PANGERAN ALAM BAWAH SADAR

PANGERAN ALAM BAWAH SADAR
eps.23


__ADS_3

"Bener-bener nggak masuk akal!" Katanya sambil marah-marah di sepanjang jalan pulang sekolah menuju rumah. Keputusan yang konyol sepanjang jalan hidupnya sebagai siswa teladan (telat datang pulang duluan), menurutnya. Dia terus memikirkan hal itu sampai tiba di rumah, hingga di dalam hati seakan ia berdialog sendiri.


Padahal kalo dipikir-pikir, sebesar apa sih kesalahanku? Masih tergolong dibatas kewajaran kan? Bagiku apa yang kulakukan itu adalah hal yang bener. Ngebela kaum yang lemah, tertindas dan teraniaya. Orang-orang yang seharusnya dan sepantasnya mendapat uluran tangan dewa dariku. Soalnya aku tahu, selain termasuk golongan kurang mampu juga bernyali tikus, tidak punya keberanian maupun keterampilan apa-apa, mereka hanya pelajar lemah yang tidak berdaya, dan kurasa wajib menolong, karena menyangkut masa depannya. Ya, tapi jujur aja ya aku juga termasuk dalam kelompok mereka, bedanya aku punya nyali dan mental baja, bukan orang yang mudah ditindas.


Mencuri daftar nilai dan membuangnya ke tong sampah pelajaran paling mengerikan bagai monster yang siap merebus para pelajar yang sulit memahami hitung-hitungan. Mungkin hanya aku yang berani melakukannya di kelas ini atau bahkan satu sekolah. Itu adalah rekor tersendiri bagiku, karena aku yakin sampai lima tahun kedepan pun belum ada yang beran mengalahkannya.


Ya memang selain sebagai solidaritas membantu sesama, itu juga dalam rangka penyelamatan diriku sendiri. Siapa coba yang nggak pusing, tiap latihan atau ulangan nilaiku yang tidak pernah lebih dari tiga. Itupun kalau aku berhasil melirik kertas jawaban bintang kelas yang duduk berseberangan bangku denganku.


Tapi tenang, yang lemah itung-itungan di kelas ini bukan cuma aku seorang. Ada banyak teman lainnya yang dapat nilai lebih parah dariku. Sebenernya, kelompok lemah yang termasuk golongan tidak mampu itung-itungan hampir tiga perempat dari jumlah murid di kelas ini. Jadi kalau jumlah muridnya empat puluh orang, berarti yang **** matematika sekitar tiga puluh orang. Hehehe...


Makanya, setiap ulangan tiba, bukan cuma aku yang susah tapi satu kelas pun turut gelisah. Sebab semuanya tahu gimana cara perhitungan nilai di rapor. Semua nilai ulangan ama latihan selama ini ditotal, terus dibagi berapa kali ulangannya. Pokoknya kalau aku itung-itung sendiri, niai rapor jadiku kemungkinan dua koma enam, sebab beberapa kali ulangan dapet nol besar banget sampai guruku biasanya bilang, "Enak nanti kamu pulang makan pakai lauk telur dadar!"


Dua koma enam, pasti makku miris mendengarnya. Anaknya yang nuntut ilmu tiap hari, setiap pagi berangkat sekolah dibuatin sarapan dikasih sangu, diantar jemput, tiap bulan bayar SPP, cuma dapet nilai segitu. Aku tidak bisa membayangkan gimana malunya makku itu, apalagi kalau ngambil rapor, makku selalu duduk di bagian paling depan. Ya mending sih, yang gawatnya lagi, dua koma enam masih ditambah lagi sama nilai ulangan umum terus dibagi dua. Untung kalau ulangannya dapet nilai tinggi, kalau dapet nol lagi? Abis deh, dua koma enam dibagi dua jadi satu koma tiga. Apa? Nilai matematikaku di rapor satu koma tiga?


Makku pasti histeris teriak-teriak.


