
"Papa ... Suapin!" pinta Gavin dengan manja.
"Oke, baiklah. Buka mulutmu, aaa...."
Alvaro menyuapkan makanan ke mulut Gavin. Anak itu terlihat senang bisa makan malam bersama. Ia sendiri juga merasakan sebuah perasaan yang hangat ketika bersama Gavin dan Flora. Rasanya ia benar-benar memiliki keluarga.
"Pak, mau ini?" Flora menawarkan perkedel yang baru dibuatnya.
"Boleh," kata Alvaro.
"Mama, aku juga mau!" sahut Gavin.
Flora mengambilkan perkedel itu dan menaruhnya di atas piring milih Alvaro dan Gavin.
"Gavin, kamu makan sendiri. Kasihan Om Alvaro kan juga mau makan."
"Mama, panggilnya Papa, bukan Om!" tegas Gavin.
"Iya, iya ...." Flora mengalah.
Mereka melanjutkan kembali makan malam bersama. Sesekali diselingi dengan canda tawa karena cerita yang disampaikan Gavin tentang teman-teman di sekolahnya.
Akhirnya, makan malam mereka berakhir. Alvaro pamit untuk pulang.
"Gavin, Papa pulang dulu, ya. Tidur yang nyenyak malam ini," ucap Alvaro seraya mencium pipi Gavin.
"Terima kasih, Papa," kata Gavin dengan senyuman terkembang di wajahnya.
"Terima kasih, Pak. Maaf telah merepotkan," ucap Flora.
"Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja yang cukup, kalau sudah sembuh cepat kembali bekerja di kantor," kata Alvaro.
"Iya, Pak."
Flora dan Gavin menatap kepergian Alvaro dari depan rumah. Setelah Alvaro tak terlihat, mereka kembali masuk ke dalam.
"Mama, hari ini Gavin sangat bahagia bisa punya Papa. Makasih ya, Ma," kata Gavin. Ia lantas memeluk ibunya dengan hangat.
Ucapan Gavin barusan membuat Flora begitu terharu. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia memasang wajah tersenyum agar terlihat baik-baik saja di depan putranya.
__ADS_1
"Ayo, Sayang, kita tidur sekarang," ajak Flora.
Gavin membantu ibunya berjalan menuju ke kamar.
***
"Sayang, kamu pulang!"
Prilly baru saja keluar dari arah kamar mandi. Ia melihat Alvaro telah ada di dalam kamar. Perasaannya sangat bahagia. Wanita itu langsung berlari dan memeluk suaminya.
Hal yang berbeda ditunjukkan oleh Alvaro. Ia begitu dingin menanggapi sikap Prilly terhadapnya. Ia sama sekali tak membalas pelukan yang Prilly berikan.
"Sayang, malam ini kamu mau tidur di sini, kan?" tanya Prilly dengan nada yang lembut dan penuh harap.
"Tidak, aku hanya ingin mengambil sesuatu," jawab Alvaro datar.
"Kenapa sih, kamu masih saja tidak peduli padaku. Kita sudah 6 tahun menikah. Aku selalu bersabar untukmu," ucap Prilly dengan nada memelas. Ia memegangi tangan suaminya berharap mendapatkan balasan cinta dari suaminya sendiri.
Selama enam tahun pernikahan, belum pernah sekalipun Alvaro tidur di ranjang yang sama dengannya. Lelaki itu hanya terus mengatakan belum siap menerima dirinya sebagai seorang istri. Segala rayuan yang ia berikan juga tidak mempan.
"Apa kamu sudah lupa dengan perkataanku yang dulu? Aku bisa memberikanmu status pernikahan, tapi tidak dengan status suami," kata Alvaro mengingatkan.
Prilly tersenyum getir. "Apa menurutmu itu adil? Ini sama saja kamu sudah menyiksaku."
"Bagaimana dengan Leonard? Dia masih kecil, kamu tega padanya?" Prilly membawa-bawa nama anak mereka.
Alvaro terdiam sesaat. "Bisa kamu berhenti membawa-bawa Leo untuk menutupi kebusukkanmu selama ini?"
Alvaro sudah sangat muak berhadapan dengan Prilly. Ia lantas beralih menuju ke arah lemari dan mengambil koper usang dari sana.
"Sayang, apa kamu mau pergi lagi?" Prilly memegangi lengan suaminya agar tidak pergi.
