PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.11


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku, Wini dan Yudha semakin dekat. Berangkat ke sekolah bersama dan pulang bersama, kemana-mana selalu bersama. Teman-teman sekolah mulai menyebarkan gosip kalau Yudha pacaran dengan salah satu di antara kami. Aku dan Wini heran mendengar gosip itu. Saling menggoda, itulah kebiasaan aku dan Wini.


"Pasti Yudha jatuh cinta sama kamu Alen?" kata Wini sambil tersenyum menggoda.


"Nggak Win, Yudha itu suka sama kamu, apalagi kalian berdua juga sama-sama pintar, kamu juga cantik, cocok aja sama Yudha yang cakep," kataku balas menggoda Wini.


Aku tidak sadar Yudha berada di belakangku. Wini mengedipkan matanya memberi isyarat padaku tapi aku tidak menangkap isyarat itu.


"Hmmm... ada yang lagi ngomongin aku ya? Pantas aja aku nggak tenang karena ada yang bilang aku cakep?" Suara Yudha membuatku terkejut. Wajah memerah, menahan malu.


"Jangan ke-geer-an, Yud!" Kata Wini sambil menjintak kepala Yudha.


Aku tersenyum malu, mereka benar-benar cocok.


Jam pelajaran bahasa inggris telah berakhir, kami bersiap-siap untuk pulang. Setelah mengantarkan Wini pulang, aku dan Yudha meluncur ke rumahku, lumayan jauh dari rumah Wini, sekitar 30 menit. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, sementara Yudha menyetir. Keheningan meliputi kami.


"Alen, aku mau ngomong, tapi kamu janji nggak boleh marah ya?" kata Yudha memecah keheningan kami.


"Kenapa harus marah? Kamu kan nggak ada salah sama aku," kataku sambil tersenyum, pasti dia mau bilang kalau dia suka sama Wini.


"Aku suka sama kamu Alen," katanya sambil menatapku.


Aku tersentak kaget. Aku tidak menyangka Yudha akan mengatakan hal seperti itu. Selama ini aku pikir yang dia suka adalah Wini, bukan aku. Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencari makna dalam kata yang diungkapkan oleh Yudha. Hatiku bergetar, sepertinya aku memang sudah jatuh cinta pada Yudha sejak awal masuk ke sekolah ini, tak terasa aku tersenyum.

__ADS_1


"Makasih ya Alen," kata Yudha lembut menyadarkanku.


Aku tersipu karena ketahuan senyum sendiri.


"Untuk apa?" Aku balik bertanya, aku tidak mengerti apa yang dikatakan Yudha.


"Kamu tersenyum, artinya kamu juga cinta sama aku, aku sangat bahagia, apa aku salah Alen?" Kembali Yudha berkata sambil tersenyum lembut menatapku.


Aku menggeleng, artinya aku juga mencintainya. Perlahan mobil berhenti di depan rumah bibiku. Aku keluar dari mobil, dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih dan hati-hati pada Yudha, sambil melambaikan tanganku. Aku tersenyum sendiri saat memasuki halaman rumah. Tanpa kusadari bibi sudah ada dan heran dengan tingkahku.


"Kok senyum-senyum sendiri sayang, ada apa? Jangan-jangan lagi jatuh cinta nih," kata bibi saat menyambutku.


Aku tersenyum, bibi semakin penasaran.


Bibi tersenyum sambil mencubit pipiku.


"Pantas saja kamu sangat ceria hari ini. Bibi nggak marah, yang penting ingat belajar sayang, ujian akhir semakin dekat!" katanya lagi.


Aku mengangguk bahagia. Walapun aku belum mengerti seperti apa cinta yang sebenarnya, tapi aku terlihat bahagia saat mengingat Yudha.


Bibi adalah wanita yang sangat pengertian, aku sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Wanita separuh baya ini ternyata berjiwa muda. Tak heran kalau aku sering dibawa ke bioskop juga ke tempat-tempat karaoke.


Malam ini sebelum tidur, aku membuka album foto-foto lamaku. Aku rindu mereka yang di sana, aku ingin pulang. Tapi ujian akhir semakin dekat. Aku harus fokus pada ujian akhir, demi cita-citaku. Aku meraih ponselku, mencari kontak nama yang ada, aku ingin berbagi dengan si kembar Elen. Telepon pun tersambung, ternyata dia belum tidur.