"Gusti, nduk nduk mbok mending kowe ngarit kono ae ning sawah. Sekolah dhuwur-duwur gak pinter-pinter. Pinter yo makmu iki kon ngitung opo ae aku iso, kamu cuma ngitung pakai kertas aja ora iso!"


Ya mungkin kurang lebih omelannya kayak gitu, seperti yang dialami oleh tetanggaku karena mengalami hal nasib yang sama. Tapi setelah kupikir-pikir semua ini tidak seratus persen murni kesalahankku. Ada faktor lain yang membelakanginya yaitu guru tua yang udah keriput, nafasnya tersengal. Guru matematikaku sudah tua, tiap ngajar paling suka ngerock sendiri dan dengan nada lagu yang sama, minor ama mayor gak beda. Selalu tinggi disertai rintik-rintik bau jengkol yang membasahi mukaku. Saking seringnya ngerock sampai-sampai aku hafal banget tuh lagu, entah dari mana dia dapet lirik itu.


"Murid malas! Apa kamu nggak pernah belajar apa gimana? Ulangan nilai nol terus, kalu guru nerangin gak diperhatikan! Gimana mau dapet nilai bagus kalau belajar aja gak serius? Mau jadi apa kamu?!"


Menurutku itu lagu cuma reff doang, kalau denger syair yang super dahsyat itu kepalaku pasti langsung pusing. Kayaknya itu guru waktu sekolah nggak belajar seni musik deh, soalnya kalau dia belajar, pasti dia juga ngerti ngatur alur nadanya, kapan harus tinggi kapan harus rendah, nggak semuanya tinggi.


Jadilah pas hari itu rencana besarku dimulai. Itupun rencana dengan banyak dukungan dari berbagai penjuru pihak. Bukan cuma dari halaqoh lemah otak di kelasku, tapi kelas yang lainnya juga sama. Mungkin di sekolah lain juga begitu.


Matematika selalu bikin pusing para penuntut ilmu. Dan yang kepilih buat tugas besarku ini ada teman-teman yang biasa nongkrong di warung pojok sekolah ini. Logikanya, kalau daftar nilai milik guru itu aku buang, maka catatan semua murid selama ini akan hilang, kalau pegawai sipil bilang ini namanya pemutihan. Awalnya berjalan mulus, buku absensi itu berhasil kucuri dan kubuang ke kali dekat kebun belakang sekolah ini. Dan aku yakin sampai kiamat pun kertasnya gak bakaan ketemu, karena udah kusobek-sobek sampai menjadi serpihan kecil yang jumlahnya lupa gak aku itung. Yang pasti banyak.

__ADS_1


Ya aku pikir aman-aman aja, ternyata hari sabtu aku dipanggil ke ruang guru, di sana aku dilempari ocehan dari berbagai radio yang akhirnya bermuara ke gelindang telingaku. Dari mulai cuma pertanyaan biasa sampai luar biasa. Dari ocehan kayak geledek dan pada akhirnya aku diskors selama satu minggu.


Teman-temanku yang ikut dalam misi tim "The koplak" itu harus bertanggung jawab juga. Sebab mereka termasuk orang yang terlibat langsung dalam pencurian itu. Mereka memang tidak turun langsung dalam pencurian buku nilai, tapi hanya mengawasi keamanan waktu aku menyelinap ke kantor guru saat para guru itu istirahat keluar.


Tapi aku bukanlah tipe orang yang suka ngumpet di belakang kalau ada masalah. Dengan sifat kesatria, di hadapan para hakim dan jaksa guru guru itu aku mengaku dengan tegas. Aku jelaskan proses kejadiannya yang apa adanya itu, termasuk juga alasanku kenapa mencuri daftar nilai tersebut. Dan aku juga menyatakan bahwa tidak ada orang lain yang ikut serta dalam misi konyol ini, hanya aku seorang yang menjadi pelakunya.


Tapi kalau dipikir-pikir, aku bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, aku jadi tahu gimana sikap orang-orang di sekitarku. Kalau udah begini, jangankan temanku yang ikut misi kemarin, teman satu kelas bahkan tetangga kelas yang juga ikut merasakan berkah dari hilangnya daftar nilai mereka tidak ada yang peduli. Mereka seolah tutup mata dan telinga bahkan hidung juga. Mereka tidak tahu dan tidak merasakan kejadian yang menimpaku.


