
Dodo, tidak bisa hidup dan mati di tanah kelahirannya, tidak!! Semakin dewasa ini, hidup terlalu menyesakkan baginya dan orang kebanyakan. Hingga ia berjanji lebih baik mati di kampung yang jauh, asalkan tidak di bali. Membayangkan jasadnya yang akan di antar ke nirwana dewa bersama api ngaben, yang menari dengan ombak. Kematian yang terhormat hanyalah angan angan yang mustahil ia dapatkan, dengan doa saja, mungkin itu sudah terlalu istimewa.
Sekedar cuplikan semata, Orang tua itu dibunuh karena menerima tanah secara cuma-cuma dari organisasi petani illegal yang dituduh merampas tanah dan membagikannya kepada petani yang tidak bertanah seperti orang tua itu. Isu-isu politik yang menggelegar di daerah itu pun kembali ke telinga-telinga orang kampung. Hukum rimba direbut orang-orang yang dimasuki roh animisme yang dipercayai masyarakat kolot. Tanah tuan, yang menjadi korban illegal logging, melihat matahari baru menyingsing untuk merebut kembali tanah-tanah mereka.
Begitulah, suatu pagi ayah dodo diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad tani senasib, dia ditimbuni, tanpa doa, konon pula air mata. Di tempat lain, dalam huru-hara paling bengis itu, anak-anak menyertai ayah-ayah mereka dalam lubang. Dodo mujur. Air mata anak-anaknya jadi juru penyelamatannya. Pemilik tanah mengizinkannya menempati gubuk tua milik orang tuanya. Dia akan menjadi pembantu di rumah tuan tanah itu.
Siang seterik ini, duduk beristirahat di lindung bayang daun suslur sulur. Dodo menebar pandang ke daratan menghampar. Ia melihat baying-bayang masa kecilnya yang berlari-lari di tegalan, sementara ayah dan ibunya menggarap lahan dengan gairah seorang petani sejati. Bayang-bayang itu yang kemudian berkabur menjadi kenagan hitam yang ingin, ditanamnya dalam dalam. Dia memimpikan tentang hari tuanya di kampung yang jauh dan berpulang dengan selaksa doa.
Meski, tidak selesai sekolah dasar, dia tahu ada daratan bernama kampung asing. Di mana orang orang kampung itu, membangun hidup baru tanpa meninggalkan adat dan kebiasaan. Dia ingin mati di sana diiringi doa sederhana.
__ADS_1
Sejak lama dia mengumpulkan keterangan tentang kampung yang jauh impiannya, termasuk peta jalan raya yang lumayan lengkap. Peta itu ia peroleh dari seorang kernet bus jarak jauh. Dia juga membuat klipping berita yang ia pulung dari pasar. Tetapi, peta itulah yang menyita minatnya. Saban malamnya, menjelang tidur dia membentangkannya di atas dipan tempat tidurnya, selebar-lebarnya. Seperti seekor semut dia menyusuri jalan darat yang menghubungkannya kampung tempat tinggalnya dengan kampung jauh impiannya.
Dengan menggunakan mistar, entah berapa kali sudah menarik garis lurus dari desanya ke pelabuhan dekat situ. Seribu lima ratus meter, Ahh!!! Biasanya dia ditenggelamkan dengan angan-angan penuh tanya. Berapa lama jarak itu akan ditempuh dengan merayap dari satu titik perhentian di titik yang lain. Angan-angan yang biasanya berkesudahan dengan tidur yang lelap.
Seringpula, dia bayangkan betapa gentar hatinya nanti di atas feri yang akan membawanya menyeberangi luasnya samudra itu, dia akan menjelajahi hamparan air yang memisahkan kampong-kampung kelahirannya dan kampung impiannya. Dia gentar karena yang akan dia arungi anak samudra, bukan secercah air seluas kali di belakang rumah tuannya.
Namun, sebuah doa lebih dahsyat dari gelombang. Jarak daratan dan laut apalah artinya untuk tekad siap mati. Dodo berbulat hati berangkat berbekal tabungan bertahun-tahun, seekor anjing kintamani jantan dan seekor kera. Jantan pula. Uang kontan ala kadarnya, tas kulit imitasi berisi pakaian dan sarung. Dua caping kepala. Dua pasang sandal jepit.
Begitulah pengembaraan di mulai, tanpa pamit kepada siapapun. Ini bukan pelampiasan dendam terhadap tuan tanah yang telah merebut kekuasaan tanah yang dimiliki oleh ayahnya. Buat dia, yang ingin mati terhormat, sangat risih rasanya jika harus tinggal di rumah tuan tanah itu. Terasa seperti beribu-ribu mata mengawasi kalau kalau dia membalas dendam atas kematian ayahnya. Badai perasaan itu lebih baik diakhiri dengan diam-diam, tanpa basa-basi pikirnya.
__ADS_1
Malam pekat dan dingin mengarak dodo dan kawan-kawannya, mereka bersama mengendap ngendap meninggalkan desa. Manakala kunang-kunang terakhir membungkamkan pancaran fosfor dari tubuhnya untuk menyambut terang tanah, dodo dan teman sepengembaraannya tiba di tepi jalan beraspal. Kilau lampu mobil membuat jantungnya berdentam. Ituah bus yang ia tunggu. Sedikit gugup, dia mengacungkan, mengisyaratkan bus untuk berhenti.
Menurut kepercayaan nenek moyang, semeru adalah tempat bersemayamnya roh-roh halus. Apapun yang keluar dari sini, berhak atas nirwana, kehidupan yang abadi.
Dodo pernah mendapat kabar bahwa, hanya setelah masuknya tentara dari luar pulaunya, menjelang penutupan aksi militer, berjangkitlah pembantaian terhadap mereka yang dituduh begitu saja makar dan cuma pantas untuk dibunuh seketika, bagai binatang penyakitan. Termasuk ayahnya, menurutnya, manusia juga punya penyakit seperti itu yang bernama kekejian.
Setibanya ia disana, langsung mencari pangkalan bahan bangunan. Dia beli sebatang dolken, sulit untuk mencari ember kaling, tapi akhirnya ia temukan juga kaleng bekas pada seorang pedagang loak. Kaleng itu ia lilitkan dengan karet sehingga menjadi sebuah tambur. Sementara batang dolken dia tarik tiap jarak sejengkal.
Dengan alat itu, bersama kedua temannya, ia membentuk sebuah pertunjukan musik sederhana yang menurutnya bisa untuk menghasilkan uang. Karena mereka bertiga juga pastinya butuh makan untuk tetap bertahan hidup. Ia sangat pantang untuk menjadi seorang tukang pengemis atau pemulung yang makan dari makanan sisa-sisa bahkan sudah basi yang dipungut di tempat sampah.
__ADS_1
Tak dibayangkan jika ia harus bekerja serendah itu, atau yang lebih tak memungkinkan lagi menjadi maling atau perampok, ia sangat tidak pernah diajarkan untuk melakukan perbuatan keji itu, merampas hak orang lain secara paksa. Itu bukan perilaku yang mencerminkan seorang keturunan ningrat. Pasti ayahnya di sana akan sangat kecewa jika ia sampai melakukan hal itu.