
🌻🌻🌻
Masih di rumah sakit, di ruang terapi.
"Suster.. tolong bawakan handuk dan creamnya" panggil dokter
"Oh baik dok" jawab suster
"Mohon maaf pak, ini handuk dan creamnya" Suster itu memberikannya pada Adrian.
"Panggil saja Adrian, saya belum setua itu dan belum menikah" candanya
Perawat itu tersenyum.
"Ad, berapa lama lagi terapi ini? saya lelah" tanya Wisnu
"Kalau di jadwal, 30 menit lagi pak" jawab Adrian
" oke kalau gitu" Jawab Wisnu
****
Sudah hampir tiga bulan Wisnu terapi dan hasilnya baik. Kini Wisnu dapat berjalan meski dengan bantuan tongkat. Hari ini terapi untuk yang terakhir kali. Adrian tiba-tiba harus ke toilet .. ia lupa meminta ijin pada Wisnu. Diruang terapi, Wisnu memulai seperti biasa.
"Ad... Adrian..." ia memanggil asistennya itu tapi tak kunjung datang, malah perawat yang datang.
"mohon maaf pak, ada yang bisa saya bantu" perawat itu menghampiri
"kok kamu yang datang? tadi saya memanggil asisten saya." kata Wisnu dengan nada lumayan tinggi.
perawat itu terkaget-kaget mendengar suara Wisnu. "maaaaf pak.. asisten bapak tidak ada disna.. jadi saya yang masuk" jawab perawat dengan nada ketakutan.
"Panggilkan asisten saya!" masih dengan nada tinggi
Perawat itu berjalan keluar ruangan mencari asisten itu dengan wajah pucatnya.
Bruukkk...
Adrian bertabrakan dengan perawat.
"aduh... Mas, eh Pak.. anda dicari oleh atasan.." ucap perawat
Adrian memandangi wajah sang perawat, sekilas seperti ketakutan. "Suster kenapa? apa bos saya marah- marah ?"
Perawat itu mengangguk. Adrian menghela nafas, ia tahu betul sifat dan sikap bosnya itu.
Adrian meminta maaf pada perawat itu dan mengulurkan tangannya.
"Saya Adrian.. maaf ya atas sikap bos saya"
Perawat itu menyambut tangan Adrian "saya Rini pak. Maaf, bapak sudah ditunggu"
"Panggil saja Adrian.. ini kartu nama saya" ucap Adrian
__ADS_1
Mereka pergi menuju ruang terapi. Wisnu sudah memasang wajah kesal. Adrian yang melihat itu langsung menghampiri Wisnu untuk meminta maaf, sedangkan Rini hanya tertunduk.
Terapi Wisnu berjalan dengan baik. Sekarang Wisnu dapat berjalan seperti sedia kala tanpa harus dibantu tongkat lagi. Hanya saja dia check up berkala.
Disepanjang jalan menuju rumah Wisnu, Adrian terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa? Ada masalah dengan hasil terapi saya?" tanya Wisnu.
"Ngga pak.." Jawab Adrian Singkat
"Lalu kenapa?"
"Kedepannya saya ga ketemu lagi sama Rini" jawab Adrian keceplosan.
"Rini? siapa?" Wisnu bingung
"oh itu pak.. Perawat di tempat terapi" jawab Adrian sambil tersenyum
"oh... hahahahaha ada yang mulai jatuh cinta. ehem...Ada yang harus berterimakasih ga ya sama saya???" canda Wisnu
"Terimakasih kenapa pak?" Adrian bingungan
"Loh kan karena nemenin saya terapi, kamu jadi ketemu jodoh" jawab Wsinu sambil tersenyum.
"Tapi pak.. sekarang kan bingung mau ketemu lagi gimana.. nomor hp nya aja saya ga tau, masa iya saya harus jadi pasien dulu disana" curhat Adrian
"Huuusss... ga harus jadi pasien juga kali Ad. Percaya deh ya, kalau jodoh pasti jalannya lancar." jawab Wisnu sambil menepuk bahu Adrian.
...****************...
📲📲
"Nomor siapa ini?" gumam Adrian
"Halo... dengan pak Adrian" suara di sebrang sana
"Iya betul.. ini siapa? ada perlu apa?" tanya Adrian.
"Saya Rini pak, perawat dari rumah sakit *******, mau konfirmasi kalau ada beberapa barang Pak Wisnu tertinggal di ruang terapi. Mau kami paketkan atau diambil?" jelas Rini
Adrian senyum-senyum sendiri. "Oh iya.. nanti saya yang ambil. Kira-kira kamu ada waktunya kapan?"tanya Adrian
"Ko saya pak?" tanya Rini heran
"Saya titip di kamu saja, trus nanti kita ketemu dimana?" tanya Adrian
"oh seperti itu, baik pak. Bagaimana kalau sabtu sore. Kebetulan tidak ada jadwal terapi." jawab Rini
"oke.. di Lego Resto ya jam 17.00" pinta Adrian.
