
🌻🌻🌻
Seperti biasa Sha melakukan kegiatan mengajar di sekolah. Hari ini semua guru pembimbing diberi arahan oleh Kepala sekolah mengenai jadwal PKL siswa yang akan segera dilaksanakan.
Sedangkan nun jauh disana.. (hihihi kesannya jauh banget ya... padahal masih satu kota thor..)
Wisnu membaca email dari pihak sekolah yang mengonfirmasi tentang jadwal para siswa yang akan magang di Hotel yang ia pimpin.
"Adrian tolong masuk ke ruangan saya" panggil Wisnu kepada asistennya
"Baik pak" jawab Adrian sambil mempercepat langkah ke ruangan Wisnu.
"Adrian, Lusa kita akan kedatangan siswa yang akan magang di Hotel ini untuk beberapa bulan kedepan. tolong kamu persiapkan segala kebutuhan mereka, peraturan-peraturan dan saya mau mereka diberi pelatihan dan didampingi dulu oleh senior yang ada disini." tegas Wisnu
"Baik pak, akan saya siapkan" jawabnya..
(guys... PKL nya kita ganti magang aja ya... ) 🤭🤭
🌻🌻🌻
Hari pun berganti.. dan waktupun berlalu. sampailah pada hari yang ditunggu. Sha mendampingi siswa-siswanya pergi ke Hotel untuk pelaksanaan magang.
"Anak-anak, agar nyaman dan aman, kita berangkat sama-sama ya. Ibu sudah pesan ****car" ucap Sha
"Baik bu" seru anak-anak..
Merekapun berangkat dan menempuh perjalan kurang lebih sekitar 2 jam. Di perjalanan Sha mengobrol santai dengan anak-anak muridnya itu sambil memberikan wejangan. Bagi Sha, murid-muridnya sama seperti anak sendiri, ia perhatikan, ia beri ilmu, ia tegur jika salah, dan ia khawatirkan. Selama menjadi pembimbing, Sha hanya diperbolehkan 3x mengunjungi mereka. Yang pertama mengantarkan (yaitu saat ini), kedua dipertengahan sebelum ujian praktik, dan yang ketiga ketika mereka ujian. Karena yang akan menjadi penguji dan memberikan nilai adalah pihak hotel dan guru pembimbing.
Sesampainya di Hotel. Mereka menunggu di Lobi sambil beristirahat.
tok... tok... tok...
"Pak Wisnu, siswa yang akan magang sudah sampai, sekarang ada di Lobi. " lapor Adrian
"Oh baik.. kamu tangani saja, apakah ruangan untuk pengenalan awal sudah disiapkan? oia berapa jumlah mereka?" tanya Wisnu
" Semuanya sudah siap pak. Yang datang enam siswa dan satu ibu guru pendamping pak. " jawab Adrian
"Ada ibu gurunya juga? kalau begitu persilahkan mereka ke ruangan terlebih dahulu, nanti saya menyusul." jawab Wisnu dengan semangat.
"Jikalau bapak sedang sibuk, tidak apa-apa biar saya yang tangani semua pak" ucap Adrian karena tadi dia melihat ekspresi bos nya yang terlihat malas.
"Tidak Adrian, saya akan ikut menyambut mereka" tegas Wisnu.
Adrian merasa bingung mengapa Bosnya tiba-tiba berubah pikiran.
__ADS_1
Sha dan muridnya sudah menunggu di ruangan, tak lama kemudian datanglah sesosok pria tinggi nan tampan. Wisnu menyapa dan memperkenalkan diri.
"Selamat datang di Hotel Tepian.. Saya Wisnu Angga Pratama pemegang saham terbesar di Hotel ini." ucapnya dengan nada tinggi dan sedikit sombong.
Sha yang mendengarkan itu hanya senyum tipis. Ia masih mengingat hari pertama kali bertemu Wisnu yang sempat membuatnya kesal.
Melihat ekspresi Sha yang biasa saja, Wisnu bergumam dalam hatinya " Bu guru itu ko biasa saja, tak terlihat kagum.. atau kaget atau apalah"
Terbersitlah oleh Wisnu untuk melakukan tour Hotel, dengan maksud agar Sha kagum kepadanya. Tapi apa yang ia rencanakan tak sesuai dengan yang ia harapkan. Ekspresi Sha biasa saja sekalipun sudah diajak berkeliling melihat kemegahan Hotel itu.
Baru pertama kali ia melihat seorang wanita yang tak begitu antusias dengan kekayaan yang ia pamerkan. Wisnu pun mulai tertarik kepada Sha.
"Baik Pak Wisnu, terimakasih untuk sambutannya serta jamuannya, kalau begitu saya titipkan siswa-siswa saya disini untuk menimba ilmu di Hotel yang bapak pimpin. Saya mohon undur diri ya pak karena tugas saya untuk hari ini sudah selesai." ucap Sha kepada Wisnu
Wisnu pun kaget mendengar ucapan dari Sha. Ia ingin lebih lama berada bersama Sha, tapi ia bingung harus bagaimana, karena Wisnu termasuk kategori pria yang jual mahal. 🤭🤭
"Maaf bu guru... jika siswa ibu ada masalah atau lainnya bagaimana? pihak kami harus menghubungi siapa?" ucap Wisnu beralasan.
cie... apa sih Wisnu... modus apa itu... 😁😁
" Oh iya pak Wisnu atau pihak Hotel bisa menghubungi saya.. ini kartu nama saya." jawab Sha sambil memberikan kartu namanya pada Wisnu.