Yah! Mungkin aku harus berbesar hati dan jiwa. Ada kalanya pemeran utama harus mengalami masa suram dalam pejalanan hidupnya, ini pelajaran yang harus aku terima untuk menyongsong masa depan yang lebih suram. Yam mau gimana lagi coba kalau jalanku buat nuntut ilmu aja malah distop begini.


Aku keluar meninggalkan sekolah dengan kepala tegak. Aku tidak mau tertunduk lemah dan sedih, sebab aku tahu dari jendela kelas, murid-murid yang termasuk golongan otak lemah itu sedang mengiringi kelas masing-masing, berdiri memadati pinggiran lapangan, dan aku lewat di depan mereka. Aku menarik napas dan menahannya, dada lebih kubusungkan lagi ke depan. Gaya jalanku juga kubuat sewibawa mungkin. Mata lurus ke depan, rahang kedua pipi melembung dan mulut sedikt gue manyunin. Dari arah samping kiriku ada suara, "Kepada... Pahlawan revolusioner Sekolah kita... Hormaaaattttt.... grakk!!"


Aku tahu siapa yang memberi komando super konyol itu, merekalah yang ikut bergabung dalam pencurian kemarin itu, serempak mereka memberi aba-aba pada anak-anak yang berbaris mengiringi kepergianku siang itu. Mereka akan mengingat siapa pahlawan nasional di karier untuk masa depan mereka nantinya. Siapa pahlawan yang telah menyelamatkan nilai rapor mereka dari ocehan bapak dan ibu mereka. Siapa yang berperan dalam kenaikan kelas Besok.


Hanya satu orang yang akan mereka ingat yaitu AKU.


Yang jadi permasalahanku saat ini adalah bagaimana cara ngomong sama makku, perempuan yang udah melahirkan, membesarkanku dengan kedua tangannya. Bagaimana reaksinya kalau mendengar aku diskors? Dan pastinya juga curiga kalau aku tidak berangkat sekolah tiap paginya. Kan, ini bukan waktu libur panjang, pasti aku akan diberondong pertanyaan kayak gerbong kereta di rel sana campur dengan dakwahnya itu.


Aslinya aku pun tidak betah di rumah karena setiap hari setiap waktu setiap detik harus selalu mendengar siraman qolbu dari seorang emakk di rumah ini. Setiap aku melakukan hal kesalahan kecil saja, gagang sapunya pasti ikut menyertai dan menjadi iringan musik dengan suara khas radio rusak yang dimilikinya. Kayaknya aku harus cari jalan buat menghabiskan waktu satu mingguku. Ya, ini wajib kalau aku mau aman dari makku itu. Itu mungkin yang harus aku lakukan, refreshing buat mendinginkan otakku yang ganas karena lingkungan belakangan ini. Hmmm, tempat mana yang cocok ya? Beijing, Belanda, Oxford atau...?


Tapi dari beberapa pilihan yang ada, mungkin gak ada yang cocok buat aku. Maklum, kan pelajar. Ahh... jadi malu sendiri. Udah tahu masih pelajar, sombong-sombong pakai mau ke luar negeri segala. Jangankan ke luar negeri, berangkat sekolah yang jaraknya 10 KM aja aku jalan kaki karena gak ada ongkos buat bayar angkot. Apalagi udah dua minggu ini aku gak dikasih uang jajan gara-gara merebut mainan anak tetangga yang masih umur lima tahun. Konyol sih memang kedengarannya, tapi itu hanya bagi orang yang tidak tahu permasalahan aslinya termasuk makku sendiri. Sebenarnya bukan aku yang merebut tetapi anak kecil itu sendiri yang mengasih. Eh, gak tahu kenapa tiba-tiba anak itu nangis sampai termehek-mehek karena kakinya keinjek sama kakiku pasca dia ngasih mainan itu ke aku. Nah, pas ada orang lewat melihat tragedy itu, disangkanya aku merebut punya anak kecil itu.


