda dahulu, segera kuambil ponsel dari dalam tas kecilku.


"Cika Calling..."


Kugeser tanda hijau lalu ketempelkan ponsel itu ke telinga kiriku.


"Selamat tahun baru Zahra," ucap suara di seberang sana dengan nada girang.


Dia adalah sahabatku yang kini tinggal di Kalimantan, namanya Cika Diantara. Kami sudah bersahabat sejak kecil namun saat kelas X SMA kami berpisah, karena Cika dan keluarganya pindah ke Kalimantan.


"Selamat tahun baru juga Cika," jawabku tidak kalah girang, "gimana kabar kamu di sana?"


"Alhamdulilah baik, kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulilah aku juga baik,"

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu, cuma itu saja yang mau aku bilang. Daaa Zahra," ucap Cika lalu panggilan terputus.


Aku kembali melihat ke arah Bisma. Katanya dia tadi ingin mengatakan sesuatu, jadi aku ingin dengar apa yang mau dia katakan. Pasti tidak penting, aku sudah bisa menebak itu.


"Kamu tadi mau bilang apa?"


Dia terdiam sebentar, lalu terlihat dia sedang mengatur napas.


"Aku... Cinta sama kamu, Zahra," ucap Bisma lirih.


Aku menghela napas panjang lalu menghembuskannya, "Bercanda kamu itu nggak lucu Bisma,"


"Zahra, aku nggak bercanda, aku serius cinta sama kamu." Bisma menatapku serius, ada tatapan sendiri dari bola matanya.


Apa mungkin dia jujur?


"Kamu serius?" Aku memastikan.

__ADS_1


Bisma menggenggam tanganku dengan kedua tangannya, dia menatapku lekat. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin dan bola matanya yang teduh.


"Mungkin aku bukanlah orang yang romantis dan puitis. Aku hanyalah Bisma, seorang manusia yang bertingkah konyol dan kadang membuat kamu kesal. Namun percayalah Zahra! Aku melakukannya karena aku ingin membuatmu selalu tertawa, walau kadang malah membuatmu kesal dan marah. Kadang aku bertingkah laku seperti anak kecil, karena aku ingin jadi yang berbeda, yang bisa kamu ingat."


Deg!


Jantungku serasa berhenti seketika, apa ini mimpi? Bisma menyatakan cinta? Aku mencoba menenangkan pikiranku. Kuhela napas panjang lalu menghembuskannya begitu seterusnya hingga pikiranku sedikit lebih tenang.


Tiba-tiba air mataku mengalir, aku terharu dengan apa yang Bisma katakan. Oh Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengabulkan doaku. Aku mau Bisma dan Engkau mengabulkannya Tuhan.


Aku mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang kini membasahi pipiku, "Kalau boleh jujur, aku juga mencintaimu Bisma. Aku sudah mencintaimu sejak kita masih SMA dulu, aku merasa nyaman berada di sampingmu, tertawa dengan kekonyolan-kekonyolan yang kamu ciptakan, namun aku tau kita hanya teman dan nggak seharusnya aku mencintai kamu, aku takut kamu akan menjauhi aku bila tau aku mencintaimu. Sungguh sampai saat ini perasaan itu belum sedikitpun berkurang. Aku mencintaimu Bisma." Aku memeluk Bisma dengan erat, aku tidak mau melepaskan dia. Tidak dan tidak akan, "Bisma, jangan tinggalin aku ya! Saat hati ini sudah merasa nyaman."


"Zahra, kita akan selalu bersama, hanya maut yang bisa memisahkan kita."


Aku masih memeluk tubuh Bisma dengan erat, aku tidak peduli dengan orang-orang yang melihat kami. Sungguh aku tidak peduli. Toh Bisma kini milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Ini sudah final.


Embusan angin di sore hari, menerbangkan dedaunan kering yang sudah mulai menguning. Tampak, sesosok gadis berjilbab biru tengah terduduk sambil membaca buku di taman Sekolah. Dari arah lain, seorang pemuda dengan kemeja kotak-kotak tengah memperhatikan gadis itu dengan tatapan mata yang tersirat kekaguman. Tatapannya hanya satu arah, bahkan ia tak memperdulikan wajah-wajah di sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2