Papa Untuk Putri

Papa Untuk Putri
Bab 23


__ADS_3

Sudah seminggu Wisnu hanya terbaring di tempat tidur. Kini ia menjadi lebih sensitif, cepat tersinggung dan marah. Padahal maksud Sha hanya ingin membantu, tapi Wisnu malah tersinggung. Tak jarang Sha kena omel suaminya itu.


Pagi itu Adrian ke rumah untuk mengantarkan beberapa file yang harus diperiksa oleh Wisnu.


tok


tok


tok


"Oh, silahkan masuk. langsung saja ke kamar ya." sapa Sha pada Adrian.


"Mas, ini ada Adrian" panggil Sha kepada Wisnu


"Oh, masuk.. kamu bawa laporan apa? bagaimana keadaan hotel sekarang?" tanya Wisnu


"Hotel baik-baik saja pak, aman semua. Bagaimana keadaan bapak?" tanya Adrian


"Ya begini lah nasib orang cacat. Hanya bisa diam dan menjadi beban istri" jawabnya


"Mohon maaf pak, bukankah dokter bilang bapak bisa terapi? mengapa tidak dicoba saja pak?" kata Adrian.


"Terapi? siapa yg menemani. Lihat istri ku itu, aktivitasnya sehari-hari seperti menyiksanya. Aku tidak mau menambah repot istriku." jawabnya pesimis.


"Ada saya pak, saya selalu siap untuk membantu bapak." Adrian menawarkan diri.


Pembicaraan mereka terdengar oleh Sha yang kebetulan mengantarkan minuman untuk Adrian.


"Ya mas, saran Adrian ada baiknya. Mas terapi saja ya. Supaya..." belum selesai Sha berbicara, Wisnu memotong ucapannya


"Supaya kamu tidak cape mengurus aku. Supaya kamu tidak malu punya suami cacat. gitu kan?" ucap Wisnu


DEEEGG


Hati Sha merasa teriris mendengar ucapan Wisnu itu. Air mata mulai menggenang dimatanya. Padahal bukan seperti itu maksud Sha.


"Mas, bukan begitu. aku tidak pernah merasa lelah.. Aku hanya ingin Mas sehat kembali seperti sedia kala. Mas jadi leluasa beraktivitas. Bisa bermain dengan anak-anak." jelas Sha yang kemudian pergi meninggalkan Wisnu dan Adrian.


"Maaf pak, ucapan bu Sha ada benarnya juga. Bapak masih muda. Lagi pula kan bapak tidak divonis lumpuh selamanya. Bapak masih bisa terapi. Biar saya yang temani bapak terapi jika ibu sibuk" Adrian ikut meyakinkan.


Wisnu hanya terdiam. Berpikir keras.


"ehem... bapak ga kangen olahraga malam sama ibu? hehehe ✌" canda Adrian


"Coba kamu hubungi dokter" titah Wisnu.


Adrian menelpon dokter. Beberapa menit kemudian...


"Jadwal terapi untuk Bapak besok lusa. Pukul 16. 00 pak. paginya saya ke hotel, lalu setelah jam makan siang saya langsung kesini menjemput bapak ya..." Jelas Adrian


Wisnu mengangguk.

__ADS_1


Malam harinya.. Seperti biasa, Sha sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan mengurus kedua anaknya. Sha pikir Wisnu telah tidur, padahal belum. Sha mengganti bajunya di depan suaminya. Wisnu menelan ludahnya sendiri melihat tubuh istrinya itu. Sudah lama mereka tidak melakukan kewajiban suami-istri, hampir sebulan lamanya semenjak Wisnu sakit.


"Ehem... "suara Wisnu berdehem


Sha tak memperdulikannya. Ia segera memakai pakaian tidurnya itu lalu berbaring di tempat tidur membelakangi suaminya itu. Sha kecewa dengan perkataan Wisnu siang tadi.


Wisnu ingin sekali memeluk istrinya, tapi apa daya tak bisa.


"Sayang, marah ya. Mas minta maaf, perkataan tadi menyakiti hatimu."


Sha tidak menjawab. Masih membelakangi Wisnu


"Mas sudah membuat jadwal terapi dengan dokter besok lusa. Adrian yang akan membantu Mas." jelas Wisnu


Sha membalikan badannya, kini mereka saling berhadapan.


"Ucapanmu memang begitu menyakiti hati ku. Tapi kamu suamiku, aku mengerti apa yang Mas rasakan sekarang. Terimakasih sudah mau berjuang untuk kesehatanmu. Anak-anak merindukanmu Mas.. ingin bermain bersama dengan Mas." kata Sha


"Iya sayang.. maaf selama ini Mas terlalu pasrah dengan keadaan. Mas suka marah-marah sama kamu. Terimakasih sudah sabar menghadapiku sayang." ucap Wisnu..


