PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.25


__ADS_3

Maka, agar hal itu tidak terjadi ia mengajak kedua temannya itu untuk bersusah payah merakit alat-alat musik dari barang bekas dengan ilmu keterampilan yang ia punya. Yang pernah ia dapatkan ilmu itu dari sang ayah tercinta.


Ketika dodo yang memaikan alat musik itu dengan kelihaian tangan yang ia miliki, kedua temannya ia suruh untuk menari, berjingkat melompat, apapun lah gerakan yang penting dapat menarik perhatian orang yang melintas. Kalau rombongan ini tampil di alun-alun kota yang mereka lalui, penonton seperti kerupuk yang berjejal-jejal.


Namun, pengembaraan dodo dan kedua kawannya itu tak selalu menyenangkan. Menjelang kota selanjutnya, sudah beberapa kali ditahan aparat. Mereka meminta surat jalan, ia tak punya. Dari perjalanan panjangnya inilah ia tahu bahwa kesalahan yang dibuat-buat oleh penguasa, termasuk polisi, banpol, dan tentara ataupun itu segala kawanannya bisa ditebus dengan UANG.


Di pemalang, dekat widuri, dia merinding, juga tersenyum kecut. Ceritanya ketika dia menggelar pertunjukan adalah kru film asing yang sedang mengambil gambar di semak-semak, tak jauh dari bibir pantai. Diyakini di situ dikuburkan sejumlah pejabat pejabat tinggi Negara yang dituduh sebagai komunis. Dodo tergoda bergabung dengan kerumunan manusia di semak-semak itu.


Di depan kamera, seorang saksi mata menceritakan bahwa suatu malam, akhir Oktober ketika ia masih berusia 13 tahun seingatnya, dia dengar rentetan suara tembakan dari arah laut. Esok paginya, ia pergi ke pantai menemui teman-temannya. Sontak, ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dilihatnyalah sekelompok orang dewasa menyeret-nyeret mayat yang tergeletak dingin di pantai. Anak-anak tanggung yang mengerubung disuruh ikut membantu menyeret-nyeret mayat tersebut yang sudah tak berdarah dan dilemparkan ke lubang.


Dodo merunduk, hatinya meraung.


Tampil pula saksi lain, orang ini mungkin sudah berusia di atas kepala enam, mengaku disekap terlebih dahulu di nusa kambangan, setelah itu baru dipencilkan di pulau buru.


"Mereka yang berbaring di sini adalah orang-orang yang sangat disegani, dihormati. Mereka juga merupakan pejabat yang telah membela tanah air." kata orang itu.

__ADS_1


Saksi itu berkisah, sepulang dari dari pulau yang pernah ia dipencilkan di situ, dia menanggur. Pekerjaan satu-satunya adalah Togel. Untuk mendapat nomor-nomor jitu, berbagai cara ditempuh untuk berjudi. Meminta nomor di kuburan pun, ia dan kawan kawannya lakoni. Dia juga pernah meminta nomor di kuburan massal itu.


"Malam-malam, saya letakkan kertas polio putih bersih. Di atasnya saya baringkan sebuah pulpen." Katanya bersungguh-sungguh. "Besok paginya, saya datang. Dua kali saya dapat nomor. Dua kali Bandar jebol." dia tersenyum simpul, kerumunan orang bergoyang. "Saya yakin, roh para pejabat-pejabat itu, yang menuliskan nomor itu. Orang lain juga pernah mencoba tapi tidak mendapat apa-apa, kecuali kertas putih tok. Sebab roh pejabat-pejabat itu cuma mau menuliskan nomor kepada yang seideologi dengannya," tukasnya.


Perasaan dodo diaduk-aduk. Hatinya diiris-iris, juga terasa dikilik-kilik. Dia tunduk, menyembunyikan senyum yang getir. Ketika kata-kata saksi itu diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, kru film itu terpingkal-pingkal.


Tegal ia temui baik-baik saja. Juga di Indramayu, Krawang, dan Cikampek. Dodo tidak mengira, Jakarta cuma sebuah bencana, siang itu, ketika dia melintasi daerah menteng, terdengar sirene meraung. Dari mobil, kap orang berpakaian seragam berlompatan mengejarnya, membawa tangguk menyauk anjingnya, dan melemparkan hewan itu ke dalam mobilnya.


Jakarta hanya memberi kekecewaan tak terbayar. Menumpang truk, dodo menuju Merak. Dia ingat, dari pelabuhan ini, sekali lompat ia sudah akan menginjak kota yang ia impikan selama ini. Tempat di mana ia ingin mati secara wajar, diiringi doa. Tidak seperti ayahnya.


Selagi dia menerawang, tiba-tiba sesekor anjing rabies menerjang dari bawah truk yang sedang parkir dan menyerang kawannya yang ada di sebelahnya. Kawannya menjerit kesakitan, melompat dan secepat kilat bergantung di kaso emper. Darah menetes dari pahanya. Selang beberapa detik, diiringi raung dari segerombolan anjing pertanda siap membunuh kami, segerombolannya menyerbu dan berkerumun sambil menggonggong. Dodo lari ke lapangan tempat anjing itu menyeret kawannya, sambil menggenggam pasir, dan melemparkannya ke gerombolan anjing tadi. Mereka berlarian menyingkir.


Malamnya, Dodo terpaku meratap tertahan-tahan, isak tangis. Di hadapannya, sahabatnya terkapar di atas tikar kardus. Ia kejang. Mulutnya berbuih.


Paginya, para pemancing menemukan bangkai anjing rabies, yang menyerang sahabatnya kemarin, dan orang membuangnya ke laut. Dodo takkan memperlakukan sahabatnya seperti itu, Dia membungkus jasad kawannya itu dengan kain bekas seadanya, dengan hormat. Dan ia membawanya menyeberangi selat. Sesampainya di daratan sumatera, dia membopong jasad sahabatnya itu ke daratan yang lebih tinggi menghadap selat.

__ADS_1


Dodo, tegak di atas lutut menghadap lubang. Berdoa beberapa saat, lantas dia menimbuni kuburan itu dengan tanah juga air mata.


"Persis sebagaimana kau dikuburkan, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, kawan. Diiringi doa..."


SELESAI


BIODATA PENULIS


NAMA LENGKAP:HENY NORZAIDA


FACEBOOK:CIKINI KINEW


INSTAGRAM:ZAIDA_IDA04(jangan lupa follow ya:") )


EMAIL:zaida ida0e0g1g

__ADS_1


__ADS_2