Begitu sampai di jalan raya, aku melihat ada kerumunan orang kayak lagi ngantri sembako. Tanpa berpikir panjangpun aku langsung ikut nimbrung di sela-sela mereka. Aku yang kecil ini seperti tidak dianggap oleh mereka. Setiap kali aku ingin mendekat selalu ditarik dan didorong oleh bapak-bapak penjual asongan. Keningku mengernyit, ketika melihat setitik noda di jalan, di pinggiran sepanjang halte ada orang-orang menggotong seorang lelaki memakai kaos hitam dengan rompi berwarna oren.


"Ada apa pak?" Tanyaku pada seorang pedagang asongan yang tadi menarikku, yang ternyata dia juga ikut menontonnya.


"Ada kacang, kwaci, permen ama minuman." Katanya yang tidak memahami pertanyaanku atau mungkin ia hanya bercanda.

__ADS_1


"Nasi bungkus ada apa gak?" Jawabku dengan nada kesal.


"Kalau itu ya di warteg lah," jawabnya sekali lagi.


Aku sadar memang pertanyaanku ini salah tapi kenapa malah kebablasan, aslinya aku yang linglung apa otak penjual ini yang kurang satu sendok.


"Pak, maksud saya itu ada apaan orang-orang ini pada berkumpul?" Aku menjelaskan.


"Oohhhh... ya itu ada kecelakaan tabrak lari. Tukang pos ditabrak mobil." Jawabnya sambil tersenyum simpul.


Ohhh jadi orang berkaos hitam berompi oren itu adalah tukang pos. Kasihan juga ya! Padahal tugasnya sangat mulia, menyampaikan pesan seseorang tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan kabar penting lainnya.


Aku mendekat ke tempat kejadian. Keadaannya cukup mengenaskan. Saat digotong kesana kemari kepalanya berdarah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hatiku miris melihatnya, aku jadi berfikir dan membayangkan kalau seandainya anak dan istrinya melihat pasti akan menangis meraung-raung seperti anak kecil. Sedari tadi orang itu hanya di kerubung saja tidak diapa-apakan.


Aku bertanya pada salah seorang dari mereka, "Ini kenapa tidak dipanggilkan ambulans saja atau nyegat mobil atau pick up yang lewat itu kan banyak?"


"Aduh dek, kita tuh nggak kenal sama orang ini, siapa keluarganya, dimana alamat rumahnya, KTP nya aja nggak ada?" Jawab seorang ibu paro baya.


"Alamat pos tempat dia bekerja?" Tanyaku meyakinkan.


"Itu dia, kertasnya udah berhamburan kemana-mana dan sudah tidak bisa terbaca lagi."


Mungkin Ibu-ibu itu kesal dengan pertanyaan dari seorang anak kecil seperti aku, ia langsung meninggalkan tempat itu dengan sepeda motor yang ia bawa.


Di negara ini bisa terbilang rasa solidaritas antar sesama masih terbilang di bawah kurang. Orang yang sudah jelas mau sekarat saja dibiarkan sampai ada orang yang berkewajiban yang mengurusinya. Alasannya pun banyak, misal seperti takut disangka sebagai tersangka, takut menanggung semua biaya pengobatan, takut jadi saksi di kantor polisi.


Semenjak kejadian itu hatiku tergugah untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan seperti bapak tadi, memang secara tidak sadar manusia itu tidak lepas dari yang namanya uang. Seandainya aku punya uang pasti aku akan langsung menolong bapak itu dengan uang yang aku punya. Coba lihat, aku hanyalah anak kecil ingusan yang baru melihat dunia ini kemarin sore. Sekolah gak pinter-pinter, malah sekarang kena SKORSING.

__ADS_1


Ya! Aku akan belajar lebih giat lagi, sekolah yang beneran, walaupun aku dari golongan tidak mampu tapi aku akan buktikan pada dunia bahwa otakku gak selemah yang mereka kira. Ya AKU PASTI BISA UNTUK SUKSES.


__ADS_2