"Apa hanya anak-anak yang merindukanku? ibunya anak-anak bagaimana?" tanya Wisnu seraya menggoda Sha.


"Menurut Mas bagaimana? Mas tau kok jawabannya" Sha tersipu malu.


"Sayang sini.. bobonya jangan jauh-jauh. Aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk mu." pinta Wisnu dengan manjanya.


Sha menggeser badannya.. kini posisi mereka sangat berdekatan. Sha memeluk Wisnu.


Sha tertawa geli.. "Mas.. ih manja banget deh ah"


"Ga pa pa manjanya sama istri sendiri ini.." jawab Wisnu sambil melanjutkan aktivitas bayi gedenya.


😁😁😁


Sha tak henti tertawa... "Mas, lucu banget ish. Kalah baby Ray sama Putri ini sih.." Sha memandangi suaminya itu... entah lah, dia sangat-sangat suka dengan tingkah suaminya itu.


Wisnu tak menjawab apa-apa.. Ia sibuk dengan aktivitas bayi gedenya, hingga akhirnya mereka berdua terlelap. Rindu mereka telah menggunung.


🌻🌻🌻


Hari terapi pun tiba. Wisnu semangat menjalaninya, ia tak sabar menanti Adrian.


📱📱


"Ad... kamu dimana?"


"Saya masih di jalan Pak, sebentar lagi sampai ke rumah Bapak" Jawab Adrian


"Oh baiklah.. saya pikir kamu lupa, hati-hati di jalan" ucap Wisnu


"gimana sayang, apa kata Adrian?" tanya Sha

__ADS_1


"Adrian...... nah itu suara mobilnya" jawab Wisnu


"Mau ikut... Putri nanti bantu papa biar cepet sembuh" pinta putri


"anak Papa sayang tunggu di rumah ya sama Ibu, anak kecil ga boleh ikut ke rumah sakit disana banyak virus." jawab Wisnu


"Putri berdoa aja dari rumah, supaya terapi Papa lancar ya.." bujuk Sha.


Putri mengangguk. Wisnu tersenyum melihat Putri. "Mereka begitu menyayangiku, aku harus kuat dan semngat menjalani terapi ini" gumam Wisnu dalam hati.


Wisnu dan Adrian pun berangkat menuju rumah sakit. Wisnu diminta menjalani terapi selama tiga bulan. Selama tiga bulan itulah, kesetiaan Adrian terlihat oleh Wisnu.


"Ad, terimakasih sudah banyak membantu saya" ucap Wisnu


"Sama-sama pak. Jangan sungkan, bapak sudah seperti keluarga saya sendiri." jawab Wisnu


"Apa kamu sudah punya calon pendamping? mau sampai kapan jomblo?" tanya Wisnu


"Belum Pak, saya menunggu jodoh dari tuhan."


"Nunggu doang, udah usaha nyari belum?" canda Wisnu


" hahaha bisa aja... mentang-mentang udah nikah.." tawa Adrian


" Ga tau aja kamu... olah raga malam berdua itu seru.. belum lagi berperan jadi bayi gede, enak tau" Wisnu tertawa


"cie bapak ni... bucinnya berlanjut teruuuus... " ejek Adrian


"serius, cepetan deh cobain... " Wisnu meyakinkan Adrian.


Perjalananpun tak terasa, hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dokter sudah memeriksa keadaannya... lalu dokter meminta seorang perawat untuk membantu Wisnu.


"Maaf dok, saya maunya dibantu asisten saya saja. " ucap Wisnu


"Oh baik pak.." jawab dokter


Wisnu tidak mau dibantu perawat karena memang sikapnya begitu. Dia begitu mencintai Sha, sehingga ia tak mau membuka celah sedikitpun untuk wanita lain masuk.


ini kegeeran bukan sih? kan belum tentu perawat itu suka padanya.


Adrian menggantikan tugas perawat itu membantu Wisnu terapi. Disebrang sana ada sepasang mata memperhatikan Wisnu dan Adrian. Perawat itu.. keheranan, baru kali ini ada pasien seperti Wisnu.


"Apakah mereka pasangan...." gumam perawat itu sambil menggerakan bahunya.


**Bersambung dulu ya teman-teman..


jika ada kekurangan silahkan komentar dan beri saran


Jangan lupa like dan favorite juga ya..


Hatur nuhun 🙏**

__ADS_1


__ADS_2