🌻🌻🌻
Sore itu di Lego Resto
__ADS_1
Rini sudah sampai lebih dulu dibanding Adrian. Ia memesan segelas jus jambu, sambil sesekali memperhatikan ponselnya.
"Maaf ya sudah membuatmu menunggu" sapa Adrian yang mengagetkan Rini.
"Oh ga papa pak, memang saya yang datengnya lebih awal, sekalian ada urusan di rumah sakit tadi." Jawab Rini
" Masih kaku aja sih.. panggil saya Adrian. Saya kan bukan atasan kamu, jadi tidak usah memanggil bapak." Adrian mencaikan suasana. "Kita pesan makan dulu ya... saya lapar"
Merekapun memesan makanan dan memakannya dengan santai hanya sesekali Rini terlihat gelisah melihat ke semua sudut ruangan resto itu.
"Ada apa Rin?" tanya Adrian
"Em.. itu.. eh tapi ga ada apa-apa deh pak" jawab Rini bingung
" Takut ketahuan sama pacar kamu ya?" tanya Adrian
"Saya ga punya pacar kok, cuma.." Rini masih ragu
"Cuma apa? jelasin aja... jangan buat suasana jadi kaku." desak Adrian
"Saya takut ada yang laporan ke Bapak, kalau saya makan disini dengan laki-laki berduaan saja." jelas Rini
"Bapak kamu galak? Biar nanti saya bicara baik-baik, sekalian saya melamar kamu" jawab Adrian dengan santainya
Rini terkejut mendengar ucapan Adrian. Baru juga kenal, itupun hanya sekilas di tempat terapi. "ini orang aneh atau PHP sih... bilang melamar kaya anak kecil beli es krim di warung" gumamnya dalam hati.
"Saya serius, terapi Pak Wisnu membawa berkah, saya bisa ketemu kamu, dan saya suka sama kamu." jelas Adrian
"Tapi.. sa... " belum selesai Rini menjawab.
"Kamu belum punya pacar, saya serius sama kamu. Saya mau ketemu Bapak kamu. Kita jalani dulu sambil menunggu kamu cinta sama aku." ucap Adrian dengan PeDe nya
"Bukan itu.. sebenarnya saya mau dijodohkan oleh Bapak dengan anak temannya. Perjodohan ini ada karena Bapak punya hutang sama temannya, karena toko kami sempat kebakaran dan kami mengalami kebangkrutan. Sebagai gantinya saya akan dijodohkan dengan anak teman Bapak itu." Rini menjelaskan semuanya.
Adrian kaget. " kamu bohong kan? itu cuma alasan kamu buat menghindar dari peraaan yang aku punya!"
"Serius. Aku belum mengiyakan, tapi sepertinya aku harus pasrah. Selama ini aku mengambil kerja tambaha di bagian terapi supaya bisa membantu Bapak untuk membayar hutangnya. tapi... masih kurang juga" Rini menjelaskan dengan ekspresi sedih.
"Trus kamu mau diam dan terima begitu saja? atau memang kamu memang suka dengan laki-laki yang mau dijodohkan denganmu itu?" tanya Adrian diiringi dengan nada yang mulai meninggi
"Mau gimana lagi.. mungkin ini bentuk balas budi aku sama orang tua. Aku sudah berusaha tapi tetap kurang. Yang benar saja aku suka sama laki-laki yang kerjaannya cuma ngumpul sama genk motornya, menghambur-hamburkan uang. Toh yang aku tahu, dia juga tidak suka padaku hanya saja orangtuanya memaksa." cerocos Rini
"Berapa hutangnya? maaf jangan marah, hanya sekedar ingin tahu.. siapa tahu saya bisa bantu." tanya Adrian
"35 juta lagi Kak.. buat keluarga kami itu lumayan ya, soalnya kami memulai semuanya nari nol lagi setelah tragedi kebakaran, belum lagi adik aku masih kuliah jadi banyak biaya." jelas Rini. "Oia Kak, ini barang-barang yang tertinggal.. Saya pamit duluan ya Kak.." Rini pamit pergi
Adrian masih terdiam. Ia kaget mendengar sapaan "Kak" dari Rini. sampai ia tak sadar kalau Rini sudah pergi meninggalkannya.
**Maaf ya lama updatenya... Author lagi kurang sehat.
Masih ditunggu komentar sarannya..
jangan lupa like, vote, favorite juga ya.."
__ADS_1
Haturnuhun 🙏