__ADS_1


"Kak Alen, kok lama betul nelponnya? Aku kangen kak..." suara manjanya terdengar lembut di telingaku.


Aku tersenyum.


"Aku baru selesai belajar Elen, jadi baru nelpon. Aku pikir kamu sudah tidur. Aku juga kangen rumah Elen, aku mau pulang tapi ujian akhir makin dekat, gimana dengan belajarmu?" balasku.


Kami bercerita banyak hal, mulai dari pelajaran, pengalaman sampai cowok yang kami taksir. Elen menggodaku saat aku mengatakan kalau cowok yang aku suka ternyata suka juga sama aku. Hampir 2 jam aku menelpon Elen, tanpa sadar aku sudah terlelap. Begitulah kebiasaan kami kalau lagi teleponan, pasti lupa waktu sampai ada yang tertidur, dan yang satu pasti yang memutuskan sambungan kalau tidak mendengar suara sahutan lagi.


*****


Ujian akhir telah berlalu, hari ini pengumuman hasil ujian, aku cemas karena standar kelulusan tahun ini sangat tinggi. Tapi saat ujian aku mampu menjawab semua soal yang diberikan.


"Mudah-mudahan aku lulus," bisikku dalam hati.


Saat aku dan Yudha dalam perjalanan dari rumah ke sekolah. Aku dan Yudha pasangan yang serasi, itu kata Wini. Awalnya aku takut Wini cemburu dan menjauh dariku, tapi ternyata diam-diam dia yang punya rencana menyatukan kami, dasar si Wini.


Teriakan kegembiraan dan senyum kebahagiaan terpancar di wajahku saat mengetahui aku lulus ujian dengan peringkat 3, Yudha peringkat 1 dan si cantik Wini peringkat 2. Ternyata tidak sia-sia perjuangan kami selama ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, aku diterima di fakultas kedokteran pada salah satu Universitas negeri di sini. Aku sangat bahagia. Yudha memilih masuk fakultas psikologi di kampus yang sama denganku, sementara Wini memutuskan untuk belajar Jerman. Aku sangat bahagia saat mendengar kembaranku Elen lulus dengan nilai yang paling tertinggi dan diterima di fakultas bahasa dan sastra di universitas negeri di kota kelahiranku.


Elen memang tidak bisa jauh dari ayah dan ibu, mengingat kesehatannya yang sering terganggu. Ia sebenarnya punya mimpi yang sangat tinggi, ia ingin jadi seorang psikiater. Jadi kami bisa bangun rumah sakit sendiri, aku dokternya dan dia psikiaternya. Aku tersenyum mengingat kata-katanya itu. Sayangnya kesehatannya membuatnya tidak bisa menggapai mimpi kami.


Waktu pun berlalu begitu cepat, aku sibuk dengan kuliahku. Tak terasa 5 semester telah berlalu. Hubunganku dengan Yudha semakin dekat. Bibi selalu menasehati kami agar saling setia dan tidak menyikiti. Aku sangat bahagia berada di sisi Yudha dan menjadi kekasihnya. Ia adalah sosok laki-laki yang pengertian dan penyayang. Kami berdua berjanji di antara kami harus saling percaya, dan akan mempertahankan hubungan kami, apapun yang terjadi dan sesulit apa pun itu.


Malam ini, seperti biasanya Yudha datang ke rumah, menjemputku untuk jalan-jalan. Kami berpamitan pada Bibi yang sedang menonton. Lalu menuju mobil Yudha yang diparkir di halaman rumah. Dengan sigap, Yudha membuka pintu mobil, mempersilahkan aku masuk dengan gayanya yang khas dan manja, aku tersenyum bahagia. Malam ini pesta akhir tahun, kami akan menonton pesta kembang api bersama.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya, kali ini Yudha tidak banyak bicara, mungkin karena jalanan yang sangat ramai dan macet jadi dia harus lebih hati-hati dan konsentrasi, atau karena ada sesuatu yang dia pikirkan. Aku seperti diabaikan, tapi aku mencoba sibuk chating dengan Wini yang ada di Jerman. Karena suasana begitu hening, aku mencoba melirik Yudha yang sedang menyetir, ia sepertinya sedang gelisah dan memikirkan sesuatu. Sesekali ia menarik napasnya dalam-dalam. Aku mencoba menebak pikirannya. Pasti sesuatu telah terjadi dan aku harus siap untuk semuanya itu.


__ADS_2