
Aku tidak kehabisan akal, mau main-main aja anak-anak ingusan ini rupanya. Diawali dari yang paling kurus dan disusul oleh teman-temannya mengelilingi kami, temanku yang satu ini udah ketakutan abis, jangankan mau ngelawan, ngeliat mereka aja nggak berani. Ngumpet dikintilan gue iya. Tapi kalau dilihat-lihat gaya mereka semua katrok buanget. Sekali aku gebrak, berani taruhan semuanya pasti pada tutup mata tidur bergelempangan. Belum tahu rupanya mereka siapa yang dihadapin.
Tapi tiba-tiba mataku menangkap suatu kecurangan. Tidak tahu dari mana asalnya, tahu-tahu salah seorang anggota geng ini membagikan galah panjang kaya tongkat pramuka ke masing-masing mereka. Wahh wah wah... celaka nih kalau begini. Mereka menggunakan cara yang rusuh, secara otomatis lah aku dan temanku ini pasti langsung KO. Emang kepala gue punya doraemon apa? Bisa ancur ini kalau dipukul pakai kayak gitu.
"Tenang, kalau kamu pernah lihat film power rangers yang biasanya tayang pada hari minggu itu. Pengeroyoknya dalam jumlah banyak kayak gini, juga bawa senjata yang aneh-aneh lagi. Tapi bukan berarti mereka yang menang, jagoan kan emang lebih sedikit jumlahnya." kataku menenangkan.
Gadis yang diakuin kakak sama temenku tadi, malah berhentiin sikap kita yang kaya anak-anak.
"Stop stop stop! Hey kalian ini kayak anak kecil aja! Udah begini, mendingan biar aku ikut anak dua ini, ngomong baik-baik apa sih mau mereka sebenarnya." katanya mendengus ke arah kami berdua.
"Yang bener aja lo, yakin mau ikut nih para gembel stress?!" Temannya yang tidak setuju dengan gadis itu malah mengejek kami.
__ADS_1
Jelas aku tidak terima, pakaian modis, tertata rapi seperti ini dibilang gembel yang lagi stres. Matanya merem kali. Mendingan aku lagi, daripada mereka yang pakai celana bolong di dengkul, mungkin tuh celana abis dibuat kecelakaan terus sobek deh, sobeknya banyak lagi. Dan karena nggak punya uang buat jahitin, ya gitu deh jadinya.
"Eh, ngomong apa tadi lo?!! Sembarangan aja!! Gue bukan GEMBEL! Lo semua kali yang gembel karena ngegembel dan cocok sih buat jadi gembel!" Ejekku balik ke mereka.
Kulihat hampir semua paras mereka berubah ingin marah tidak terima. Bahkan salah seorang dari mereka ada yang maju hampir mendekatiku, namun dicegah oleh gadis itu.
"Udah, nggak usah kayak anak kecil lagi, eh lo berdua ayok kita keluar!" Perintahnya dengan wajah kesal.
Anehnya, gadis itu tiba-tiba berubah warna wajah yang semula merah berapi-api, kini menjadi biru lebam suram kayak orang mau nangis gimana gitu. Yang lebih membingungkan, dia menarik tangan temanku ini ke tempat yang sepi yang mungkin dirasa olehnya tempat aman. Di situ, di bawah rintik hujan, tepatnya di kursi halte yang kosong, ya karena langit senja pun kini sudah hilang.
Aku baru tersadar ternyata aku di dalam gudang pengap itu lumayan lama, hingga hari menjelang maghrib tiba aku baru keluar. Dan sekarang ditambah suasana yang bikin kepalaku pusing tujuh keliling. Mulanya mereka hanya duduk berdua biasa, tidak ada satu patah kata pun keluar dari mereka. Aku yang memandangi dari kejauhan halte itu, ya tidak terlalu jauh sih, mungkin hanya 5 meter dari kaki anak tangga halte itu.
__ADS_1
Apa mungkin mataku yang salah atau gadis itu yang lagi tidak sadarkan diri. Dia memeluk anak yang menjadi temanku tadi yang aku bawa ke markas geng motor itu, yang juga mengaku katanya adik dari gadis itu. Aku terperanjat bukan main, mereka berdua menangis dalam pelukan. Ah, kenapa mesti aku cemburu. Tapi tidak tahu kenapa, melihat hal itu terjadi hatiku panas. Ingin kaki ini menuju ke arah mereka dan menghentikannya. Namun, terasa seperti ada yang menarik seperti magnet. Kakiku terasa berat sekali untuk digerakkan. Yang lebih membuat aku tidak percaya adalah gadis itu berkata sambil menangis tersedu-sedu, bahkan malah duduk di bawah kaki anak itu hampir menciumnya namun dicegahnya dan disuruh untuk duduk kembali ke tempatnya.
Karena rasa penasaranku yang sangat luar biasa, aku pun bergerak agak mendekat untuk menguping pembicaraan mereka. Sedikit-sedikit aku bisa mendengar.
"Dek, maafin kakak ya, kakak seperti ini buat cari duit, kakak ikut mereka kerja, tapi kakak nggak ngeliatin latar belakang sosial kakak sebenarnya siapa."
"Kak, cari uang itu ada banyak cara, kita bisa lakuin ini bersama-sama. Setelah kakak yang sering ninggalin aku sendiri, terus aku mau sama siapa? Aku nggak punya siapa-siapa lagi kecuali kakak,"
"Iya dek, kakak tahu itu, tapi kakak pakai jalan pintas. Tapi tenang, kakak nggak ngelakuin apa yang dilarang oleh agama kita. Kakak janji kalau kakak udah dapat uang banyak, kakak akan pulang dan kamu juga bisa sekolah lagi."
Aku tidak tega melihatnya, tak kusadari air mataku jatuh ke bawah. Aku pun ikut naik ke atas halte itu melewati tangga. Saat melewati anak tangga aku terpeleset dan jatuh, tiba-tiba aku melihat diriku yang jatuh tersungkur dari atas kasur. Dan kembali aku lihat jam dinding milikku di kamarku. Aku berkata, "Ahhh, ternyata cuma mimpi, tapi beruntung juga mimpi kayak gitu, aku jadi bersyukur masih punya keluarga yang sayang sama aku, masih bisa sekolah. Aku akan sekolah dengan sungguh-sungguh biar jadi detektif yang beneran, nggak cuma khayalan apalagi mimpi sampai jatuh dari kasur segala lagi."
__ADS_1