
Perasaanku bercampur aduk, berbagai pertanyaan terus mendera tentang kenapa? Apa? Dan mengapa? Hingga aku sendiri bingung harus memikirkan hal ini, otakku terasa buntu.
"Ada dengan apa dengan Galang tante?"
"Galang menderita penyakit Leukimia," jawab tante Melia di sela-sela isakan tangisnya yang mulai mengeras.
Aku tertegun. Kenapa? Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku mulai membenci diriku yang sudah memiliki rasa benci pada pria itu, pada pria yang seharusnya aku sayangi, tapi pada kenyataannya aku tidak ada saat dia sedang berjuang untuk hidupnya.
"Le... leukimia?"
"Iya, Nak Nadia."
*****
Langkahku berhenti saat sebuah ruangan telah berada di depanku. Ruangan yang terdapat sesosok manusia yang sedang terbaring lemah dengan oksigen yang menempel di hidungnya dan selang infus di tangan kirinya. Dia menoleh ke arahku saat beberapa detik yang lalu mengetahui keberadaanku di sini, dengan tubuhnya yang seakan tak bisa untuk diajak berkompromi, hingga kembali terjatuh.
Aku masuk ke ruangan itu dengan langkah yang sangat susah dan air mata yang terus mengalir. Tak bisa kutahan lagi, aku tak tega melihatnya sedang terbaring lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Nadia?" Pria itu berseru lirih, aku mendekatinya dan duduk di samping tempat tidur.
"Apa ini? Kenapa kamu berbohong?"
"Kenapa kamu di sini?"
"Jawab aku, Lang!"
Galang langsung menangis sejadi-jadinya. Aku langsung menghambur memeluknya dengan penuh rasa khawatir, mataku mulai panas, hingga akhirnya air mata ini tak lagi bisa untuk dibendung.
"Nad, aku tak pantas untuk kamu, lihatlah tubuhku sekarang. Bahkan untuk bangkit saja tak bisa, lalu bagaiman aku bisa menjagamu?"
"Aku tak perduli bagaimana pun keadaanmu sekarang, aku cinta sama kamu, Galang."
Bola mata pria itu berkaca-kaca, ada rasa cemas yang ada di hatinya, entah apa? Tapi bagiku itu tak penting, yang aku inginkan sekarang hanya Galang, sudah cukup sandiwara ini.
"Aku juga sayang sama kamu, Nad. Nggak ada gadis mana pun yang aku sayangi saat ini kecuali kamu, hanya kamu, dan kamu."
__ADS_1
"Iya, bagaimana pun keadaanmu sekarang aku tak akan berubah, karna kamu adalah jantung hatiku."
*****
Udara kian mulai menusuk, saat senja telah hadir di bumi menampakkan sinar kemerah-merahan atau yang disebut dengan sunset. Aku tengah berada di taman bersama seorang pria yang selalu aku cintai, Galang Alvino. Kini dia menatapku lekat saat tiba-tiba matanya mulai meredup.
"Nadia, aku mencintaimu." Dia berkata berbisik di telingaku.
Aku mengangguk pelan. "Galang, aku juga, aku juga cinta sama kamu."
Dia juga mengangguk pelan, dengan tatapan memandang lurus ke depan. Hingga sang raja malam mulai menyapa, bersama bulan dan bintang yang berkedip ke arah kami. Aku hanya berharap semoga aku bisa bersama dengannya, hingga pada akhirnya nanti akan berpisah.
SELESAI

Kuntha Nur Hayati lahir di Pacitan pada tanggal 29 Oktober 2001. Sekarang menempuh pendidikan SMA kelas XI. Ibunya bernama Etik Samsiah dan ayahnya bernama Panimin. Berawal dari suka membaca novel dan akhirnya menyukai kegiatan menulis, sejak kelas VII SMP.
__ADS_1
"Alen... bangun sayang... kamu kan sudah janji sama ibu kamu mau ikut bibi ke Bali..." suara lembut ibu membangunkanku