Wisnu tersenyum.. Dia bangga bisa mendapatkan nomor ponsel Sha dengan modus yang ia buat.
30 menit lamanya Sha menunggu, tetapi tidak ada g*** car. Ia mulai panik dan mondar-mandir di depan Hotel. "aduuh... ko ga ada sih.. perjalan menuju rumah jauh, Putri pasti ngambek deh kalau aku terlambat pulang" ucap Sha.
Ternyata diam- diam Wisnu memperhatikan Sha. Tiba-tiba munculah ide untuk mengantarkan Sha pulang, dengan alasan ia pun akan pulang. padahal sebenarnya ia masih ada pekerjaan.
"Adrian, tolong tangani pekerjaan saya. Saya ada keperluan jadi harus pulang cepat". titah Wisnu
"Baik Pak"
Wisnu meninggalkan ruangannya dan bergegas menghampiri Sha.
"Ibu guru, masih disini?" tanya Wisnu
"oh iya Pak, saya sedang memesan taksi online, tapi belum ada juga." jawab Sha yang sedari tadi menatap layar ponselnya.
"Kebetulan saya ada urusan ke toko Furniture milik saya di Kota, jika kita searah, ibu bisa ikut dengan saya." jawab Wisnu dengan nada sombong sambil pamer kekayaan lagi.
Sha tidak punya pilihan lain karena baginya saat ini adalah cepat pulang, supaya Tuan Putrinya tidak menunggu lama.
"Baik pak, jika Bapak tidak Keberatan, saya ikut."
Wisnu tersenyum bangga.. ia pun mempersilahkan Sha untuk naik ke mobilnya.
__ADS_1
Hampir disetengah perjalanan mereka membeku. tak ada sepatah katapun yang terucap. Sesekali Wisnu melirik ke arah Sha yang duduk disampingnya. Tapi Sha sibuk melihat pemandangan di luar.
Ponsel Sha berdering, memecahkan keheningan diantara mereka.
"Haloo ibu... aku jatuh, kakiku terluka, ibu belikan perban yang ada princessnya ya..." ucap Putri sambil menangis
"Iya sayang, jatuh dimana? nanti ibu belikan di minimarket ya, sekarang ibu masih dijalan, Putri kuat ya, jangan nangis lagi ya, tunggu ibu."
"iya... jangan lama-lama ya ibu." jawab Putri lalu menutup telponnya.
DEEG ... dada Wisnu terhentak mendengar percakapan Sha tadi. Ia mulai tak karuan. Kaget ternyata bu guru ini sudah memiliki anak. Ia pun mulai kesal, seperti hilang harap.
Sha terlihat sibuk melirik kanan-kiri jalan. mencari mini market atau apotik untuk membeli plester luka. Putri menyebut plester itu perban. karena Putri masih kesulitan melafalkan beberapa kata.
"Maaf bu Guru, anda mencari apa?" tanya Wisnu
"Panggil saja saya Sha, Pak Wisnu.. saya kurang begitu suka dipanggil bu guru. saya mencari mini market, ada yg mau saya beli." jawab Sha..
"oh oke ibu Sha, nanti kalau ada mini market kita berhenti ya" ucap Wisnu.
Sha hanya menganggukan kepalanya.
Mereka pun berhenti di sebuah mini market. Sha turun dan masuk ke minimarket dan Wisnu menunggu di mobil. Tak perlu waktu lama, Sha pun kembali ke mobil.
"Sudah bu Sha?" tanya Wisnu
"Sudah pak, saya hanya membeli plester untuk Putri, mohon maaf jadi merepotkan." ucap Sha sambil menatap Wisnu
"Tidak apa-apa" Wisnu tersenyum. "Putri ibu terluka?" tanyanya..
"Iya pak, jatuh katanya tadi..."jawab Sha.
"Sudah lama ibu mengajar? jika ibu mengajar Putri ibu dengan pengasuh?" tiba-tiba saja Wisnu bertanya.
"sudah delapan tahun pak.. Putri saya titip ke orang tua saya"
"Suami ibu bekerja di bidang apa?" pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Wisnu.
Sha hanya menoleh tanpa menjawab sepatah katapun.
Wisnu terheran-heran, kenapa pertanyaannya tidak dijawab oleh Sha, tapi ia yakin kalau Sha mendengar pertanyaannya itu.
"Pak Wisnu, saya turun di depan Bank *** itu ya, kebetulan rumah saya sudah dekat. Terimakasih ya pak untuk hari ini" ucap Sha sambil tersenyum.
"oh baik bu" jawab Wisnu. Jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat senyum Sha kepadanya....
__ADS_1