"Selama kamu masih ada di sini, aku tidak mau tinggal di sini. Kamu pasti tahu itu," kata Alvaro.
"Ayolah, sesekali kita tunjukkan kepada Leo kalau kita memang satu keluarga. Kasihan Leo tidak pernah melihat orang tuanya bersama," Prilly memohon.
Alvaro melayangkan tatapan tajamnya ke arah Prilly. "Lakukan itu dengan lelaki yang memang ayah kandung Leo!"
"Apa kamu sudah gila? Kamu ayahnya!" kata Prilly dengan tegas. Ia tidak percaya sudah enam tahun tetapi Alvaro belum juga mengakui Leo sebagai anaknya.
__ADS_1
Raut wajah Alvaro terlihat semakin murka. Ia memegangi leher Prilly dan mencengkramnya. Tatapannya begitu tajam. "Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu malam itu bukan kamu yang tidur denganku! Kamu hanya memanfaatkan keadaan untuk keuntunganmu sendiri!" ucapnya.
Alvaro menghempas kasar Prilly. Ia melangkah dengan cepat meninggalkan kamar.
"Papa," sapa Leo yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Alvaro menghentikan langkah. Ia berjalan mendekati anak itu dan mengusap kepalanya. "Kenapa belum tidur, Leo? Ini sudah malam," ucapnya.
Leo memegangi ujung pakaian Alvaro. "Apa Papa akan pergi lagi?" tanyanya dengan wajah polos.
"Iya, Leo. Papa masih ada pekerjaan jadi harus pergi. Kamu tidurlah!" pintanya.
Hanya itu yang Alvaro sampaikan kepada putranya. Ia lantas kembali melangkah pergi. Prilly yang berdiri di depan pintu kamar ia lewati begitu saja.
Alvaro kembali ke dalam mobilnya, meletakkan koper itu di kursi samping. Lalu, ia melajukan mobil meninggalkan rumah besar miliknya.
Tiba-tiba ingatan masa lalu kembali terbayang dalam pikirannya.
Enam tahun yang lalu, setelah malam yang kacau, ia terbangun dalam sebuah kamar hotel. Masih jelas dalam ingatan, ia telah menghabiskan malam panas dengan seorang wanita. Namun, di sisinya tak ada siapa-siapa. Yang tersisa hanya kondisi kasur yang terlihat berantakan, serta bercak merah yang tercecer di atas prei putih hotel. Kala itu, Alvaro juga tidak menggunakan sehelai benangpun. Hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Pak Alvaro, Anda sudah bangun?"
Terdengar sapaan seorang wanita dari arah kamar mandi. Ia kira wanita semalam yang akan dilihatnya. Ternyata dugaannya salah. Wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu adalah Prilly, yang semalam sempat duduk satu meja dengannya. Alvaro tampak kecewa.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Alvaro dengan nada malas.
"Apa? Anda jahat sekali berbicara seperti itu kepada saya. Bahkan semalam Anda bahkan tidak rela melepaskan saya," kata Prilly memasang wajah kecewa.
"Maksudmu apa?" Alvaro melayangkan tatapan tidak suka.
"Semalam Anda pasti sangat mabuk sampai tidak bisa mengingat apapun. Saya kecewa sekali. Padahal Anda yang telah merenggut kegadisan saya semalam." Prilly masing memasang ekspresi sedihnya. Ia seakan ingin meyakinkan bahwa kedian semalam adalah hal yang nyata.
"Semalam Anda meyakinkan saya bahwa Anda akan mencintai saya. Sampai saya rela menyerahkan mahkota berharga saya kepada Anda. Saya sedih Anda tidak mengingatnya."
Prilly menangis.
Akan tetapi, Alvaro sangat yakin bukan wanita itu yang tidur dengannya. Ia bahkan curiga Prilly yang sudah menaruh obat dalam minumannya. Ia memutuskan untuk pergi dari sana.
Dikenakannya lagi pakaian yang sebelumnya tercecer di lantai. Ada yang masih kurang. Ia kehilangan jas miliknya.
__ADS_1
"Pak, Anda mau kemana? Bagaimana dengan saya?" rengek Prilly memegangi tangan Alvaro.
"Lepaskan aku! Bukan kamu yang tidur denganku semalam!" bentak Alvaro. Ia menyingkirkan tangan Prilly secara kasar darinya.